NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Runtuhnya Rencana, Tiga Bulan Penuh Tifus, dan Sabotase Masa Depan

Manusia boleh merancang masa depannya dengan perhitungan matematis yang paling presisi, namun pada akhirnya, semesta selalu memiliki hak veto mutlak. Anandara Arunika lupa bahwa secanggih apa pun otaknya, tubuhnya hanyalah cangkang biologis biasa yang memiliki batas toleransi.

Menjelang hari-H Ujian Nasional Berbasis Tes (SNBT) untuk masuk ke universitas negeri, ritme hidup Anandara benar-benar tidak manusiawi. Ia tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi ia juga membuka "klinik bimbingan belajar gratis" setiap sore di rumahnya untuk memastikan Sinta, Ami, Kiera, Rehan, dan Reza bisa menembus passing grade universitas impian mereka. Ia memforsir jam tidurnya, mengabaikan porsi makannya, dan menenggak kopi hitam layaknya air putih.

Tiga hari sebelum ujian penentuan itu berlangsung, alarm peringatan dari tubuhnya berbunyi dengan sangat keras.

Saat sedang menjelaskan materi probabilitas statistik di ruang keluarga, pandangan Anandara tiba-tiba mengabur. Ruangan terasa berputar hebat. Spidol di tangannya terjatuh, disusul oleh tubuhnya yang ambruk menghantam lantai karpet. Jeritan panik Sinta adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum kegelapan total menelannya.

Bau menyengat cairan antiseptik dan suara ritmis dari mesin monitor detak jantung adalah hal pertama yang menyapa indera Anandara saat ia perlahan membuka matanya. Kepalanya berdenyut nyeri seolah baru saja dihantam palu godam. Suhu tubuhnya terasa mendidih, namun ia menggigil kedinginan.

Ia menoleh lemah. Ruangan serba putih. Sebuah selang infus menancap di punggung tangan kirinya.

"Nanda? Sayang? Kamu udah sadar?" Suara serak Pak Dirga terdengar. Pria paruh baya itu langsung berdiri dari kursi di samping ranjang, wajahnya luar biasa sembab dan pucat karena kurang tidur.

"Bapak..." tenggorokan Anandara terasa seperti diampelas saat ia berbicara. "Nanda di mana?"

"Kamu di rumah sakit, Nduk. Dokter bilang kamu kena gejala tifus parah karena kelelahan ekstrem dan asam lambung yang akut. Kamu pingsan dan demam tinggi selama tiga hari," jelas Pak Dirga sambil mengelus dahi putrinya dengan sayang.

Kalimat 'tiga hari' itu memicu alarm bahaya di otak Anandara. Matanya yang sayu seketika membelalak ngeri. Ia memaksa tubuhnya yang lemas untuk bangun, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Tiga hari?! Pak... hari ini jadwal SNBT! Ujiannya... ujiannya mulai jam delapan pagi tadi!" Kepanikan absolut melanda Anandara. Ia berusaha mencabut jarum infus di tangannya dengan kasar. "Nanda harus pergi sekarang, Pak! Nanda terlambat!"

"Nanda, hentikan! Kamu nggak bisa ke mana-mana, kondisi kamu masih sangat lemah!" Pak Dirga menahan kedua tangan putrinya dengan panik.

Tepat pada detik itu, pintu kamar rawat inap didorong terbuka.

Anandara terdiam kaku. Di ambang pintu, berdirilah Sinta, Ami, Kiera, Rehan, dan Reza. Mereka semua mengenakan pakaian kasual, menenteng kantong plastik berisi buah-buahan dan martabak manis. Wajah mereka terlihat kaget melihat Anandara yang sedang memberontak, lalu berubah menjadi kelegaan yang luar biasa.

"Nyonya Besar udah sadar!" seru Rehan, nyaris menjatuhkan kantong martabaknya.

Namun, fokus Anandara bukanlah pada martabak itu. Matanya menyapu wajah kelima temannya satu per satu. Ia kembali melirik jam dinding. Pukul sembilan lewat lima belas menit.

"Kenapa kalian ada di sini?" suara Anandara bergetar hebat. Matanya memerah menahan air mata dan amarah. "Seharusnya kalian sedang duduk di ruang ujian! Kenapa kalian ada di rumah sakit jam segini?!"

Ruangan itu mendadak hening. Kelima sahabat itu saling berpandangan, sebelum akhirnya Sinta melangkah maju menghampiri ranjang Anandara. Wajah gadis cerewet itu terlihat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Anandara semakin ketakutan.

"Kita nggak ikut ujiannya, Nan," jawab Sinta pelan namun tegas.

"Apa?!" Anandara menepis tangan ayahnya, menatap Sinta dengan ketidakpercayaan yang luar biasa. "Kau gila, Sinta?! Kalian semua gila?! Ini masa depan kalian! Ujian ini cuma diadakan setahun sekali! Kalau kalian nggak ikut sekarang, kalian harus nunda kuliah setahun!"

"Iya, kita tahu," sahut Kiera dari belakang, menyilangkan lengannya di dada. Wajahnya berusaha terlihat santai, meski matanya berkaca-kaca. "Terus kenapa kalau nunda setahun? Nggak kiamat kan?"

"Kalian merusak masa depan kalian gara-gara aku!" jerit Anandara frustrasi. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. Rasa bersalah menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada bakteri Salmonella typhi yang sedang menggerogoti ususnya. "Gue udah capek-capek ngajarin kalian tiap hari biar kalian bisa masuk universitas itu! Dan kalian buang gitu aja?! Pengorbanan kalian ini bodoh! Logika kalian di mana?!"

"Persetan sama logika!" balas Sinta, suaranya kini meninggi, menahan tangis. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Anandara. "Lo ingat janji kita di atap sekolah dulu, Nan? Lo ingat janji kita di ruang keluarga lo? Kita berenam bakal masuk universitas bareng-bareng! Kalau lo terkapar setengah mati di rumah sakit, lo pikir kita bisa tenang ngerjain soal ujian?! Otak gue blank dari tiga hari yang lalu lihat lo masuk UGD, Nanda!"

"Sinta benar, Nan," Rehan melangkah maju, wajah konyolnya kini tergantikan oleh keseriusan yang langka. "Gue, Reza, Ami, Kiera... kita semua sepakat kemarin malam. Nggak ada ceritanya kita ninggalin lo sendirian gap year sementara kita asyik kuliah. Kemenangan itu nggak akan ada rasanya kalau hyper carry-nya lagi koma di base."

"Tapi ini egois..." isak Anandara, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku menghancurkan rencana kalian. Ayah dan ibu kalian pasti marah besar."

Ami berjalan ke sisi ranjang yang lain, mengusap bahu Anandara dengan lembut. "Orang tua kita udah tahu kok, Nan. Awalnya mereka marah, wajar. Tapi kita jelasin kalau kita mending ngulang tes tahun depan atau cari jalur lain daripada harus ngorbanin solidaritas kita. Persahabatan ini jauh lebih mahal dari pada ijazah mana pun."

"Lagian, kita kan masih bisa ikut ujian jalur Mandiri atau daftar di universitas swasta yang top," tambah Reza santai. "Yang penting, sembuh dulu otak superkomputer kita ini. Kalau lo nggak ada, siapa yang mau nyalin jawaban tugas gue nanti?"

Anandara menangis tersedu-sedu. Ia marah, sangat marah pada kebodohan dan kenekatan teman-temannya yang merelakan masa depan demi dirinya. Namun di saat yang bersamaan, hatinya menghangat oleh sebuah fakta yang tak terbantahkan: ia tidak akan pernah ditinggalkan. Pengorbanan gila ini adalah bukti cinta paling brutal dan paling tulus yang pernah ia terima.

Di tengah isakannya, Sinta memeluk kepala Anandara, mencium puncak kepalanya yang masih panas karena demam. "Udah, jangan nangis. Nyonya Es nggak boleh cengeng. Sekarang tugas lo cuma satu: istirahat, minum obat, dan sembuh. Urusan kuliah, kita pikirin nanti pas kita udah ngumpul di markas besar."

Pak Dirga yang melihat interaksi itu dari sudut ruangan hanya bisa menyeka air matanya. Ia tidak pernah melihat sebuah ikatan persahabatan yang begitu destruktif namun sekaligus sangat indah.

Penyembuhan dari tifus bukanlah perkara mudah. Penyakit itu menguras habis energi dan massa otot Anandara. Tubuhnya yang sudah ramping menjadi semakin kurus. Ia harus menjalani rawat inap selama dua minggu, disusul oleh bed rest total (istirahat di ranjang) selama dua setengah bulan di rumah.

Total, butuh waktu tiga bulan penuh bagi Anandara untuk bisa kembali berdiri tegak tanpa merasa bumi bergoyang di bawah telapak kakinya.

Selama tiga bulan itu pula, kelima temannya secara resmi menyandang status sebagai 'pengangguran intelektual'. Karena mereka melewatkan ujian nasional, tiket masuk ke universitas negeri lewat jalur reguler telah hangus. Mereka menghabiskan waktu dengan bergantian menjenguk Anandara, bermain game di ruang tamunya, atau sekadar menonton film bersama. Kegagalan masuk universitas negeri tidak membuat mereka depresi; mereka justru menikmatinya sebagai sebuah liburan panjang yang tertunda.

Memasuki bulan keempat, saat tubuh Anandara sudah benar-benar pulih seratus persen, Sinta mengeluarkan instruksi darurat. Sudah saatnya mereka berhenti bermain-main dan mulai merancang ulang masa depan yang sempat mereka sabotase sendiri.

Sore itu, angin berhembus sejuk menyapu daun-daun kering di halaman depan Cafe Senja. Sesuai dengan namanya, kafe berdesain industrial dengan dinding bata ekspos dan perabotan kayu jati ini adalah tempat favorit mereka untuk nongkrong kala senja. Kafe ini tidak terlalu jauh dari rumah Anandara, menawarkan suasana yang tenang dan kopi dengan roasting terbaik di kota.

Keenam remaja itu duduk melingkar di meja kayu terbesar di sudut kafe. Di atas meja, terdapat beberapa brosur universitas swasta ternama, dua laptop yang menyala, dan enam gelas minuman yang es batunya mulai mencair.

"Oke, rapat dewan jenderal dimulai," Sinta mengetukkan sendok ke gelas kacanya layaknya seorang hakim. Ia menatap teman-temannya dengan serius. "SNBT udah kelar. Ujian Mandiri universitas negeri juga mayoritas udah tutup. Pilihan kita sekarang tinggal satu: Universitas Swasta."

"Gue udah riset," Anandara mengambil alih kendali. Ketajamannya telah kembali sepenuhnya. Ia membuka sebuah spreadsheet di laptopnya. "Ada Universitas Pelita Bangsa. Itu universitas swasta tier 1. Fasilitasnya bahkan lebih bagus dari universitas negeri, dan yang paling penting, gelombang pendaftaran terakhir mereka untuk mahasiswa baru masih buka sampai minggu depan."

"Masalah biaya aman kan?" tanya Ami khawatir.

"Aman. Ayah gue udah bilang, beliau yang akan talangin biaya pendaftaran kita semua sebagai bentuk permintaan maaf karena gue bikin kalian nunda kuliah," tegas Anandara. Teman-temannya sempat protes menolak, namun Anandara mengancam akan kembali sakit jika mereka menolak bantuan ayahnya.

"Bagus. Berarti kampus udah fix ya. Universitas Pelita Bangsa," Reza menepuk meja. "Sekarang, agenda utama yang paling krusial. Jurusan."

Suasana meja itu mendadak tegang.

"Gue dan Rehan udah sepakat," lanjut Reza dengan wajah memelas namun keras kepala. "Kejadian Nanda sakit kemarin ngasih pelajaran berharga buat kita. Kalau kita pisah fakultas atau pisah jurusan, kita bakal susah saling jaga. Rehan kemarin nyaris nekat ngerampok mobil ambulans saking paniknya nggak bisa ngehubungin lo, Nan."

"Jadi maksud lo?" Kiera mengerutkan dahi.

Rehan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Maksudnya, impian gue dan Reza buat kita semua sekelas itu bukan lagi sekadar becandaan. Kita harus, mutlak, wajib, masuk di jurusan yang sama! Di kelas yang sama! Biar jadwal kita sinkron, biar kalau ada tugas kita ngerjainnya bareng, biar nggak ada lagi yang namanya 'Nanda tumbang tapi kita nggak tahu karena lagi kelas di gedung lain'."

Pernyataan Rehan yang berapi-api itu membuat Ami dan Kiera saling pandang.

"Han, lo gila ya?" protes Ami. "Latar belakang kita beda! Nanda, lo, sama Reza anak IPA. Gue, Sinta, Kiera anak IPS! Mana ada jurusan yang bisa nerima lintas minat terus gampang buat diikutin semua pihak?"

"Ada!" potong Sinta tiba-tiba. Ia menatap Anandara. "Nan, lo inget kan lo pernah nyebutin kalau lo suka hal yang pasti, tapi lo juga ahli dalam menganalisa data bisnis bokap lo?"

Anandara mengangguk perlahan. "Ya. Terus?"

"Gimana kalau kita semua ambil jurusan yang netral? Jurusan yang anak IPA bisa masuk karena butuh logika dan hitungan matematika, tapi anak IPS juga bisa masuk karena itu ranah ekonomi?" Sinta melemparkan idenya.

"Jangan bilang..." Kiera menelan ludah.

"Akuntansi," ucap Anandara cepat, matanya membesar karena menyadari kelogisan ide Sinta.

Keheningan melanda meja itu selama beberapa detik.

"Akuntansi?!" pekik Rehan. "Gila lo! Itu isinya angka semua! Neraca, laporan laba rugi, debit kredit yang kalau nggak balance selisih seratus perak aja bisa bikin kita botak sariawan!"

"Justru itu!" Anandara mencondongkan tubuhnya, otaknya mulai bekerja cepat membedah skenario. "Akuntansi itu ilmu pasti, Rehan. Sama kayak coding di Informatika. Ada input, ada proses, ada output. Logikanya lurus, nggak banyak drama atau interpretasi ambigu kayak belajar sastra. Lo dan Reza anak IPA, otak kalian terbiasa dengan kalkulasi rumit. Kalian pasti bisa beradaptasi."

"Tapi gue maunya bikin game, Nan..." rengek Rehan.

"Lo bisa ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) E-Sport atau programming club di luar jam kuliah," potong Anandara tanpa ampun. Ia lalu beralih ke Kiera dan Ami. "Buat lo berdua yang anak IPS, Akuntansi itu dasar dari semua ilmu ekonomi. Peluang kerjanya paling luas. Setiap perusahaan di dunia ini, mulai dari warung padang sampai perusahaan multinasional, butuh Akuntan. Kalian nggak akan pernah nganggur."

Ami menggigit bibirnya, tampak berpikir keras. "Psikologi gue gimana, Nan?"

"Ilmu psikologi bisa lo pakai buat menganalisa behavior klien atau buat nembus negosiasi audit nanti, Mi," Anandara memberikan rasionalisasi yang sangat masuk akal.

"Dan Sinta," Anandara menatap sahabatnya itu. "Lo yang pengen banget masuk Komunikasi. Kalau lo masuk Akuntansi, lo bisa gabungin skill komunikasi lo itu buat jadi konsultan keuangan yang handal. Bukan cuma tukang hitung di belakang meja."

Sinta tersenyum puas. "Gue sih setuju banget. Dari awal gue emang siap banting setir ke mana aja asalkan kita ngumpul."

Sisa waktu dua jam di Cafe Senja itu dihabiskan dengan perundingan yang sangat berat dan alot. Rehan dan Reza masih mencoba bernegosiasi untuk masuk ke Manajemen yang dianggap "lebih santai" daripada Akuntansi, namun Anandara mematahkan argumen mereka dengan mengatakan bahwa Manajemen terlalu banyak teori hafalan, yang mana merupakan kelemahan utama Rehan.

"Dengerin gue," Anandara meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap kelima temannya dengan sorot mata yang penuh kelembutan namun dominan. "Kalian udah ngorbanin masa depan kalian demi gue. Kalian ngelepasin kampus impian kalian. Sekarang, biarkan gue yang bertanggung jawab atas masa kuliah kalian. Kalau kita semua masuk Akuntansi, gue janji, gue yang bakal mastiin IPK kalian semua minimal 3.5. Gue yang bakal jadi tutor kalian buat setiap ujian. Kita masuk bareng, kita lulus bareng di kelas yang sama."

Mendengar garansi seumur hidup dari seorang jenius seperti Anandara, perlawanan Rehan dan Reza langsung runtuh.

Rehan menghela napas panjang dan meminum es kopinya hingga habis. "Baiklah. Selamat tinggal masa depan sebagai programmer cyberpunk. Selamat datang dunia kalkulator dan Microsoft Excel. Gue serahin jiwa raga gue di kelas Akuntansi, Nyonya Es."

"Gue juga ikut," timpal Ami. "Bismillah, semoga debit kredit gue selalu balance."

"Gue deal," Kiera mengangkat tangannya.

Sinta tersenyum lebar, mengangkat gelasnya yang masih berisi sisa lemon tea. "Oke! Keputusan disahkan tanpa voting ulang! Kita berenam bakal ngejajah Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Pelita Bangsa, jurusan Akuntansi!"

Mereka berenam membenturkan gelas mereka di udara, menciptakan bunyi dentingan nyaring yang menenggelamkan alunan musik indie di kafe itu. Di bawah semburat cahaya senja yang keemasan, mereka mengikat janji baru. Sebuah kompromi gila yang lahir dari persahabatan yang jauh lebih gila lagi.

Anandara menyesap minumannya sambil tersenyum menatap wajah lega teman-temannya. Ia merasa hidupnya kini sangat terstruktur kembali. Rencananya sempurna: masuk satu kelas yang sama dengan sahabat-sahabatnya, belajar hitungan pasti tanpa melibatkan perasaan, lulus dengan nilai sempurna, dan tidak akan ada ruang untuk hal-hal tak terduga yang bisa mengancam dinding pertahanannya.

Namun, yang tidak diketahui oleh geng Akuntansi dadakan ini adalah bahwa di universitas yang sama, di fakultas yang sama, dan bahkan di jurusan Akuntansi yang sama, ada seorang pemuda bermata setajam elang yang juga baru saja mendaftar. Pemuda yang sejak hari kelulusan kemarin tidak bisa melupakan senyuman Anandara, dan kini, takdir sedang menyusun skenario pertemuan yang akan menghancurkan kedamaian Nyonya Es itu untuk selamanya.

Bersambung...!

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!