Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINKRONISASI DAN GANGGUAN SISTEM
Memasuki bulan kedua di Surabaya, "Operasi Adaptasi" keluarga Dirgantara mulai menunjukkan grafik yang stabil, namun tidak tanpa anomali. Devan, yang kini mulai dikenal di kalangan mahasiswa kedokteran sebagai "Dosen Killer Berhati Malaikat", mulai menemukan ritme antara mengajar dan perannya sebagai pelindung domestik.
Pagi itu, rumah mereka di kawasan asri Surabaya Barat sudah dipenuhi aroma sup ayam dan jahe—resep yang Devan temukan di jurnal gizi untuk meminimalisir mual pagi hari Kania.
"Kania, konsumsi sup ini dalam keadaan hangat. Suhu cairan yang tepat akan membantu relaksasi otot lambungmu sebelum kamu menghadapi sidang mediasi hari ini," ucap Devan sambil meletakkan mangkuk di depan Kania yang masih tampak mengantuk.
Kania, yang rambutnya dikuncir asal, menyesap sup itu perlahan. "Makasih, Dok. Surabaya hari ini kayaknya bakal panas banget lagi. Aku dengar suhu bisa sampai 36 derajat. Dokter ada jadwal operasi di RS pendidikan?"
"Hanya prosedur shunt sederhana sore nanti. Pagi ini saya harus memberikan ujian lisan untuk para koas. Sepertinya saraf-saraf mereka perlu sedikit 'stimulasi' agar tidak terlalu santai dengan cuaca Surabaya yang nyaman," jawab Devan dengan kerlingan mata yang menunjukkan sisi perfeksionisnya.
Di universitas, Devan benar-benar menjadi pusat perhatian. Mahasiswa kedokteran di Surabaya belum pernah bertemu dengan sosok yang menggabungkan ketenangan bedah saraf Jakarta dengan efisiensi bicara yang sangat tajam.
"Saudara mahasiswa," suara Devan terdengar dingin di ruang ujian. "Jika Anda tidak bisa membedakan antara saraf kranial ketujuh dan kedelapan dalam waktu tiga detik, bagaimana Anda bisa saya percaya untuk memegang instrumen di ruang operasi saya? Pasien tidak memiliki waktu untuk Anda mengingat-ingat buku teks."
Seorang mahasiswa berkeringat dingin, mencoba menjawab. Di tengah ketegangan itu, ponsel Devan yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Ada panggilan masuk dari "Kania - Urgent".
Insting Devan langsung mengambil alih. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar mahasiswa itu diam.
"Kania? Apa ada kontraksi prematur atau eskalasi mual?" tanya Devan cepat, tanpa mempedulikan wajah-wajah bingung mahasiswanya.
"Dok... bukan aku. Arlo!" suara Kania terdengar panik dari seberang telepon. "Mbak Siti baru telepon, katanya Arlo jatuh dari tangga kecil di taman belakang. Kepalanya terbentur dan dia muntah sekali. Aku masih terjebak di tengah mediasi, aku nggak bisa keluar sekarang!"
Dunia Devan seolah membeku sesaat, namun otaknya langsung bekerja dalam mode algoritma gawat darurat. "Kania, tenang. Muntah setelah benturan kepala adalah sinyal merah untuk peningkatan tekanan intrakranial. Saya akan pulang sekarang. Suruh Siti jangan memindahkan posisi kepala Arlo secara mendadak. Saya tutup."
Devan berdiri, menyambar tasnya. "Ujian selesai. Kita lanjutkan besok. Ada kondisi darurat medis pada anggota keluarga saya."
Para mahasiswa melongo melihat sang dosen yang biasanya kaku dan selalu menuntut profesionalisme itu kini berlari keluar ruangan dengan kecepatan yang luar biasa.
Perjalanan dari kampus ke rumah yang biasanya memakan waktu 15 menit, ditempuh Devan dalam waktu 8 menit. Ia hampir membakar rem mobilnya saat masuk ke halaman rumah. Di dalam, ia menemukan Arlo sedang menangis lemah di pelukan Mbak Siti yang tampak ketakutan.
"Dokter... maaf, tadi Arlo lari cepet banget..." Siti terisak.
"Bantu saya, Siti. Ambil senter medis di tas hitam itu," perintah Devan. Ia berlutut di depan Arlo, tangannya yang biasanya stabil kini sedikit gemetar saat meraba bagian belakang kepala putranya. Ada benjolan besar, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah kesadaran Arlo yang tampak menurun.
Devan memeriksa refleks pupil Arlo. "Pupil isokor, tapi respons motoriknya melambat. Kita harus ke rumah sakit sekarang untuk CT Scan."
Dalam perjalanan ke RS Pendidikan Surabaya, Devan menelepon Kania kembali. "Saya sudah bersama Arlo. Kita menuju RS dr. Soetomo. Jangan menyetir sendiri jika kamu terlalu panik, minta Bondan atau supir kantor mengantarmu."
Di rumah sakit, Devan tidak lagi menjadi dosen atau konsultan. Ia adalah seorang ayah yang sedang menunggu di depan ruang radiologi. Rekan-rekan dokter di Surabaya yang mengenalnya menawarkan bantuan, namun Devan hanya bisa duduk diam, menatap tangannya sendiri.
Kania datang setengah jam kemudian, masih mengenakan blazer kerjanya yang kini tampak kusut. Ia langsung menghambur ke pelukan Devan.
"Dok... gimana Arlo? Ini salah aku, harusnya aku nggak usah ambil posisi senior itu, harusnya aku di rumah..." Kania terisak di dada Devan.
"Kania, dengarkan saya," Devan memegang bahu Kania dengan tegas. "Ini adalah kecelakaan domestik yang memiliki probabilitas terjadi pada siapa saja. Menyalahkan diri sendiri tidak akan mengubah Glasgow Coma Scale Arlo. Kita harus tetap rasional."
"Rasional gimana, Dok? Itu anak kita!"
"Justru karena itu anak kita, saya harus menjadi dokter yang paling teliti untuknya sekarang," bisik Devan, meski hatinya terasa seperti diremas.
Hasil CT Scan keluar. Devan membacanya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada perdarahan intrakranial, hanya kontusi serebri ringan. Arlo harus diobservasi selama 24 jam untuk memastikan tidak ada muntah lanjutan atau penurunan kesadaran.
Malam itu, di ruang perawatan anak, suasana terasa sangat sunyi. Arlo sudah tertidur lelap setelah diberikan obat antinyeri. Kania duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Arlo, sementara Devan berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota Surabaya.
"Dok..." panggil Kania pelan.
Devan menoleh. Wajahnya tampak sangat lelah. "Ya?"
"Makasih ya. Tadi pas aku telepon, aku ngerasa dunia mau runtuh. Tapi denger suara Dokter yang langsung ngatur semuanya, aku ngerasa punya pegangan."
Devan mendekat, duduk di lantai di samping kursi Kania. Ia menyandarkan kepalanya di lutut istrinya. "Kania, hari ini saya menyadari satu hal. Di Jakarta atau di Surabaya, gangguan sistem akan selalu ada. Kita tidak bisa mengontrol setiap variabel dalam hidup. Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana kita meresponsnya sebagai satu tim."
Kania mengusap rambut Devan. "Dokter tadi lari dari kelas ya?"
"Saya meninggalkan 50 mahasiswa di tengah ujian lisan. Mungkin besok saya akan dilaporkan ke dekanat karena tidak profesional," Devan terkekeh pelan. "Tapi saya tidak peduli. Secara prioritas, Arlo adalah pusat dari seluruh sistem saraf saya."
Kania tersenyum, air mata haru jatuh di pipinya. "Ternyata Dokter Es saya ini sudah bener-benar mencair ya. Sampai berani bolos mengajar."
"Hanya untuk kalian," bisik Devan.
Tiba-tiba, Arlo menggeliat dan membuka matanya sedikit. "Pa... Pa..." suaranya serak.
Devan langsung berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Arlo. "Iya, Arlo. Papa di sini. Papa tidak ke mana-mana."
Arlo tersenyum tipis sebelum kembali tertidur. Kania dan Devan saling berpandangan. Di tengah panasnya Surabaya dan guncangan yang baru saja mereka alami, mereka menyadari bahwa sinkronisasi hati mereka kini jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Gangguan sistem mungkin akan datang lagi baik itu masalah kesehatan, pekerjaan, atau tantangan kehamilan kedua tapi selama mereka memiliki satu sama lain sebagai "cadangan energi", mereka tahu bahwa mereka akan selalu bisa melakukan *reboot* dan memulai lagi dengan lebih baik.
"Dok, janji ya? Besok-besok jangan lari-larian lagi, nanti kacamata Dokter jatuh," goda Kania untuk mencairkan suasana.
"Janji. Tapi dengan syarat: Kamu harus berjanji untuk tidak menyalahkan dirimu sendiri lagi atas hal-hal yang berada di luar kendali medismu," balas Devan.
Kania mengangguk, dan di ruang rumah sakit yang dingin itu, mereka menemukan kehangatan yang paling nyata.