Yt : Aam Aminah
IG : Aamaminah45
Aurin dan Nanda menjalin hubungan asmara sejak SMA sementara keluarga nanda tidak setuju karna aurin anak dari seorang pelacur karna dijual ayahnya.
ibunya bekerja di Bar sementara ayah nya pemabuk dan selalu menyakiti Aurin serta ibunya kehidupan yang menderita sering Aurin rasakan ditambah kisah cinta Asmaranya.
Suatu ketika ayahnya Aurin menjualnya saat itu Raka ketua Mafia sedang ada disitu saat itu Aurin meminta tolong ke Raka orang asing tapi karna keadaan mendesak aurin dengan sangat ceroboh nya meminta bantuan dengan orang asing tidak lain Raka.
Raka pun membantu aurin dengan syarat tanpa berfikir lagi aurin menyetujui persayaratanya.
Padahal Raka dan Nanda musuh sementara Nanda tidak tau Aurin dijual.
akan kah aurin bertahan dengan siksaannya atau malah bertahan dengan keganasan Raka yang setiap saat menyiksanya tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aam aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Menyebalkan
Hari ini di mulai hari yang paling Aurin benci ketika kebebasan nya di ambil oleh Raka, yah orang yang menyebalkan dan membuat peraturan aneh versi dia peraturan yang khoyol menurut versi manusia.
Dengan semangat Raka menulis peraturan sementara Max hanya menatap tersenyum belum pernah melihat Tuan nya serius itu dalam membuat peraturan biasanya dia hanya menyuruh sekretaris Max.
Lain di tempat Bu Mawar sedang terisak menangis meratapi dirinya yang kotor bahkan putra satu satu nya sudah pergi untuk selama nya sementara Laura dia begitu kasihan melihat Mertuanya.
"Bu." ucap Laura mengelus rambut Bu Mawar menyuruh nya berhenti menangis.
"Laura, balaskan dendam Ibu Laura." ucap Bu Mawar dia terisak mengingat kejadian itu.
"Bu, Laura akan pergi dari rumah ini bentar lagi Ayah Laura datang. jadi Laura berharap Ibu bisa menjaga diri sendiri." ucap Laura sejujurnya dia tidak tega meninggalkan Mertuanya.
"Pergilah." ucap Bu Mawar sambil melepaskan tangan Laura dengan kasar.
"Ibu, marah." ucap Laura tak suka dengan perkataan Mertua nya seperti terkesan mengusir padahal dia hanya ingin berpamitan.
Bu Mawar tidak menjawab dia berdiri lalu masuk ke kamar nya sambil menutup pintu dengan kencang sementara Laura menatap kesal dengan perilaku Bu Mawar.
"Dasar tidak tau diri." ucap Laura keras dia pun melangkah keluar sambil membawa koper nya.
Melangkah pergi dari rumah itu dengan kesal sekilas melihat lagi dia begitu berat meninggalkan rumah ini entah itu apa cinta baru tumbuh tapi takdir berkata lain.
Sementara di ruangan kerja Raka sedang membaca peraturan di rumah itu buat Aurin Max yang mendengarnya hanya menatap acuh tak memperdulikan Aturan itu.
Apa yang dia katakan jangan berbicara sama lawan jenis termasuk lawan jenis hewan sekali pun emang aku tau bedanya betina sama jantan. Aurin.
Hahahaha ****** loh makanya jadi cewek jangan sok genit. Raka.
"Baik Oppa." ucap Aurin sedikit ada penekanan.
"Sekarang kamu boleh pergi dari ruangan saya." ucap Raka dengan sedikit tersenyum mengejek.
Aurin keluar dari ruangan itu dengan melangkah cepat saat akan masuk ke kamar dia melihat Rara yang sedang mengepel Aurin mendekati Rara.
"Rara." panggil Aurin yang di panggil melihat Rara.
"Non Aurin, kenapa bisa ada disini." ucap Rara khawatir dia takut Aurin di pukul atau bahkan dibunuh.
"Mereka tau persembunyian ku." ucap Aurin sedikit pelan.
"Non, ayo ikut." ucap Rara langsung menarik tangan Aurin ke belakang taman.
Mereka pun menuju taman dengan sedikit langkah kaki cepat sampai disana Rara langsung menyuruh Aurin duduk dia melihat sekeliling taman merasa cukup aman dia menatap Aurin.
"Non, tidak di pukul sama Tuan." ucap Rara sambil memeriksa tubuh Aurin.
"Tidak." Ucap Aurin.
"Dia hanya mengomel seperti burung beo, telinga ku sampai panas mendengarnya. dan yang lebih parah lagi dia memberikan peraturan aneh buat ku." ucap Aurin menyerahkan kertas yang di pegang nya ke tangan Rara langsung membuka nya dengan cepat.
Apa.!?? Rara
"Non, seperti nya Tuan Raka suka sama Non." ucap Rara sambil masih melihat kertas peraturan itu.
Aurin tidak menjawab dia hanya diam terpaku mendengar ucapan Rara.
"Non, saya mohon jangan sampai Tuan Raka mencintai Non, saya takut Non Aurin kenapa kenapa." ucap Rara wajah nya menggambarkan ketakutan seperti menyimpan rahasia Raka tapi tidak mau memberi tau.
"Non." panggil Rara lagi.
"Ehh yah." ucap Aurin baru tersadar dari lamunan nya.
"Non dengar apa yang saya kata kan tadi." ucap Rara memastikan.
"Iyah Ra, aku dengar walau bagaimana dia, dia suami ku Ra dan aku ngrasa bersalah sudah pergi dari rumah ini karna keegoisan ku, entah kenapa aku selalu ingin di samping nya." ucap Aurin dengan sedikit pelan sambil menunduk.
"Tapi dia seorang Mafia." ucap Rara memberi tahu Aurin.
"Aku, tau waktu dia membunuh Nanda." ucap Aurin sedikit gusar tak menentu dengan hatinya saat menyebut nama Nanda.
Saat mereka masih berbincang Raka datang dia menghampiri Aurin saat sudah dekat tiba tiba Raka menampar Rara sampai terjatuh pipi nya merah karna tamparan itu mata Aurin menatap Raka.
"Kenapa Tuan menamparnya." ucap Aurin membangun kan Rara yang sangat gemetar karna takut.
"Jadi selama ini kau yang membantu Aurin kabur." ucap Raka dengan wajah marah dia sangat mempercayai Rara karna dia pelayan sedari kecil mengabdi di keluarga nya.
Rara menunduk tak berani menjawab pertanyaan Raka dia bahkan tidak berani mengusap pipinya yang sakit akibat tamparan tadi.
"JAWAB." bentak Raka tinggi dia benar benar emosi dengan perkataan barusan Rara.
"Tuan." ucap Aurin berusaha menolong Rara.
"Jadi kau juga bersekongkol dengan pembantu ini." ucap Raka menatap Aurin tajam.
"Aku, akan beri kalian pelajaran supaya jera." ucap Raka saat itu seketaris Max datang dia langsung berlari menuju Raka dengan tergesa.
"Ini kerja kamu Max." ucap Raka suara nya sedikit penuh penekanan.
"Maaf Tuan." ucap Max dia teledor karna tidak memperhatikan Rara Max fikir Rara tidak akan berani menghianatinya.
"Aku, tidak mau tau cambuk dia 1000 kali sampai dia MATI." ucap Raka lalu melangkah pergi dari situ.
Sementara Rara dia menangis dengan hukuman itu dia benar benar menyesal karna tidak memberi tau Tuan Raka.
Saat itu Aurin mengejar Raka sambil berlari kecil dia akhirnya mengampai tangan Raka lalu memohon supaya Rara jangan di cambuk.
"Lepas." ucap Raka tak sudi tangan nya di sentuh Aurin dia benar benar kecewa dengan Aurin yang menghiantainya.
"Tuan, hukum aku jangan Rara dia tak bersalah karna aku yang kabur dan saat itu aku bertemu dia, aku juga melarang dia untuk memberi tau Tuan." ucap Aurin Raka menatap Aurin lalu mendorong nya hingga tangan nya terlepas dari genggam Aurin.
"Kau, juga akan dihukum sama seperti dia." ucap Raka lalu pergi dari situ Aurin menatap kepergian Raka dengan air mata.
Max membawa Rara saat itu Aurin melarang nya dia memohon kepada Max supaya jangan mencambuk nya.
"Aku, akan bujuk Tuan Raka jadi aku mohon jangan cambuk dia." ucap Aurin dia megang tangan Max saat itu sementara Rara menatap nya jangan dia takut suasana semakin kacau.
"Non, aku gak apa apa." ucap Rara berusaha tidak menangis di depan Aurin.
"Max." ucap Aurin dia begitu menyedihkan.
"Maaf Non, saya harus melakukan perintah Tuan Raka." ucap Max lalu membawa Aurin ke ruangan bahwa tanah.
Aurin menatap kepergian nya dengan air mata dia pun tidak dapat berfikir apa yang harus dia lakukan untuk membantu Rara karna ulah nya Rara jadi kena hukuman bahkan itu sangat menyakitkan.
Tak sempat berfikir jernih Aurin langsung berlari mengejar Max dia masuk ke ruangan bahwa tanah itu saat akan melewati para penjaga di situ tau kalo dia istri Tuan nya semua nya menunduk hormat Aurin yang melihat penjaga menunduk hormat kepadanya sedikit aneh.
Saat kaki sudah masuk ke ruangan penjaga dia melihat sekeliling begitu sunyi gelap dan rasanya begitu takut berada di situ tapi saat mendengar teriak kan Rara Aurin berlari cepat menuju Asal suara itu.
Dia melihat Rara yang sedang di cambuk sudah mengeluarkan darah di mulut nya Aurin langsung memeluk Rara dengan cepat Max berhenti mencambuk nya karna dia tau kalo Aurin terluka sedikit pun dengan cambuk itu tubuh nya tidak akan berada di posisi nya.
"Rara, Ra." ucap Aurin sambil menangis sementara Rara dia sedikit lelah dia menatap Aurin.
"Non, silahkan pergi dari sini." ucap Max.
"Dasar manusia tidak punya hati. hati kau terbuat dari apa Max, kau bahkan tak merasa tega mencambuk seorang wanita." ucap Aurin dengan menangis tangan nya masih memeluk Rara.
Max tidak meladeni dia males berbicara dengan Nona Aurin, sementara Aurin masih menatap nya tajam.
"Biarkan aku dan Rara pergi." ucap Aurin membangun kan Rara yang sudah mulai lelah dia benar benar seperti orang akan mati tidak mempunyai tenaga.
"Non Aurin, boleh pergi tidak dengan wanita itu." ucap Max seperti biasa nya acuh.
"Cambuk aku, aku akan gantikan posisi dia." ucap Aurin.
Belum sempat Max menjawab Raka datang dengan wajah marah melihat Aurin yang tak patuh dengan perkataan nya saat itu Aurin melihat Raka dia bisa merasakan Raka marah terhadap nya.
"Tuan." ucap Max menyadari ke datangan Raka.
"Max, bawah pelayan itu untuk di obati." ucap Raka dengan cepat Max menuju Rara saat itu Aurin melarang nya.
"Max, biar aku saja yang mengobatinya." ucap Aurin menatap Max dia bahkan memegang tangan Max karna menahan Max membawa Rara.
Raka melihat Aurin memeggang tangan Max dia pun melangkah menuju Aurin dan menarik nya dari penjara itu dengan paksa sementara Max dia membawa Rara ke kamarnya untuk di obati.