“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan dimulai
“Apa laki-laki itu sudah nggak waras?”
Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Maisya begitu Sekar selesai menceritakan semuanya.
Sekar menarik napas panjang. “Aku juga sempat berpikir begitu, Mbak. Tapi semalaman aku memikirkannya lagi. Sepertinya itu bukan cuma omong kosong. Ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi di antara Mas Langit dan Mas Raka.”
Maisya menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.
“Sekar, jangan bilang kamu mempertimbangkan ide gila itu. Kamu sudah terjebak dalam pernikahan dengan laki-laki menjijikkan seperti Raka, dan sekarang kamu mau menyeret dirimu sendiri ke masalah lain dengan Langit?”
“Mbak, aku yakin Mas Langit punya tujuan dibalik semua itu.”
“Justru itu!” potong Maisya cepat. “Nggak ada laki-laki baik-baik yang tiba-tiba ingin menikahi kakak iparnya sendiri. Itu bukan tujuan baik namanya, itu gila!”
Sekar terdiam sejenak. Ia menunduk, lalu kembali menatap Maisya dengan sorot mata yang berbeda—lebih keras, lebih dingin.
“Mbak, aku nggak bisa diam saja saat harga diriku diinjak-injak seperti ini.”
Suaranya lirih, tapi penuh tekanan.
“Mas Raka mengkhianatiku habis-habisan. Dia merendahkan aku, bahkan membandingkan aku dengan perempuan lain. Lalu sekarang Mbak mau aku gimana? Menangis lalu pergi begitu saja?”
Maisya menghela napas panjang. “Bukan begitu maksudku, Sekar. Tapi pikiranmu sedang kacau. Mbak cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang akan kamu sesali nantinya.”
Sekar menggeleng pelan.
“Semuanya sudah salah sejak awal, Mbak. Pernikahanku, kepercayaanku pada Mas Raka, semuanya.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Dan sekarang aku nggak mau terus jadi orang yang bodoh dan menerima semuanya begitu saja.”
Maisya menatapnya lebih lama. Sekar membuang napas pelan.
“Mas Langit tahu semua tentang Mas Raka. Dia satu-satunya orang di keluarga itu yang nggak menutup mata soal Mas Raka. Kalau aku melawan sendirian, aku pasti akan kalah, Mbak. Aku butuh sekutu.”
Sekar berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih tegas.
“Aku nggak peduli apa sebenarnya tujuan Mas Langit menikahiku. Tapi kalau dia ingin menjatuhkan Mas Raka, maka untuk saat ini tujuan kami sama.”
“Sekar—” Maisya mencoba menyela.
Namun Sekar sudah menggeleng.
“Aku nggak bilang ini keputusan yang benar, Mbak. Mungkin ini bahkan keputusan paling gila yang pernah aku buat.” Ia tersenyum tipis.
“Tapi aku sudah terlalu sering menjadi orang bodoh. Lagipula aku butuh seseorang untuk melindungi anak ini, Mbak.”
Sekar menatap Maisya lurus sementara sepupunya itu mengerutkan alisnya kembali.
“Mas Raka sangat menginginkan anak sejak awal. Kalau kami bercerai saat aku hamil seperti ini, dia pasti akan menuntut hak asuh. Dengan kekuasaan dan uang yang dia punya, dia bisa saja merebut anak ini dariku. Sementara aku? Aku nggak punya apa-apa untuk melawannya. Tapi kalau aku nikah sama Mas Langit, anakku terlindungi, Mbak.”
“Tapi kalau orang lain tahu nanti mereka bisa saja bilang kamu meninggalkan suami untuk adik iparnya sendiri, Sekar." Maisya kembali mendebat.
Sekar menggeleng. “Nggak Mbak, itu nggak akan terjadi. Justru aku yang akan mengungkap semuanya. Sekarang giliran Mas Raka yang merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya. Selama ini dia merasa di atas angin, menganggap aku perempuan bodoh yang bisa ia pedaya.”
Maisya terdiam namun pikirannya masih berkecamuk.
Dan dengan suara yang jauh lebih mantap, Sekar akhirnya berkata, “Aku sudah memutuskan, Mbak. Aku akan menerima tawaran Mas Langit.”
Ucapan itu membuat Maisya mendongak. Ia sangat tidak setuju dengan keputusan Sekar. Tapi bagaimanapun ia juga tidak bisa mencampuri urusan sepupunya itu lebih jauh.
“Kamu yakin?” Ia hanya bertanya ragu.
Sekar mengangguk. “Kita lihat siapa yang menang dalam perang ini, Mbak,” ucapnya mantap.
***
Sementara itu, di tempat lain, Langit membawa Zayn makan setelah keduanya puas bermain di Timezone.
“Gimana? Senang?” tanya Langit sambil mengusap sebutir nasi yang menempel di sudut bibir bocah itu.
Zayn mengangguk antusias. “Zayn senang banget bisa jalan-jalan sama Papa. Makasih, Pa ...”
Senyum tipis terukir di bibir Langit. “Sama-sama.”
“Zayn jadi bisa cerita ke teman-teman kalau Zayn juga bisa jalan-jalan sama Papa. Meskipun Papa sekarang sering sibuk, jadi jarang ke rumah buat ketemu Zayn.”
Hati Langit mencelos mendengarnya. Ia mengusap rambut anak itu dengan lembut.
“Maaf, ya. Akhir-akhir ini Papa memang banyak kesibukan. Tapi Papa janji, kalau Papa nggak sibuk, Papa pasti ketemu Zayn.”
Zayn hanya mengangguk polos.
“Nggak apa-apa, kok, Pa. Kata Bunda, Papa itu sibuk kerja. Zayn nggak boleh sering ganggu Papa, karena Zayn anak yang baik. Zayn mau jadi anak yang baik, Pa. Zayn nggak mau merepotkan Papa.”
Langit terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat polos itu keluar dari mulut anak sekecil ini. Ia menatap wajah Zayn lama—wajah yang selalu mengingatkannya pada seseorang.
Langit mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis.
“Habiskan makanannya. Habis itu kita beli mainan buat kamu. Tapi setelah itu kita pulang, ya. Ingat kata dokter, kan? Kamu nggak boleh terlalu capek.”
“Siap, Papa ...”
Zayn kembali makan dengan semangat, sementara Langit hanya memandanginya dalam diam.
***
Malam mulai menjelang. Anita berjalan membawa dua kaleng minuman menuju tempat tidur tempat Raka tengah sibuk dengan laptopnya. Di sebelah kanan, hamparan perkebunan di pinggiran kota Bandung terlihat jelas dari balik dinding kaca yang tinggi. Pemandangan itu seharusnya menenangkan, tetapi tidak dengan isi kepala Raka yang masih berkutat dengan angka-angka proyek.
Dengan gaun satin tipis di atas lutut, Anita menyerahkan salah satu kaleng minuman itu kepada Raka.
“Terima kasih, Sayang ...,” bisik Raka sambil mengecup pipi Anita yang kemudian duduk di sampingnya.
Anita tersenyum lebar. Ia membuka kaleng minumannya lalu meneguk sedikit.
“Mas, besok agenda kita survei lahan untuk proyek baru PT Gema Cipta Prima. Nanti Mas bisa lihat langsung lokasinya. Aku yakin setelah Mas lihat sendiri, Mas pasti setuju proyek itu bagus.”
Raka mengangguk pelan.
“Aku melakukan ini demi kamu, Anita. Jadi aku harap kamu benar-benar berhati-hati dan nggak salah perhitungan. Aku mempertaruhkan kepercayaan Langit untuk proyek ini.”
Anita mengangguk penuh percaya diri. “Kamu tenang aja, Mas. Aku udah bilang sama kamu, kan? Proyek ini sebelumnya mangkrak karena kepala proyek yang nggak becus dan membuat rugi perusahaan. Tapi aku yakin, setelah dipegang sama kamu, semuanya pasti berubah lebih baik."
Raka kembali tersenyum, ia meneguk minumannya lalu meletakkannya di atas meja. Anita terdiam sejenak, lalu tiba-tiba saja teringat sesuatu.
“Mas ... kamu yakin Langit nggak akan membocorkan apa pun pada istrimu? Dia tahu semua tentang kita. Gimana kalau tiba-tiba dia cerita pada Sekar?” Anita berhenti sejenak sebelum menambahkan, “atau kamu nggak curiga sama Bagas?”
Raka terkekeh pelan. Ia menutup laptopnya, lalu meraih pinggang Anita dan menarik perempuan itu duduk di pangkuannya.
“Kalau Bagas atau Langit mau melakukan itu, seharusnya sudah dari dulu mereka melakukannya, kan?” ucapnya santai. “Jadi kamu tenang saja. Mereka nggak akan berani.”
Kalimat itu terdengar terlalu yakin hingga membuat Anita mengerutkan kening.
“Kenapa kamu bisa seyakin itu, Mas?”
Alih-alih menjawab, Raka justru menunduk dan mengendus pelan leher Anita.
“Mas, ih ... jawab dulu, dong.” Anita mendorong pelan bahu Raka agar menjauh.
Raka menghela napas panjang, lalu merapikan rambut perempuan itu.
“Langit nggak mungkin jujur pada Sekar, Sayang,” ucapnya akhirnya. “Kalau Sekar tahu semuanya, dia pasti minta cerai. Dan itu akan menghancurkan Mama.”
Anita menatapnya bingung.
“Kamu tahu sendiri kondisi Mama sekarang. Jantungnya bermasalah, asmanya juga sering kambuh. Dokter sudah bilang dia nggak boleh mengalami shock atau stres berat setelah operasi beberapa bulan lalu.”
Raka menyeringai tipis.
“Lagipula Mama sangat menyayangi Sekar. Sejak awal Mama selalu bilang Sekar itu menantu yang paling ia banggakan, menantu idaman. Kalau Mama tahu rumah tangga kami hancur karena perselingkuhan, itu bisa jadi pukulan besar buat beliau.”
Ia mengangkat bahu santai.
“Dan Langit ... dia terlalu menyayangi Mama untuk mengambil risiko itu. Langit itu paling nggak bisa melihat Mama sakit. Dia nggak akan melakukan sesuatu yang bisa membuat Mama masuk rumah sakit lagi.
Anita terdiam sejenak, tapi kemudian kembali bertanya.
“Kalau Bagas?”
Senyum Raka berubah licik ketika mendengar nama itu.
“Bagas sudah terlalu jauh terlibat,” ujarnya pelan. “Sekali dia buka mulut, dia bukan cuma menghancurkan aku. Dia juga menghancurkan dirinya sendiri.”
Raka menepuk pelan paha Anita.
“Dan kamu tahu apa artinya itu?”
Anita menggeleng.
“Penjara.”
Raka tertawa kecil, santai seolah semua yang ia katakan hanyalah permainan sederhana.
“Jadi rileks aja, Sayang. Semua masih ada dalam kendaliku..”
Ia kembali meraih kaleng minumannya, meneguk sedikit sebelum menambahkan dengan nada penuh keyakinan,
“Selama mereka masih ingin hidup tenang, mereka nggak akan membuka mulut. Jadi berhentilah memikirkan sesuatu yang nggak penting. Sekarang fokus sama kita berdua aja,” bisiknya mengangkat tubuh Anita membuat perempuan itu memekik kecil.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Sekar sekali lagi menghembuskan napas panjang. Sudah hampir dua jam, tapi pesannya untuk Raka belum mendapatkan balasan. Ia bukannya tidak tahu apa yang suaminya lakukan di Bandung. Tapi ia hanya sekedar menguji pria itu.
“Kamu pasti masih bersenang-senang dengan gundik itu, kan, Mas? Silakan, nikmati sepuasmu selagi kamu masih bisa. Besok saat kamu kembali, permainan akan kita mulai,” desisnya lirih.
Wanita itu meraih ponselnya lagi, kemudian mengirimkan sebuah pesan.
[Bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku katakan.]
Itu yang Sekar tuliskan lalu ia menekan tombol kirim.
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂