Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbang
"huwekk huwekk" aku memuntahkan isi perutku, tetapi yang keluar hanyalah cairan, karena dari kemarin perutku belum terisi oleh makanan. Ya karena tidak berselera, ini adalah kebiasaan ku sejak dulu jika tidak nafsu makan, maka aku akan lupa makan sampai berhari-hari sampai merasakan tubuhku lemas.
"mama ndra kenapa?" drina yang sedang membereskan peralatan yang tadi ia bawa ke taman menoleh padaku, binar matanya tampak khawatir menatapku.
"mama ndra hanya masuk angin na, boleh ambilkan mama ndra tisu na"
Drina berjalan menuju meja tempat kotak tisu berada, kemudian menyerahkannya padaku.
"Mama ndra sakit?, drina telpon papa ya" gadis itu, membawakan segelas air hangat, berjalan tertatih dengan hati hati menuju sofa yang dimana aku sedang bersandar lemas tak berdaya.
"Jangan na, papa lagi kerja. Lagi sibuk jangan ganggu papa ya. Mama ndra hanya masuk angin nanti juga sembuh" aku menatap gadis kecil itu, raut wajahnya masih menampakkan ke khawatiran padaku.
dertt dertt. Suara handphone ku berbunyi. Panggilan masuk yang ternyata dari ibu
"Assalamualaikum Bu, ada apa?"
Ibu : wa'alaikumsalam ndra, apa kabar nak?
Aku tidak bisa berbohong dengan keadaanku saat ini, rasa mual terus terusan menyerangku. Di tambah kepalaku makin pusing.
"sedikit masuk angin Bu, nanti juga sembuh"
ibu : yang bener ndra, belum makan berapa hari?. Ih kamu bikin ibu cemas aja. Satya kemana?"
"aku gapapa Bu beneran deh, kak Satya lagi kerja katanya lagi cek proyek"
Ibu : yasudah cepat minum obat, makan!, usahakan makan. walopun sedikit. Apa perlu ibu kesana?.
"Gak usah Buu, Sandra gapapa hanya masuk angin biasa. Kak Satya juga sepertinya sebentar lagi pulang"
Ibu : hemm yaudah kalau gitu, ndra tadi ibu mampir ke toko roti kok sepi biasanya toko roti kamu rame"
"hemm, iya Bu toko roti emang lagi sepi, tapi gapapa Bu namanya juga bisnis pasti ada down nya juga".
Setelah menutup telpon dari ibu aku kembali memuntahkan isi perutku, ah lemas sekali rasanya. Bahkan untuk berjalan pun aku gak kuat, kepalaku terasa muter.
"halo pah, mama ndra sakit. Dari tadi muntah muntah"
Aku samar-samar mendengar drina yang menelpon kak Satya, sepertinya anak kecil itu menggunakan ponselku untuk menelpon kak Satya.
"aww" dadaku terasa berat, mataku buram. Pusing serasa apa yang kulihat berputar, telingaku berdenging kuat.
"brukk" tubuhku limbung, namun masih sadar dan bisa mendengar tetapi tubuhku sangat lemas.
"Mama ndra" samar aku mendengar teriakan drina, sebelum semuanya menggelap.
*
"ndra, masih untung Satya membawamu tepat waktu kesini sayang"
Baru saja membuka mata, aku sudah terkena Omelan dari ibu. Mataku memperhatikan sekitar, ternyata aku telah berada di ruang rawat inap. selang infus sudah menempel di tangan kananku.
apa?, kak Satya yang membawaku kerumah sakit. Dia pulang dari tempat kerjanya. lalu dimana kak Satya aku tidak melihatnya disini, ah kepalaku masih terasa pusing dan sedikit berputar.
"Bu, dimana kak Satya?" aku keluar dari monologku.
"Keluar dulu, ngajak drina beli es krim. Sedari tadi drina terus-terusan menangis liat keadaanmu"
Aku meringis, jadi tidak enak karena sudah merepotkan kak Satya.
"Assalamu'alaikum, Oma Can" drina memasuki ruangan tempat aku dirawat, disusul dengan kak Satya di belakangnya. Aku menatap sekilas wajah kak Satya, ada rasa lelah disana. aku makin merasa tidak enak sama kak Satya, karena sudah merepotkan nya.
Mama dan Sandrina sedang bermain di sofa ruang tempat aku dirawat, sambil berbincang memakan es krim yang drina inginkan. Kak Satya sepertinya berada di dalam toilet. Sedari tadi setelah aku sadar, aku belum bertegur sapa dengan kak Satya.
"Ndra, sandrina biar ibu yang jagain, kmu fokus saja dengan kesembuhanmu. Lagi pula sekolah drina lebih dekat dengan rumah ibu. Jadi biarlah drina menginap dulu di rumah ibu sementara sampai kamu sembuh. Kasian juga satya kan lagi sibuk-sibuknya"
"Yeayyy nginep di rumah Oma Can, nanti drina bisa ikut mancing sama Opa Naz" gadis kecil berkuncir dua itu, tampak kegirangan. drina memang lebih dekat dengan keluargaku dibandingkan dengan keluarga kak Satya atau Raisya. Drina sakit saja kedua nenek dan kakeknya itu tidak ada yang menjenguknya. Walaupun tidak memiliki ikatan darah akan tetapi ibu dan ayah sangat menyayangi drina layaknya cucu sendiri.
"Pulang sekarang Bu, mau Satya antar?" kak Satya, baru keluar dari toilet.
"Gausah nak Satya, ibu sudah pesan taksi online sebentar lagi sampai. Oh ya nak Satya untuk sementara waktu drina biar nginep dulu dirumah ibu sampai Sandra sembuh"
Kak Satya tampak mengangguk, tanda mengizinkan.
"Yasudah kalu gitu ibu pamit ya, titip Sandra ya, kalau masih gamau makan paksa saja" sebelum pamit ibu memelukku dan mengecup kedua pipiku.
"Ibu kira, drina bakal punya adik" ibu berbisik di telingaku, namun bisikannya masih terdengar jelas. Aku yakin kak Satya juga mendengar karena posisinya berada disamping ibu.
"Ibuu, belum waktunya sepertinya" kataku pelan, aku yakin pipiku sudah memerah karena malu. Mau punya anak gimana , bahkan kak Satya belum pernah menyentuhku, jadi tidak mungkin aku hamil. Ya setelah lima bulan menikah kak Satya belum pernah menyentuhku.
"Yasudah semoga secepatnya" ucap ibu sambil melirik kak Satya.
"Do'akan saja Bu" kak Satya menimpali dengan santai, dengan cengiran khas di wajah nya.
*
"Masih mual ndra?" kak Satya sudah duduk di kursi samping bed ku. Tangannya sedang mengaduk bubur ayam yang di sediakan rumah sakit.
"Sedikit kak, sekarang agak mendingan" ucapku, sambil berusaha bersandar.
Satu suapan masuk kedalam mulutku, kak Satya yang menyuapi tanpa aku minta. Dia memaksa agar bubur itu masuk kedalam mulutku.
"Apasih yang lagi dipikirin Ndra, akun yang kemarin nyebarin berita sudah hilang, soal toko roti yang sepi jangan di pikirkan dulu, nanti kita cari solusinya", kak Satya berbicara tanpa menatapku. Alisnya mengerut, tatapannya hanya tertuju pada bubur yang masih banyak di mangkuk.
"Asam lambungku parah ya kak?". Ya aku memang mempunyai masalah dengan lambungku.
Kak Satya mengangguk samar, sepertinya di kesal padaku.
"Kak, aku minta maaf sudah merepotkan kak Satya, ganggu kak Satya sedang kerja". Tidak terasa air mataku meleleh begitu saja.