Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mengandalkan Kecantikan
"Ada apa lagi sekarang, leluhur kecilku!"
Ny. Tanujaya, Lusi, mendengar keributan itu dan bergegas naik ke lantai atas. Begitu mendorong pintu kamar putrinya, ia melihat kekacauan total. Serpihan porselen dan kaca berserakan di atas karpet mahal. Kaila duduk di tepi tempat tidur, bahunya gemetar saat ia terisak pilu.
"Mama!" Begitu Kaila melihat ibunya, rasa sesaknya melonjak seperti ombak, dan ia langsung menghambur ke pelukan ibunya.
"Hans Lesmana... Hans mempermalukanku di depan umum demi perempuan rendah itu! Dia bahkan bilang... dia bilang aku ini bukan siapa-siapa!"
Kaila terisak sampai sesak napas, menceritakan kembali kejadian di toko perhiasan dengan bumbu tambahan dan fakta yang diputarbalikkan, menggambarkan dirinya sebagai korban tak bersalah yang terhina.
Lusi menepuk lembut punggung putrinya. Mendengarkan keluhan penuh air mata itu, secercah kilatan jahat melintas di matanya, yang segera ia gantikan dengan nada lembut untuk menghibur:
"Sudah, sudah, jangan menangis lagi, Kaila. Tidak pantas marah-marah demi orang macam itu. Perempuan itu hanya mengandalkan sedikit pesona rayuan untuk mencoba panjat sosial. Hans hanya sedang buta sesaat; dia akan bosan begitu masa barunya habis. Jangan khawatir, perempuan tanpa latar belakang keluarga yang jelas tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di pintu Keluarga Lesmana. Dia bahkan tidak akan lolos dari pengawasan Kakek Hadi. Ambang pintu Keluarga Lesmana bukan sesuatu yang bisa dilewati sembarang orang; dia bahkan tidak akan bisa mendekati level Tuan Besar."
Kaila terisak pelan, perlahan tangisnya mereda, namun matanya masih dipenuhi dengan rasa dendam dan benci.
Akhir pekan ini, Hans menginap di Rumah Lama untuk menemani kakeknya. Di kediaman yang simpel namun elegan itu, setiap tanaman dan pohon seolah memancarkan wibawa waktu yang panjang.
Sang kakek sedang dalam suasana hati yang baik, berlatih Tai Chi di halaman pada sore hari. Hans menonton dengan tenang dari samping, sesekali memberikan satu atau dua patah kata. Sebagian besar waktu, kakek dan cucu itu menikmati waktu santai masing-masing dalam suasana yang harmonis.
Hans mengeluarkan ponselnya.
"Ini anjing jenis Tibetan Mastiff yang dipelihara di Rumah Lama, namanya 'Ink Shadow'."
Ia mengambil foto dan mengirimkannya. Dalam foto itu, anjing hitam legam itu berbaring dengan gagah di rumput halaman, matanya tajam dan tubuhnya besar. Tepat setelah ia mengambil foto, Ink Shadow sepertinya menyadari sesuatu. Ia menoleh, melirik ke arah Hans, dan mengeluarkan geraman rendah seolah menyapa sebelum menutup matanya kembali dengan malas.
Hans mengulurkan tangan dan mengusap kepala besar anjing itu, dan Ink Shadow mendusel dengan nyaman ke telapak tangannya.
"Dia terlihat... memang sangat kuat."
Tania membalas dengan cepat, diikuti emoji menepuk dahi. "Tapi tatapannya sangat tenang; dia sepertinya sangat bisa diandalkan. Apa dia... menggigit?" Kalimat terakhir membawa nada pengujian yang hati-hati.
Melihat kalimat "Apa dia menggigit" di layar, sudut bibir Hans melengkung tanpa sadar. Ia membalas: "Dia hanya menggigit orang jahat. Dia sangat lembut dengan keluarga."
"Syukurlah kalau begitu," Tania sepertinya bernapas lega.
"Pohon persik di Rumah Lama sedang berbuah. Warnanya merah cerah dan terlihat sangat bagus." Hans dengan santai mengambil foto lain dari pohon persik di sudut halaman.
"Wah, kelihatannya manis sekali! Kapan bisa dimakan?"
"Mau makan?"
"Mhm!"
Senyum di mata Hans semakin dalam. "Aku akan memetikkan beberapa untukmu nanti kalau sudah benar-benar matang."
Mereka terus berkirim pesan secara berkala, berbagi detail kecil dari kehidupan masing-masing. Tania merasa bahwa dirinya menjadi semakin terbiasa menerima ucapan "Selamat tidur" singkat namun menenangkan dari Hans sebelum tidur setiap hari. Kadang Hans sedang sibuk dan akan mengucapkannya lebih awal; kadang agak larut, tapi tidak pernah absen.
Dua kata itu membawa kekuatan yang menenangkan hatinya, memungkinkannya jatuh tertidur dengan nyenyak sambil tersenyum tipis. Kehadiran Hans, bagaikan gerimis halus, tanpa disadari telah meresap ke dalam kesehariannya—halus, namun nyata.
Minggu baru tiba sesuai jadwal, dan Tania kembali ke rutinitas kampusnya. Pada Rabu siang saat tidak ada kelas, Ghina dengan semangat menerjang Tania:
"Nia, kesayanganku!"
Tania tersentak oleh antusiasme mendadak ini dan menatapnya pasrah: "Nona Ghina, instruksi apa lagi sekarang?"
Ghina mendekat secara misterius, merendahkan suaranya, tapi matanya sangat berbinar: "Temani aku nonton pertandingan basket kampus sore ini! Ini babak final! Semua cowok ganteng dari tim basket bakal main! Terutama Vino Adiputra! Vi! No! A! Di! Pu! Tra! Kamu paham kan?!" Tiga kata terakhir hampir diucapkan dengan penekanan penuh hasrat.
Tania menggosok telinganya. "Aku benar-benar tidak terlalu tertarik dengan basket, kamu tahu itu." Lagipula, ia selalu tidak peduli dengan istilah "cowok ganteng".
"Aduh, ini bukan soal basketnya, tapi soal cowok-cowok tampannya! Ini soal hormon masa muda! Ini soal pesta visual!" Ghina memeluk lengan Tania dan mulai mengguncangnya. "Nia, Nia yang baik, ikutlah denganku. Aku bakal kesepian kalau pergi sendirian, dan para rubah kecil di sana bakal memakanku hidup-hidup! Aku butuh kamu untuk pergi dan menguasai panggung!"
Tania tertawa. "Bagaimana aku bisa menguasai panggung?"
"Kecantikanmu adalah senjata pamungkas!" ujar Ghina dengan penuh keyakinan.
Akhirnya, Tania tidak sanggup menahan rengekan Ghina yang tiada henti, dan deskripsi berlebihan soal "dimakan rubah kecil" membuatnya terkekeh, jadi ia terpaksa mengangguk setuju: "Baiklah, baiklah, sekali ini saja."
"Yey! Tania memang yang terbaik!" Ghina bersorak.
Pukul dua siang, keduanya tiba di gelanggang olahraga kampus tepat waktu. Begitu melangkah masuk, teriakan dan sorakan yang memekakkan telinga menyambut mereka. GOR sudah dipadati orang. Sebagian besar penonton adalah mahasiswi yang melambaikan stik lampu, dan udara dipenuhi dengan energi masa muda yang meluap-luap.
Berbagai spanduk dukungan tergantung di mana-mana. Slogan seperti "Vino SAMA, Paling Ganteng se-Alam Semesta!" dan "Tim Basket UNAS GOAT, No Debat!" menghiasi setiap sudut. Suasananya begitu intens hingga Tania merasa gendang telinganya bergetar.
Ghina jelas sudah mempersiapkan segalanya. Ia memimpin Tania menembus kerumunan dengan lihai, berliku-liku melewati beberapa barisan sebelum akhirnya berhasil masuk ke kursi penonton terbaik yang sudah dipesan di baris depan. Ia mengedipkan mata bangga. "Bagaimana? Posisi yang strategis dengan pandangan yang sempurna, kan?"
Melihat ekspresi minta pujian dari sahabatnya itu, Tania memberikan senyum tipis dan memindai lapangan, merasakan antusiasme yang hampir meluap dari gadis-gadis di sekitarnya. Ia hanya duduk di sana dengan tenang. Ketenangan ini sangat menonjol di tengah kebisingan, menciptakan jarak antara dirinya dengan kegaduhan di sekitar.
"Lihat, lihat!" Ghina dengan semangat menarik lengan baju Tania dan merendahkan suaranya, beralih ke mode komentator profesional.
"Itu yang pakai jersey nomor 7, yang lagi pemanasan three-point, itu kapten tim kita, Raka Pangestu! Dia tinggi, ganteng, dan jago banget. Katanya keluarganya punya jaringan supermarket besar; dia benar-benar kriteria cowok kaya dan tampan!"
Tania melihat ke arah yang ditunjuk. Raka Pangestu memang lincah dan memiliki postur menembak yang standar; dia memang cukup hebat.
"Dan itu nomor 9, lihat? Yang lagi bercanda sama teman setimnya itu jurusan Penjas, Dimas Mandala. Dia cowok atletis dengan perut six-pack, dan senyumnya dengan gigi putih itu sangat menular. Dia dikenal sebagai 'Si Penakluk Hati'!" Ghina melanjutkan siarannya, hafal semua profil mereka di luar kepala.
Tania melihat mereka satu per satu. Para pemuda di lapangan memang penuh energi masa muda dan memiliki penampilan yang menonjol. Ia mengangguk sopan, namun hatinya tetap tidak bergeming; ia hanya merasa suasananya agak terlalu berisik.