Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resep Teh yang Menghangatkan Cinta
Kabar pernikahan "Jenderal Naga" dan Sinseh Kwee Lan menyebar sampai ke tembok dingin istana, bikin kuping para pejabat pada panas.
Pangeran Lie, yang selama ini merasa dirinya matahari, langsung merasa silau. Dia lihat kemesraan Go Beng Liong dan istrinya—yang sebenarnya cuma sandiwara Bang Ka Chng—sebagai tantangan harga diri.
"Gua bo-hian-be lo-ti Go Beng Liong! Kwa-i e-sai, gua ma-si e-sai! " (Gue nggak mau kalah sama si Go Beng Liong! Kalau dia bisa, gue juga harus bisa!) gumamnya dengan muka merah menahan gengsi.
Maka, diboyonglah Eng Hong ke istana dengan arak-arakan yang lebih mewah. "Mai-lo-ti-lang! (Jangan mau direndahin orang!) Apalagi sama Go itu!” batinnya. Ego laki-lakinya tersulut. Apalagi Go dulu adalah mantan dari istrinya. Istrinya sendiri gak paham kenapa Pangeran Lie begitu.
Dia datang dan konsultasi strategi khusus pesta bersama Jendral Choa dan Kim karena Jendral Go dan Kwee Lan sendiri masih dalam waktu larangan keluar.
Awalnya isu Pangeran dengan istrinya yang bo-mi dan punya anak itu, nyaris meledak jadi skandal. Tapi, bayi laki-laki lucu langsung membungkam mulut semua orang. Di istana, anak laki-laki itu perisai sakti. Cincai-lah, yang penting ada penerus, semua urusan bisa dihalusin.
Saking halusnya sampai diangkat jadi Kaisar setelah 3 bulan menikah. Karena Kaisar lama ingin jadi kakek seutuhnya. Maklum, tidak ada pangeran lain yang punya anak.
---
Strategi Teh Jahe Sereh
Seminggu berlalu. Ritual adat Keluarga Go diselesaikan dengan kaku. Jenderal Go ditarik jadi pengawas rumah sakit militer—jadi pria kantoran biasa. Seragam perang ganti jubah resmi, duduk di balik meja kayu besar. Cing-cay lah, yang penting kerja.
Tapi Jenderal Kim dan Jenderal Choa nggak rela kehilangan akses ke paviliun Kwee Lan. Alasannya? Teh Jahe Sereh.
"Resepnya sudah dikasih sama Kwee Lan. Kita sampe dapat pelatihan karena dia ngerasa kita beneran keluarga dia. Haiyah… Tapi, bikin sendiri kok rasanya kurang nendang," keluh Jenderal Kim.
Alhasil, mereka sering bolak-balik ke rumah dinas Jenderal Go demi segelas teh yang bikin badan rasa dipijat bidadari. Cing-cay aja, yang penting enak.
"Lo tahu gak sih, Choa?" bisik Kim suatu sore, "Gue rela bayar berapa pun asal dapet itu teh. Dapet resep dan pelatihan tetep kaga nendang!"
"Udah, Kim. Lo itu jenderal, bukan tukang jamu. Mangkanya, besok kita mending cari alasan apa lagi. Gue mulai kehabisan ide." jawab Choa sambil menyeruput tehnya pelan-pelan, menikmati setiap tetesnya sambil ngumpulin ide alasan yang tepat.
---
Jenderal yang Menjadi Batu
Di rumah, Kwee Lan memperlakukan suaminya seperti batu—ada, tapi bo-kan-sin (nggak punya perasaan). Dia masak, ngerapiin baju, meriksa luka Jenderal, tapi matanya kosong. Bo-ji-lang banget.
Jendral ini pun sudah ada di titik mulai percaya bahwa istrinya ini sudah jadi makhluk mitologi akibat ilmunya yang aneh dan tidak umum. Apalagi testimoni para siswa dan siswi istrinya, yang bilang bahwa istrinya di kelas sangat jarang marah. Tapi, sekali bikin masalah. Maka, siaplah dihajar sampai remuk. Baik anak Sinseh kaya atau bo-mi dengan latar keluarga bukan sinseh semua sama. Bolak balik disogok tapi sekali dia bilang tidak, maka koruptor penyogok itu pulang. Alasannya sama: “kayaknya guru elu setan. Atau anak buah Tai Sang Lao Chu yang menyamar”.
Jendral Go yang dulu mengatur strategi perang sekarang mengatur berbagai strategi merayu dari dalam dan luar negeri. Ini dipelajarinya secara khusus dengan sering membeli buku dari pedagang petualang. Tapi diam-diam. Sinseh lain dan tenaga administrasi cuma bisa maklum.
Dia bingung karna strategi Jendral Choa dan Kim tidak pernah berhasil selama beberapa waktu ini.
Jadi coba strategi yang lebih ilmiah. Tapi, istrinya tetap sama. Duduk di sebelahnya. Menikmati pijatan suami. Sesekali menikmati manja tapi berujung tidur. Kadang-kadang mendesah "Liong-A" dengan tatapan manis lanjut tidur meninggalkan dirinya dan imajinasi liar yang terlanjur terbayang. Padahal kerinduannya belum terbayar lunas.
Meditasi pagi rutin sebagai sinseh membuat suasana hatinya hanya siap kerja. Tidak siap pulang, tapi ketika pulang, dia adalah orang paling cepat menuju pagar.
Jenderal Go yang sensitif pun mulai Lun Thun. Jadi cemburu buta sama Ah Niu yang suka mampir bawa buah. Padahal Ah Niu menyasar adiknya yang janda. Kalo sadar sering malu sendiri.
Adik perempuan Jendral Go, Go Tan Eng adalah korban siat sin seorang tabib pria. Perkawinannya dengan Keluarga Nio dibatalkan hanya karena wanita polos itu tidak tahu apa-apa dan baru sadar setelah itu semua terjadi.
Bagi Ah Niu, Tan Eng membantunya menutup lukanya atas Kwee Lan. Keluarga Ah Niu tidak ada masalah dengan menikahi janda. Pertama karena Adik perempuan Ah Niu satu-satunya bernama Ah Mei bunuh diri akibat jadi korban siat sin tabib nakal-- solidaritas penyitas. Kedua sudah punya 20 cucu dari anak-anak pria lainnya. Ketiga, karena Ah Niu sudah lama tidak beristri.
"Ah Niu, lo sibuk kan? Mending pulang," usirnya ketus suatu hari. Kontan Tan Eng ngambek dan ikutan cemburu pada iparnya itu.
Kwee Lan cuma geleng-geleng, diem aja. Makan, mandi, kerja. Dan menjadi makhluk mitologi. Kalo Go cemburu ke Ah Niu, iparnya pasti marah gak jelas padanya. Tapi dia seperti hantu. Masuk kamar, menikmati dipijat Go sampai tidur dan pagi merekah. Begitu seterusnya.
Suatu malam, Jenderal Go nggak bisa tidur. Dia nengok istrinya yang tidur membelakangi dia. Dia mau meluk, memaksakan dirinya, tapi tonjokannya melayang ke wajah tuannya. Batinnya nampar mukanya sendiri:
"Liong-A, lo yang nyeret dia ke sini. Lo jadiin dia perempuan bo-li-mo. Lo yang pura-pura jadi papanya. Lo yang gangguin dia berbulan-bulan. Sekarang lo mau apa lagi?"
Sio-hian banget lihatnya. Dulu dikejar wanita, sekarang mengejar wanita setengah makhluk mistis.
---
Pulihnya Sang Sinseh
Kwee Lan nggak man-man (lelet).
Dia latihan jurus Bu Ki Sut dan baca kitab Sin-Sim It-Thé Hoat—Metode Penyatuan Jiwa dan Raga. Awalnya dia kira cuma teknik fisik biasa. Untuk bidang keahliannya: kulit, gangguan rahim, dan reproduksi wanita. Tapi makin dibaca, dia sadar: ini bukan soal otot, tapi soal nyatuin jiwa yang pecah serta keseimbangan relasi suami dan istri.
Berkat bimbingan mertua dan kasih sayang "Ayah Palsu"—Go Beng Liong yang ternyata lembut meski muka serem—perlahan kewarasan Kwee Lan balik. Siswa siswinya di perguruan tinggi daerah itu merasa gurunya sudah sedikit-sedikit menjadi manusia.
Ibu Go sering mampir di kamar tamunya. Ajak cerita masa kecil Jenderal Go yang cengeng kalau kalah main bola. Kadang bawa masakan. Kadang minta dimasakin. Dan yang jelas menagih setoran teh herbal harian miliknya yang enak.
Ayah mertuanya biasanya datang bareng ibu mertua. Awalnya beneran mau minta teh. Tapi berujung laporan gosip di tempat kerjanya. Mulai dari pejabat yang selingkuh sampai kucing putri yang melahirkan.
Kwee Lan tersenyum kecil. Senyum pertama dalam berbulan-bulan.
Semua orang di klinik Hong Mei Fang sudah cui-cui nunggu Sinseh hamil, tapi Tabib Lie selalu bilang, "Biarin, dia lagi proses. Jangan diganggu.". Juga siswa siswi perguruan tinggi sinseh cari-cari info padahal ujian negara di depan mata. Sungguh Am-chiong!
---
Julid Kamar: Penasaran yang Menjadi Nyata
Sore itu, Jenderal Go pulang dengan muka am-chiong. Habis adu mulut sama Jenderal Hok perkara pasien bandel. Rumah sakit militer ternyata bukan cuma soal luka perang. Ada pasien sipil, keluarga prajurit protes, administrasi mumet.
Tapi pas masuk kamar, istrinya berubah.
Kwee Lan nyodorin teh jahe hangat. Wangi jahe dan sereh langsung memenuhi ruangan.
"Koh... capek ya?"
Jenderal Go tertegun. Suara itu beda. Hangat. Bo-kan-sin udah nggak ada.
Ibu Go yang kebetulan mampir, langsung tarik suaminya pulang.
"Udah, pulang! Mereka lagi..." Ibu Go ngasih kode mata.
Ayah Go manggut-manggut jahil. Cui-cui abis.
---
Di kamar, suasana mendadak sunyi tapi panas.
"Koh," Kwee Lan mulai julid tipis, wajahnya merah seperti udang rebus, "maafin aku ya... berbulan-bulan kayak hantu di sini. Pasti Koh Liong udah..."
Jenderal Go nggenggam tangan istrinya. Rasa yang selalu hangat walaupun dulu istrinya mirip hantu sawah, sekarang berdetak lebih kencang.
Sinseh Militer itu meletakkan buku istrinya di meja kecil.
Istrinya memeluknya kenceng.
Jenderal Go pikir dia cuma bakal dapet harapan palsu lagi kayak sebelum- sebelumnya—yang bikin dia terpaksa "Ang-Bang" (mimpi basah) sendiri sampai marah-marah karena nahan diri padahal tiap hari alasan pijat ini itu karena curi-curi kesempatan.
Tapi kali ini, panggilan "Liong-A" terdengar hidup. Pelukan itu menjadi dalam, hangat, dan tiba-tiba semua terjadi persis seperti adegan mimpinya yang liar tempo hari.
Dia menikmati setiap prosesnya. Hatinya melayang. Terasa penuh dan utuh.
Berdua.
---
Tiba-tiba, Jenderal Naga itu menarik diri sebentar. Mukanya merah padam, matanya melotot tajam ke arah kain putih di atas dipan. Otaknya korslet.
"SIA-LIAO! GUA-E BIN-CHO-SI LIAU-LO! " (Mampus! Mati konyol gue!) teriak Jenderal Go dalam batin.
Dia mematung. Shock berat.
Kwee Lan ketawa kecil—tawa renyah yang bikin Jenderal Go makin salah tingkah.
"Jadi tadi beneran...?" Jenderal Go kaget, mulutnya menganga.
"Kiam-pau!" Kwee Lan nyubit pinggangnya kenceng.
"Lu jit-jit chau-ko gue, lu kiam-na jit-jit liau-lo... lu ngen-na gua bo-siu-be? Ma-si gua-e mien-cho! " (Tiap hari kamu pegang-pegang aku, makin hari makin godain... kamu kira aku nggak punya rasa penasaran? Masa sekarang aku lagi yang disalahin!)
Jenderal Go garuk leher yang nggak gatal.
"Dulu kan rencananya kita Bang Ka Chng pake darah ayam biar kelihatan sah di depan adat... tapi kalau sekarang beneran begini, gue nggak siap aktingnya pas lapor keluarga!"
"Nggak usah akting."
Kwee Lan nyandarin kepala di dada bidang suaminya.
"Makasih udah mau jadi Papa palsu aku. Makasih udah mau nungguin aku 'pulang'. Ke depan, biar Thien yang urus. Yang penting... saat ini."
Jenderal Go diem. Tangannya mendekap erat istri yang selama ini dia kejar bayangannya.
Mendadak Kwee Lan bilang "Aku mau ngomong serius, ini tentang Ah Niu"
Otomatis wajah mesumnya jadi campuran aneh antara marah, cemburu, dan "tapi tadi kan...".
---
Di luar, aroma jahe dan sereh masih tercium samar. Daun-daun bambu berdesah pelan, seperti ikut bersyukur.
Di dalam kamar, dua jiwa yang tadinya hanya "Garis Luar"—yang awalnya cuma settingan, cuma akal-akalan Bang Ka Chng—kini benar-benar menyatu dalam garis takdir yang sama.
Bukan karena kewajiban.
Bukan karena hutang nyawa.
Bukan karena tekanan keluarga.
Tapi karena... memang mau.
Cin-cai lah, yang penting mereka berdua ho-ho-si (baik-baik saja).
---
Catatan:
Istilah Arti
Cincai Terserah, gampangan
Cing-cay Santai, gak ribet
Bo-kan-sin Nggak punya perasaan
Bo-ji-lang Kayak bukan manusia, hampa
Sio-hian Kasihan
Man-man Lelet, lambat
Cui-cui Curiga, harap-harap cemas
Am-chiong Hancur lebur, berantakan
Ang-Bang Mimpi basah
Kiam-pau Kurang ajar
Sia-liao Mampus, celaka
Bin-cho-si Mati konyol
Thien Langit / Tuhan
Hong Mei Fang 紅梅坊 - Paviliun Bunga Plum Merah
Sin-Sim It-Thé Hoat 身心一體法 - Metode Penyatuan Jiwa dan Raga
Ho-ho-si Baik-baik saja
---
[BERSAMBUNG?]