Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Hari semakin larut, suasana semakin sepi dan semakin terlihat gelap. Semua orang yang mencari sudah mulai kelelahan. Termasuk bibik, Haru, dan juga Kasim. Mereka turun ke tebing dengan sangat hati hati karena takut terperosok dan jatuh kebawah.
"Bik, masih kuat?" Kasim bertanya saat melihat wajah bibik sudah pucat.
"Masih kuat. Ayo kita sele---"
"Nggak! Bibik sudah kelelahan. Ayo bibik pulang saja," Haru menyela, dia tidak mau terjadi apa apa dengan bibik. Wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri selama ini.
"Tapi nona Vair belum ditemu---"
"Jangan pikirkan itu. Ada kami semua yang mencarinya. Ayo, biar aku antar pulang," Haru meraih tangan tua bibik dengan lembut. Bibik pun menurut dan menepuk bahu Kasim sebelum dia pergi meninggalkan lokasi bersama Haru.
Tinggalah Kasim seorang diri disini karena mereka semua berpencar. "Aku harus bisa temukan nona. Aku harus menebus kesalahanku. Ya, semangat Kasim," Kasim bergumam menyemangati diri sendiri.
"Nonaaa....!"
"Nona dimanaaa....!"
"Ini akuuu, Kasiiiiim..!"
Kasim berteriak dalam kegelapan, tanah yang licin, curam serta banyaknya akar akar pohon besar membuatnya tersandung dan hampir saja tergelincir. Untungnya dia gesit berpegangan pada ranting pohon yang dia tidak tahu namanya pohon apa. Jika tidak, dia sudah pasti jatuh kedalam sana. Kasim menarik napas, mengusap dada, dia merasa beruntung.
"Nonaaa....!"
"Nona dimanaaa....!"
Srekkk
Srekkk
Kasim menoleh mendengar suara seperti sesuatu yang bergerak dibalik semak semak yang ada dibawah pohon besar. Kasim merasa cukup penasaran. Dia mendekatinya perlahan sambil menjaga keseimbangan pijakannya supaya tidak jatuh.
Srekkk
Srekkk
Suara itu terdengar lagi. Kasim perlahan menyibak semak dedaunan itu setelah berhasil sampai disitu, dan betapa terkejutnya saat melihat seseorang terbaring disana dengan tangan yang melambai, mungkin dia meminta pertolongan.
Kasim pun semakin mendekat dan berusaha menggapai tangan orang itu. Tangan itu terasa dingin dan kotor. begitu di jarak yang dekat Kasim mengamati wajah orang itu. Wajahnya kotor dan penuh dengan goresan luka, sampai sampai Kasim tidak bisa melihatnya dengan jelas, dia orang yang di kenalnya atau bukan, lagi pun ini malam hari dan pencahayaan pun minim, menambah penglihatan Kasim semakin tidak jelas. Tapi Kasim tahu jika dia adalah seorang wanita.
"Nona, ayo aku bantu berdiri. Tolong berhati hati biar nggak terpeleset ke jurang dalam itu,"
Nona itu menggangguk dan berdiri perlahan, dengan langkah hati hati Kasim menuntunnya ke tempat yang lebih aman. Begitu sampai di jalan tempat dia melihat nona Vair terjatuh, wanita itu langsung jatuh ke tanah, wanita itu tidak sadarkan diri.
Melihat itu, Kasim terkejut dan juga panik. Kasim segera menggendong wanita itu, membawanya ke rumah besar tuan Mafia. Dia akan mengobatinya terlebih dahulu.
Sementara itu semua anak buah Haru dan Kasim mulai menyerah dengan pencarian ini. Hari makin larut membuat mereka kesulitan mencari Nona Vair.
"Kita lanjutkan pencarian besok saja. Ini sudah terlalu malam. Kalian juga sudah lelah kan?" ketua dari mereka mengintruksi.
Dia sudah lelah dan juga tidak mau membuat anak buahnya kelelahan juga. Lagi pula besok mereka juga masih harus bertugas seperti biasanya, ketua mereka meminta memperketat penjagaan. Semuanya menurut dan mereka pun berjalan menuju rumah besar tuan Mafia dan ingin segera beristirahat.
Berbeda dengan Mafia, entah bagaimana bisa dia kini sudah berhasil sampai di bawah, di tebing berukuran seratus meter itu. Di sana sungai deras dan penuh dengan bebatuan besar, dia mencari Vair tanpa lelah walau tubuhnya tak lagi fit seperti biasanya. Mafia masih yakin jika Vair ada di sini dan keadaannya baik baik saja.
"Vaiiiiirrr....kamu di manaaa....?" panggilnya sekuat tenaga supaya Vair bisa mendengar suaranya.
"Vaiiirrrrr di mana kamuuu.....?" panggilan panggilan terus terucap dari bibir Mafia.
Dia tidak putus asa untuk mencarinya, tapi entah kenapa hati dan otaknya berjalan tak sama. Otak berpikir, manusia yang jatuh dari ketinggian seratus meter, apa lagi dasar jurang sungai penuh bebatuan, pinggiran jurang pepohonan besar. Kemungkinan besar manusia itu akan selamat hanya satu persen saja.
Tapi hatinya, mengatakan jika Viar masih hidup dan baik baik saja. Berharap malah Vair sedang mencarinya juga agar bisa pulang bersama.
"Vair, ayo lah, ini sudah malam. Ayo pulang...!"
"Jangan mengajak aku main petak umpet seperti anak kecil...!"
"Aku punya banyak waktu untuk itu..."
Mafia terduduk lesu di atas bebatuan besar, wajahnya kotor penuh debu dan goresan tanah, mata tajam lelahnya terlihat jelas. "Vair..."
Mafia menunduk, menatap kakinya yang kotor dan berdarah karena menginjak sesuatu yang tajam, tapi rasa sakitnya tidak terasa. Lebih terasa sakit kehilangan wanita yang baru bertemu setelah bertahun terpisah. Vair, wanita yang sejak kecil dia kagumi hingga berubah menjadi cinta. Perjuangannya untuk bisa dekat dengannya saja begitu besar. Mafia rela membunuh mereka yang menghalangi keinginannya.
Tapi, apakah perjuangannya selama ini akan sia sia begitu saja? Semesta tetap tidak mau menyatukannya dengan Vair? Kenapa kejam sekali?
"Apa engkau murka, Tuhan, karena aku telah banyak melakukan dosa? Aku telah menghabisi kedua orang tua Vair dan juga Vari adiknya?" Mafia mendongak, menatap langit malam yang semakin gelap, langit terlihat mendung seolah ikut sedih karena nasibnya yang malang ini.
"Kenapa begitu? Aku hanya ingin mendapatkan apa yang aku inginkan. Apa salah...?"
Mafia tiba tiba teringat masa lalunya dulu. "Aku kecil di buang oleh ayah ku karena ibu ku meninggal di saat menyelamatkan ku yang akan tertabrak kereta. Aku sudah terlunta lunta sedari kecil, semua keinginan dan impian ku tidak ada yang di kabulkan oleh ayah ku. Hingga aku berhasil berdiri sendiri karena jerih payah ku dan juga bantuan dari guru pelatih ku yang kini sudah tiada...,"
"Sekarang aku hanya ingin mendapatkan pendamping hidup ku yang sejak kecil aku kagumi dan ku cintai. Ketika selangkah saja aku hampir mendapatkannya, kenapa selalu ada rintangan yang menghalangi? Kenapa?"
Air mata luruh begitu saja, mafia biarkan, biarkan semesta tahu jika dia juga bisa menangis. Dia tidak sekuat yang orang orang kira. Mafia akan selalu lemah jika menyangkut orang yang dia cintai, hanya saja, selama ini selalu menutupinya dengan ekspresi datar.
"Tolong pertemukan aku dengan Vair, aku menyerah, aku rela jika dia bukan milik ku, bukan jodohku. Asal dia bisa aku temukan, dan melihatnya bahagia..."
Dirumah besar, semua orang heboh dengan kedatangan Kasim yang membawa wanita. Mereka semua menyangka jika dia adalah nona Vair tapi dilihat dari wajahnya, wanita itu tidak seperti nona Vair.
Siapakah dia?