NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Han

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Akibat Minuman Keras

Begitu pintu kaca Mix Bar terbuka, dentuman musik DJ yang memekakkan telinga langsung menyambar indra pendengaran mereka. Cahaya lampu disko yang berpendar liar bewarna merah, biru, dan ungu saling silang membelah kegelapan ruangan yang dipenuhi aroma alkohol dan asap rokok.

​Maya melangkah dengan angkuh menuju bar, lalu menduduki kursi tinggi berbahan kulit. Tanpa melihat daftar menu, ia langsung memberi kode pada sang barista. "Double shot wiski. Dua sekaligus," ucapnya tajam.

​Reno yang berdiri di belakangnya hanya bisa mendengus. Ia memutuskan ikut masuk, bukan karena rasa prihatin, melainkan karena ia tahu jika Maya dibiarkan sendiri dalam kondisi kacau, urusannya akan panjang. Ia tidak mau repot-repot dipanggil polisi atau pihak bar hanya untuk mengurus wanita ini.

​"May, lo jangan minum banyak-banyak," peringatan dari Reno dengan nada datar, suaranya harus sedikit dikeraskan agar terdengar di balik dentuman musik. "Nanti perut lo sakit, siapa yang mau tanggung jawab? Gue ogah ya gendong-gendong lo kalau sampai pingsan."

​Maya tidak membalas. Ia segera menyambar gelas pertamanya begitu pesanan tiba, lalu menenggaknya dalam sekali teguk. Sensasi panas yang membakar tenggorokan seolah memberikan kelegaan sesaat pada dadanya yang sesak.

​Ia meletakkan gelas kosong itu dengan bunyi tak yang keras, lalu menatap Reno dengan sorot mata yang mulai sayu namun menantang.

​"Nggak usah rewel! Mending lo minum juga. Percuma kesini tapi lo nggak ikut minum," ucap Maya sambil menggeser segelas wiski yang baru dituangkan ke hadapan Reno.

​Reno menatap cairan berwarna amber di dalam gelas itu dengan ragu. "Gue kan nyetir, May. Lo mau kita mati konyol gitu?"

​Maya tertawa hambar, suara tawanya tenggelam dalam beat musik yang semakin kencang. "Alah, cuma segelas nggak bakal bikin lo mabuk. Lo itu terlalu cemen, Ren! Persis kayak sepupu lo yang sok suci itu!"

​Reno terdiam. Kalimat Maya barusan seolah menyentil egonya. Ia menatap Maya yang kini mulai menuangkan gelas keduanya, menyadari bahwa wanita di depannya ini sedang berusaha menenggelamkan kenyataan bahwa ia telah kalah telak dari Renata.

​Dengan helaan napas panjang, Reno meraih gelas itu, bukan karena ingin mabuk, tapi karena ia tahu malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk mendengarkan semua racauan Maya.

Maya seolah kehilangan kendali. Botol pertama habis dalam waktu singkat, dan tanpa mempedulikan peringatan Reno, ia memesan botol kedua. Cairan keras itu mengalir di tenggorokannya bagaikan air putih, tapi bisa membakar kerongkongan namun tak mampu memadamkan api amarah di hatinya.

​"May, stop! Lo sudah habis dua botol! Lo bisa mati keracunan alkohol kalau begini caranya!" bentak Reno sambil berusaha merebut gelas dari tangan Maya.

​Maya menepis tangan Reno dengan kasar. Matanya kini tampak merah dan sayu, rambutnya yang semula rapi mulai berantakan. "Jangan pegang-pegang! Lo nggak tahu rasanya jadi gue, Ren! Tiga tahun... tiga tahun gue nunggu Bara, tapi apa? Dia malah pilih orang lain."

​Suara Maya mulai melantur, bercampur dengan isak tangis yang tertahan di balik tawa mirisnya. Ia kembali menuangkan sisa wiski dari botol kedua hingga tetes terakhir.

​"Gue kurang apa? Gue cantik, gue ada buat dia, gue serahin semuanya..." igau Maya sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri. "Tapi sekarang? Gue harus dengar pilihan dia lagi hamil? Hahaha! Lucu banget hidup gue!"

​Reno hanya bisa duduk mematung, menatap pemandangan menyedihkan di depannya. Ia melihat Maya yang biasanya tampil elegan sebagai wanita kelas atas, kini hancur berkeping-keping di atas meja bar.

​"Lo nggak kurang apa-apa, May. Lo cuma datang di waktu yang salah," gumam Reno pelan, hampir tak terdengar.

​Maya mencoba berdiri, namun kakinya langsung lemas. Tubuhnya limbung ke samping, dan untungnya Reno dengan sigap menangkap bahunya sebelum kepala Maya menghantam lantai marmer bar yang dingin.

​"Tuh kan, gue bilang juga apa. Sekarang siapa yang repot?" gerutu Reno sambil memapah tubuh Maya yang sudah benar-benar kehilangan kesadaran. Aroma alkohol yang menyengat menyeruak dari napas wanita itu.

​Dengan susah payah, Reno membawa Maya keluar dari keriuhan Mix Bar. Di bawah sorotan lampu jalanan yang remang-remang, Reno menyadari bahwa drama ini baru saja dimulai. Jika Maya sehancur ini, maka rencana yang tersimpan di kepalanya pasti akan jauh lebih berbahaya bagi rumah tangga Bara.

Setibanya di apartemen, Reno mengerahkan sisa tenaganya untuk menggendong tubuh Maya yang sudah benar-benar lunglai. Bahkan masih tercium aroma alkohol yang menguar kuat dari napas wanita itu memenuhi indra penciumannya di sepanjang lorong apartemen yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu kamar 027, Reno merogoh tas Maya, mencari kartu akses, dan segera masuk.

​Dengan hati-hati, Reno menghempaskan tubuh Maya ke atas kasur yang empuk. Ia menghela napas panjang, menyeka keringat di dahinya, dan berniat untuk segera pergi dari sana.

​"Akhirnya," gumam Reno.

​Namun, baru saja Reno hendak berbalik, sebuah tarikan kuat di lengannya membuat ia kehilangan keseimbangan. Maya, yang tadinya tampak sudah tak sadarkan diri, tiba-tiba menariknya hingga Reno terjatuh di atas tempat tidur, tepat di hadapan wanita itu.

​Kejadian yang tak terduga datang tanpa peringatan, hingga Maya langsung menyosor bibir seksi milik Reno dengan kasar dan penuh tuntutan.

​"Mmph—!" Reno membelalakkan mata, jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik karena kaget yang luar biasa.

​Kesadaran Reno segera berteriak agar ia menjauh. Ia mencoba melepaskan diri dan mendorong bahu Maya, namun wanita itu justru melingkarkan kedua tangannya dengan erat di leher Reno, menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh. Ciuman itu terasa panas, namun juga pahit karena rasa wiski yang masih tertinggal di area bibir.

​"May! Sadar, May!" seru Reno saat berhasil melepaskan bibir mereka sesaat, dengan napas tersengal-sengal.

​Tapi mata Maya yang sayu dan kemerahan menatapnya dengan pandangan kosong sekaligus penuh gairah yang keliru. "Bara... jangan pergi... tetap di sini sama aku," racau Maya dengan suara serak, masih berusaha menarik Reno kembali ke dalam pelukannya.

​Reno tertegun. Rasa sesak mendadak memenuhi dadanya. Ternyata di dalam mabuknya pun, Maya hanya memanggil nama sepupunya. Ia merasa marah karena terjebak dalam situasi gila di kamar 027 yang menjadi saksi bisu betapa hancurnya perasaan wanita di hadapannya ini.

Reno berusaha keras untuk berontak, namun kekuatan Maya yang dipacu oleh sisa alkohol dan keputusasaan ternyata jauh lebih besar dari yang ia duga. Maya menekan tubuh Reno lebih dalam ke atas kasur, seolah-olah pria di atasnya ini adalah pelampung terakhir di tengah badai yang menenggelamkannya.

Sekarang ​ciuman itu bukan lagi sekadar sentuhan, melainkan sebuah serangan yang menuntut dan penuh amarah. Maya melumat bibir Reno dengan rakus, jemarinya meremas rambut Reno hingga pria itu mendengus. Napas panas yang beraroma wiski saling bertukar di antara mereka, menciptakan suasana yang menyesakkan dan membakar di dalam kamar 027 yang remang-remang.

​"Bara... aku nggak mau kamu pulang ke dia..." gumam Maya di sela-sela ciuman panasnya, suaranya parau dan bergetar.

​Tangannya yang lihai mulai menjalar ke balik kemeja Reno, menyentuh kulit pria itu dengan sentuhan yang membuat Reno tak tahan lagi. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.

​"Gue bukan Bara!" desis Reno dengan suara serak, mencoba memberikan jarak di antara wajah mereka.

​Bukannya berhenti, Maya justru melingkarkan kakinya di pinggang Reno, menarik tubuh pria itu agar semakin intim menempel padanya. Ia membenamkan wajahnya di leher Reno, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat pertahanan Reno runtuh seketika.

​Suasana kamar 027 yang remang-remang itu mendadak terasa begitu panas. Suara napas mereka yang saling memburu memenuhi ruangan, beradu dengan detak jantung yang menggila. Reno yang tadinya berniat menolak, kini justru terbuai. Logikanya mati total saat jemari Maya mulai membuka satu per satu kancing kemejanya.

​Lupa akan status sepupu, lupa akan harga diri, Reno akhirnya balik menyerang. Ia mengunci tangan Maya di atas kepala, lalu membalas ciuman wanita itu dengan jauh lebih kasar dan membara. Malam itu, di bawah remang lampu kamar 027, mereka berdua benar-benar tenggelam dalam api yang mereka ciptakan sendiri.

Di keesokan hari...

Maya mencengkeram ujung selimutnya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Kepalanya rasanya kayak lagi dihantam martil, nyut-nyutan parah—khas orang baru bangun sehabis kerja seharian. Begitu dia nunduk dan liat ke balik selimut, jantungnya seakan mau copot.

​"Gila... nggak, nggak mungkin!" desisnya panik. Dia mulai ngeraba-raba badannya sendiri di balik selimut putih itu, dan bener aja, ia telanjang bulat. Seketika pikirannya langsung kacau. Kejadian semalam emang cuma seliweran kayak potongan film drama china, tapi dia tahu kalau kondisinya udah begini, berarti ada sesuatu yang tidak terlewatkan.

​Sambil nahan mual dan pusing yang makin jadi, dia melilit selimut itu ke badannya dengan asal-asal, tapi yang penting ketutup. Kemudian jalan sempoyongan keluar kamar, tujuannya cuma satu ke dapur. Dia butuh air putih agar tidak ada dahak yang tersisa di tenggorokan.

​Tapi, eh... Tapi pas sampe di dapur, Maya langsung mematung, udah kayak liat setan aja. Dan setannya ada depan kompor, sosok cowok yang lagi anteng masak telur mata sapi dan di sampingnya ada dua gelas teh hangat. Pas cowok itu denger ada suara langkah yang datang, dia langsung muter badan.

​"Eh, udah bangun lo? Nih, minum dulu," kata Reno santai, cuma pake kaos dalam sama celana pendek.Otomatis membuat Maya teriak histeris.

"AAAAA! KENAPA LO DI SINI?!" teriak Maya histeris. Sehingga refleks balik badan secepat kilat, hampir aja selimutnya lepas kalau dia nggak gercep nahan pake tangan.

​"PIKIR SENDIRI!" Jawab Reno. Kemudian Dia juga langsung balik badan, nggak berani liat Maya yang cuma dibalut selimut saja. Bisa-bisa nanti si joni bangun deh.

​"LO... LO NGAPAIN GUE SEMALAM, REN?! JAWAB GAK!" suara Maya melengking, mukanya udah merah padam antara malu sama emosi yang campur aduk.

​Reno denger itu langsung buang napas kasar. "Dih, pede banget lo! Lo yang semalam yang maksa gue, terus karena lo yang maksa jadinya pasrah aja. Lagian mau kabur aja nggak bisa toh."

​"Gak mungkin! Gue nggak serendah itu ya!"

​"Alah, nggak usah sok amnesia deh. Tuh, buktinya lo telanjang bulat. Lo pikir itu ulah hantu?" Reno nggak kalah ngegas, walau sebenernya dia juga salah tingkah kalau inget gimana liarnya Maya tadi malem.

​Dapur yang tadinya tenang jadi riuh banget gara-gara aksi teriak-teriakan mereka. Maya cuma bisa gigit bibir dalem-dalem, rasanya pengen ngilang aja dari bumi sekarang juga. Dia bener-bener gak nyangka, pelariannya dari masalah Bara malah bikin masalah baru yang jauh lebih runyam sama keponakan Tante Sarah itu.

Pada akhirnya masakan beres, Reno mematikan kompor dan melirik sekilas ke arah punggung Maya yang masih kikuk. "Udah sana, pakai baju dulu. Jangan telanjang gitu, malu dilihatnya," gerutu Reno sambil berusaha menormalkan suasana di sekitarnya.

​Maya tidak menjawab sepatah kata pun. Jangankan menjawab, menoleh pun dia ogah. Ia lebih memilih langsung lari balik ke kamarnya, menyeret selimut putih itu di atas lantai apartemennya.

​Nggak lama kemudian, Maya muncul lagi. Kali ini dia sudah rapi pakai bathrobe sutra warna merah marun, rambutnya diikat asal, tapi wajahnya masih kelihatan pucat. Dia menarik kursi meja makan dengan kasar, duduk tepat di hadapan Reno.

Segera tanpa banyak bicara langsung menyodorkan piring ke arah Maya. Sarapan pagi ini isinya simpel, yaitu: telur mata sapi yang pinggirannya agak garing, ditambah irisan tomat segar di sampingnya. Beberapa menit kedepan, suasana sempat hening, cuma terdengar bunyi denting garpu—sendok yang beradu dengan piring.

Maya menusuk telur mata sapinya dengan emosi, lalu menatap Reno tajam. "Jadi... semalam itu beneran terjadi?" tanya Maya lirih, suaranya terdengar antara benci dan nggak percaya.

​Reno menghentikan kunyahannya. Dia menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Menurut lo gimana? Denger nih... semalam lo bener-bener kayak orang kehilangan arah. Lo sebut-sebut nama Bara, terus lo tiba-tiba narik gue..." Reno menggantung kalimatnya, merasa nggak enak kalau harus memperjelas detailnya.

​Maya membuang muka, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Gue cuma... gue cuma nggak sanggup bayangin Bara punya anak sama perempuan itu, Ren. Hati gue hancur banget."

​"Gue tahu," potong Reno pelan. "Tapi lo nggak harus ngerusak diri lo sendiri kayak gini. Tidur sama gue nggak bakal bikin Bara balik ke lo, May. Yang ada malah makin rumit kedepannya."

​Maya tertawa pahit, suaranya terdengar parau. "Iya, gue tahu gue itu emang bego. Tapi sekarang lo juga udah terlibat deh, Ren. Lo udah masuk ke dalam lubang yang sama kayak gue. Jadi jangan harap lo bisa lepas tangan gitu aja setelah apa yang kita lakuin semalam."

​Reno tertegun, tangan kirinya yang memegang garpu sedikit gemetar. Dia sadar, kejadian semalam bukan cuma sekadar pelarian sesaat, tapi awal dari masalah baru yang bisa menghancurkan segalanya—termasuk posisinya sekarang. Bisa merusak dirinya sendiri, keluarga, atau martabatnya. Tapi yang lebih jelas lagi pada kejadian semalam itu adalah ulah mereka berdua. Jadi tidak ada yang saling menyalahkan, atas dasar siapa yang menghancurkannya.

1
akumahapa
SETUJUUU BANGET🤣
akumahapa
iri aja nih perempuan
akumahapa
suasana di bab ini terasa sesak sekaligus panas. maya mengeluarkan semua pernyataannya, ia merasa dendam, sudah di khianati oleh mantan kekasihnya, tapi pelariannya itu ke orang lain. orang lainnya, sepepupu mantannya lagi. Emang cewe modelan maya ada?
tifara zahra
bikin renata hamil tor
Mr. Han: Boleh sih kak, tapi kita belom tau nih, nanti renata bakal mengalami gejala mual-mual apa itu cuma penyakit umum, atau bisa jadi hamil. Jangan lupa baca kelanjutannya kak. Terimakasih😍
total 1 replies
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!