"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Jam 7 malam, mahiya yang malam itu kelihatan sangat cantik, duduk di sisi kael yang terlihat santai.
Mahiya yang masih berusia 19 tahun, malam ini tampil sesuai dengan usianya. Kael memang cukup jeli, dia meminta mahiya tampil dengan yang di inginkan gadis itu.
Mahiya tidak mengenakan gaun, dia tampil apa adanya. Hanya mengenakan kemeja dan celana highwaist, tapi justru gadis itu jadi kelihatan cantik dengan aura remajanya yang tidak hilang.
Kael berulangkali menyembunyikan decak kekagumannya tadi, rupanya kecantikan gadis itu disembunyikan seragam monoton yang dipakainya pagi hari.
"pak kael, kira-kira keluarga besar bapak serem nggak?, biasanya keluarga konglomerat pasti serem"
Kael tergelak, wajah ketakutan mahiya tak sinkron dengan kepribadian gadis itu yang kael tahu.
"kakak, sayang!" ujar kael mengingatkan mahiya, dia juga ingin menghilangkan kegugupan gadis itu.
"ya elahh pak, kan nggak ada yang lain"
"supaya terbiasa, mahiya"
Mahiya menghela nafasnya berat, sejak tadi dia sudah mengafirmasi dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tetap saja mahiya gugup.
"pak..ehh kak" wajah mahiya memerah, ada rasa geli di dalam perutnya karena harus mengubah panggilan.
"kalau teman-teman saya..ehhh, teman-temanku nggak ada yang manggil mahiya"
"trus?" kael tersenyum simpul, lucu melihat reaksi mahiya yang tersipu sendiri karena mengubah panggilannya.
"mahi.."
"ohh..oke mahi" sahut kael singkat, mobil memasuki halaman sebuah rumah besar, mata mahiya berkedip nggak karuan, debar jantungnya kek genderang mau perang. Seandainya saja jantungnya bukan ciptaan tuhan, mungkin sudah dari tadi jatuh karena nggak kuat.
"ayo..sayang"
Kael mengulurkan lengannya, setelah mahiya turun dari mobil dengan wajahnya yang gelisah.
"tenang aja, seluruh penghuni rumah udah di vaksin kok, aman. Nggak bakal rabies kok kalau menggigit"
Mahiya mendelik kaget, walau dia tahu kael bercanda, tapi karena mahiya sedang gugup, canda begituan yang biasanya lucu, sama sekali nggak bisa membuat dia tertawa.
"ingat mahi, panggil aku kakak, jangan bapak. Atau semuanya akan berantakan"
Kael masih sempat membisikkan ke telinga mahiya yang mengangguk gugup, cara kael berbisik terlihat romantis, bagai pasangan yang benar-benar sedang dilanda cinta.
Cara mereka berjalan, tak luput dari perhatian seisi rumah yang menanti mereka di meja makan.
Nenek kael, tersenyum manis. Wajah tua wanita itu berbinar indah menatap kael dan mahiya.
Sementara mahiya, jangan ditanya deg-degannya, luar biasa.
Mata yang menatapnya, terasa bagaikan tusukan beribu mata pisau yang terarah kepadanya. Sejujurnya mahiya kepengen menyerah, tangannya tanpa sadar meremas lengan kael. Kael menoleh, tangannya menepuk lembut tangan mahiya yang meremas tadi.
"tenang sayang!, jangan takut ada aku"
Mahiya mengangguk, tapi tetap aja nggak tenang, dia merasa seakan dirinya sedang diumpankan ke mulut harimau.
"selamat datang mahi.." sang nenek berdiri menyambut mahiya yang langsung memeluk wanita tua itu.
"akhirnya pacar kael datang juga kerumah!"
Suara lembut dari seorang wanita cantik yang duduk di sisi seorang pria tampan, mengalihkan perhatian mahiya.
Mahiya tersenyum ramah, kepalanya mengangguk sopan.
"kenalkan aku irene, kakak ipar kael"
mahiya menyambut uluran tangan wanita cantik itu,
"mahiya sandra kak"
Mahiya mengedarkan pandangannya, mengamati semua keluarga kael. Di ujung meja makan terlihat seorang pria setengah baya yang terlihat wibawa, di sebelah kanannya duduk dengan anggun wanita cantik yang mahiya duga pasti ibunya kael, cantik, sangat cantik dan sepertinya blasteran. Pantas saja kael memiliki bola mata coklat kehijauan, di kursi sebelah kiri, duduk pria tak kalah tampannya dari kael, dan mirip dengan kael, pasti abangnya.
Oma nurmala duduk berhadapan dengan ayahnya kael, sepertinya kael hanya 2 bersaudara.
"apakah kamu tidak berencana mengenalkan pacarmu kael"
Suara berat dari pria setengah baya itu menyadarkan mahiya, gadis itu berdehem pelan.
Mahiya menoleh kaget, kepalanya menunduk melihat tangannya di remas kael lembut.
"kenalin daddy, ini mahiya pacar kael"
Pria tua itu menatap mahiya lekat, mahiya langsung sesak nafas. Tatapan pria itu tajam, walau terlihat ramah.
"sepertinya pacar kamu masih terlalu muda"
Seketika, semua kepala yang sedang menunduk, menikmati hidangannya, serentak menoleh ke arah mahiya.
Sontak gadis itu tercekat, menelan salivanya pun mahiya nggak sanggup, serasa nyangkut di tenggorokan.
"karena itu dad, kael belum berani mengenalkan ke keluarga, tapi karena kemarin oma ketemu mahi, mau nggak mau kael cerita ke oma, iya kan sayang?" tiba-tiba kael meminta jawaban dari mahiya yang sudah nggak karuan gugupnya.
"iya..kak" sahut mahiya singkat, tapi gadis itu tersenyum manis. Kael ikut tersenyum, dia bangga melihat mahiya bisa menjawab dengan tenang dan tidak gugup.
"kamu masih kuliah?" kini pria setengah baya itu mengalihkan pertanyaannya pada mahiya.
"iya om, semester 4"
Terdengar tawa merdu dari samping kael, mahiya tahu itu pasti ibunya kael.
"baru 20 tahun yah?" suara merdu itu bertanya dan menoleh.
Mahiya menggeleng cepat,
"19 tahun tante.."
"astaga kael.." seru sang ibu dengan wajah terkejut.
"kamu pedof*l kael?"
"mommy..." kael berseru kaget, tak terima.
"19 tahun itu sudah ilegal mommy"
"heummm" sahut sang ibu masih tetap tersenyum lucu.
"kalau mahiya pacaran dengan pria seusianya tentu ilegal, tapi kamu sudah om- om nak"
Seketika suara tawa pecah di ruangan itu, mahiya bingung dia harus gimana, ikut ketawa atau gimana.
"cinta itu nggak pandang usia, iyakan oma?" kael meminta bantuan omanya yang juga ikut ngakak, tapi wanita tua itu mengangguk lembut.
"mahiya kuliah jurusan apa?"
Kini irene, wanita cantik kakak ipar kael itu bertanya lembut. Mahiya melirik perut perempuan itu, tadi karena gugupnya mahiya tidak menyadari ternyata kakak ipar kael itu sedang hamil.
"keperawatan kak" sahut mahiya pendek, dia juga sedang makan.
Walau mahiya biasanya cuek dan nggak jaim, tapi ternyata dia mampu tampil elegan di depan keluarga kael. Gadis itu makan dengan tenang dan rapi, seperti gadis yang pernah mengikuti kelas etika.
Kael menyadari itu, dan jujur saja dia kagum pada gadis itu. 1 poin lagi menambah untuk mahiya.
"daddy harap kamu berhenti main-main kael, jika menurutmu hubungan dengan mahiya memang serius, langsung saja menikah"
"sayang.." terdengar ibunda kael menyela, tangan wanita itu mengelus lengan suaminya.
"pacar kael masih terlalu muda, takutnya tidak ada yang berani menikahkan mereka"
Mahiya tersentak sesaat, ternyata ibunya kael itu sebegitu perhatiannya.
"mungkin bagi kael, mahiya bukan yang pertama, tapi mommy yakin kael yang pertama buat mahiya, iyakan sayang?"
Wajah mahiya sontak berubah, pertanyaan lembut ibunya kael itu, dan memanggil sayang, jujur mahiya nggak menyangka, keluarga kael begitu baik. Mereka sekalipun tak menyinggung latar belakang keluarga mahiya yang biasa-biasa saja.
Mahiya mengangguk, ibunya kael tersenyum lembut.
"bagaimana kalau ternyata mahiya belum siap menikah, kita gak boleh paksa dia" kini ibunya kael itu kembali menatap suaminya yang tertegun.
"kael.." panggil sang ayah, kael yang sedari tadi hanya diam mengamati, akhirnya bicara.
"kael dan mahiya sudah memutuskan akan menikah, karena kael nggak mau kehilangan mahiya"
Mahiya tercengang tak percaya, harusnya si kael ini lebih baik jadi aktor saja. Bisa-bisanya dia saja sampai hampir percaya ucapan gombal pria ini.
"iyakan sayang?"
Kael mengalihkan tatapannya ke mahiya, jemarinya dengan ramah meraih jemari mahiya dan meremasnya di depan seluruh keluarganya. Sebuah drama yang sempurna, mahiya tak sanggup berkata-kata, kepalanya mengangguk malu-malu menambah kesempurnaan drama yang kael buat.
Bersambung..