Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Rendra yang menyadari perubahan pada tubuh wanita di sampingnya langsung ikut berhenti. Dia mengikuti arah pandangan Nara, dan saat melihat siapa yang datang, alisnya terangkat santai. Tidak ada rasa takut atau cemas sedikitpun di wajahnya. Justru sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang penuh tantangan.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Rendra pelan, suaranya terdengar tenang dan dingin.
"Itu... itu ada teman-temanku, Ren. Dina, Riri, dan Dea." jawab Nara cepat, tangannya mencoba melepaskan genggaman tangan Rendra dengan panik. "Lepas tanganmu! Kalau mereka melihat kita jalan bareng dan pegangan tangan begini, pasti bakal heboh dan gosipnya bakal sampai ke telinga Mas Arga!"
Nara tampak sangat panik. Wajahnya berubah pucat, kakinya terasa lemas. Bayangkan saja kalau sampai teman-temannya melihat dia jalan berdua dan tampak begitu mesra dengan pria lain selain suaminya, bisa dipastikan dunianya akan runtuh seketika.
Alih-alih melepaskan, pria itu malah menggenggam tangan Nara semakin erat.
"Ren! Apa-apaan sih! Lepas!" desis Nara lagi, matanya melotot panik sambil menatap teman-temannya yang semakin dekat.
"Percayalah padaku," potong Rendra cepat, menatap Nara dalam. "Jangan lari. Berjalanlah dengan kepala tegak seolah tidak terjadi apa-apa. Biar aku yang atur semuanya."
Sebelum Nara sempat menolak atau protes lagi, suara teriakan riuh terdengar tepat di depan mereka.
"Nara?" panggil Dina dengan nada kaget.
Nara menelan salivanya susah payah. Dia memaksakan senyum terhangat yang bisa dia buat, meski jantungnya berdegup kencang. Cepat-cepat dia menarik tangannya dengan sedikit kasar dari genggaman Rendra.
"Hai... hai semuanya," sapanya terbata-bata.
Dina, Riri, dan Dea langsung mengerumuni mereka. Mata mereka berbinar-binar penasaran saat melihat siapa yang berdiri di samping Nara.
"Wah... gak nyangka bisa ketemu kamu disini" ujar Riri, matanya menyipit melihat ke arah pria yang berdiri disamping Nara. "Siapa nih, Ra?"
Nara melirik sekilas ke arah Rendra, lalu kembali menatap teman-temannya dengan senyum yang dipaksakan.
"Eh... ini Rendra, teman dekatnya Mas Arga," jawab Nara.
Rendra menyunggingkan senyum tipis, tidak ramah, tidak juga memusuhi, hanya... dingin. Aura cool dan jarak yang dia buat terasa begitu jelas.
"Halo," sapanya singkat, padat, dan datar. Tidak ada nada bersemangat sama sekali.
Mata Dina, Riri, dan Dea seketika berbinar-binar lebih terang dari sebelumnya. Mulut mereka sedikit terbuka, jelas sekali mereka terpesona oleh ketampanan dan aura misterius yang dipancarkan pria di hadapan mereka.
Dina tidak bisa menahan diri, dia langsung menyodorkan tangannya dengan antusias. "Halo Rendra, aku Dina. Senang bisa berkenalan denganmu."
Rendra menatap tangan yang terulur itu sekilas saja, lalu dengan sangat santai dia hanya menganggukkan kepala sedikit. Tidak ada jabat tangan, tidak ada senyum lebar.
"Hm," jawabnya singkat.
Dina yang tangannya masih terulur di udara terdiam sedikit canggung, lalu buru-buru menarik tangannya kembali dengan wajah memerah.
Riri yang tidak mau kalah langsung ikut mendekat, matanya berkilat penuh minat. "Rendra kenalin, Aku Riri. Aku masih jomblo loh,"
Rendra hanya memindahkan pandangannya sekilas ke arah Riri, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan wajah datar. "Oh."
Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. Dingin dan membekukan.
Dea yang berdiri di paling belakang juga ikut mendekat, menatap Rendra dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan kagum. "Aku Dea."
Riri menarik tangan Nara mendekat dan berbisik, "Nara, kenapa kamu tidak pernah cerita kalau suami kamu punya teman hot begini,"
Nara hanya bisa tersenyum tipis mendengar bisikan Riri. Bukan hanya teman suaminya, tapi dia bahkan sudah berbagi ranjang dengan pria itu dan sekarang mereka sedang menjalin hubungan gelap.
Merasa situasi mulai tidak aman dan melihat teman-temannya sepertinya masih ingin bertanya banyak hal, Nara segera mengambil langkah. Dia tidak mau membiarkan obrolan ini berlanjut lebih jauh, takut nanti mulutnya terpeleset atau Rendra melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Eh iya..." potong Nara cepat, berusaha menyela sebelum topik makin melebar. "Kalian mau masuk kan? Kami juga sudah mau pergi."
"Hah? Mau pergi?" tanya Dina kecewa. "Padahal kan baru ketemu, Ra. Belum juga ngobrol banyak sama Rendra."
"Iya soalnya kami masih ada keperluan lain," jawab Nara sambil melirik Rendra sekilas. "Rendra harus kembali ke kantor, dan aku juga harus ke kantor Mas Arga untuk mengajaknya makan siang bareng."
Mendengar nama 'Arga' disebut, Rendra yang sedari tadi berdiri dengan wajah datar, tiba-tiba menyeringai tipis. Ada kilatan aneh di matanya, campuran antara sinis dan geli. Namun dia tetap diam, membiarkan Nara bermain peran dengan sempurna.
"Wah... romantis banget sih sama suami," celetuk Riri sambil mencubit lengan Nara pelan. "Tapi sayang banget harus bubar sekarang. Padahal kan kita masih pengen ngobrol lama sama Rendra."
"Ya sudah kalau begitu," sahut Dina sedikit kecewa, meski matanya masih tak lepas dari wajah tampan Rendra. "Hati-hati di jalan ya, salam juga buat suami kamu,"
"Kalau begitu kami duluan ya," ucap Nara buru-buru.
Tanpa menunggu balasan lagi, Nara langsung berjalan cepat, hampir menyeret Rendra agar segera menjauh dari tempat itu. Jantungnya masih berdegup kencang akibat kebohongan yang baru saja dia ucapkan.
Begitu sampai disamping mobil Rendra, Nara menghela napas lega. "Huufftt... untung bisa kabur," gumamnya pelan.
Belum sempat Nara membuka pintu mobil, tangannya ditarik kuat oleh Rendra. Dalam sekejap, tubuhnya terhimpit di antara pintu mobil dan dada bidang pria itu. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja.
Rendra menatapnya lekat-lekat, alisnya terangkat tinggi dengan senyum miring yang penuh arti. Tatapannya tajam, seolah ingin menelan wanita di depannya hidup-hidup.
"Mengajak suami makan siang?" tanya Rendra pelan, suaranya terdengar berat dan terdengar sedikit mendengus. "Bukankah seharusnya kamu makan siang denganku?"
Nara mendongak, mendapati wajah tampan itu sangat dekat. Dia bisa melihat jelas rasa cemburu yang mulai membara disana.
"Kan itu cuma alasan biar mereka cepat pergi," bela Nara sambil mendorong pelan dada Rendra, tapi tangannya tak berdaya menahan kekuatan pria itu. "Jangan salah paham. Kamu juga tahu pasti, kalau aku tidak bilang begitu, mereka akan terus nanya-nanya terus sampai sore."
Rendra tidak melepaskan pelukannya. Justru dia mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Nara, menatap wanita itu dengan tatapan tajam yang membuat Nara gemetar.
"Alasan atau bukan..." bisik Rendra rendah, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku tidak suka kamu menyebut nama laki-laki lain dengan nada manis begitu di depanku."
Rendra mencubit pelan pinggang ramping itu, membuat Nara tersentak kecil. "Hari ini waktumu milikku sepenuhnya. Perutmu harus diisi olehku, bukan oleh suamimu. Dan mulutmu... juga hanya boleh memanggil namaku saja."
Nara tersipu, jantungnya berdegup kencang.
"Iya... aku tahu," jawabnya sambil memukul pelan bahu Rendra. "Jadi sekarang kita mau makan siang dimana?"
Rendra terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. Dia tidak segera menjawab, melainkan semakin mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
"Di apartemenku," bisik Rendra lambat, matanya menatap lurus ke bibir Nara lalu kembali ke manik mata wanita itu. "Karena aku ingin memakanmu."
Nara terbelalak kaget, matanya membesar sempurna mendengar kalimat yang terlontar begitu santai namun sangat berani dan menggoda itu. Namun sebelum dia sempat memprotes, Rendra sudah membuka pintu mobil dan dengan lembut namun mendesak dia mendorong tubuh Nara masuk ke dalam jok penumpang.
-
-
-
Suasana ruang rapat baru saja usai. Arga berjalan keluar dengan wajah yang tampak lelah namun tetap terlihat berwibawa. Dia melirik jam tangannya. Waktu makan siang sudah tiba.
Arga mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menekan nomor favoritnya. Hari ini dia menyuruh Rendra untuk menemani istrinya itu pergi memilih gaun untuk acara gala dinner nanti, dan seharusnya sekarang Nara sudah pulang kerumah.
Nada sambung berbunyi panjang, berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Tidak ada suara manis yang menyambutnya.
"Kemana dia? Apa mungkin dia masih bersama Rendra?" gumam Arga pelan, alisnya sedikit berkerut.
Tanpa menunggu lama, jari Arga bergerak menekan nama kontak lain di layar ponselnya. Namun harapan itu pupus seketika saat nada sambung di ujung telepon berbunyi sama persis.
Bunyi itu terdengar panjang, menusuk telinga, dan semakin membuat dada Arga terasa sesak. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara khas sahabatnya yang menyambutnya. Hanya keheningan yang menjawab panggilannya. Hingga akhirnya, suara operator terdengar monoton memberitahu bahwa nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.
Arga menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya yang tadi hanya terlihat lelah, kini berubah menjadi datar dan dingin. Aura wibawanya berubah menjadi aura intimidasi yang mencekam.
Kenapa baik Nara maupun Rendra tidak ada yang mengangkat telepon darinya?
-
-
-
Bersambung...