Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Dirumah Fahrizal suasananya terasa tenang, hanya suara televisi dari ruangan keluarga yang terdengar pelan bercampur dengan dentingan sendok dari dapur yang baru selesai dirapikan.
Syakira duduk di sudut sofa dengan kitab yang terbuka sedari tadi dipangkuannya. Tapi pikirannya berkeliaran entah kemana.
Sudah lebih dari sepuluh menit ia berada dihalaman yang sama tanpa benar benar ia membacanya sama sekali satu kalimat pun. Bahkan huruf huruf dihadapannya tampak tampak jelas tapi maknanya tidak benar benar masuk ke dalam kepalanya.
"Ra,..kalau dibaca dari tadi halaman itu itu terus nanti lama kelamaan bukunya protes loh" Syahira tersentak saking terkejutnya.
Ia mendongak dan mendapati Fahrizal berdiri diam diambang ruang keluarga dengan membawa secangkir teh hangat ditangannya. Senyum tipis terukir diwajah pria itu.
Senyum yang selalu berhasil membuat suasana terasa lebih ringan. "Abi ini ketahuan banget ya Syara?." Syahira menutup kitabnya perlahan lalu menggesernya ke samping.
"Abi bukannya peka,.." ujar Fahrizal sambil duduk dikursi seberangnya. "Abi cuma hafal kapan anak Abi benar benar membaca dan kapan anak Abi cuma bengong liatin huruf tapi pikirannya jalan jalan entah kemana."
Syahira ketawa, meski tawanyanha itu hanya bertahan sesaat saja. Dan Fahrizal tau benar saat ini putrinya sedang tidak baik baik saja. Ia hanya memperhatikannya dengan seksama.
Seolah ada sesuatu yang jelas sedang dipikirkan anaknya yang mungkin saja masih belum siap untuk diceritakan padanya untuk saat ini.
"Mau cerita enggak sama Abi?,..kali aja Abi bisa bantu kasih saran gitu." tanyanya lembut. Syahira menggeleng"belum tahu harus dari mana dulu Bingung."
"Yah berarti memang ada yang sedang kamu pikirkan, iya kan?." ucap Fahrizal sambil menyesap tehnya lalu menatap putrinya dengan hangat.
"Ra,..kadangkala kita memang butuh waktu untuk memahami semuanya dari isi kepala sendiri sebelum kita membaginya dengan orang lain."
Syahira terdiam, kalimat itu sederhana, tapi begitu menenangkannya, ia pun menunduk memainkan ujung jilbabnya. "Abi pernah nggak,..hmm ngerasa bingung sama perasaan abi sendiri?." tanya Syahira.
Fahrizal tersenyum kecil, seperti pertanyaan itu membawanya pada kenangan yang jauh. "Sering, bahkan mungkin terlalu sering nak."
"Terus,..gimana acara Abi buat tau semuanya mana yang benar?." pria itu bersandar menatap langit-langit sebentar sebelum menjawabnya. "Dengan memberi waktu. Perasaan itu kadang seperti air keruh. Kalau langsung diaduk kita enggak akan bisa lihat apa apa. Tapi kalau dibiarkan tenang, semuanya akan mengendap dan pada akhirnya Akita aka. Jauh bisa melihat dengan lebih jelas sayang."
Syahirs mengangguk pelan, entah kenapa, setiap kali berbisik dengan ayahnya, hal hal yang semula terasa begitu rumit perlahan menjadi lebih mudah dipahami.
"Jadi, kalau sekarang masih bingung, itu nggak apa apa," lanjut Fahrizal. "Karena yang terpenting, jangan mengambil keputusan saat hati dan pikiranmu sedang sama sama gaduh."
Syahira tersenyum, "Abi selalu punya cara ya biar bikin semuanya terdengar sederhana gitu."
"Padahal mah aslinya memang rumit bin sulit." jawab Fahrizal santai dan membuat Syahira langsung terkekeh dibuatnya.
diluar angin malam berhembus lembut menggoyangkan dedaunaan di halaman rumah itu, sesaat keduanya terdiam membuat suasananya menjadi hening seketika.
Tak lama kemudian, ponsel Syahira yang tergeletak dimeja pun bergetar. Layar menyala menampilkan sebuah nama yang langsung membuat alisnya terangkat.
"Hah si Kaizan,..tumben." Fahrizal melirik sekilas, lalu tersenyum. "Teman kampus yang kemarin datang itu ya?." Syahira segera meraih ponselnya. "Iya Bi."
"Angkat aja, siapa tau ada hal penting, atau mungkin cuma mau memastikan kamu nggak lagi tarung sama isi kepala kamu sendiri.
Syahira menatap ayahnya tak percaya, "Abi tau dari siapa sih."
"Dari orang yang kasih kamu julukan nona koridor itu." Syahira menghela napasnya sambil tersenyum geli, lalu membuka pesan itu, hanya satu kalimat singkat.
"Masih hidup nona koridor?." tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, jari jarinya segera mengetik balasan. "Masihlah otak juga lagi diajak istirahat." tak lama balasa datang tak sampai semenit. "Baguslah, jangan sampe ntar jadi depresot karena terlalu kerasa sama diri sendiri."
Syahira menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari biasanya, ada kehangatan aneh yang mengalir di dadanya. Bukan sesuatu yang besar, hanya rasa nyaman karena tahu ada seseorang yang dengan caranya sendiri, begitu peduli padanya.
Fahrizal yang memperhatikan perubahan ekspresi putrinya hanya tersenyum kecil, ia tidak bertanya apapun dulu untuk sekarang, karena kadang kala seorang ayah tugasnya bukan selalu mencari tahu, melainkan memastikan putrinya tahu bahwa ia selalu punya tempat untuk pulang. Dan malam itu, di tengah segala kerumitan yang ia pikirkan itu setidaknya ia merasa sedikit lebih tenang.