Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Operasi berlangsung kembali. Dokter Rahmat dan timnya berhasil mengendalikan perdarahan awal dan memperbaiki kerusakan pada usus besar Pak Joko.
Namun, saat hendak menjahit lapisan otot perut, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Mengapa dagingnya begitu sulit untuk dijahit?" gumamnya pelan, sambil mengusap keringat yang menetes di dahinya.
Jarum jahit bedah yang biasanya mudah dikendalikan seolah memiliki berat sendiri, dan setiap gerakan terasa seperti kesulitan.
Suster Rina, asistennya yang telah bekerja bersamanya selama lima tahun, melihat kekhawatiran di wajah dokter.
"Apakah ada masalah, Dok?" tanyanya dengan suara lembut namun waspada.
Dokter Rahmat menggeleng perlahan. "Saya sudah memeriksa berkali-kali, tapi sepertinya ada bagian yang saya lewatkan. Tapi bagaimana mungkin? Kita sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum operasi."
Di sudut ruang operasi abram yang diam-diam mengamati seluruh proses.
Ia bisa melihat dan merasakan kondisi tubuh pasien dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran.
Tiba-tiba, Abram berdiri dari kursinya. Matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam, seolah bisa menembus lapisan kulit dan otot Pak Joko.
"Dokter Rahmat!" panggilnya dengan suara yang tegas namun tidak mengganggu fokus tim medis.
"Saya melihat ada pembuluh darah yang pecah di bagian perut kirinya, tepat di bawah lapisan otot transversus abdominis. Anda harus segera menangani itu sebelum terjadi komplikasi lebih parah!" kaya Abram
Dokter Rahmat menoleh ke arahnya dengan ekspresi ragu. "Abram, saya sudah melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti sebelum dan selama operasi. Tidak ada indikasi pembuluh darah yang pecah di area itu," kata Dokter Rahmat memastikan lagi.
"Tapi saya bisa merasakannya, Dok. Saya bisa merasakan getaran yang tidak normal dari aliran darahnya. Percayakan pada saya." jawab Abram sambil memejamkan mata dan mengulurkan tangan ke arah ranjang operasi, seolah meraba bagian perut Pak Joko dari jarak jauh.
Setelah beberapa saat memikirkan, Dokter Rahmat mengangguk. Ia tahu bahwa kemampuan Abram bukanlah hal yang bisa diabaikan, tadi siang Abram telah menyelamatkan pasien yang serius yang tidak terdeteksi oleh alat medis.
"Suster Rina, segera bawa mesin CT Scan portabel ke sini! Kita akan melakukan pemindaian fokus pada area perut kiri pasien," perintahnya dengan tegas.
Setelah beberapa menit, hasil pemindaian muncul di layar komputer. Semua orang di ruang operasi terpana.
Tepat seperti yang dikatakan Abram, ada pembuluh darah kecil yang pecah dan mulai menyebabkan perdarahan internal yang lambat namun berbahaya.
"Cepat! Siapkan alat untuk operasi ulang!" teriak Dokter Rahmat. Ia langsung kembali ke posisinya.
Abram melihat bagaimana Dokter Rahmat berjuang untuk tetap fokus. Tangan dokter tersebut mulai sedikit gemetar, dan wajahnya tampak semakin pucat. Rasa iba muncul dalam hati pemuda itu. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat ke arah Dokter Rahmat dan meletakkan tangannya pada bahu sang dokter.
Dokter Rahmat terkejut dan menoleh ke arahnya. "Ada apa, Abram? Jangan ganggu fokus saya sekarang!" ucapnya dengan nada sedikit marah, namun segera mereda ketika melihat tatapan penuh perhatian pada mata Abram.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya