NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Mansion Halim

Gerbang besi setinggi empat meter itu terbuka otomatis. Sangkar emas kelas atas Jakarta menyambutnya.

Roda Range Rover melindas kerikil presisi di pelataran taman. Perut bawah Sabrina berdenyut. Jahitan medis di jalan lahirnya serasa ditarik paksa setiap kali suspensi mobil berayun lambat. Ia menahan panggulnya menggunakan sisa tenaga lengan kanannya yang dibalut perban tebal. Tangan kirinya mendekap erat selimut termal perak berlapis disinfektan.

Di balik selimut itu, Sebastian tidur tanpa suara.

Pintu mobil terbuka ke atas. Udara malam ibukota yang lembap dan berbau polusi tipis menyergap paru-parunya.

Adrian melangkah keluar lebih dulu. Sepatu kulit pantofelnya mengetuk lantai granit garasi. Pria itu menoleh sebentar, merapikan lengan jas mahalnya tanpa mengulurkan tangan.

"Keluar."

Sabrina menggeser bokongnya ke tepi jok. Nyeri tajam menyayat daging lunaknya akibat gesekan kain rumah sakit. Ia menggigit dinding pipi bagian dalam. Kaki telanjangnya yang pucat menyentuh dinginnya lantai garasi. Tubuhnya sedikit terhuyung, namun ia segera mengunci lututnya tegak lurus.

Barisan pelayan berseragam hitam putih sudah berdiri rapi memanjang di depan pilar teras utama. Mereka menunduk kaku layaknya prajurit menunggu inspeksi jenderal.

Seorang wanita paruh baya memisahkan diri dari barisan. Sanggulnya terikat kencang tanpa celah helaian rambut jatuh. Wajahnya keras dengan gurat tulang pipi menonjol.

"Selamat datang di rumah, Tuan Halim." Kepala pelayan itu, Lasmi, menundukkan kepalanya. Matanya lalu melirik cepat ke arah Sabrina, menyapu gaun rumah sakit kumal dan perban darah di tangan majikannya.

"Nyonya Sabrina." Lasmi menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan senyum yang sama sekali tidak mencapai mata. "Anda akhirnya pulang. Nona Kania menelepon lima kali sejak sore tadi. Beliau sangat cemas memikirkan Anda yang mendadak hilang dari fasilitas perawatan jiwa."

Tembakan peringatan pertama. Lasmi sengaja memakai frasa 'fasilitas perawatan jiwa' untuk menegaskan posisi lemah Sabrina di depan para staf rumah tangga.

Sabrina tidak membalas. Ia hanya menatap leher Lasmi. Otak pembunuh Maureen mengkalkulasi ketebalan jakun wanita tua itu. Tiga detik. Ia hanya butuh tiga detik untuk mencekik saluran napas pelayan itu sampai putus.

"Banyak urusan bisnis malam ini, Lasmi," potong Adrian cepat, suaranya menggema otoriter di teras luas. "Siapkan dokter keluarga. Istriku butuh banyak istirahat."

"Dokter sudah siaga di ruang perawatan sayap timur, Tuan." Lasmi menatap lekat buntalan perak di dada Sabrina. "Biar saya yang membawa bayinya, Nyonya. Anda terlihat sangat... kelelahan. Gaun Anda kotor. Bayi rentan terkena infeksi kulit jika terus bersentuhan dengan cairan kotor di tubuh ibunya."

Lasmi menjulurkan kedua tangannya ke depan. Jari-jarinya berkuku panjang, dicat warna bening mengilap sempurna.

Sabrina mengencangkan otot lengan kirinya. Ia memutar sedikit bahunya, menjauhkan Sebastian dari jangkauan kuku-kuku pelayan itu.

"Singkirkan tanganmu," desis Sabrina datar.

Lasmi mempertahankan posisinya tegak. Pelayan ini merasa sangat aman berlindung di balik nama besar Kania Tanjung. "Ini protokol sterilisasi dari Nona Kania, Nyonya. Beliau berpesan agar saya selalu memastikan kebersihan pewaris..."

"Kau tuli, Lasmi?"

Sabrina melangkah maju satu tindak penuh perhitungan. Bahu kirinya menabrak keras tulang selangka pelayan itu. Lasmi terhuyung mundur dua langkah, sangat kaget menerima tenaga dorongan fisik yang sama sekali tidak ia duga dari tubuh perempuan kurus pucat tersebut.

"Sekali lagi kau mencoba menyentuh anakku." Sabrina mencondongkan wajahnya. Aroma klorin dan besi berkarat menusuk saraf hidung Lasmi. "Aku patahkan lenganmu di depan pintu ini."

Ruang teras itu hening total. Angin malam berembus membekukan keringat para pelayan lain di barisan belakang.

Lasmi memucat pasi. Matanya mendelik mencari pembelaan ke arah sang tuan rumah.

Adrian hanya berdiri diam mengamati tontonan tersebut. Sang taipan memasukkan satu tangannya ke saku celana, jelas menikmati perubahan insting buas istrinya. "Buka jalannya, Lasmi. Jangan memancing kemarahan betina yang baru melahirkan."

"Baik, Tuan." Lasmi menunduk dalam-dalam. Tangannya meremas sisi celemek putihnya, meredam amarah dan harga diri yang terinjak tuntas.

"Jalan," perintah Sabrina.

Mereka berdua berjalan memasuki lorong utama mansion. Lampu kristal raksasa menggantung menyilaukan mata dari plafon setinggi delapan meter. Lantai marmer Italia yang super licin memantulkan bayangan tubuh mereka.

Di dalam dekapan dada Sabrina, Sebastian bergerak meronta pelan. Hidung mungil anak itu mengerut menolak bau pengharum ruangan lavender buatan yang terlalu kuat.

Sabrina mengusap punggung bayinya memutar perlahan. Hawa hangat menembus telapak tangannya, menstabilkan detak jantungnya yang tadi berpacu memburu. Momen sunyi ini menjadi jangkar kewarasannya. Sentuhan kulit Sebastian memberinya asupan energi tak terlihat. Ia bisa mencium bau susu murni yang menutupi bau kebusukan rumah ini.

Lasmi berjalan tiga langkah di depan memandu rute menuju sayap barat.

"Lantai ini baru saja dipoles siang tadi, Nyonya," ucap Lasmi mengoceh pelan tanpa membalikkan punggungnya. "Tolong hati-hati melangkah. Saya tidak mau pelayan lain harus membuang tenaga membersihkan tetesan darah dari perban Anda."

Cibiran pasif-agresif murahan.

"Kau yang mengatur pergantian shift pengawal di rumah ini?" balas Sabrina, langsung membuang jauh-jauh hinaan itu ke tong sampah. Matanya menyapu presisi letak empat kamera pengawas di setiap sudut persimpangan lorong.

"Nona Kania yang mengaturnya." Lasmi menjawab memakai nada bangga yang sengaja dipamerkan. "Beliau memiliki akses penuh atas manajemen rumah tangga Halim sejak Anda... jatuh sakit berkelanjutan."

"Berapa titik buta di lorong ini?"

"Maaf, Nyonya?" Langkah sepatu Lasmi melambat sesaat.

"Lupakan." Sabrina mencatat pola rotasi kamera di otaknya. Tiga kamera statis, satu kamera dinamis berputar. Ada celah enam belas detik tepat di balik pilar kedua. Penempatan formasi keamanan ini terlalu amatir untuk standar pertahanan rumah seorang bos mafia tingkat nasional.

"Nona Kania memilihkan kamar bayi itu secara khusus minggu lalu." Lasmi melanjutkan provokasi lidahnya. "Beliau turun tangan langsung mengecat dindingnya dan memilih perabotan dari luar negeri. Nona Kania tahu Anda tidak punya kapasitas memikirkan hal-hal detail pengasuhan."

Musuh sudah membangun jaring perangkap tepat di dalam jantung rumah ini. Kania Tanjung menguasai telinga dan mulut para pelayan, mengatur sistem tata letak keamanan, dan bahkan berani ikut campur menentukan warna cat dinding ruang tidur pewaris Halim.

Sabrina menekan rasa nyeri sayatan panggulnya menjadi gumpalan fokus murni. Rumah raksasa ini bukan sangkar perlindungan. Ini murni arena gladiator. Adrian membawanya kembali ke mari bukan untuk memberinya rasa aman, melainkan murni untuk menonton pertunjukan seberapa ganas serigala betinanya mampu menggigit balik leher kawanan anjing suruhan Kania.

"Kita sampai, Nyonya."

Lasmi berhenti tegak di depan sebuah pintu kayu mahoni solid bercat putih gading. Tangannya meraih kenop pintu berbahan kuningan tebal yang mengilap. Pintu terbuka mulus tanpa decitan engsel.

Lampu gantung utama ruangan otomatis menyala.

Kepala pelayan menunduk, tapi matanya memancarkan penghinaan. Sabrina menandai wanita itu sebagai target pertama.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!