Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak?!
Pagi datang perlahan di mansion keluarga Hendra. Cahaya matahari yang hangat menyusup melalui celah tirai kamar Aca, jatuh lembut di wajah gadis itu. Udara pagi terasa segar, membawa aroma taman yang masih basah oleh embun.
Aca bergerak pelan di atas ranjang. Demamnya sudah jauh berkurang dibandingkan semalam. Tubuhnya masih sedikit lemas, namun tidak lagi terasa panas seperti sebelumnya.
Matanya perlahan terbuka. Beberapa detik pertama ia hanya menatap langit-langit kamar dengan bingung, seolah mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Lalu pandangannya bergeser ke samping. Dan ia langsung membeku. Di kursi dekat ranjangnya, seseorang sedang duduk dengan santai.
Aron. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang sama seperti semalam. Lengannya digulung sampai siku. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menandakan ia sama sekali tidak tidur dengan benar.
Di tangannya ada sebuah ponsel, namun matanya tidak benar-benar fokus pada layar.
Seolah ia hanya menunggu satu hal.
Ketika melihat Aca bangun, Aron mengangkat sedikit alisnya. “Good morning, baby girl.” Suara baritonnya rendah dan tenang.
Aca langsung berkedip beberapa kali. “Lo…” gumamnya pelan.
Ia duduk perlahan di atas ranjang, selimut masih menutupi setengah tubuhnya. “Lo masih di sini?”
Aron meletakkan ponselnya di meja kecil di samping kursi. “Iya.” Jawabannya singkat. Santai.
Namun justru itu yang membuat Aca semakin kaget. “Jangan bilang…” Aca menatapnya dengan curiga. “Lo semaleman di sini?”
Aron mengangkat bahu sedikit. lKurang lebih.”
DEG.
Ada sesuatu yang aneh muncul di dada Aca.
Ia tidak menyangka pria seperti Aron benar-benar duduk menjaga dirinya sepanjang malam.
Ketua mafia. Orang yang ditakuti banyak orang. Namun tadi malam pria itu justru memijat kakinya menyuapinya makan bahkan menunggunya tidur.
Aca cepat-cepat memalingkan wajahnya. “Lo gak punya kerjaan apa?”
Aron tersenyum tipis. “Punya.”
“Terus kenapa di sini?”
Aron menatapnya lurus. “Karena kamu sakit sayang.” Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat Aca kehilangan kata-kata beberapa detik. Namun setelah itu, pikiran lain mulai muncul di kepalanya.
Dunia Aron bahaya penuh musuh para kawana Mafia. Bagaimana kalau suatu hari nanti seseorang menembaknya?
Bagaimana kalau orang-orang berbahaya datang membalas dendam. Bagaimana kalau Aca ikut terseret ke dalam semua itu?
Perasaan hangat yang tadi muncul di dadanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Takut. Aca langsung menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran tersebut.
Aron menyipitkan mata. “Kamu kenapa pusing lagi, hmm?”
“Gak kenapa-kenapa.” Jawab Aca cepat.
Ia turun dari ranjang, berjalan menuju lemari pakaiannya. “Aca mau sekolah.”
Aron langsung berdiri. “Tidak.”
Aca menoleh dengan tatapan tajam. “Kenapa enggak?”
“Kamu masih sakit.”
Aca mendengus. “Udah mendingan.” Ia mengambil seragam sekolahnya dari lemari. “Gue udah bolos dua hari. Kalau bolos lagi bisa dipanggil guru BK.”
Aron memperhatikannya beberapa detik. “Tidak apa.”
Aca langsung menoleh kesal. “Buat lo mungkin gak apa! Tapi buat gue….”
“Kamu masih demam sayang. Nurut okey.” Nada suara Aron tetap tenang. Namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Aca menghela napas panjang. “Aron…” Ia menatap pria itu dengan serius. “Gue bukan anak kecil.”
Aron menatapnya balik. “Justru itu masalahnya.”
Aca mengerutkan kening. “Apa maksud lo?”
Aron tidak menjawab. Namun beberapa detik kemudian ia menghela napas kecil. “Baik.”
Aca terkejut. “Hah?”
“Kamu boleh sekolah.”
Namun sebelum Aca sempat senang, Aron melanjutkan. “Tapi aku antar.”
Aca langsung melotot. “Apaan sih!”
“Tidak bisa ditawar yes or no baby girl?”
“Ouh sial….!”
Sekitar satu jam kemudian Aca akhirnya sampai di sekolah. Aron benar-benar mengantarnya.
Namun tentu saja bukan dengan cara biasa.
Mobil hitam mewah miliknya berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah.
Aca turun dengan wajah sedikit kesal. “Udah sana pergi.”
Aron hanya menatapnya dari dalam mobil. “Kamu hati-hati.”
Aca mendengus. “Iya iya.”
Ia menutup pintu mobil lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Namun Aca tidak tahu satu hal.
Di seberang jalan. Beberapa mobil hitam lain sudah terparkir sejak pagi. Para pria yang sama seperti semalam berdiri di sekitar kendaraan itu.
Salah satu dari mereka menyipitkan mata saat melihat Aca masuk ke halaman sekolah. “Itu dia.”
Pria lain menyeringai. “Target kita.”
Namun mereka tidak tahu satu hal. Aca bukan gadis biasa. Sejak kecil, Bara sering melatihnya bela diri.
Aca juga memiliki insting yang tajam terhadap bahaya. Ketika ia berjalan melewati halaman sekolah, matanya sempat melirik sekilas ke arah jalan.
Mobil hitam. Orang-orang asing yang berdiri terlalu lama di satu tempat.
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Ck.”
Ia memasukkan tangannya ke saku jaket. “Amatiran.”
Aca berjalan santai menuju gedung sekolah. “Gue lebih cerdik dari kalian semua.”
Namun begitu ia sampai di koridor menuju kelas tiba-tiba,
SRET!
Sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dengan kasar.
“Aca!”
Aca langsung kaget. “Apaan sih lo…!”
Namun sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya sudah diseret menuju tangga darurat. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rooftop sekolah.
Angin pagi berhembus cukup kencang di sana. Aca langsung menarik tangannya dengan kasar.
“LEPASIN GUE!”
Ia menatap pria di depannya dengan marah. Dan wajah itu sangat ia kenal. Alden.
Mata Aca langsung berubah dingin. “Apa mau lo?”
Alden terlihat jauh lebih berantakan dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah. Seolah ia tidak tidur semalaman.
Aca…” ucapnya pelan. Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh
BUGH!
Pukulan Aca langsung menghantam wajahnya. Alden terhuyung mundur satu langkah.
“Apa lo pikir gue bakal seneng ketemu lo?!” bentak Aca.
Alden memegang pipinya yang memerah. Namun ia tidak marah. Sebaliknya ia justru menatap Aca dengan penuh penyesalan.
“Aca honey tolong kasih aku kesempatan sekali lagi.”
Aca tertawa sinis. “Kesempatan?”
Matanya menyipit tajam. “Buat lo selingkuh lagi?”
Alden langsung menggeleng cepat. “Enggak! Aku salah waktu itu!”
Namun Aca sama sekali tidak terlihat peduli. “Udah cukup.”
Ia berbalik hendak pergi. Namun Alden kembali menarik lengannya. “Aca aku masih cinta sama kamu!”
Aca langsung menepis tangannya dengan kasar. “Gue udah punya pacar.” Kalimat itu keluar spontan.
Namun dalam hati Aca langsung bergumam.
“Sorry Aron… gue pinjem nama lo dulu ya.”
Alden membeku. “Pacar?” Matanya membesar. “Aca yang bener aja kamu masih cinta kan sama aku.”
Aca tertawa dingin. “Cinta sama bekasan kayak lo?” Ia menyilangkan tangan di dada. “Mimpi aja sana lo.”
Alden terlihat semakin gelisah. “Siapa dia?”
Aca menatapnya lurus. Lalu berkata dengan suara tegas. “Gue udah punya pacar.”
Senyum miring muncul di wajahnya. “Namanya…” Ia berhenti sebentar. “Aron Darios Fernandes.”
Angin rooftop berhembus semakin kencang.
Alden langsung membeku wajahnya pucat.
Nama itu jelas tidak asing baginya. Nama yang sering muncul di berita.
Nama yang ditakuti banyak orang di kota ini. “Aron…?” gumamnya tidak percaya.
Aca hanya tersenyum dingin. Namun jauh di luar sekolah salah satu pria dari mobil hitam tadi sedang berbicara di telepon.
“Target sudah masuk sekolah.” Suara di ujung telepon terdengar dingin.
“Awasi dia.” Pria itu menyeringai. Matanya menatap gedung sekolah dengan tajam.
“Tenang.” Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku. “Kita akan menjemput gadis itu…”
Senyumnya semakin lebar. “sebentar lagi.”
Alden masih berdiri membeku di rooftop. Angin yang berhembus cukup kencang membuat rambutnya berantakan, namun ia sama sekali tidak peduli.
Matanya terus menatap Aca dengan ekspresi campuran antara tidak percaya dan cemburu.
“Aron Darios Fernandes?” ulangnya pelan. Nama itu bukan nama sembarangan.
Di kota ini hampir semua orang pernah mendengarnya. Seorang CEO muda yang kaya raya sekaligus pria misterius yang disebut-sebut memiliki hubungan dengan dunia gelap.
Alden menelan ludah. “Kamu serius?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
Aca mengangkat dagunya dengan sombong. Ekspresinya tetap dingin. “Kenapa? Takut?”
Alden menggeleng cepat. “Bukan itu maksudku.”
Ia melangkah mendekat satu langkah, matanya menatap Aca dengan penuh emosi. “Aca, kamu itu terlalu baik buat orang seperti dia.”
Aca langsung mendengus. “Lucu banget lo ngomong gitu.”
Matanya menyipit tajam. “Lo yang selingkuh malah ceramah soal siapa yang pantas buat gue?”
Alden terdiam. Namun wajahnya masih penuh kegelisahan. “Aca aku serius. Aron itu bukan orang biasa.”
Aca menyilangkan tangan di dada. “Ya gue tau.”
“Terus kenapa kamu masih mau sama dia?”
Aca menatapnya lurus tanpa ragu. “Karena dia jauh lebih jantan daripada lo.”
Kalimat itu seperti tamparan keras. Alden langsung mengepalkan tangannya. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi
Tiba-tiba ponsel di saku jaket Aca bergetar. Aca mengerutkan kening lalu mengeluarkannya. Layar ponsel itu menampilkan satu nama.
Aron
DEG.
Entah kenapa jantung Aca berdetak sedikit lebih cepat. Ia menatap Alden sebentar sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Halo?”
Suara berat Aron langsung terdengar dari seberang telepon.
“Di mana kamu?”
Aca melirik Alden dengan malas. “Di sekolah lah. Emang di mana lagi.”
Aron terdiam beberapa detik. Namun ketika ia berbicara lagi, nada suaranya berubah sedikit lebih dingin.
“Rooftop?”
Aca langsung tertegun. Matanya membesar sedikit. “Hah?”
Ia cepat-cepat berjalan ke tepi rooftop dan melihat ke bawah. Di parkiran sekolah. Sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal baru saja berhenti.
Pintu mobil terbuka. Dan Aron keluar dari sana. Dengan jas hitamnya. Dengan aura dingin yang membuat beberapa siswa di halaman sekolah langsung menyingkir tanpa sadar.
Aca langsung berbisik panik ke ponselnya.
“Aron lo ngapain malah masuk ke sekolah gue?!”
Namun Aron hanya menjawab singkat. “Tunggu di sana.”
Telepon langsung terputus. Aca menatap layar ponselnya dengan wajah campur aduk.
Sementara Alden yang berdiri tidak jauh darinya ikut melihat ke arah bawah.
Ketika ia melihat sosok Aron berjalan memasuki gedung sekolah Wajahnya langsung pucat. “Anjir…” gumamnya pelan.
Sementara itu di luar gerbang sekolah mobil-mobil hitam milik para pengintai masih terparkir di tempat yang sama.
Salah satu pria bersenjata itu sedang memperhatikan gedung sekolah melalui teropong kecil.
Namun tiba-tiba ekspresinya berubah. “Tunggu…”
Pria di sampingnya menoleh. “Apa?”
Ia menurunkan teropongnya perlahan. Wajahnya terlihat tegang. “Ketua mafia itu juga ada di sini.”
Beberapa detik suasana di dalam mobil langsung sunyi. Lalu pria yang duduk di kursi depan tersenyum pelan. “Bagus.”
Matanya menyipit penuh rencana. “Sekalian saja.”
Ia menoleh pada yang lain. “Hari ini kita tidak hanya menculik gadis itu.”
Senyumnya semakin lebar. “Kita juga akan menembak Aron.”
“3 awasi belakang, 1 sniper siapkan.” titahnya sambil tertawa lirih.
“Aron kau akan mati sebentar lagi sialan. Dan semua harta kekayaan milikmu akan jatuh ke tanganku. Shoot sekarang!”
DOR!
“AARGHHH….!”
“ARONNNNN……!”