NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Perjalanan menuju kantor terasa lebih singkat dari biasanya. Di kursi penumpang, buket Lily putih itu menebarkan aroma lembut yang seolah menjadi perisai dari rasa mual yang biasanya menyerangku setiap kali mendekati gedung perusahaan.

Aku melangkah masuk ke lobi dengan dagu terangkat. Kali ini, aku tidak membuang bunga itu ke tempat sampah. Aku membawanya dengan tenang, membiarkan semua mata—termasuk para staf yang berbisik—melihat bahwa "Si Ratu Es" sedang membawa musim semi di tangannya.

Saat pintu lift terbuka di lantai 15, orang pertama yang kulihat adalah Arlan. Dia berdiri di dekat meja sekretarisku, seolah sengaja menunggu kedatanganku. Matanya langsung tertuju pada buket bunga di pelukanku.

"Selamat pagi, Bu Rania," sapanya dengan suara yang terdengar parau. Tatapannya beralih dari bunga itu ke mataku, mencari jawaban. "Bunga itu... dari Rendra lagi?"

Aku berhenti tepat di hadapannya. Bukannya menghindar, aku justru memajukan buket itu sedikit, membiarkan aromanya menyentuh penciuman Arlan. "Bukan urusanmu, Arlan. Tapi jika kamu sangat ingin tahu, ini dari seseorang yang mengerti arti menghargai wanita."

Wajah Arlan mengeras. Rahangnya mengatup rapat. "Ran, aku cuma mau bilang kalau Harva itu... dia bukan orang yang sama seperti saat kuliah dulu. Dia licik. Bisnisnya di Singapura banyak desas-desus—"

"Lucu sekali," potongku sambil tersenyum sinis. "Seorang pengkhianat mencoba memperingatkanku tentang kelicikan orang lain? Kamu tidak punya hak untuk menilai siapa pun di hidupku sekarang."

Aku melangkah melewatinya, masuk ke ruanganku dan meletakkan bunga itu di vas kaca yang ada di atas meja kerja. Dari balik dinding kaca, aku bisa melihat Arlan masih mematung di tempatnya, menatap ke dalam ruanganku dengan kepalan tangan yang bergetar.

Tak lama, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat muncul.

[Harva Widjaya]:

Senang melihat bunga itu sampai dengan selamat di mejamu. Sampai bertemu di jam makan siang, Rania. Aku tidak menerima penolakan kali ini.

Aku terdiam menatap layar. Harva benar-benar tahu cara bermain. Dia tidak hanya menyerang secara profesional di ruang rapat, tapi dia juga mulai menginvasi ruang pribadiku dengan cara yang sangat berkelas.

Tiba-tiba, pintu ruanganku diketuk. Bukan Arlan, melainkan Pak Bram yang masuk dengan wajah penuh semangat.

"Rania! Harva baru saja menelepon. Dia ingin kita melakukan tinjauan lapangan ke lokasi proyek di Tangerang siang ini. Dia minta kamu yang mendampingi langsung," Pak Bram berhenti sejenak, lalu melirik Arlan di luar. "Dan dia juga minta Arlan ikut, katanya untuk memastikan data teknis di lapangan sinkron."

Aku mengerutkan kening. Harva meminta Arlan ikut? Ini tidak masuk akal jika dia ingin mengajakku makan siang.

Kecuali... Harva memang sengaja ingin menunjukkan pada Arlan siapa yang sekarang memegang kendali.

"Baik, Pak. Saya siapkan berkasnya," jawabku.

Saat aku keluar untuk mengambil berkas, aku berpapasan lagi dengan Arlan. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cemburu, takut, dan peringatan.

"Kamu akan ikut ke Tangerang, Arlan. Siapkan dirimu," ucapku dingin.

"Aku akan ikut, Ran. Bukan karena perintah Harva, tapi karena aku nggak akan membiarkan dia membawamu pergi begitu saja," bisiknya tajam saat aku melewatinya.

Aku hanya mendengus. Mereka berdua mungkin mengira aku adalah piala yang sedang diperebutkan, padahal mereka tidak tahu bahwa hati yang sudah membeku tidak akan mudah mencair hanya dengan persaingan dua pria dari masa lalu.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!