Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bang Ahmed
Siapa sangka di pertengahan jalan hujan melanda. kota Surabaya. Memang dari tadi mendung menyelimuti langit. Namun Riri tetap nekat untuk berangkat. Sultan langsung meminggirkan motornya ke tempat yang bisa bernaung dari hujan, yaitu sebuah pertokoan yang tutup karena hari minggu. Tempat foto copy-an memang agak jauh karena kalau hari minggu kebanyakan tutup.
"Maaf mbak, kita berhenti dulu. Mbak kan bawa file, nanti basah."
"Iya, bang."
Hujan pun semakin deras. Ada beberapa orang yang juga mampir di tempat mereka berteduh. Sultan membuka helmnya karena kacanya sedikit basah, ia mengelapnya dengan sarung tangannya.
"Wah sepertinya hujan angin, mbak."
Riri menoleh kepada abang ojek yang berdiri kurang lebih 50 cm di sampingnya. Masker hitam itu masih nempel di wajah Sultan, sehingga Riri belum bisa melihat wajah Sultan.
"Mbak terburu-buru?"
Suara Sultan kembali mengagetkan lamunan Riri.
"Ah tidak kok, cuma mau foto copy saja."
"Ah kenapa aku penasaran dengan wajah abang ojek ini. Jangan-jangan dia sudah punya anak dan istri. Ya ampun, kenapa aku mikirnya jauh banget ya. Lha terus memangnya kenapa kamu dua sudah punya anak istri?" Batinnya.
Riri pun membuka helmnya. Kali ini ia bisa membukanya dengan mudah.
"Bang, parfumnya wangi banget. Itu pasti parfum mahal ya?"
"Hah iya kah? Saya juga tidak tahu, mbak. Soalnya dikasih orang." Bohongnya.
"Oh... kirain beli sendiri."
"Ya nggak mungkin toh, mbak. Penghasilan saya mana cukup beli parfum mahal."
Riri mengulum senyum.
"Senyumnya manis juga." Batin Sultan. Tanpa sadar ia memuji gadis yang dua kali ditemuinya itu. Bukan dua kali sebenarnya, tapi empat kali. Hanya sja baru dua kali mereka berkomunikasi.
Untuk menghilangkan rasa bosan, Riri pun memainkan handphone nya. Begitu pula dengan Sultan. Sultan memakai HP android untuk aplikasi ojeknya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya hujan pun mulai reda. Namun Sultan melihat Riri sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya ia kedinginan.
"Mbak, kita lanjut? Tapi masih gerimis."
"Iya, bang nggak pa-pa. Kalau nunggu bebar-benat reda takutnya nanti malah hujan lagi. " Jawab Riri dengan suara agak bergetar.
"Maaf mbak, kalau mau ini pakai jaket saya. Sepertinya mbak kedinginan. " Ujar Sultan sambil membuka jaketnya.
"Eh, nggak perlu bang. Nanti malah abangnya yang masuk angin."
"Saya ada jaket lain di dalam jok. Pakai saja mbak, nggak pa-pa. Tenang saja nggak bau keringat kok. Atau mbak mau pakai jaket saya yang satunya?"
"Eh ndak perlu, bang. Yang ini saja."
Riri menerima jaket tersebut. Jelas saja jaket itu berbau wangi. Ia pun memakainya. Sedangkan Sultan mengambil jaket kulit miliknya yang ada di dalam jok. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Gerimis masih berjatuhan. Tidak sampai 10 menit, mereka sudah sampai di tempat foto copy.
"Alhamdulillah sudah sampai. Bang, bisa minta tolong ditunggu? Cuma sebentar kok. Paling 10 menit. Nanti hitung dengan uang tingginya sekalian."
"Oh iya bisa, saya tunggu sambil ngopi di warung sebelah. Tidak perlu mbak, yang sekarang langsung dibayar. Nanti kita mulai lagi dari nol."
Riri langsung membayarnya sesuai jarak yang ditempuh.
"Terima kasih banyak, bang."
"Iya, sama-sama. "
Riri pun masuk dan memfoto copy beberapa proposal. Sedangkan Sultan duduk di warung sebelah sambil memesan kopi susu.
Dua menit kemudian, pesanan Sultan sudah jadi. Ia membuka maskernya dan menikmati kopi susu. Layaknya driver ojek, Sultan dapat berbaur dengan driver lain yang sedang ngopi di warung itu juga. Ia sama sekali tidak terlihat canggung dan tidak membatasi dirinya. Justru dengan enteng ia sering mentraktir teman-teman sesamanya. Seperti saat ini, ia membayari dia orang driver yang sedang ngopi dan makan mie instan.
"Mbak ini sudah semua." Ujar penjaga foto copy kepada Riri.
"Berapa, mas?"
"Seratus dia puluh ribu."
Riri pun membayarnya setelah meminta nota.
"Alhamdulillah, selesai juga. Hujan juga sudah reda."
Riri keluar dari tempat foto copy-an dan mengintip warung di sebelahnya untuk mencari keberadaan abang ojek. Ada dua abang ojek yang duduk di sana. Riri dapat melihat dari jaketnya. Riri baru sadar kalau tadi abang ojek yang mengantarnya tidak memakai jaket hijau karena jaketnya ia pakai. Riri langsung melirik pria yang memakai jaket kulit dan sedang duduk di pojokan memakai jaket kulit. Sontak Riri langsung memanggil namanya.
"Bang Ahmed!"
Sultan langsung mendongak.
Melihat wajah tampan Sultan, Riri pun takut salah orang. Karena wajahnya nampak berbeda dengan di aplikasi.
"Eh maaf, saya salah orang." Ujar Riri dengan nada ragu.
Sultan menulis senyum lalu memakai maskernya.
"Mbak, ini benar saya kok." Sahutnya seraya berdiri.
"Oh ya? S-saya tidak salah berarti?"
"Tidak, mbak."
Sultan segera membayar dan pamit kepada temannya.
Riri dan Sultan sama-sama memakai helm. Setelah itu, mereka naik ke atas motor.
"Sesuai aplikasi ya, mbak."
"Iya, bang."
Sultan pun melakukan motornya.
Cuaca masih mendung, namun hujan sudah reda. Udara dingin menusuk rongga kulit. Tanpa sadar, Riri memperhatikan abang ojek di depannya melalui kaca spion. Tanpa disadari, Sultan meliriknya dari balik kaca spion juga. Riri langsung mengalihkan pandangannya karena malu.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai.
Riri turun dari motor. Ia membuka helm dan jaket yang dipakainya. Ia juga membayar melebihi tarif.
"Mbak, ini lebih lho uangnya."
"Nggak pa-pa, bang. Hitung-hitung buat jajan anaknya."
Sultan sedikit terkejut mendengarnya.
"Anak dari mana?" Batinnya. Namun ia tidak mengelak. Ia pun mengucapkan Terima kasih sebelum akhirnya meninggalkan Riri.
Riri pun masuk ke dalam kost-an.
Tok tok tok
Fira membukakan pintu.
"Kamu nggak kehujanan, Ri?"
"Hampir saja tadi. "
"Ri, kamu nggak beli makanan atau apa gitu?"
"Aduh iya lupa. Gara-gara abang ojek."
"Hah, kenapa abang ojeknya?"
"Hem... kenapa ya? Nggak pa-pa sih, hehe... maaf ya. Aku belikan di depan saja."
"Ish, nggak asik."
Riri tidak mungkin menceritakannya kepada Fira karena itu hal konyol baginya. Dan nanti Fira pasti akan tanya hal yang macam-macam. Jadi mending ia diam saja.
Riri keluar lagi untuk membeli lauk dan sayur yang sudah matang di dekat kost-an. Ia juga membelikan obat warung untuk Fira sesuai dengan permintaannya.
Setelah mengantar Riri, Sultan langsung pulang ke rumah karena hari ini saudaranya dari Dubai akan datang. Ummi berpesan agar ia pulang cepat. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya, ia pun menurutinya. Kalau soal keluarga, Sultan memang tidak bisa mengabaikan. Asal jangan soal perjodohan dan desakan menikah.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar