Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerupuk
Hana mengambil barang belanjaan yang dikirimkan oleh Ruby melalui pesan pengantar.
Setelah memasukkan semua barang, ia menutup pintu apartemen.
Luca yang kebetulan berada di lantai bawah tanpa pikir panjang membantu Hana membawa barang yang tersisa di depan pintu.
"Terima kasih, tuan. Ini tugas saya." Hana segera mengambil alih ketika melihat Luca yang membawa barang yang tersisa.
Pria itu hanya berdecak pelan, ia memilih duduk di meja makan menonton Hana yang membereskan semua barang-barang yang baru dibeli.
"Itu untuk berapa hari?"
"Tiga hari, tuan."
"Apa itu tak kurang?"
"Ini sangat banyak, tuan. Bahkan saya ragu kita bisa menghabiskannya dalam tiga hari."
"Tuan Ruby mungkin keliru membaca pesan saya, semua barang menjadi dua kali lipat."
"Kau memanggilnya tuan?" Luca mengernyitkan kening.
"Ya." Hana berhenti dari kegiatannya untuk menatap majikannya yang sedang duduk sembari menopang dagu.
Sikap majikannya ini seperti pria biasa, tak ada sikap anggun berkelas layaknya pria kaya seperti yang pria ini perlihatkan saat di luar rumah.
"Majikanmu hanya aku, Ruby itu sama denganmu. Dia hanya pesuruh. Bisa besar kepala lelaki itu kau panggil tuan."
Hana merasa lucu ketika mendengar Luca yang mengomel tentang Ruby.
"Baik, tuan."
"Kupaskan mangga dan buah naga itu untukku."
Hana segera mencuci buah mangga dan buah naga lalu mengupas dan memotongnya ke dalam piring.
Sembari Hana memotong, Luca tak sabar menunggu selesai, ia mulai memakannya sambil mengobrol santai.
"Kau betah di sini?"
"Iya, tuan."
"Kenapa? Kau di sini bekerja 24jam."
"Di sini saya tak akan kelaparan. Tuan sangat murah hati tentang makanan, tak perlu menyisihkan uang untuk membayar kost, saya senang walaupun harus bekerja 24jam."
Hana tersenyum kecil, ia masih mengupas dan memotong buah mangga untuk yang ketiga kali.
Luca memintanya menambah buah yang tak terasa sudah habis ia lahap sembari berbincang.
"Baguslah kau menyadarinya." Luca besar kepala dengan pujian Hana. Gadis muda itu hanya mengangguk pelan.
Hari-hari berlalu dengan damai, Nolan tak lagi menunjukkan batang hidungnya setelah hari itu.
Hana bersyukur hal itu tak membuatnya kesulitan.
Sore itu ia turun ke bawah untuk membeli beberapa camilan, tentu ia sudah mengantongi izin dari Luca yang sedang berada di apartemennya.
"Apa setelah ini kau akan pergi?" Perempuan berambut merah menutupi tubuhnya yang telanjang menggunakan selimut.
"Tentu, hari ini istriku kembali dari liburannya." Pria setengah baya tersebut memasang celana sembari mengerling nakal.
"Kenapa tidak kita lanjutkan satu ronde lagi? Kau sepertinya masih menginginkannya."
"Oh, sayang. Kau sangat peka. Baiklah ayo satu ronde lagi."
"Kau membuatku ketagihan." Pria tersebut melepaskan celananya kembali dan melempar asal, ia menyerang perempuan yang ia bayar dengan menggelitik pinggangnya.
Perempuan tersebut tertawa kecil akibat perlakuan pria setengah baya itu.
"Nona, belilah kerupukku ini."
Seorang perempuan tua memanggil Hana yang akan melewatinya.
"Kerupuk apa ini, Nek?" Hana menghampiri lalu berjongkok di depan perempuan tua itu berniat akan membeli.
"Kerupuk ubi. Dan ini dari nasi."
"Aku ingin kerupuk ubi, Nek."
"Ambil semua ya? Agar aku bisa lekas pulang."
Hana melihat awan yang menghitam, seperti akan runtuh.
"Baiklah, aku beli semua, Nek. Berapa?"
"50ribu, Nona."
"Ini, Nek."
"Uang pas saja, aku tak ada kembalian."
"Biarlah, untukmu membeli makan malam, Nek."
"Terima kasih banyak, Nona. Semoga hidupmu selalu beruntung."
Hana membawa semua kerupuk dalam satu kantung plastik besar menuju apartemen.
Ia melihat satpam yang berjaga dan berniat menghampirinya.
"Pak, kau ingin kerupuk ini?"
"Berapa? Kebetulan istriku sedang mengidam."
Hana menggeleng.
"Ambillah, aku berniat membagikannya."
"Wah, kau baik sekali, Nona."
Satpam tersebut mengambil dua bungkus kerupuk nasi dan ubi.
"Itu saja, pak?"
"Iya, Nona. Ini saja. Terima kasih banyak."
Hana mengambil tiga bungkus lagi dari kantung plastik dan memberikannya pada satpam.
"Ini, Pak. Kau bisa membaginya pada temanmu jika kau tak mau."
"Terima kasih, Nona!"
Satpam sedikit berteriak sebab Hana langsung pergi usai memberikan kerupuknya.
Di tangannya masih banyak kerupuk, namun ia memilih membawanya ke apartemen sebab hujan mulai turun sangat deras.
Dirinya seperti seorang pedagang dengan membawa banyak kantung plastik di tangan.
Hana membeli banyak camilan ditambah satu kantung plastik besar yang berisi beberapa kerupuk.
Saat keluar dari lift, ia bertemu Ruby yang akan masuk ke unitnya.
"Tuan! Tunggu.." Hana mengejar Ruby yang sontak menghentikan langkah dan menunggunya.
"Ada apa, Nona?"
"Ini, untukmu."
Ruby menatap beberapa bungkus kerupuk ubi yang diberikan Hana.
"Ayo, ambillah."
Ruby mengambil kerupuk tersebut dengan tatapan bingung.
"Anda berjualan, Nona?"
"Tidak. Aku sedang beramal."
"Terima kasih, Nona."
"Ya, ya. Aku akan masuk. Selamat malam, tuan Ruby."
"Selamat malam, Nona."
Ruby hanya mengedikkan bahu asal dan membawa bungkusan kerupuk ke dalam unitnya.
Lumayan untuk temannya bekerja malam ini, pikirnya.
Hana masuk ke area dapur dan meletakkan semua kantung plastik di atas meja.
Luca yang turun ke bawah penasaran dengan apa yang dibawa oleh Hana.
"Apa ini semua belanja bulanan?"
Hana menoleh ketika Luca datang menghampiri.
"Bukan, tuan. Itu semua kerupuk."
"Kerupuk?" Luca membuka kantung plastik besar dan terkejut melihat isinya yang semua adalah kerupuk berwarna-warni.
"Astaga, kau ingin berjualan kerupuk?"
"Tidak, tuan." Hana yang sibuk meletakkan beberapa camilan ke dalam kulkas.
"Anda ingin beberapa, tuan? Saya tidak keberatan berbagi."
"Tidak. Itu tidak sehat."
"Baiklah."
"Kau ingin menghabiskan semua ini sendirian?"
"Mau bagaimana lagi? Anda tidak mau."
"Kenapa kau membeli sangat banyak?"
Hana menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Tanpa sadar."
"Astaga, pemborosan."
Luca berlalu usai mengambil air untuk minum.
"Hana!" Luca memanggil saat di ruang keluarga.
"Ya, tuan?"
"Aku ingin kerupukmu satu."
"Baik." Hana segera kembali ke dapur untuk mengambil kerupuk.
Namun, ia menambahkan tiga bungkus dengan rasa yang berbeda agar Luca bisa memilih.
"Ini, tuan." Hana meletakkan di atas meja, Tatapan pria itu terfokus pada layar televisi di depannya.
"Ya." Tangannya mengisyaratkan Hana agar pergi, perempuan muda itu segera menyingkir dan melakukan pekerjaannya.
Dua hari berlalu, pagi itu Hana sedang membuka semua lemari penyimpanan seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada apa? Kau mencari sesuatu?" Luca menghampiri Hana yang sibuk membuka semua lemari.
Perempuan itu masih mengenakan baju tidur, berbanding dengan dirinya yang sudah berpakaian rapi.
"Kerupuk saya hilang, tuan. Padahal saya menaruhnya tak jauh dari kompor."
Luca melipat bibirnya ke dalam mulut.
Ia enggan mengaku bahwa dirinya lah yang menghabiskan kerupuk milik Hana, semalam ia tak bisa tidur, dan menemukan kerupuk yang berada di atas meja, tanpa pikir panjang ia mengambil semuanya karena tempo hari ia ketagihan dan malu untuk meminta lagi pada gadis itu.
"Mungkin kau lupa sudah menghabiskannya."
"Tidak, tuan. Saya ingat baru memakannya dua bungkus."
"Nanti saja, kau akan terlambat dan terkena poin."
Hana sontak menoleh ke arah Luca yang sudah siap akan berangkat.
"Astaga, saya hampir lupa." Hana berlari ke dalam kamar untuk berganti pakaian, sedangkan Luca melangkah keluar apartemen.