"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pemain di Balik Layar
Vandiko menatap layar ponselnya dengan intens
Kalimat "adik kelasku" terus terngiang, memicu ingatan masa kuliahnya yang pahit—masa di mana ia bukan hanya miskin, tapi juga selalu dibayangi oleh sosok jenius misterius yang menghilang sebelum kelulusan
[Peringatan! Terdeteksi Gelombang Interferensi Sistem Ilegal!]
[Tingkat Ancaman: SSS (Dewa).]
[Sistem menyarankan pengguna untuk meningkatkan level mental segera!]
"Gia, batalkan semua jadwal, Cari tahu siapa pemilik nomor ini dalam tiga detik!"
perintah Vandiko, suaranya lebih tajam dari biasanya
Gia bergerak cepat dengan tablet taktisnya, namun dahinya berkerut
"Tuan...
nomor ini tidak terdaftar di satelit manapun
Bahkan enkripsi Black Sentinel tidak bisa menembusnya
Seolah-olah...
nomor ini tidak ada di dimensi ini"
Vandiko mengepalkan tinju, Ia tidak suka merasa tidak memegang kendali
"Isabella, pulanglah
Tempat ini sudah tidak aman bagimu,"
ucap Vandiko tanpa menoleh pada Isabella yang tampak kebingungan
"Vandiko, apa yang terjadi? Siapa yang mengirim pesan itu?" Isabella mencoba mendekat, namun aura dingin yang memancar dari Vandiko membuatnya terhenti
"Seseorang dari masa lalu, Seseorang yang mungkin memegang kunci kenapa hidupku dihancurkan sejak awal," jawab Vandiko singkat
Vandiko masuk ke mobil Rolls-Royce miliknya, namun kali ini ia menyetir sendiri
Ia melaju menuju sebuah perpustakaan tua yang terbengkalai di pinggiran kota, tempat yang dulu sering ia gunakan untuk belajar saat masih menjadi mahasiswa beasiswa yang dihina
Tiba di sana, ia melihat seorang pria berdiri di atas atap perpustakaan, membelakangi bulan purnama .
Pria itu mengenakan jubah abu-abu modern, dan di sekitarnya, udara tampak bergetar—sama seperti saat Vandiko mengaktifkan Mode Otoritas Dewa
[Mata Dewa Aktif secara Otomatis!]
[Nama: ???]
[Sistem: Sistem Prediksi Kiamat (Level 99)]
[Status: Netral (Saat ini)]
Vandiko turun dari mobil, matanya bersinar biru tajam
"Siapa kau? Dan apa maumu dengan menyebutku 'adik kelas'?"
Pria itu berbalik, Wajahnya sangat tampan, namun tatapan matanya seolah telah melihat kehancuran dunia ribuan kali
"Namaku adalah Arka, Aku adalah orang yang memberikan 'Sistem Kompensasi Penderitaan' itu kepadamu melalui perantara takdir."
Vandiko tertegun
"Kau... yang memberikannya?"
"Sistemmu adalah sistem pemula, Vandiko
Aku memberikan itu agar kau punya modal untuk bertahan hidup dari apa yang akan datang,"
Arka melompat turun dari atap setinggi sepuluh meter dan mendarat dengan seringan bulu
"Para Naga yang kau lawan saat ini hanyalah boneka, Mereka sedang mengumpulkan dana untuk membangkitkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada monster genetik di rumah sakit tadi."
Arka berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Vandiko .
Sesaat, layar sistem Vandiko menjadi gila
[Ting! Menerima Pembaruan Data dari Pengguna Senior!]
[Fungsi Baru Terbuka: 'Mode Perang Korporat Global'.]
[Misi Rahasia Terdeteksi: Hancurkan Laboratorium Bawah Laut Naga dalam 7 hari!]
"Jika kau gagal menghancurkan laboratorium itu, sistemmu akan ditarik kembali, dan kau akan kembali menjadi Vandiko yang malang, menangis di bawah hujan sambil melihat Clarissa bersenang-senang," bisik Arka dengan senyum tipis yang mematikan .
"Kenapa kau membantuku?" tanya Vandiko ketus
"Karena di masa depan yang aku lihat, kau adalah satu-satunya orang yang cukup kejam untuk membantuku menghentikan kiamat,"
Arka mulai memudar, berubah menjadi partikel cahaya digital
"Selamat berjuang, Adik Kelas, Jangan biarkan para naga itu menggigitmu terlalu dalam."
Vandiko berdiri sendirian di kesunyian malam, Ia merasa dipermainkan
namun juga merasa kekuatannya meningkat berkali-kali lipat
Ia membuka layar sistemnya yang kini berwarna merah menyala
"Jadi, para Naga itu punya tuan?" Vandiko tertawa kecil, suara tawa yang membuat burung-burung malam terbang ketakutan
"Bagus...
Aku bosan menghancurkan semut, Mari kita lihat bagaimana rasa daging 'Dewa' yang menciptakan kekacauan ini."
Vandiko kembali ke mobilnya
Di layar dasbor, grafik saham para Naga mulai terjun bebas
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai .