NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Sekolah dan Topeng Kekuatan

POV Zhira

Pagi itu, udara terasa sangat dingin menyengat kulit. Langit tampak mendung gelap, seolah turut bersedih dengan apa yang kurasakan. Aku berdiri di depan cermin kecil di kamarku, merapikan seragam putih abu-abu yang sudah kusetrika semalam sendiri.

Mataku bengkak. Semalam aku menangis lagi, sampai akhirnya tertidur karena kelelahan. Aku mengambil bedak bayang milik Rara yang dipinjam diam-diam, mencoba menutupi bekas menangis itu agar tidak terlihat jelas. Aku tidak mau teman-teman di sekolah tahu kalau aku sedang sedih. Aku tidak mau dikasihani, dan aku tidak mau ditanya-tanya.

"Aku kuat. Aku bisa melewati hari ini," bisikku pada bayangan di cermin.

Aku memakai sepatu tua itu kembali. Rasanya masih sama, kaku dan sedikit mengganjal di ujung kaki. Tapi aku memaksakan diri untuk tidak peduli. Aku mengikat talinya sekuat tenaga, seolah ingin mengikat juga rasa sakit di hatiku agar tidak bocor keluar.

Saat turun ke bawah, suasana meja makan sudah ramai. Ibu sedang membantu Rara merapikan dasi, sementara Bimo asyik memamerkan sepatu barunya pada Ayah.

"Yah, lihat deh! Sepatunya licin sekali, kalau diinjek aspal panas wanginya semerbak!" kata Bimo bangga.

Ayah tertawa kecil, "Iya, iya. Hati-hati dipakainya ya, jangan sampai kotor."

Aku duduk di pojok paling jauh, mengambil sepotong roti tawar dan memakannya dengan cepat. Aku ingin segera pergi, ingin segera keluar dari rumah ini sebelum kata-kata pedas itu kembali terdengar.

"Mau berangkat sekarang?" tanya Ayah padaku.

"Iya, Yah. Takut macet," jawabku singkat sambil mengambil tas punggungku yang sudah mulai robek di bagian tali.

"Hati-hati di jalan ya," ucap Ayah lagi. Itu saja. Cukup. Kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa sedikit lebih baik sebelum menghadapi dunia luar.

Aku berjalan keluar rumah. Angin pagi bertiup kencang, membuatku menggigil. Aku melangkah perlahan menuju halte bus. Sepatu tuaku menginjak aspal yang basah karena hujan semalam. Klepak... klepak... suaranya terdengar sendu.

Sesampainya di sekolah, suasana langsung berubah menjadi riuh rendah. Teman-teman berkumpul dengan cerianya, berbagi cerita tentang liburan minggu lalu, tentang mainan baru, atau tentang baju baru yang mereka pakai.

"Eh Zhira! Sini sini!" seru Sari, teman sebangkuku. Dia melambaikan tangan dengan antusias.

Aku tersenyum dan mendekat. "Hai, Sar."

"Wah, seragam kamu rapi sekali hari ini. Tapi... eh, sepatu kamu kok masih yang itu-itu aja? Bukannya kemarin kamu bilang mau dibelikan baru sama Tante?" tanyanya polos.

Pertanyaan itu membuatku tersentak. Aku menunduk melihat sepatuku, lalu tersenyum pahit. "Iya, belum sempat beli. Masih bagus kok ini."

"Ya ampun, kasihan banget sih kamu. Sepatunya sudah gitu lho. Kalau aku sih udah protes terus sama Mamaku sampai dibelikan," celetuk Rina yang ikut nimbrung.

Mereka berkata begitu karena mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa meminta sesuatu di rumahku itu sama sulitnya dengan memanjat langit. Mereka tidak tahu bahwa kata "protes" itu bisa berakhir dengan makian dan hinaan.

Aku hanya bisa tertawa kecil, berusaha menutupi rasa malu dan sedih itu. "Gapapa, yang penting bisa dipakai buat jalan."

Tapi di dalam hati, rasanya seperti ditusuk berkali-kali. Kenapa dunia di luar sana terlihat begitu indah dan adil, sementara dunianku sendiri begitu kelam dan tidak adil?

Bel masuk berbunyi. Kami semua bergegas masuk ke kelas. Sepanjang pelajaran, pikiranku melayang entah ke mana. Aku mendengar guru menerangkan, tapi kata-katanya tak masuk ke otak. Mataku kosong menatap papan tulis.

Apa aku memang tidak pantas bahagia? Apa memang takdirku harus selalu merasa kurang dan selalu merasa bersalah?

Saat jam istirahat tiba, teman-teman pada keluar kelas untuk jajan atau sekadar jalan-jalan di koridor. Aku memilih tetap duduk di tempatku. Aku tidak punya uang jajan lebih hari ini, dan aku juga malas melihat mereka tertawa bahagia.

Aku mengeluarkan buku tulis kecilku, buku harian rahasia yang kusembunyikan di dalam tumpukan buku pelajaran. Aku mulai menulis dengan pulpen yang tinta sudah hampir habis.

"Bu, hari ini teman-teman bertanya tentang sepatuku. Mereka bilang kasihan. Tapi Bu, apa Ibu tidak pernah merasa kasihan melihat anakmu sendiri berjalan dengan sepatu yang bocor? Apa hati Ibu terbuat dari apa sampai bisa setegas itu?

Aku lelah berpura-pura kuat, Bu. Aku lelah tersenyum padahal hati ini hancur. Aku ingin pulang, tapi rumah bukan tempat yang membuatku tenang. Aku ingin berlari, tapi kakiku terasa berat.

Tuhan... jika memang aku anak yang tidak diinginkan, kenapa Engkau kirim aku ke dunia ini? Hanya untuk disakiti? Hanya untuk merasa tidak berguna?"

Tanganku berhenti menulis saat merasakan ada air yang jatuh membasahi kertas. Air mataku lagi. Aku buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan, lalu menutup buku itu rapat-rapat dan menyembunyikannya kembali.

"Zhira... kenapa melamun sendirian di sini?"

Aku terkejut dan menoleh. Itu adalah Pak Guru Bimbingan Konseling, Pak Herman. Dia berdiri di depan mejaku dengan wajah yang ramah.

"Eh, P-Pak Herman. Tidak apa-apa, Pak. Cuma istirahat saja," jawabku gugup, berusaha menyembunyikan mataku yang pasti sudah merah.

Pak Herman duduk di kursi depan mejaku, menatapku dengan tatapan yang tajam namun lembut. "Kamu ini anak pintar, Zhira. Nilaimu bagus, sopan, pendiam. Tapi Bapak perhatikan, belakangan ini kamu sering terlihat murung dan sering melamun. Ada masalah ya?"

Pertanyaan sederhana itu... entah kenapa membuat pertahananku runtuh seketika. Dadaku terasa sesak, dan rasanya ingin sekali menceritakan semuanya pada orang dewasa yang bisa dipercaya ini. Aku ingin bilang kalau aku tidak bahagia, aku ingin bilang kalau aku takut pulang, aku ingin bilang kalau aku merasa dibuang oleh ibuku sendiri.

Tapi bibirku terkunci rapat. Aku ingat kata-kata Ibu: "Jangan pernah aib keluarga diceritakan ke orang luar! Kalau sampai tahu, Ibu habisi kamu!"

Aku menggigit bibir bawahku, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Pak. Zhira cuma kurang tidur saja."

Pak Herman menghela napas panjang, seolah mengerti tapi tidak mau memaksaku bicara. "Baiklah kalau begitu. Tapi ingat ya Zhira, kalau suatu saat kamu butuh tempat untuk bercerita, kamu bisa datang ke ruangan Bapak. Pintu Bapak selalu terbuka. Kamu itu anak berharga, jangan biarkan siapapun membuatmu merasa sebaliknya."

Kalimat terakhir itu... "kamu itu anak berharga". Lagi-lagi kalimat itu terdengar. Kenapa orang asing bisa melihat nilai diriku, sedangkan orang tuaku sendiri tidak?

"Makasih, Pak," ucapku pelan.

Pak Herman tersenyum lalu berdiri dan pergi meninggalkanku.

Bel masuk kembali berbunyi. Hari ini masih panjang. Aku harus kembali berpura-pura. Memakai topeng "anak kuat dan mandiri" itu lagi.

Tapi aku tahu, topeng itu semakin hari semakin berat, dan aku takut... suatu hari nanti aku tidak sanggup lagi memakainya, dan semuanya akan hancur berantakan.

POV End

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!