NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Sekar terdiam. Ia tahu itu benar. Tapi tetap saja… ada rasa enggan. Lelah. “Aku bisa urus sendiri,” jawabnya pelan, mencoba menjaga jarak. “Kamu nggak harus ikut campur sejauh ini, Mar.”

Kalimat itu membuat Damar terdiam sejenak. Beberapa detik ia hanya menatap Sekar, bukan marah, bukan tersinggung, tapi seperti menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pendam. “Gimana aku bisa nggak ikut campur?” suaranya akhirnya keluar, lebih rendah, lebih dalam. “Kalau hatiku… sudah sepenuhnya milik kamu.” suara itu sengaja dipelankan agar Sea tak terlalu mendengar.

Sekar membeku. Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa dramatisasi, tanpa dibuat-buat. Justru karena itu… terasa lebih berat. Sekar tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, memeluk Sea lebih erat, seolah mencari pegangan dari hal yang tiba-tiba terasa terlalu rumit untuk dipikirkan sekarang. Dan memang ini bukan waktunya.

Saat itu, motor ibu memasuki halaman rumah.

“Ibu!” Suara itu penuh kaget.

Ibunya Sekar baru saja pulang dari rumah kerabat, dan langsung membeku begitu melihat kondisi anaknya, bibir berdarah, wajah pucat, dan Sea yang masih menempel erat sambil sesenggukan. “Astagfirullah… Sekar!” Ibu langsung menghampiri, panik. Tangannya menyentuh pipi Sekar dengan hati-hati, seolah takut menambah sakit. “Ada apa ini?”

Sekar tidak langsung menjawab. Tapi Damar akhirnya menjelaskan singkat, cukup untuk membuat wajah sang ibu berubah drastis. Dari kaget… menjadi marah yang dalam.

Tanpa banyak bicara, ibu langsung mengambil Sea ke pelukannya. “Sini sama nenek dulu, ya…” suaranya lembut, tapi tegas. Sea menurut, masih menangis kecil, wajahnya sembunyi di bahu neneknya. “Ibu masuk dulu,” ujar ibunya Sekar, lalu sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke arah Damar. “Tolong bantu Sekar,” katanya tegas. “Bikin laporan. Jangan sampai ini dibiarkan.” Lalu pandangannya kembali ke Sekar, melembut, tapi penuh luka. “Dari kecil kamu ibu jaga… ibu sayang-sayang…” suaranya mulai bergetar. “Ibu nggak rela ada yang nyakitin kamu begini.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat pertahanan Sekar runtuh sedikit demi sedikit. Selama ini ia merasa harus kuat sendiri. Harus tahan sendiri. Tapi sekarang ia diingatkan bahwa ia tidak sendirian.

Sekar menarik napas panjang, lalu menatap Damar. Kali ini tidak lagi menolak. Tidak lagi menghindar. “Temenin aku ke rumah sakit, ya…” ucapnya pelan.

Damar mengangguk tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi Sekar mengambil langkah bukan karena terpaksa. Tapi karena ia memang memilih untuk melawan.

***

Malam itu berjalan panjang, melelahkan, tapi juga membuka sesuatu yang selama ini seperti terkunci rapat dalam hidup Sekar. Damar benar-benar mengambil alih banyak hal—bukan dengan cara mendominasi, tapi dengan ketegasan yang membuat semuanya terasa lebih ringan. Ia mengurus visum tanpa banyak bicara, berbicara dengan tenaga medis dengan jelas, lalu mengantar Sekar ke kantor polisi untuk membuat laporan. Bahkan ketika proses administrasi terasa berbelit, Damar seperti sudah tahu harus menghubungi siapa, harus bicara dengan siapa. Semua berjalan lebih cepat dari yang Sekar bayangkan.

Di tengah semua itu, Sekar hanya mengikuti. Bukan karena tidak mampu, tapi karena untuk pertama kalinya… ia membiarkan dirinya tidak selalu harus kuat sendiri. Ada rasa lelah yang akhirnya ia akui, dan di sisi lain, ada rasa aman yang perlahan muncul. Rasa yang asing, tapi juga menenangkan.

Sesekali, saat menunggu proses selesai, Sekar mencuri pandang ke arah Damar. Lelaki itu terlihat serius, fokus, seolah semua yang ia lakukan malam ini adalah hal yang memang sudah seharusnya ia lakukan. Tidak ada keluhan, tidak ada tuntutan balasan.

Dan justru itu yang membuat hati Sekar terasa tidak nyaman. Karena ia tahu, ini bukan sekadar bantuan biasa. Ini perasaan.

Setelah semuanya selesai dan mereka kembali duduk di dalam mobil, suasana menjadi hening. Jalanan malam lengang, hanya suara mesin mobil dan napas mereka yang terdengar. “Terima kasih, Mar,” ucap Sekar akhirnya, pelan.

Damar tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. “Kamu nggak perlu bilang itu.”

Sekar menatap lurus ke depan. Jemarinya saling menggenggam di pangkuan. Ada sesuatu yang sejak tadi ia tahan, dan ia tahu, ia tidak boleh membiarkan ini menggantung. “Mar…” suaranya lebih hati-hati kali ini.

“Iya?”

Sekar menarik napas. “Kamu baik banget sama aku. Dari dulu… sampai sekarang.”

Damar terdiam, tapi tidak memotong.

“Tapi…” Sekar melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, “aku nggak sama seperti yang dulu kamu kenal.”

Damar menoleh sedikit, tapi Sekar tetap menatap ke depan.

“Aku bukan Sekar yang dulu… yang kamu tunggu-tunggu itu,” lanjutnya pelan. “Hidupku sudah… berantakan. Aku punya anak. Aku punya luka. Aku punya banyak hal yang mungkin nggak pernah kamu bayangkan.”

Mobil tetap melaju, tapi suasana terasa semakin sunyi.

Sekar menelan ludah sebelum melanjutkan. “Aku nggak mau kamu terbawa perasaan… lalu kecewa.” Kalimat itu jujur. Tidak dibuat-buat. Karena Sekar tahu, rasa nyaman itu berbahaya kalau ia biarkan tumbuh tanpa batas.

Damar akhirnya menarik napas panjang. Tangannya tetap di setir, tapi suaranya berubah, lebih dalam, lebih tenang. “Aku tahu.”

Sekar sedikit terkejut, akhirnya menoleh.

“Aku tahu kamu sudah berubah,” lanjut Damar. “Aku tahu kamu punya masa lalu, punya luka, punya tanggung jawab.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan pelan, tapi pasti. “Tapi perasaanku juga bukan yang dulu lagi, Kar.”

Sekar terdiam.

“Dulu mungkin cuma cinta anak SMA,” kata Damar, sedikit tersenyum tipis. “Sekarang… aku tahu apa yang aku lihat. Aku tahu siapa kamu sekarang.” Ia menoleh sekilas, menatap Sekar. “Dan aku tetap milih kamu.”

Sekar tidak langsung menjawab. Dadanya terasa penuh, bukan karena bahagia, tapi karena campuran antara takut, ragu, dan sesuatu yang tidak berani ia beri nama. Ia kembali menatap ke depan. “Aku lagi nggak butuh dipilih siapa-siapa, Mar,” ucapnya akhirnya, lirih. “Aku cuma lagi berjuang buat anakku.”

Damar mengangguk pelan. Tidak memaksa. Tidak membantah. “Ya sudah,” katanya singkat. “Fokus ke itu dulu. Kamu juga nggak harus menjawab sekarang. Yang penting aku sudah menemukan kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."

Tidak ada dramatisasi. Tidak ada paksaan. Dan justru itu… yang membuat Sekar semakin sadar bahwa perasaan ini tidak akan sederhana.

***

Pagi itu bahkan matahari belum benar-benar tinggi ketika suara ketukan di pintu memecah suasana rumah. Sekar yang masih duduk di ruang tengah bersama Sea menoleh, sementara ibunya sudah lebih dulu bangkit untuk membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, suasana langsung berubah tegang. Orang tua Aji berdiri di sana. Wajah ibu mertuanya tampak cemas, tapi tetap menyimpan nada tinggi yang khas. Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung masuk setelah dipersilakan, seolah ada hal mendesak yang tidak bisa ditunda.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!