Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Tak sampai satu jam, berita tentang pernikahan pewaris tunggal Admodjo Group beredar luas melalui laman media online dan juga berita di berbagai stasiun televisi. Foto wanita cantik yang diakui Sandi sebagai istrinya pun nampak mengisi sebuah berita di tv. Ya, beberapa saat setelah kejadian di lobby pagi tadi, ramai awak media mendatangi hotel Admodjo Group guna melakukan wawancara kepada pimpinan hotel tersebut untuk memastikan berita yang awalnya tersebar melalui akun sosial media milik salah seorang tamu hotel.
"Bukannya itu Vania?." Gumam Natalie saat menyaksikan keberadaan Vania berdiri di samping seorang pria, terpampang di layar kaca.
"Sandi Admodjo? Jadi, pria yang bersama Vania malam itu adalah pewaris tunggal Admodjo Group...." Natalie masih ingat betul dengan wajah pria yang malam itu bersama Vania, sangat mirip dengan wajah pria yang kini terlihat di layar kaca sedang melakukan wawancara di depan awak media.
"Sia-lan. Rupanya Vania menikah dengan pewaris tunggal Admodjo Group." Natalie merasa geram sekaligus iri mengetahui Vania menikah dengan pria yang berasal dari keluarga kaya raya. Sesaat kemudian Natalie nampak menyungging senyum licik. "Kau tidak boleh mengalahkan aku dalam segi apapun Vania, termasuk pasangan." Gumam wanita itu.
Natalie mematikan saluran televisi dan beranjak dari duduknya, hendak menemui ibu sambungnya di kamar.
"Mah, mamah...."
"Ada apa?." Tanya ibu sambungnya saat melihat Nathalie memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Ternyata Vania sudah menikah, mah. Dan mamah tahu nggak, siapa suami Vania?."
"Memangnya pria gembel mana yang telah menikahi anak itu?." Dengan sombongnya wanita paruh baya tersebut bertanya. Ya, mengandung dan melahirkan seorang anak diluar nikah hingga membuat ibu berpikir hanya pria gembel yang bersedia menikah dengan Vania.
"Bukan pria gembel, tapi tuan Sandi Admodjo, pewaris tunggal Admodjo Group, mah." Kata Natalie.
"Kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin tuan Sandi Admodjo mau menikah dengan wanita yang pernah mengandung dan melahirkan anak dari pria lain, terlebih diluar ikatan pernikahan." Segitu rendahnya Vania di mata Ibu kandungnya sendiri hingga menikah dengan seorang Sandi Admodjo merupakan sebuah kemustahilan bagi ibunya.
"Sungguh, Natalie nggak bohong, mah. Tadi Natalie lihat sendiri beritanya di tv. Vania terlihat berdiri di samping tuan Sandi saat pria itu melakukan wawancara di depan awak media."
"Benarkah?." Melihat kesungguhan di wajah Natalie, ibu lantas meraih ponselnya dari atas meja kemudian melakukan pencarian di internet. Rupanya benar, tranding topik hari ini di isi dengan berita tentang pengakuan dari pewaris tunggal Admodjo Group soal pernikahannya.
"Kalau sudah menjalani kehidupan enak seperti ini seharusnya anak itu lebih peduli pada keluarga kita, bukannya malah sebaliknya." Bukannya senang mengetahui putrinya telah menikah, ibu kandung Vania justru kesal karena merasa Vania melupakan keberadaannya setelah menikah dengan pria kaya. Mungkin wanita itu mengalami amnesia sehingga lupa bahwa faktanya ialah yang tega mengusir putrinya, bukan putrinya yang melupakan keberadaannya.
Kesempatan ini digunakan Natalie untuk memprovokasi ibu.
"Sebagai seorang anak seharusnya Vania tidak melupakan jasa mamah dalam melahirkan, merawat dan membesarkannya."
"Kamu benar, mamah sudah susah payah melahirkan, merawat dan membesarkannya, maka sudah seharusnya mamah ikut menikmati apapun yang didapatkan oleh Vania, termasuk uang suaminya." Jika ada ajang pencarian manusia paling tak tahu malu, ibu kandung Vania sepertinya cocok bergabung. Dan pastinya akan menjadi pemenangnya.
"Kapan mamah berencana menemui Vania?." Sebagai sesama wanita licik, Natalie dapat menebak isi kepala ibu sambungnya itu.
"Kalau bisa secepatnya. Besok, lusa atau hari ini pun tak masalah." Jawab Ibu.
Dengan antusias Nathalie mengangguk, sangat setuju dengan keputusan ibu sambungnya tersebut.
*
"Ini bagaikan mimpi, Vania. Aku seperti belum percaya kalau ternyata kamu itu adalah istrinya tuan Sandi. Kenapa selama ini kamu merahasiakannya dariku, Vania?." Cika penasaran dengan alasan Vania hingga merahasiakan pernikahannya dengan Sandi darinya.
"Ada banyak hal yang sulit aku jelaskan hanya dengan kata-kata, Cika. Lagipula, pernikahan kami tidak sebahagia yang kamu bayangkan. Kami menikah karena perjodohan, dan mungkin hingga saat ini mas Sandi tidak memiliki perasaan apapun padaku." balas Vania.
"Aku memang tidak terlalu mengenal tuan Sandi secara personal, mengingat beliau baru menjabat sebagai pimpinan hotel. Tetapi, menurutku tuan Sandi adalah pria yang baik dan penyayang, Vania. Untuk cinta, aku yakin seiring berjalannya waktu perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya dihati kalian."
"Kamu sendiri, apa dihati kamu tidak ada sedikitpun perasaan suka terhadap suami kamu?." Lanjut tanya Cika.
Vania nampak menghela napas lalu menjawab.
"Menurutmu, apa ada wanita yang mampu menolak pesona ketampanan seorang Sandi Admodjo?." Vania malah balik bertanya.
Tanpa berpikir panjang Cika menggelengkan kepalanya.
"Bohong, jika aku katakan tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, apalagi saat ini kami adalah pasangan suami-isteri." Ungkap Vania.
Cika menggenggam tangan Vania yang berada di atas meja. "Maaf jika pertanyaanku ini sensitif! Apa kalian sudah melakukannya?."
"Bagi seorang pria, tak butuh perasaan untuk melakukan urusan ranjang, Cika. Karena seorang pria bisa menyentuh wanita meski tanpa cinta."
"Mungkin benar apa yang kamu katakan, tapi aku tidak yakin jika tuan Sandi termasuk tipikal pria seperti itu, Vania." Cika mengutarakan komentarnya tentang sosok Sandi di matanya.
Di tengah obrolan mereka tiba-tiba Vania mendapat telepon dari petugas resepsionis hotel, bahwa di lobby ada seseorang yang tengah mencarinya.
Sesaat kemudian Cika pamit kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Vania menuju lobby hotel guna menemui seseorang yang entah siapa itu.
Setibanya di lobby, Vania terkejut menyaksikan keberadaan seseorang yang tak lain adalah saudari tirinya.
"Bagaimana kau bisa tahu aku bekerja di sini?." Vania memasang wajah datar, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tak suka dengan kedatangan saudari tirinya itu.
"Mentang-mentang sudah menyandang status nyonya Sandi Admodjo, sekarang kau semakin sombong rupanya." Natalie mendekat beberapa langkah ke arah Vania.
Vania nampak menghela napas. Beberapa saat yang lalu Sandi melakukan konferensi pers di depan awak media, maka tak heran jika Natalie mengetahui pernikahannya dengan Sandi.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?." Cetus Vania dengan tatapan curiga.
Natalie sontak melebarkan senyumnya.
"Kau terlalu to the point saudariku, sayang. Maksud dan tujuan dari kedatanganku ke sini hanya ingin memastikan, apakah saudara iparku sudah tahu kalau istri tercintanya ini pernah melahirkan seorang anak haram."
Deg.
"Jangan keterlaluan Natalie!." Vania khawatir jika Nathalie sampai menyampaikan pada Sandi bahwa kenyataannya Sesil terlahir diluar nikah. Bukan apa-apa, Vania tidak ingin putrinya terlihat rendah dan menyedihkan di mata Sandi.
Dari reaksi Vania, Natalie pun menyimpulkan bahwa Sandi tidak tahu kalau kenyataannya Sesil terlahir di luar ikatan pernikahan.
"Kau mau kemana, Natalie?." Vania menyusul langkah Natalie yang berjalan cepat menuju ke arah lift. Sayangnya kaki Vania tersandung hingga langkahnya terhenti dan secara bersamaan pintu lift tertutup. Tidak punya pilihan lain, Vania berlari menuju ke arah tangga darurat.
alahaayyy mereka tu smsm mauu tp msih bingung ajaa mengungkapkannya🤭🤭
lah lah bagus sandi kamu bilang gitu sama siapa sih mamahnya vania namanya pokonya dia we ...biar dia sadar kalu dia telah menukar vania dengsn uang 20 miliar 👍 amnesia kali tih orang masih menyebut dirinya ibu mertua 🤭🤭🤭
cie cie bara ke gep jadi kelimpungan kan buat jelasin 🤭🤭
cie cie vania yang melongo karna tingkah kedua nya 🤣🤣🤣