Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Duel di Halaman Utama
Malam itu, halaman utama Sekte Cheonma dipenuhi ketegangan. Lentera-lentera berbaris di sisi jalan setapak, memancarkan cahaya temaram yang menari-nari di tanah basah. Angin malam membawa aroma pepohonan pegunungan, bercampur dengan debu dan sisa daun dari latihan hari itu. Goo Yoon berdiri di tengah halaman, memegang tongkat kayunya dengan erat.
Di hadapannya, Jin Hae-Rin, rival pertamanya, sudah menunggu. Tubuhnya tegap, aura kekuatannya memancar hingga membuat beberapa murid mundur beberapa langkah. Mata Jin berkilat, menandakan bahwa ia bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Malam ini, kedua pemuda ini akan menguji batas kemampuan masing-masing.
“Siap?” tanya Jin dengan nada dingin.
Goo Yoon mengangguk. “Aku tidak akan mundur.”
Pertarungan dimulai.
SWISH!
Jin menyerang dengan kecepatan yang hampir membuat mata manusia biasa tidak mampu mengikutinya. Pedangnya memotong udara dengan suara tajam, setiap ayunan seperti angin badai yang siap menghancurkan apapun di jalannya. Goo Yoon menunduk, berguling, lalu meloncat ke samping, menghindari serangan demi serangan. Ia mulai memanfaatkan Teknik Langkah Bayangan, gerakan yang selama sebulan terakhir telah ia latih tanpa henti. Tubuhnya seakan menjadi bayangan sendiri, bergerak cepat, hampir tak terlihat.
Namun Jin Hae-Rin bukan lawan sembarangan. Ia memperhitungkan gerakan Goo Yoon dengan cermat, menyesuaikan arah serangannya. Setiap kali Goo Yoon mengelak, Jin berputar, menyerang dari arah lain. Bunyi pedang dan tongkat bertemu terdengar keras, CLANG! CLANG! CLANG! Membuat beberapa murid yang menonton menahan napas.
Goo Yoon mulai merasakan ritme lawannya. Ia memperhatikan setiap gerakan kaki, setiap posisi pedang Jin. Semakin lama, semakin jelas titik lemah lawannya: gerakan Jin terlalu cepat untuk diprediksi, tapi terlalu kaku saat mengubah arah mendadak. Goo Yoon mulai merencanakan serangan balasan.
Ia melompat mundur, memutar tongkatnya di udara, lalu SWISH!, meluncur ke samping. Dengan manuver bayangan, ia bergerak di belakang Jin. Tanpa Jin sadari, tongkat Goo Yoon menyentuh bahunya. Jin tersentak, lalu cepat menangkis, namun gerakannya sedikit terganggu. Ini adalah kesempatan pertama Goo Yoon untuk menunjukkan keunggulannya.
WHACK! WHACK!
Tongkatnya menghantam pergelangan dan lengan Jin berturut-turut. Jin menggeram, menarik pedangnya, dan melompat mundur beberapa langkah. Kedua pemuda itu menatap satu sama lain, napas terengah-engah. Peluh menetes di dahi mereka. Bagi murid lain yang menonton, duel ini lebih dari sekadar pertarungan fisik; ini adalah pertarungan tekad dan strategi.
Goo Yoon menatap lawannya, menenangkan diri. Ia tahu, jika hanya mengandalkan kecepatan, Jin bisa menyesuaikan serangan berikutnya. Ia harus berpikir beberapa langkah ke depan. Dengan cepat, ia melompat ke atas batu besar di tengah halaman, memantul ke udara, lalu menyerang dari atas. Pedang Jin diayunkan untuk menangkis, tapi kini Goo Yoon memanfaatkan momentum untuk memutar tongkatnya, mengenai bahu lawan dengan benturan keras.
Jin Hae-Rin mundur, menahan rasa sakit, namun senyum kecil muncul di wajahnya. “Bagus… kamu tidak hanya cepat, tapi juga cerdas.”
Goo Yoon tersenyum tipis, mengatur napas. “Aku belum selesai.”
Pertarungan berlanjut. Serangan dan balasan terjadi dengan kecepatan luar biasa. Pohon di sekitar halaman bergoyang, debu beterbangan, dan bayangan mereka saling menari di dinding aula sekte. Goo Yoon mulai memanfaatkan setiap celah kecil, setiap gerakan lawan untuk menemukan ritme pertahanan dan menyerang balik. Teknik Langkah Bayangan membuatnya bergerak hampir seperti bayangan, sulit diprediksi.
Jin mencoba menyerang dengan seluruh kekuatannya, mengandalkan kombinasi kecepatan dan tenaga. Namun Goo Yoon berhasil menahan serangan demi serangan. Hingga akhirnya, dalam satu gerakan cepat—melompat, berputar, dan memutar tongkatnya dengan presisi—WHAM! bahu Jin tersentuh sekali lagi, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Jin terjatuh ke tanah, napasnya terengah. Beberapa murid berdecak kagum. Goo Yoon berdiri di hadapannya, tubuhnya lelah, tetapi matanya bersinar dengan tekad.
Jin tersenyum, meski napasnya berat. “Kamu… benar-benar berbeda dari yang kukira.”
Goo Yoon menunduk sedikit. “Aku akan terus belajar. Aku ingin menjadi lebih kuat.”
Jin bangkit, menatapnya serius. “Kalau begitu… pertarungan kita belum selesai. Tapi malam ini, kamu sudah menunjukkan kemampuan luar biasa. Aku akan mengawasi perkembanganmu.”
Goo Yoon menatap balik. Rival pertamanya telah mengakuinya, tetapi juga menegaskan bahwa perjalanan untuk menjadi yang terkuat baru saja dimulai.
Angin malam berhembus di halaman utama, menandai akhir duel. Namun bagi Goo Yoon, ini bukanlah akhir—ini hanyalah awal dari perjalanan untuk mengalahkan semua yang menghadang dan menembus batas kemampuannya.
Di kejauhan, bayangan pria berjubah hitam mengamati dari balik pepohonan. Senyumnya samar. “Bagus… anak ini menjanjikan. Perjalanannya baru saja dimulai.”
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/