NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Kembali ke meja makan. Setelah insiden kopi tumpah dan kedamaian yang diciptakan oleh Elvano itu, suasana yang tadinya kaku luar biasa bak tembok beton, perlahan mulai mencair sedikit demi sedikit. Tidak lagi sedingin es, tidak lagi sesunyi gurun, tapi masih ada sedikit rasa canggung yang manis dan menggemaskan di antara mereka berdua.

Aira makan dengan jauh lebih lahap sekarang. Rasa takutnya yang tadi menggunung sudah hilang lenyap, digantikan oleh rasa hangat dan aman yang luar biasa, karena ia tahu bahwa suaminya tidak galak padanya, justru sangat pengertian.

“Mas Elvano,” panggil Aira lagi, kali ini suaranya jauh lebih berani dan tidak setipis serta sehalus tadi.

“Hmm?” Elvano mengangkat wajahnya dari piring, menatap istrinya dengan tatapan penasaran dan lembut. “Kenapa, Ra? Kami butuh sesuatu?”

“Enggak mas, cuma mau bilang nanti kalau Mas Elvano pergi kerja, Aira boleh bantuin Bibi Asih beres-beres rumah gak sih?” tanya Aira dengan wajah yang polos dan mata berbinar antusias. “Soalnya Aira kan biasa kerja dan bergerak terus dari kecil, kalau cuma duduk-duduk doang, tidur-tiduran doang rasanya gak enak badan, gatal gitu rasanya pengen ngapa-ngapain.”

Elvano tersenyum mendengar jawaban polos dan jujur itu. Ia meletakkan sendok dan garpunya perlahan di atas piring, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai namun tetap gagah, menatap Aira lekat-lekat penuh dengan perhatian.

“Boleh banget dong, masa gak boleh,” jawab Elvano santai dan terbuka. “Kamu kan nyonya rumah ini, jadi bebas mau ngapain aja di rumah sendiri. Mau beres-beres, mau tanam bunga, mau baca buku, semua hak kamu. Tapi ingat ya satu hal…”

Elvano menatap Aira serius namun lembut.

“Jangan terlalu capek. Kalau ada yang berat-berat, suruh Pak Budi atau satpam yang angkat. Kamu jangan nekat angkat sendiri, nanti sakit atau keseleo. Aku gak mau kamu sakit.”

“Iya Mas, tenang aja. Aira kan kuat, tapi tetep hati-hati kok,” jawab Aira sambil tersenyum manis, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi. “Nanti Aira coba masak juga ya, Mas. Biar Mas Elvano pulang kerja bisa makan masakan Aira yang hangat-hangat.”

Mata Elvano berbinar cerah mendengarnya, tampak sangat antusias. “Oh? Kamu mau masak khusus buat aku?”

“Iya dong! Kan Aira istri Mas. Wajib dong masakin suami biar semangat kerjanya,” Aira mengangguk mantap sekali, penuh dengan percaya diri. “Aira bisa masak rendang, sop iga, ayam goreng lengkuas, sama sayur asem. Enak lho kata temen-temen, dan orang rumah pada suka.”

“Wah, hebat sekali istriku ini,” puji Elvano tulus, matanya memandang Aira dengan rasa bangga yang luar biasa memancar dari tatapannya. “Kalau gitu aku tungguin ya. Aku paling suka masakan rumah, bumbunya kental, rempahnya terasa, dan rasanya kayak di rumah nenek. Di restoran mahal sekalipun kadang rasanya hambar dan kurang nendang.”

“Insyaallah enak, Mas! Nanti Aira buktiin!”

Obrolan mereka mulai mengalir lancar seperti air sungai yang tenang. Tidak lagi terasa kaku dan dingin. Mereka membicarakan banyak hal yang sederhana namun bermakna. Mulai dari makanan apa yang disuka dan tidak disuka, kebiasaan masing-masing di pagi hari, sampai rencana kegiatan Aira selama di rumah sendirian.

Di satu sisi, Elvano merasa sangat lega dan bahagia. Ternyata Aira bukan tipe wanita yang manja, pemalas, atau menuntut ini itu dengan gaya hidup mewah. Gadis ini sederhana, rajin, rendah hati, dan sangat pandai bersyukur. Itu justru membuat rasa sayang dan kagum Elvano bertambah berkali-kali lipat.

Di sisi lain, Aira merasa sangat nyaman dan aman. Elvano ternyata bukan pria yang menakutkan seperti yang ia bayangkan selama ini. Di balik wajah dingin dan wibawanya yang luar biasa besar, ia adalah pria pendengar yang baik, sabar, dan sangat perhatian terhadap detail kecil.

Waktu terus berjalan, tak terasa piring dan gelas di hadapan mereka pun sudah kosong melompong. Perut pun terasa kenyang, hangat, dan bahagia.

“Wah, kenyang banget! Makasih banyak ya makan siangnya, Bi! Enak banget masakannya!” seru Aira sambil mengelap mulutnya dengan tisu makan dengan gerakan yang sopan.

“Sama-sama Non Aira! Bibi senang sekali kalo Non Aira suka,” jawab Bibi Asih cepat mendekat dengan wajah yang ramah. “Silakan istirahat dulu ya Non di kamar atau di ruang tengah, biar Bibi sama Mbak Siti yang beresin piring-piringnya.”

“Ah gak apa-apa Bi, Aira bantuin aja ya. Sekalian Aira belajar letak-letak peralatan dapur biar hafal, jadi nanti kalau mau masak gak bingung cari ini itu,” jawab Aira ramah sambil langsung turun tangan mengambil piring-piring yang kotor.

Aira pun turut membantu membereskan piring ke dapur. Gerakannya cekatan, rapi, dan tidak sungkan sama sekali mengotori tangan atau membungkuk. Bibi Asih yang melihatnya pun semakin sayang dan takjub. Non Aira benar-benar tidak membeda-bedakan status, tidak sombong, dan sangat rendah hati.

Sementara itu, di ruang tamu utama yang megah, Elvano sedang berdiri di depan cermin besar sambil membetulkan letak dasinya sekali lagi, dan merapikan kerah kemeja putihnya agar terlihat sempurna dan rapi seperti biasanya.

Pak Budi berdiri di dekatnya dengan map kulit berisi dokumen-dokumen penting yang sudah siap.

“Tuan, semua dokumen meeting pagi ini sudah siap di dalam mobil. Jadwalnya padat sekali hari ini, Tuan. Ada rapat dengan investor asing jam sepuluh,” lapor Pak Budi singkat dan padat.

“Ya, siap. Kita berangkat sekarang,” jawab Elvano singkat, tapi matanya tidak sengaja melirik ke arah dapur di mana terlihat sosok kecil Aira yang sedang tertawa kecil berbincang akrab dengan Bibi Asih.

Melihat pemandangan itu, sudut bibir Elvano terulas senyum tipis yang sangat hangat.

“Pak Budi…” panggil Elvano pelan.

“Ya, Tuan?”

“Jaga Non Aira baik-baik ya di rumah. Kalau dia butuh apa-apa, langsung siapin tanpa dia harus minta berkali-kali. Jangan biarkan dia merasa kesepian atau kesulitan apa pun di rumah ini. Mengerti?”

“Siap, Tuan! Jangan khawatir. Saya dan Bibi Asih akan pastikan Non Aira nyaman dan bahagia di sini seperti di rumah sendiri.”

“Bagus.”

Elvano menarik napas panjang. Ada rasa berat yang aneh di dada untuk meninggalkan rumah ini pagi ini. Rasanya ingin sekali ia mengambil cuti hari ini dan berlama-lama di rumah bersama gadis itu. Tapi tanggung jawab perusahaan dan ratusan karyawan menunggunya.

Elvano berjalan mendekati dapur di mana Aira sedang asyik membantu mencuci piring, meski dilarang keras oleh Bibi karena takut tangannya yang halus jadi kasar.

“Aira…” panggil Elvano pelan namun terdengar jelas.

Aira langsung menoleh dengan cepat, matanya berbinar melihat suaminya sudah siap berangkat. “Iya Mas? Mau berangkat sekarang?”

“Iya Ra, aku berangkat dulu ya.”

Aira segera mengelap tangannya ke celemek yang dipakainya, lalu berjalan mendekat ke arah suaminya dengan wajah yang sangat manis dan penuh kasih sayang yang tulus.

“Hati-hati di jalan ya, Mas,” ucap Aira lembut, matanya menatap dalam ke manik mata hitam Elvano. “Bawa mobilnya pelan-pelan, jangan ngebut-ngebut, bahaya. Jangan lupa istirahat kalau capek atau ngantuk. Dan… semangat kerjanya ya!”

Kata-kata sederhana itu, tapi terdengar begitu indah dan menghangatkan hati di telinga Elvano. Belum pernah ada orang yang mengucapkan kata-kata sehangat dan setulus itu padanya setiap pagi. Biasanya orang hanya mengucapkan “Hati-hati” secara formalitas doang. Tapi dari Aira, terasa berbeda. Terasa tulus, terasa dikatakan dengan hati.

“Iya, makasih ya sayang…” Elvano tersenyum, kali ini senyum yang sangat lebar dan tampan. “Kamu juga hati-hati di rumah ya. Jangan buka pintu sembarangan kalau gak kenal orangnya. Kalau ada apa-apa, telepon aku langsung, nomorku selalu aktif 24 jam.”

Aira tersenyum mendengar panggilan saya dari suaminya “Iya Mas, Aira janji.” jawabnya.

Mereka berdiri berhadapan di lorong rumah yang luas itu. Suasana sejenak hening, hanya terdengar suara burung berkicau di luar dan suara pendingin ruangan yang halus.

Ada keinginan besar yang menggebu-gebu di hati Elvano untuk melakukan sesuatu. Ingin sekali ia menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat, mengecup keningnya, atau bahkan mengecup bibirnya sebagai tanda pamit yang manis. Tapi ia sadar diri, mereka masih baru. Aira masih sangat pemalu dan canggung. Ia tidak ingin membuat gadis itu kaget, tidak nyaman, atau merasa tertekan. Semuanya harus berjalan secara alami dan indah.

Akhirnya, Elvano mengambil jalan tengah yang manis dan penuh rasa hormat. Ia hanya mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu dengan sangat lembut ia menyentuh puncak kepala Aira, mengusap rambut hitam panjang yang terurai itu pelan sekali, penuh kasih sayang dan rasa memiliki.

Sentuhan itu sederhana, tapi mampu membuat seluruh tubuh Aira terasa hangat merona, jantungnya berdegup dengan kencang bagai genderang yang dipukul cepat.

“Sampai jumpa sore nanti, Aira.”

“Sa… sampai jumpa, Mas Elvano…” Aira menunduk malu, pipinya merah padam bak buah apel yang ranum, senyumnya tak bisa lepas dari bibirnya.

Elvano pun berbalik badan, melangkah tegap namun penuh dengan semangat menuju pintu utama. Pak Budi segera mengikuti di belakangnya dengan senyum yang bahagia.

Suara mesin mobil menderu halus namun bertenaga, lalu perlahan mobil hitam mewah itu melaju meninggalkan halaman rumah yang luas itu, menghilang perlahan di balik gerbang otomatis yang tertutup rapat.

Setelah Elvano berangkat kerja, Aira masih berdiri di depan pintu, ia melambaikan tangan kecilnya sampai mobil suaminya tak terlihat lagi oleh mata kepala sendiri. Baru kemudian ia menutup pintu pelan-pelan, dan berbalik badan menghadap ruangan dalam rumahnya yang megah, luas, dan mewah ini.

Bibi Asih segera datang mendekat dengan senyum ramah yang tak pernah pudar, lalu memegang kedua tangan Aira dengan hangat dan penuh sayang.

“Nah, Tuan Muda sudah berangkat dengan selamat ya, Non,” ucap Bibi Asih lembut. “Sekarang Non Aira mau istirahat dulu di kamar, atau mau keliling lihat taman belakang nih? Bunga-bunganya lagi mekar semua lho, cantik-cantik.”

Aira tersenyum lebar sekali, wajahnya berseri-seri bahagia luar biasa. Rasanya dadanya penuh sesak oleh rasa bahagia yang meluap-luap, rasanya ingin bernyanyi dan berputar-putar di ruangan itu.

“Nanti saja deh Bi istirahatnya,” jawab Aira ceria. “Aira pengen keliling rumah dulu nih jalan-jalan, biar makin hafal setiap sudutnya. Terus nanti siang Aira mau bantuin Bibi masak ya, boleh kan? Aira pengen masakin makan siang yang enak buat nanti sore.”

“Boleh banget dong Non! Asal Non jangan capek-capek ya, Bibi senang sekali kok rumah ini jadi rame dan hidup gini,” jawab Bibi Asih girang.

Aira pun mulai berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong rumah itu. Ia menyentuh lembut dinding yang dicat warna krem bersih, menyentuh hiasan-hiasan mewah yang tertata rapi, menyentuh vas bunga yang berisi bunga segar.

Dan benar saja… apa yang dikatakan Bibi Asih tadi itu benar adanya, sangat benar.

“Rumah ini jadi hangat sekali…” gumam Aira pelan pada dirinya sendiri, matanya perlahan berkaca-kaca haru dan bahagia.

Dulu, jauh sebelum ia datang ke sini, rumah ini mungkin hanya sekadar bangunan batu, beton, kaca, dan kayu mahal yang dingin. Tempat seorang pria sukses tidur, meletakkan harta bendanya, dan beristirahat sendirian dalam kesunyian. Tidak ada bedanya dengan hotel mewah atau gedung perkantoran yang kosong.

Tapi sekarang…

Sekarang rumah ini terasa hidup. Terasa berdenyut. Terasa ada nyawanya. Terasa hangat menyelimuti setiap sudut ruangan, setiap inci lantai, dan setiap jendela.

Hangat karena ada cinta. Hangat karena ada keluarga. Hangat karena ada tawa. Hangat karena ada Elvano Praditya yang kini telah menjadi miliknya, dan ia telah menjadi milik Elvano selamanya.

“Rumah kita…” bisik Aira lembut, penuh rasa syukur ke langit-langit. “Aira janji sama Allah, Aira janji sama Mas Elvano… Aira bakal jaga rumah ini baik-baik. Aira bakal bikin rumah ini makin hangat, makin nyaman, makin bahagia, selamanya sampai kita tua nanti.”

Hari itu, di kediaman Praditya, matahari pagi bersinar lebih terang dari biasanya, bukan hanya karena cahayanya, tapi karena hati penghuninya yang kini sedang bersinar penuh dengan cinta.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!