Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Lamaran dadakan
Sudah beberapa hari terakhir, Azima benar benar di sibukkan dengan pekerjaan . Acap kali pulang larut hingga membuat Abi Zayn dan Umi Tata khawatir.
Terkadang , jika pulang kemalaman, Azima akan menyimpan mobil nya di rumah sakit dan pulang bersama sopir Abi Zayn.
Seperti hari ini, meski pulang tepat waktu, raut Azima terlihat kelelahan. Ia pulang dari rumah sakit sudah kehabisan baterai . Sofa panjang di dekat taman menjadi pelampiasan tubuh lemah nya. Tidak sempat ke kamar dan berganti pakaian, Azima sudah terlelap beberapa detik setelah sofa empuk itu terasa memanjakannya.
Desiran angin sepoi sepoi menghantam lembut sesosok makhluk yang tertidur lelap. Seharian, jiwa dan raga nya bekerja begitu aktif demi mengejar amal dunia sebagai bekal di akhirat kelak. Seiring detik demi detik, angin itu memberikan kesejukan yang mampu merilekskan otak dan otot .
Sayang, hembusan bayu nan halus itu pula lah yang datang membawa maklumat pemecah ketenangan sukma.
Abi grandpa di dampingi umi grandma bertandang ke Magnolia , kabar gembira sedang ia bagikan untuk abi Zayn dan umi Tata. Kabar gembira yang tidak menggembirakan sama sekali untuk Azima.
Riuh rendah suara suara tak asing menyadarkan Azima dari mimpi indah .
Azima melangkah mendekat.
Mencium tangan satu persatu dari tetua yang punya hubungan erat dengan nya.
" Umi grandma minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat mu."
" Tidak sama sekali, umi grandma. Aku justru sangat bahagia Abi grandpa dan umi grandma datang berkunjung." Azima tersenyum cerah.
Mereka berbincang ringan, menceritakan banyak hal dan berbagi kisah. Bahkan, keduanya tinggal lebih lama dan makan malam bersama.
Pada awal nya semua berjalan normal, tawa dan canda memulas obrolan hingga sampai pada akhirnya Abi grandpa mengurai sebilah ucapan yang seketika merusak suasana riang yang penuh kebahagiaan.
' Lamaran'. Tak terpikirkan Azima jika kata keramat itu akan datang menyambanginya. Secepat dan sekilat petir menyambar.
Tak dapat berkata apalagi mengiyakan , terlebih mengeluarkan kalimat penolakan. Azima tetap duduk tenang, meremas ujung jilbab besar nya , sesekali tersenyum aneh hingga kedua tetua yang sangat ia sayang melangkah keluar meninggalkan kediaman Magnolia.
Umi Tata menatap putri cantik nya yang terdiam menunduk dalam dengan pikiran kosong. Ia mendekat.
Di raih tangan halus Azima, " Boleh kah kita bicara sebentar , sayang?"
" Ha.." Azima melongo. Semacam orang sedang linglung, sampai tidak bisa berpikir jernih dan menjawab pertanyaan sang umi.
Abi Zayn tak tega melihat Azima yang kehilangan fokus dan konsentrasi. " Naik ke kamar mu! Besok baru kita bicarakan lagi." Kata Zayn, tegas namun ada kekhawatiran dan kasih sayang di setiap kalimat yang dia ucapkan.
Umi Tata mengusap punggung Azima. " Ikuti kata Abi, sebaiknya kamu istirahat lah dulu."
*
*
Pagi hari.
Azima enggan meninggalkan kasur empuk yang tidak mampu bekerja maksimal memberinya ketenangan dan kenyamanan sepanjang malam. Ya, tak sedikitpun ia memejam mata .
Isi kepalanya berhamburan ke mana mana, memikirkan banyak hal tentang permintaan Abi grandpa dan umi grandma.
( Apa kamu masih ingat sahabat Abi grandpa yang kamu tolong tempo hari di rumah sakit? )
Itu adalah pertanyaan pembuka di mana Azima mengangguk pelan dan merasa jika ada sesuatu hal penting di balik pertanyaan itu.
Benar, sesuai prediksi.
( Beliau ingin mengkhitbah mu untuk cucu nya.)
" Cucu? Yang mana? Aku saja tidak pernah melihat nya. " Azima frustasi. " Tidak mungkin hanya sesepuh yang berkeinginan, pasti ada campur tangan si pria spesies langka itu. Setidaknya, kami pernah bertemu , berkenalan atau apalah, tapi jangankan bertemu, tau namanya saja tidak. Dasar aneh. " Azima terus menggerutu hingga capek sendiri.
Azima menghela nafas, ia masih memandangi langit langit kamar ketika umi Tata masuk dan memanggil nya sarapan.
Di meja makan, sarapan terlaksana seperti biasa. Meski tak ada sepatah kata pun yang terkadang mewarnai setiap suapan .
Sampai sarapan selesai, Abi Zayn pun memanggil Azima ke sebuah ruangan.
" Ada apa dengan wajah mu? " Tanya Abi Zayn.
Azima memegangi wajahnya. " Memangnya ada apa dengan wajah ku, Abi?" Azima justru bertanya balik karena merasa wajahnya baik baik saja.
Padahal, maksud Abi Zayn adalah raut Azima yang lesu dengan lingkaran hitam di bawah mata.
" Kamu sudah memikirkan nya?"
Azima mengangguk pelan.
Abi Zayn mengeluarkan sebuah foto dari dalam laci , kemudian meletakkan selembar gambar itu di atas meja.
" Namanya Ayyazh Arzhanta Moez, CEO Moez Company."
Azima mengambil foto itu. Ia menatap dengan seksama gambar seorang pria yang sangat tampan, berhidung mancung , fitur wajah tegas dengan struktur tulang pipi yang kuat, khas wajah timur tengah.
" Dia pernah melihat mu, sekali. Tapi jika kamu ingin bertemu untuk proses ta'aruf Abi akan bicarakan dengan Abi grandpa. "
Azima meletakkan kembali foto di atas meja. Ia kemudian menatap Abi Zayn.
" Apa aku punya kuasa untuk menolak, Abi?"
Abi Zayn diam. Karena pertanyaan itu, sebenarnya lebih cocok di sematkan untuk nya sendiri. Menolak? Sungguh hal yang mustahil.
Pertimbangan kemustahilan adalah, wacana perjodohan ini sudah sejak lama di gaungkan, bukan mendadak seperti pemikiran Azima. Hanya saja, Abi Zayn dan umi Tata tidak pernah punya kesempatan. Bukan, lebih ke mereka belum berani menyampaikan niat baik itu pada Azima. Yang kedua, Ibrahim Moez merupakan sahabat Abi grandpa , sudah lama mereka berteman, dan Abi grandpa maupun umi grandma menginginkan hubungan yang lebih dari persahabatan antara kedua keluarga taipan kaya raya itu. Yang ke tiga, dan ini yang sangat penting bagi Abi Zayn dan umi Tata. Ayyazh tinggal di Dubai. Jadi walaupun Azima harus pindah kewarganegaraan dan ikut suami, Abi Zayn dan umi Tata tidak perlu mengkhawatirkan Azima, itu karena kedua anak kembar nya tinggal di kota yang sama.
Helaan nafas Azima terdengar kasar. " Baiklah, aku rasa, Abi juga tidak bisa menolak. Kalau begitu, lanjutkan saja sesuai rencana Abi grandpa . "
Abi Zayn menatap sendu raut pasrah Azima.
" Kamu tidak ingin berbicara dengan Abi grandpa atau umi grandma terlebih dahulu? "
Azima menggeleng. " Keputusan ada di tangan abi. Jika Abi dan umi meridhoi , Azima pasti akan taat mengikuti apapun keinginan Abi dan umi. "
Zayn menghela nafas kasar. " Setidaknya, cobalah bertemu sekali saja dengan nya. " Pinta Abi Zayn.
Azima kembali menggeleng. " Semua orang tua pasti mencarikan jodoh terbaik untuk anak anaknya, dan aku masih memegang teguh kepercayaan itu. Aku tidak ingin bertemu bukan berlagak sombong , tapi aku takut akan berubah pikiran dan mempermalukan Brawijaya. Walaupun ini pernikahan bisnis antara Abi grandma dan tuan ibrahim, tetap saja ini pernikahan. Di mana sebuah ikatan lahir dan batin mempersatukan laki laki dan perempuan demi menyempurnakan separuh agama."
Abi Zayn terdiam. Suasana menjadi hening.
Azima tersenyum dan memegang tangan Abi Zayn. " Untuk sekarang, tidak usah pikirkan aku dulu, bi. Ada mas A, dua minggu lagi dia akan menikah."
Abi Zayn menatap wajah Azima, kemudian mengusap rambut putri nya lembut.
" Masalah nya, tuan Ibrahim meminta pernikahan mu bersamaan dengan A. "
" APA? kenapa cepat sekali, Abi?"
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣