NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Undangan Misteri dari Kota Besar

Pagi itu, sebuah mobil hitam mewah yang sangat mengkilap berhenti tepat di depan gubuk reyot Arjuna. Kedatangan mobil tersebut tentu saja membuat geger warga desa, karena belum pernah ada kendaraan semahal itu masuk ke jalanan yang penuh lubang dan debu.

Dari dalam mobil, keluar seorang pria berpakaian jas rapi lengkap dengan kacamata hitam. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, seolah takut sepatu mahalnya kotor terkena tanah becek di halaman gubuk Arjuna.

Ning Aminah Az-Zahra yang sedang menjemur kain jarik langsung tertegun, sedangkan Ning Siti Khumairoh mengintip dari balik pintu dapur dengan perasaan was-was. Arjuna sendiri justru sedang asyik memandikan kambing kurusnya di bawah pohon mangga, hanya mengenakan sarung yang diangkat sampai ke lutut.

"Nyuwun sewu, punapa leres mriki griyanipun Bapak Arjuna?" (Mohon maaf, apakah benar di sini rumah Bapak Arjuna?) tanya pria berjas itu dengan bahasa yang sangat formal dan kaku.

Arjuna menoleh sambil menyiramkan air ke arah kambingnya yang meronta-ronta. "Nggih leres, Pak. Tapi mriki mboten wonten Bapak Arjuna, wontene mung Juna kuli kandhang. Sampeyan ajeng pesen susu kambing nopo ajeng nawani asuransi?" (Iya benar, Pak. Tapi di sini tidak ada Bapak Arjuna, adanya cuma Juna kuli kandang. Anda mau pesan susu kambing apa mau menawarkan asuransi?) jawab Arjuna asal.

Pria itu sedikit terkejut, namun ia segera membungkuk hormat. "Nama saya utusan dari Bapak Wijaya di Jakarta. Beliau menderita penyakit aneh yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Beliau mendapat wasiat agar mencari seseorang bernama Arjuna yang tinggal di gubuk bambu dekat pohon jati tua," jelas utusan itu sambil menyodorkan sebuah amplop emas yang sangat wangi.

Ning Siti mendekat dengan rasa penasaran yang besar. "Jakarta? Waduh Kang, niku adoh sanget. Kang Juna mboten nate numpak mobil, mangke nek muntah-muntah pripun?" (Jakarta? Waduh Kang, itu jauh sekali. Kang Juna tidak pernah naik mobil, nanti kalau muntah-muntah bagaimana?) celetuk Ning Siti dengan wajah polosnya.

Arjuna mengambil amplop emas itu dengan tangan yang masih basah dan penuh bau kambing. Ia tidak membukanya, melainkan hanya menempelkan amplop itu ke jidatnya sejenak.

"Sampaikan ke majikanmu, Pak. Penyakite niku mboten neng awak, tapi neng tumpukan dhuwit sing lali mboten dizakati. Nek dheweke pengen mari, mboten usah kulo mrono. Cukup bagikno separo bandane nggo mbangun panti asuhan neng sekitare omah," (Sampaikan ke majikanmu, Pak. Penyakitnya itu bukan di badan, tapi di tumpukan uang yang lupa tidak dizakati. Kalau dia ingin sembuh, tidak usah saya ke sana. Cukup bagikan separuh hartanya buat bangun panti asuhan di sekitar rumahnya,) ucap Arjuna dengan nada yang tiba-tiba sangat serius.

Utusan itu tampak ragu. "Tapi Gus, Bapak Wijaya sangat ingin bertemu langsung. Beliau bahkan menyiapkan pesawat pribadi untuk menjemput Anda dan kedua istri Anda."

Arjuna tertawa terbahak-bahak sampai kambingnya ikut melompat kaget. "Pesawat? Walah, kulo mboten saged mabur, Pak. Kulo niki wong bumi, senenge nggih mlethek neng lemah ngeten niki. Wis, ndang bali. Ojo lali pesenku mau," (Pesawat? Walah, saya tidak bisa terbang, Pak. Saya ini orang bumi, senangnya ya menginjak tanah begini. Sudah, cepat pulang. Jangan lupa pesanku tadi,) tolak Arjuna halus.

Namun, begitu utusan itu hendak masuk ke mobil, ia mendadak lemas dan pingsan di tempat. Ternyata, pria itu membawa beban energi negatif yang sangat besar dari Jakarta yang sengaja dikirimkan untuk "mengetes" kekuatan Arjuna.

"Kang! Niki tiyange pingsan! Pripun niki, Kang?" (Kang! Ini orangnya pingsan! Bagaimana ini, Kang?) teriak Ning Aminah panik.

Arjuna hanya geleng-geleng kepala. "Nyelenah tenan wong kutho iki. Ajeng njaluk tulung kok malah nggowo racun neng jero amplop," (Nyeleneh beneran orang kota ini. Mau minta tolong kok malah bawa racun di dalam amplop,) gumam Arjuna sambil mendekati pria yang pingsan itu.

Arjuna mengambil segelas air putih dari dalam rumah, membisikkan sesuatu, lalu menyiramkannya ke wajah sang utusan. Seketika pria itu terbangun dan langsung muntah-muntah hebat mengeluarkan cairan berwarna hitam pekat yang baunya sangat busuk.

"Matur nuwun, Gus... Matur nuwun. Kulo ngerasa entheng sanget sakniki," (Terima kasih, Gus... Terima kasih. Saya merasa ringan sekali sekarang,) ucap pria itu sambil gemetar. Ia baru sadar kalau selama ini ia juga menjadi korban guna-guna di lingkungan kerjanya.

Arjuna menepuk punggung pria itu agar tenang. "Wis, baliho. Kandhani bosmu, penyakit niku dudu musuh, tapi pengingat seko Gusti Allah ben lali karo dunya sing semu iki," (Sudah, pulanglah. Beritahu bosmu, penyakit itu bukan musuh, tapi pengingat dari Gusti Allah biar lupa dengan dunia yang semu ini.)

Mobil mewah itu pun pergi meninggalkan debu yang mengepul di depan gubuk. Ning Siti dan Ning Aminah hanya bisa memandang kepergian mobil itu dengan penuh tanda tanya. Mereka sadar, nama Arjuna kini sudah mulai tercium sampai ke telinga orang-orang kuat di ibu kota.

"Kang, nopo kulo lan Ning Aminah saged tetep tenang neng samping sampeyan nek mangke kathah wong sugih sing moro mrene?" (Kang, apa saya dan Ning Aminah bisa tetap tenang di samping Anda kalau nanti banyak orang kaya yang datang ke sini?) tanya Ning Siti pelan.

Arjuna merangkul kedua istrinya dengan penuh kasih sayang. "Ojo wedi, Ning. Selagi awake dhewe tetep mlarat neng ngarepe Gusti Allah, mboten bakal ana dunya sing saged ngerusak katentreman gubuk iki," (Jangan takut, Ning. Selagi kita tetap miskin di hadapan Gusti Allah, tidak bakal ada dunia yang bisa merusak ketentraman gubuk ini.)

Setelah mobil mewah itu pergi, suasana desa tidak lantas menjadi tenang. Kabar bahwa ada "orang kota" yang mencari Arjuna justru memancing perhatian seorang jawara sakti dari desa seberang yang bernama Ki Guntur. Ki Guntur merasa tersaingi karena selama ini dialah yang dianggap paling hebat di wilayah itu.

Malam harinya, ketika bulan hanya muncul separuh, Arjuna sedang duduk di lincak sambil mengasah sabitnya. Ning Siti dan Ning Aminah sudah tertidur lelap di dalam gubuk. Tiba-tiba, suara gesekan dedaunan kering terdengar dari arah rumpun bambu di depan gubuk.

"Metuo, Juna! Ojo ndelik neng ketiake bojomu wae! Aku pengen weruh sepiro sekti dirimu nganti wong kutho wae nggoleki kowe!" (Keluar, Juna! Jangan sembunyi di ketiak istrimu saja! Aku ingin lihat seberapa sakti dirimu sampai orang kota saja mencarimu!) teriak sebuah suara berat yang penuh amarah.

Arjuna tidak beranjak dari duduknya, ia malah meniup sabitnya yang sudah tajam. "Walah, tamu malem-malem kok mboten nggowo mendoan, malah nggowo keris. Monggo pinarak, Ki Guntur. Sampun sepuh niku mboten usah kakehan polah," (Walah, tamu malam-malam kok tidak bawa mendoan, malah bawa keris. Silakan mampir, Ki Guntur. Sudah tua itu tidak usah kebanyakan tingkah,) jawab Arjuna dengan santai.

Ki Guntur melompat keluar dari kegelapan dengan keris yang terhunus. Matanya merah, wajahnya penuh dengan aura kegelapan. Ia merasa dihina karena Arjuna tetap tenang meski sedang diancam nyawanya.

"Kowe kakehan cangkem! Terimo iki, Ajian Bledheg Segoro!" (Kamu kebanyakan mulut! Terima ini, Ajian Bledheg Segoro!) seru Ki Guntur sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Seketika, getaran hebat merambat menuju gubuk Arjuna, seolah-olah ada gempa bumi kecil yang ingin meruntuhkan bangunan bambu itu.

Arjuna hanya mengetukkan jarinya sekali ke lantai lincak sambil berbisik, "Anteng." Ajaibnya, getaran tanah itu berhenti seketika tepat di batas halaman gubuk. Ki Guntur yang tidak percaya kembali menyerang, kali ini ia melemparkan kerisnya yang bisa terbang dan mengeluarkan percikan api.

"Nyelenah tenan, keris kok digawe dolanan koyo mercon," (Nyeleneh beneran, keris kok dibuat mainan seperti petasan,) gumam Arjuna. Ia hanya mengambil selembar daun pisang kering di dekatnya dan mengibaskannya pelan ke arah keris terbang itu.

Seketika, keris sakti milik Ki Guntur tersebut layu dan jatuh ke tanah seperti besi karatan biasa. Ki Guntur langsung lemas, seluruh tenaga dalamnya hilang entah kemana. Ia terjatuh berlutut, napasnya memburu dan keringat dingin bercucuran.

"Opo sing mbok lakoni, Juna? Ilmu opo sing mbok nggo ngrusak pusakaku?!" (Apa yang kamu lakukan, Juna? Ilmu apa yang kamu pakai buat merusak pusakaku?!) tanya Ki Guntur dengan suara gemetar ketakutan.

Arjuna mendekati Ki Guntur, ia tidak membawa senjata apa pun, hanya senyum polos yang tersungging di bibirnya. "Mboten wonten ilmu, Ki. Kulo namung njaluk Gusti Allah ben kabeh sing sombong dadi asor. Keris sampeyan niku sombong, ngeroso paling landhep, dadi kulo kandhani ben dadi lempung malih," (Tidak ada ilmu, Ki. Saya cuma minta Gusti Allah biar semua yang sombong jadi rendah. Keris Anda itu sombong, merasa paling tajam, jadi saya beri tahu agar jadi tanah lagi,) jelas Arjuna lembut.

Ki Guntur tertunduk malu, ia baru sadar kalau ia sedang berhadapan dengan samudera yang tenang. Di saat ia sibuk mengejar ilmu kesaktian duniawi, Arjuna justru sudah selesai dengan dirinya sendiri dan hanya bersandar pada Sang Pencipta.

"Gus, kulo nyuwun ngapuro... kulo khilaf mergo ketutup rasa meri," (Gus, saya mohon maaf... saya khilaf karena tertutup rasa iri,) ucap Ki Guntur dengan nada tulus.

Arjuna menepuk bahu Ki Guntur dan menyuruhnya pulang. "Sampun, Ki. Keris niku sampun mboten saged dinggo mateni, tapi saged dinggo ngethok suket nggo wedhusku sesok. Monggo nek ajeng diparingaken kulo," (Sudah, Ki. Keris itu sudah tidak bisa dipakai buat membunuh, tapi bisa dipakai buat memotong rumput buat kambingku besok. Silakan kalau mau diberikan saya,) ledek Arjuna lagi.

Ki Guntur memberikan gagang kerisnya dengan tangan gemetar, lalu ia lari menghilang di kegelapan hutan. Arjuna kembali duduk di lincak, melihat bintang-bintang di langit sambil menghela napas panjang.

"Donya... donya. Wong podo rebutan dadi sing paling kuat, padahal sing paling kuat niku mung wong sing saged ngalahake awake dhewe," (Dunia... dunia. Orang pada rebutan jadi yang paling kuat, padahal yang paling kuat itu hanya orang yang bisa mengalahkan dirinya sendiri,) gumamnya pelan sebelum kembali masuk ke dalam gubuk untuk sholat malam

Pagi harinya, suasana di gubuk kembali tenang, namun aroma kemenyan bekas pertarungan semalam masih tercium tipis di udara. Arjuna sedang asyik menyeruput kopi pahit buatan Ning Siti Khumairoh di ambang pintu, sementara Ning Aminah Az-Zahra sibuk menyapu halaman yang berantakan karena ulah Ki Guntur semalam.

"Kang, kulo niku tesih kepikiran tiyang saking Jakarta wau. Kok saged nggih, wong sugih nanging mboten ayem uripe?" (Kang, saya itu masih kepikiran orang dari Jakarta tadi. Kok bisa ya, orang kaya tapi tidak tenang hidupnya?) tanya Ning Siti sambil ikut duduk di dekat Arjuna.

Arjuna tersenyum kecut, ia melihat ke arah langit yang mulai mendung. "Ning, dunya niku koyo banyu segoro. Nek mbok ombe terus, malah nambah ngelak, mboten nate wareg. Wong Jakarta niku kakehan ombe banyu segoro, dadi atine dadi asin lan garing," (Ning, dunia itu seperti air laut. Kalau kamu minum terus, malah tambah haus, tidak pernah kenyang. Orang Jakarta itu kebanyakan minum air laut, jadi hatinya jadi asin dan kering,) jelas Arjuna dengan perumpamaan yang dalam.

Tiba-tiba, dari arah jalan desa, muncul seorang pria tua yang berjalan kaki. Pakaiannya sangat sederhana, hanya kain sarung kusam dan peci hitam yang sudah luntur warnanya. Ia tampak kelelahan namun wajahnya memancarkan cahaya ketenangan yang berbeda dengan utusan kemarin.

"Assalamu’alaikum, Gus Juna," sapa pria tua itu sambil membungkuk dalam.

Arjuna langsung berdiri dan menyambut pria itu dengan hormat yang luar biasa, berbanding terbalik saat ia menyambut orang kaya kemarin. "Wa’alaikumussalam, Mbah Kyai. Monggo pinarak, kok saged tekan gubuk reyot niki?" (Wa’alaikumussalam, Mbah Kyai. Silakan mampir, kok bisa sampai gubuk reyot ini?) tanya Arjuna sambil mencium tangan pria tua itu.

Ternyata, pria itu adalah Kyai sepuh dari pesantren kecil di pinggiran kota. Ia datang bukan untuk minta kesembuhan atau pamer kekayaan, melainkan membawa kabar penting.

"Gus, kulo mriki namung ajeng pesen. Fitnah dunya sampun mulai ngepung sampeyan. Ojo nganti sampeyan kegoda nggo metu seko gubuk niki sakdurunge wektune teko. Wong-wong sugih niku ajeng nggowo sampeyan nggo dadi pajangan kemulyane dheweke," (Gus, saya ke sini hanya mau pesan. Fitnah dunia sudah mulai mengepung Anda. Jangan sampai Anda tergoda untuk keluar dari gubuk ini sebelum waktunya tiba. Orang-orang kaya itu ingin membawa Anda untuk jadi pajangan kemuliaan mereka sendiri,) pesan Kyai sepuh itu dengan suara lirih.

Arjuna terdiam seribu bahasa. Ia menatap kedua istrinya yang juga tampak bingung. Selama ini Arjuna memang menyamar jadi orang gila agar bisa menghindar dari hiruk pikuk dunia, namun sepertinya takdir mulai menyeretnya ke permukaan.

"Matur nuwun pesenipun, Mbah Kyai. Kulo sampun mantep neng gubuk niki. Mboten wonten emas nopo tahta sing saged ngganti nikmate mlarat neng ngarepe Gusti," (Terima kasih pesannya, Mbah Kyai. Saya sudah mantap di gubuk ini. Tidak ada emas atau tahta yang bisa mengganti nikmatnya miskin di depan Tuhan,) jawab Arjuna dengan keyakinan yang bulat.

Kyai sepuh itu mengangguk puas, lalu pamit pergi tanpa membawa apa-apa kecuali doa. Setelah kepergian Kyai tersebut, Arjuna mengajak Ning Siti dan Ning Aminah masuk ke dalam gubuk.

"Ning, mulai dino iki, awake dhewe kudu luwih rapet nutup lawang ati. Dunya sampun mulai ngetokake taringe. Ayo podo zikir, ben awake dhewe mboten dadi budak dunya sing nyamar dadi ibadah," (Ning, mulai hari ini, kita harus lebih rapat menutup pintu hati. Dunia sudah mulai mengeluarkan taringnya. Ayo sama-sama zikir, biar kita tidak jadi budak dunia yang menyamar jadi ibadah,) ajak Arjuna.

Malam itu, gubuk reyot Arjuna tidak lagi hanya bergetar karena angin, tapi bergetar karena kekuatan doa yang dipanjatkan oleh tiga jiwa yang tidak ingin terjebak dalam kemewahan semu. Arjuna sadar, ujian kesaktian itu mudah, tapi ujian kemewahan adalah racun yang paling mematikan.

"Nyelenah tenan uripe awake dhewe nggih Kang. Wong liya rebutan munggah derajat, awake dhewe malah rebutan ndelik neng sor-soran," (Nyeleneh beneran hidup kita ya Kang. Orang lain rebutan naik derajat, kita malah rebutan sembunyi di bawah/rendahan,) bisik Ning Aminah sebelum memejamkan mata.

Arjuna hanya tersenyum dalam gelap. "Mergo neng sor-soran kuwi, Ning, awake dhewe saged ndelok langit luwih jembar," (Karena di rendahan itu, Ning, kita bisa melihat langit lebih luas

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!