Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 Rencana Ibu Wei
Wei Ying menempel sebuah kertas di papan pengumuman yang biasa di lewati oleh orang-orang di lpasar, dengan senyum kecil ia menatap bangga pada kertas yang tertempel itu.
"10 Tahun bukan waktu yang terlambat untuk balas dendam.." bisik Wei Ying dengan senyuman licik.
Selepas Wei Ying pergi, satu persatu warga mulai tertarik dengan kertas yang baru saja di tempel itu. Biasanya kertas yang di tempel pada papan pengumuman itu, adalah rekturan untuk pekerjaan. Jadi begitu ada kertas baru yang di tempel, itu akan menjadi sesuatu yang di nanti oleh para pencari pekerjaan, meski upah yang di bayarkan relatif kecil.
"Wah, aku harus ikut mengajukan diri!" seru seorang pria paruh baya dengan antusias.
Orang-orang mulai saling berbisik, sebagian ada yang mengangkat alis tak percaya sebagian lagi merasa antusias dan bersemangat.
Memangnya apa yang Wei Ying tulis di kertas pengumuman itu. Sebenarnya bukan hal yang istimewa, hanya saja mengingat jika dunia yang ia masuki ini berlatar kuno dan terpelosok di antah berantah, di tambah Wei Ying tau tak lama lagi sebuah peristiwa menggemparkan akan terjadi mengingat dari alur novelnya.
Lima orang pria berjalan menuju rumah Wei Ying, mereka membawa cangkul dan beberapa alat pertukangan. Salah satu pria itu lalu mengetuk pintu gerbang kediaman Wei dan memanggil Wei Ying.
"Permisi! Ibu Wei, kami datang untuk pekerjaan yang kamu minta dalam surat pengumuman di pasar!" seru pria itu dengan keras.
Tak lama pintu gerbang itu terbuka, Wei Ying tersenyum dan mulai berbicara dengan anggun.
"Oh, selamat datang."
"Jadi, kapan kami bisa mulai? Dan kami juga ingin memastikan jika kami akan di bayar sesuai yang di cantumkan dalam surat pengumuman itu.."
"Tentu! Saya akan bayar setengahnya di muka, lalu sisanya setelah semua pekerjaan selesai. Bagaimana?" tanya Wei Ying.
Lima orang pria itu terlihat saling berdiskusi untuk sesaat, mereka menimbang apakah itu ide yang bagus atau justru merugikan mereka. Hingga akhirnya satu pria kembali maju.
"Baik, kami setuju."
Wei Ying tersenyum senang, lalu dengan ceria mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Baik, silahkan masuk dulu." ujarnya.
.
.
Wei Ying duduk dengan tenang dan menyeruput tehnya, lalu setelah meletakan cangkir teh itu ia mulai berbicara.
"Jadi, saya akan langsung ke intinya. Saya ingin membangun dinding dari batu dan pasir yang mengelilingi rumah dan sepanjang halaman belakang." ujarnya sambil menunjuk tumpukan pasir dan batu di halaman rumah.
"Oh, itu mudah saja. Ibu Wei tinggal sebutkan saja mau setinggi apa dindingnya.."
"Sepertinya 20 kaki cukup.."
Lima pria itu seketika tercengang. Mereka langsung saling memandang dan berbisik-bisik.
"Hei, bukannya itu mustahil!"
"Itu terlalu sulit! Memangnya bisa membuat dinding dari batu dan pasir setinggi itu!"
Wei Ying tersenyum kecil mendengar mereka yang berbisik-bisik ragu.
"Saya akan mengawasi pekerjaannya, jadi kalian semua tinggal mengerjakan apa yang saya bilang saja. Bagaimana?"
"Baiklah, tapi jika hasilnya tidak sesuai itu di luar kemampuan kami." ucap salah satu dari mereka.
Wei Ying mengangguk, kemudian mereka kembali berdiskusi.
Tak jauh dari enam orang dewasa itu yang sedang serius berbincang, tiga orang anak tampak diam memandang pemandangan itu dengan isi pikiran yang berbeda-beda.
Lu Bao menunjuk ke arah tumpukan batu di halaman rumah, "Kakak, batu-batu itu untuk apa?"
Lu Shu menatap ke arah batu-batu itu, "Kakak juga tidak tau.."
"Sepertinya Ibu Wei hendak membuat sesuatu.." sahut Lu Xue.
"Membuat apa?" tanya Lu Bao, "Jangan-jangan batu-batu itu untuk membuat kuburan kita?"
Lu Shu menggeplak kepala Lu Bao dengan alis menukik, "Jangan bicara yang tidak-tidak! Nanti membawa sial!" serunya.
"Belakangan Ibu Wei berubah, dia mulai memperhatikan kita. Lihat baju ku, ini sangat cantik! Kita juga makan enak dan kenyang. Aku punya firasat, kali ini pun Ibu Wei akan melakukan sesuatu yang baik-baik saja.." ujar Lu Xue dengan tatapan yang terus mengarah pada Wei Ying yang kini tengah berbicara dengan para calon pekerjanya.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭