NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Ricuh Di Lingkar Naga dan Perguruan Melati Putih

Pasar Lingkar Naga di pinggiran Jambi pagi itu tampak muram. Debu beterbangan di antara lapak-lapak pedagang yang sepi. Di tengah keriuhan yang dipaksakan, muncul seorang pemuda berpakaian compang-camping dengan caping bambu lebar yang menutupi sebagian wajahnya. Di punggungnya, terikat sebuah bungkusan panjang yang dibalut kain lusuh—Pedang Naga Emas Seribu Langit yang agung, kini tampak tak lebih dari sepotong kayu bakar.

Rangga Nata melangkah terhuyung-huyung, meniru gaya jalan gurunya yang seperti ayam mabuk. Matanya yang tajam mengawasi sekelompok laki-laki bertubuh raksasa dengan seragam kulit hitam yang sedang menendangi dagangan seorang kakek tua.

"Ampun, Tuan... hasil panen saya gagal, hanya ini yang bisa saya berikan," rintih sang kakek.

"Gagal mata mu! Aturan Macan Hitam jelas, siapa yang berdagang di Lingkar Naga harus setor tiga keping perak!" bentak seorang penjagal berkumis baplang yang memegang golok besar.

Rangga tiba-tiba saja muncul di tengah mereka, bersendawa keras tepat di wajah si kumis baplang.

"Aduh... maaf, Tuan Besar. Perut hamba kembung kena angin Andalas. Tapi ngomong-ngomong, kumis Tuan bagus sekali, mirip ekor kucing tetangga hamba yang mati kecebur sumur," ujar Rangga dengan nada polos yang dibuat-buat.

Para penjagal itu terdiam sejenak, lalu tawa mereka meledak menghina.

"Heh, bocah gembel! Kau mau cari mati ya?" bentak si penjagal. "Siapa kau berani campur urusan kami?"

"Nama hamba? Hamba cuma pengemis lewat yang haus. Tapi melihat kumis Tuan, hamba jadi ingin mencukurnya. Bagaimana kalau kita taruhan? Jika hamba bisa mencukur kumis Tuan tanpa menyentuhnya dengan tangan, Tuan lepaskan kakek ini?" Rangga terkekeh, tubuhnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.

"Kurang ajar! Habisi dia!"

Salah satu penjagal melayangkan pukulan bogem mentah ke arah wajah Rangga. Rangga tidak menghindar dengan gagah, melainkan seolah-olah terpeleset kulit pisang. Tubuhnya merosot ke bawah, namun kepalanya justru menyundul perut si penjagal hingga orang itu terjungkal ke belakang masuk ke dalam keranjang tomat.

"Aduh, maaf! Lantainya licin sekali ya, Tuan-tuan?" Rangga bangkit sambil pura-pura membetulkan celananya yang melorot.

"Serang bareng-bareng!"

Empat orang penjagal mencabut parang mereka. Mereka menerjang dari empat penjuru. Rangga tertawa nyaring, ia menggunakan jurus Monyet Gila Mencari Kutu. Ia berputar-putar di antara kaki para penjagal itu, tangannya bergerak cepat menyentuh titik-titik saraf di ketiak mereka.

"Geli! Aduh, geli! Ha ha ha!" Para penjagal itu tiba-tiba menjatuhkan senjata mereka dan mulai tertawa histeris sambil bergulingan di tanah karena totokan saraf geli yang dilepaskan Rangga.

"Nah, lihat! Tuan-tuan ini sangat ramah, baru diajak main sebentar sudah tertawa bahagia," ujar Rangga sambil memungut sebuah parang yang jatuh.

Dengan gerakan yang sangat cepat namun terlihat ceroboh, Rangga mengayunkan parang itu. Sret! Sret! Si penjagal kumis baplang membelalak. Ia merasa ada angin dingin di bawah hidungnya. Ketika ia meraba wajahnya, kumis kebanggaannya telah hilang separuh, menyisakan sebelah saja yang menggantung lucu.

"Wuaaaa! Kumisku! Kau benar-benar iblis!" teriaknya ketakutan.

"Tunggu dulu, jangan pergi! Sebelahnya lagi belum rapi!" Rangga mengejar mereka dengan gaya lari seperti bebek, membuat para penjagal itu lari tunggang-langgang sambil berteriak minta tolong.

"Terima kasih, Anak Muda. Tapi berhati-hatilah, mereka itu anak buah Macan Hitam. Kau dalam bahaya besar," bisik sang kakek pedagang dengan wajah cemas.

Rangga tersenyum tulus, hilang sudah kesan gila di wajahnya untuk sesaat. "Jangan khawatir, Kek. Naga tidak takut pada kucing hutan."

Tiba-tiba, dari kerumunan penonton, muncul beberapa orang wanita berpakaian putih bersih dengan sulaman bunga melati di dada kiri mereka. Salah satunya adalah seorang gadis cantik berwajah tegas dengan pedang ramping di pinggangnya.

"Luar biasa. Aku belum pernah melihat ilmu silat seaneh itu. Kau menggunakan tenaga dalam murni untuk melakukan totokan saraf geli? Benar-benar penghinaan bagi ilmu beladiri, tapi sangat efektif," ujar gadis itu sambil melangkah maju.

Rangga menoleh, kembali memasang wajah bodohnya. "Eh, ada bidadari turun dari kayangan. Siapa nisanak yang cantik ini? Apa mau mencukur kumis juga?"

Gadis itu mendengus kesal. "Jaga bicaramu, Pengemis! Kami dari Perguruan Melati Putih. Aku adalah Selasih, murid utama perguruan ini. Kami sedang memantau pergerakan anak buah Macan Hitam yang semakin merajalela di pasar ini."

"Melati Putih? Nama yang harum, seharum bau sambal terasi di warung pojok itu," sahut Rangga sambil menunjuk warung nasi.

Selasih menatap bungkusan di punggung Rangga dengan curiga. "Siapa kau sebenarnya? Rakyat biasa tidak mungkin bisa mengalahkan lima penjagal terlatih dengan cara sekonyol itu. Dan bungkusan di punggungmu... auranya sangat berat."

"Ini? Ini cuma kayu jemuran, Nisanak. Ibu hamba berpesan jangan sampai hilang, nanti tidak bisa jemur baju," jawab Rangga asal.

"Kau berbohong!" Selasih mencabut pedang rampingnya secepat kilat. "Tunjukkan jati dirimu atau terpaksa aku membawamu ke markas kami untuk diinterogasi!"

Rangga mendesah panjang. "Aduh, bidadari kok galak sekali. Baik, baik... kalau Nisanak bisa menyentuh ujung caping hamba, hamba akan mengaku."

Selasih merasa tertantang. Ia melancarkan jurus Melati Gugur Ditiup Angin. Pedangnya bergerak lincah, mengincar ujung caping Rangga. Namun, setiap kali ujung pedangnya hampir mengenai sasaran, Rangga melakukan gerakan aneh seperti orang yang sedang menggaruk punggung yang gatal, membuat serangan Selasih meleset hanya beberapa inci.

"Kau!" Selasih semakin penasaran. Ia meningkatkan kecepatan serangannya.

Rangga terus menghindar dengan tingkah yang membuat orang tertawa—terkadang ia berputar seperti gasing, terkadang ia merangkak seperti kura-kura, namun tak satu pun serangan Selasih yang berhasil menyentuhnya.

"Cukup, Selasih! Berhenti!" sebuah suara wanita yang berwibawa menghentikan pertarungan itu.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian putih yang lebih megah muncul. Wajahnya tenang namun matanya memancarkan kekuatan yang luar biasa.

"Guru!" Selasih segera menyarungkan pedangnya dan menjura hormat.

Wanita itu mendekati Rangga, lalu menatapnya dalam-dalam. "Maafkan muridku yang lancang, Anak Muda. Aku adalah Dewi Melati, pemimpin Perguruan Melati Putih. Aku melihat cara kau bergerak... hanya satu orang di dunia ini yang memiliki gaya 'Gila' seperti itu. Apa kabar si Tua Bangka dari lereng Kerinci itu?"

Rangga tertegun. Ia segera melepas capingnya dan menjura dengan hormat yang tulus. "Hamba Rangga Nata, Guru. Salam hormat untuk kawan lama Guru hamba."

"Jadi benar... kau murid si Pertapa Gila," Dewi Melati tersenyum tipis. "Andalas sedang dalam masa gelap, Rangga. Macan Hitam bukan lagi sekadar perampok. Ia telah membangun kekuatan besar dan mencari sesuatu yang sangat berharga... sesuatu yang mungkin sedang kau bawa di punggungmu itu."

Selasih ternganga. "Guru... jadi dia bukan pengemis gila?"

"Dia adalah badai yang akan menyapu bersih sampah-sampah di tanah Andalas ini, Selasih," jawab Dewi Melati. Ia kembali menatap Rangga. "Ikutlah ke perguruan kami. Ada hal penting yang harus kau ketahui tentang persiapan Macan Hitam untuk menyerang sisa-sisa kekuatan aliran putih."

Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya hamba sangat lapar, Ibu Guru. Apa di perguruan Melati Putih ada nasi padang yang enak?"

Dewi Melati tertawa renyah, sementara Selasih hanya bisa melotot kesal melihat tingkah konyol pemuda yang ternyata adalah seorang pendekar sakti itu.

"Tentu saja ada. Mari, Pendekar Naga... perjalananmu masih sangat jauh."

Rangga mengikuti mereka, namun sebelumnya ia sempat mengambil satu buah tomat dari keranjang kakek tadi dan melemparkannya ke arah salah satu penjagal yang mencoba bangun. Pluk! Tomat itu tepat mengenai hidung si penjagal, membuatnya kembali pingsan.

"Lumayan untuk cuci mulut!" seru Rangga sambil tertawa riang, memulai langkah pertamanya dalam persekutuan melawan kegelapan Macan Hitam.

Bersambung...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!