Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
...Suasana ruang makan malam itu terasa begitu mencekam di balik aroma gurih sop buntut yang mengepul. ...
...Stella duduk dengan anggun, menatap suaminya yang baru saja turun dengan wajah segar setelah mandi. ...
...Tak ada yang tahu bahwa di balik senyum tipis Stella, terdapat badai amarah yang siap meledak....
...Selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Abbas menuju ke ruang makan dengan langkah santai. ...
...Ia melihat istrinya yang menunggunya dengan setia di meja makan, pemandangan yang biasanya membuatnya merasa sangat berkuasa atas wanita itu....
...Sambil menyendokkan sop buntut ke piring Abbas, Stella bertanya dengan nada polos, "Mas, tadi aku merapikan jasmu dan mencium aroma parfum wanita yang sangat familiar. Apa Annisa juga memakai parfum yang sama denganku?"...
...Deg! ...
...Jantung Abbas seakan berhenti berdetak sesaat. Sendok yang hampir mencapai mulutnya terhenti di udara. ...
...Abbas tersedak, terbatuk-batuk kecil sambil meraih gelas air putih dengan terburu-buru....
..."Uhukk! Parfum? Ah, itu..." Abbas mencoba mengatur napasnya, mencoba berkilah bahwa itu mungkin aroma dari toko yang ia kunjungi saat mencari oleh-oleh. ...
..."Mungkin tadi saat aku di mal, ada SPG yang menyemprotkan tester atau tidak sengaja tercium aroma dari pengunjung lain, Sayang. Kamu tahu sendiri kan, parfum seperti itu pasaran sekali."...
...Namun, Stella tidak membiarkannya lepas begitu saja. ...
...Stella terus memojokkan Abbas dengan pertanyaan-pertanyaan sindiran yang tajam, meski disampaikan dengan wajah tanpa dosa....
..."Oh, pasaran ya? Tapi baunya persis sekali dengan parfum edisi terbatas yang kamu hadiahkan padaku bulan lalu, Mas. Apa kebetulan toko itu juga menjualnya pada 'sepupumu'?" pancing Stella sambil menopang dagu, menatap lurus ke dalam mata Abbas yang mulai gelisah....
...Abbas mencoba tertawa paksa, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. ...
...Ia meraih tangan Stella di atas meja, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada merayu. ...
..."Sayang, apa kamu cemburu dengan Annisa? Dia itu cuma keluarga, tidak mungkin aku macam-macam dengannya. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, nanti pingsan lagi seperti semalam."...
...Mendengar kata 'pingsan' dan 'cemburu' keluar dari mulut pria yang baru saja ia ketahui telah menikah lagi, pertahanan Stella retak. Namun, bukannya menangis, Stella justru tertawa terbahak-bahak....
...Suara tawa Stella menggema di ruang makan yang sunyi itu, terdengar sangat sinis dan penuh luka yang menyamar jadi kegilaan....
..."Cemburu? Pada Annisa?" Stella menghentikan tawanya mendadak, menatap Abbas dengan sorot mata sedingin es. ...
..."Mas, aku tertawa karena lucu sekali melihatmu begitu gigih menjaga perasaan 'sepupumu' itu. Tenang saja, aku tidak cemburu. Aku hanya kagum dengan betapa rapinya kamu menyimpan rahasia."...
...Abbas tertegun mendengar tawa Stella barusan tidak terdengar seperti tawa istrinya yang biasanya. ...
...Ada sesuatu yang berubah, dan untuk pertama kalinya sejak sandiwara ini dimulai, Abbas merasakan bulu kuduknya meremang. ...
...Ia tidak tahu bahwa rekaman buku nikah siri dan slip hotel miliknya kini sudah tersimpan rapi di ponsel Stella, siap menjadi senjata pemusnah bagi karier dan hidupnya....
...Atmosfer ruangan terasa mencekam, seolah oksigen di sana habis tersedot oleh ketegangan yang memuncak....
...Abbas, yang merasa posisinya mulai terdesak oleh sindiran tajam Stella, mencoba melakukan taktik andalannya: manipulasi emosi. ...
...Ia berdiri dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, mencoba menyalurkan kehangatan palsu untuk menenangkan "kecurigaan" yang ia anggap hanya sekadar kecemburuan biasa....
..."Apakah kamu mencintainya?" tanya Stella tiba-tiba. Suaranya rendah, namun bibirnya bergetar hebat menahan badai amarah yang sudah di ujung tanduk....
...Abbas tertegun sejenak, lalu mempererat pelukannya seolah-olah ia adalah suami paling setia di ...
..."Sayang, apa maksud kamu? Kamu sedang sakit, pikiranmu jadi kacau karena kurang istirahat."...
..."Sakit?" Stella mengulang kata itu dengan nada meremehkan....
...Detik berikutnya, pertahanan Stella runtuh. Segala kesabaran yang ia bangun sejak dari rumah sakit tadi sore menguap digantikan murka yang meledak. ...
...Stella tertawa terbahak-bahak, suara tawanya melengking menyakitkan telinga, lalu dengan satu gerakan kasar, ia menyapu bersih meja makan. ...
...Ia membuang semua makanan yang ada di meja, piring-piring pecah berserakan, dan sop buntut yang panas tumpah membasahi lantai marmer....
...Abbas terlonjak kaget, wajahnya pucat pasi. Namun Stella belum selesai. ...
...Ia berjalan menuju ke pelayan yang berdiri gemetar di sudut dapur, dan tanpa peringatan, Stella menjambaknya dengan kuat hingga pelayan itu memekik kesakitan....
..."Aku memecatmu!!" teriak Stella tepat di depan wajah wanita berkhianat itu. ...
..."Keluar dari rumahku sekarang juga sebelum aku melaporkanmu ke polisi karena mencoba meracuniku!"...
...Stella melepaskan jambakannya dengan kasar, lalu ia kembali ke arah Abbas yang masih mematung tak percaya melihat perubahan drastis istrinya....
..."Hebat kamu, Mas. Hebat sekali," desis Stella sambil melangkah maju, memojokkan Abbas. ...
..."Seharusnya kamu mendapatkan piala Oscar atas aktingmu sebagai suami teladan selama ini. Aku seperti orang bodoh yang percaya pada setiap kata manismu!"...
..."Stella, tolong dengarkan aku. Semua ini salah paham," Abbas mencoba meraih tangan Stella, suaranya terdengar memelas namun matanya tetap memancarkan kelicikan....
..."Salah paham?" Stella merogoh saku dasternya dan melemparkan secarik kertas ke wajah Abbas. ...
..."Salah paham sampai slip ini menunjukkan bulan madu Mr. Abbas dan Mrs. Annisa? Honeymoon, Mas? Di saat aku tergeletak pingsan karena obat tidur yang kamu berikan?"...
...Abbas terdiam seribu bahasa saat melihat bukti fisik itu jatuh di kakinya. Rahasianya kini telanjang bulat di depan mata istrinya....
...Stella bertepuk tangan dengan ritme yang lambat dan sinis, menatap suaminya dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam. ...
..."Luar biasa, Mas. Permainanmu sangat rapi. Tapi sayangnya, penontonmu sudah terbangun dari tidurnya."...
...Di luar rumah, di dalam mobil SUV hitam yang gelap, Axel dan Alexander melihat bayangan keributan dari balik jendela besar ruang makan. ...
...Mereka sudah bersiap di posisi, hanya menunggu satu aba-aba lagi untuk merangsek masuk dan menghancurkan pria yang telah berani menyakiti kakak mereka....
...Suasana ruang makan yang sudah kacau dengan pecahan piring kini berubah menjadi medan tempur. ...
...Napas Stella memburu, dadanya naik turun menahan gelombang amarah yang nyaris meluap menjadi tangisan, namun ia tetap berdiri tegak....
..."Kita cerai dan kamu tidak akan membawa apapun dari rumah ini. Keluar!!" teriak Stella dengan suara yang menggelegar, memenuhi setiap sudut ruangan. ...
...Telunjuknya mengarah lurus ke pintu depan, mengusir pria yang selama ini ia puja namun ternyata seekor serigala berbulu domba....
...Abbas menggelengkan kepalanya berkali-kali, wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi memelas. ...
...Ia mencoba berlutut di depan Stella, tangannya terulur hendak meraih kaki istrinya....
..."Stella, maafkan aku. Aku khilaf. Annisa yang menjebakku, tolong dengarkan penjelasanku..." pinta Abbas dengan suara serak yang dibuat-buat agar terdengar menderita....
...Namun, sebelum tangan Abbas menyentuh Stella, pintu depan terbanting terbuka dengan keras. ...
...Si kembar masuk dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Axel dan Alexander berdiri tegap di samping kakak mereka, seolah menjadi benteng yang tak tertembus....
..."Keluar dari rumah kakakku sekarang juga, bajingan!" geram Axel, matanya menyala penuh dendam....
...Abbas mendongak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. ...
...Ia berdiri dan merapikan kemejanya yang kusut. "Kalian tidak berhak ikut campur! Ini urusan rumah tanggaku dengan Stella. Pergi dari sini sebelum aku memanggil keamanan!" ucap Abbas dengan nada menantang yang sangat tidak tahu diri....
...Mendengar ucapan itu, kesabaran Alexander habis. ...
...Tanpa aba-aba, Alexander langsung melayangkan pukulannya ke wajah Abbas dengan tenaga penuh....
...BUGH!...
...Suara hantaman itu terdengar begitu keras. Tubuh Abbas terhuyung ke belakang, menabrak kursi makan hingga terjatuh. ...
...Darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. ...
...Saat Alexander hendak melompat lagi untuk menghajar Abbas yang sudah tersungkur, sebuah suara dingin menghentikannya....
..."Hentikan, Alex. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu," ucap Stella datar. ...
...Stella melangkah mendekati Abbas yang mengerang kesakitan di lantai. ...
...Ia menatap suaminya itu dengan tatapan jijik, seolah-olah Abbas hanyalah kotoran yang tidak sengaja terinjak....
..."Menyakitinya secara fisik hanya akan membuatnya punya alasan untuk melaporkanmu, Alex," lanjut Stella sambil mengeluarkan ponselnya. ...
..."Aku punya bukti yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar bogem mentah. Video rekaman si pelayan meracuniku, foto buku nikah sirinya, dan bukti transfer dana perusahaan ke rekening Annisa."...
...Stella berjongkok sedikit, menatap mata Abbas yang kini dipenuhi ketakutan. ...
..."Keluar sekarang dari rumahku atau aku kirim semua bukti ini ke dewan direksi dan polisi detik ini juga. Pilih, Mas. Kehilangan harga diri, atau kehilangan kebebasanmu di penjara?"...