Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Lantai semen kamar kost itu dingin menyengat, mengingatkan pada pagi buta ketika hujan baru saja berhenti. Jejak-jejak air masih membentuk peta abstrak di atasnya; dari jendela, bayang-bayang lampu neon jalan menyusup masuk, memecah kegelapan menjadi pola-pola tipis. Bau teh tawar yang menguar dari mug besar di tangan Tento menemani bunyi denting sendok melawan keramik. Ia menghembuskan napas melalui uap hangat yang tipis; untuk sesaat, ia memandangi bayangan kacamatanya sendiri di permukaan teh, lalu tertawa kecil.
"Aneh ya, hidup ini. Mau hidup tenang, malah selalu nemu ribut," gumamnya, hampir tanpa suara. Kata-kata itu seperti mantra kecil yang selalu ia ucapkan ketika realitas mulai melawan logika.
Tento pernah menjadi aktivis vokal yang berdiri di tengah mahasiswa, memimpin unjuk rasa sampai suaranya habis, kini duduk sendirian di kamar kost seluas 3x4 meter, dindingnya dihiasi poster-poster komik lama dan setumpuk buku teori konspirasi. Jaket hoodie hijau tua yang ia kenakan sudah agak lusuh, bagian pergelangan tangannya sedikit pudar. Ia mengetuk-ngetukkan jari kurusnya ke lengan sofa, sementara di depannya laptop secondhand terus memancarkan cahaya kebiruan yang suram. Rambutnya bergelombang seleher, tebal seperti berandalan, tapi sisi-sisinya rapi karena ia sendiri yang memotong dengan gunting dapur.
Tetapi hari itu, suara kecil di telinganya datang dari sesuatu yang lain: sebuah notifikasi berdering dari ponselnya. Nomor tidak dikenal, pesan yang singkat, hanya koordinat yang aneh di pinggiran kota, dan satu kalimat: “Kami tahu kau suka soto ayam, tapi kali ini, yang lenyap bukan semangkuk soto.”
Bulu kuduk Tento meremang. Kalimat itu terdengar seperti candaan dari penjual soto ayam langganannya, tapi koordinatnya menunjukkan sebuah kawasan industri tua. Sejenak, ia teringat aroma kuah kuning gurih, serbuk kunyit, dan perasan jeruk nipis yang biasa menemaninya berpikir panjang, namun kali ini sensasi lapar berubah menjadi ketegangan.
Pintu kamar diketuk tiga kali, cepat dan tak sabar. Suara orang di luar merapatkan diri dengan pintu kayu lapuk, lalu teriakan pelan yang dikenalnya muncul. "Bro, kamu lagi bikin konspirasi sama teko teh itu? Aku bawa kopi, nih!"
Perikus masuk tanpa menunggu jawaban, membawa sebungkus kopi sachet dan kantong plastik berisi gorengan yang sudah agak berminyak. Tubuh gemuknya memenuhi pintu, aroma rokok kretek menempel pada kaus kaki lusuhnya. Mata merahnya sedikit melotot, seolah ia baru saja melepas pandangan dari layar film horor semalam suntuk.
"Eh, aku tadi ngebut di Jalan Ijen, tiba-tiba ada yang ngirim koordinat ke handphone-ku," kata Tento, memperlihatkan layar ponselnya setelah menepuk punggung Perikus dengan hangat.
Perikus merengut, menyalakan rokok dan menatap layar. "Wah, ini pasti ada hal mistis. Aku pernah dengar cerita kalau kawasan industri tua itu dulu tempat pabrik sarden berhantu. Orang bilang setiap malam ada suara mesin bekerja padahal udah tutup. Atau mungkin yang ngirim, hantu soto ayam." Matanya membesar, lalu tertawa sendiri, batuk-batuk sebentar karena asap rokoknya sendiri.
Tento tidak bisa menahan senyum. Perikus selalu membawa cerita absurditas religius bercampur mistis ke dalam segala hal. "Kamu gimana bisa yakin itu hantu soto ayam?"
"Gimana nggak? Coba pikir," Perikus mulai dengan suara serius, mengacak-ngacak rambutnya yang acak-acakan. "Soto itu punya roh. Kamu tau nggak kenapa kalau kita makan soto lebih enak pakai tangan kanan? Karena tangan kiri biasanya buat hal-hal enggak-enggak, roh soto bisa marah!"
Mereka berdua terbahak. Di tengah tawa, ketegangan yang muncul karena pesan misterius itu seakan mencair sementara. Mereka memutuskan untuk menyelidiki koordinat tersebut sebelum matahari keburu tenggelam; di luar, suara motor dan klakson kota Malang mulai mereda seiring senja merayap turun.
Di jalan, angin malam membawa aroma campur aduk: bau karet dari bengkel pinggir jalan, aroma sate kambing dari warung tenda, dan bau tanah basah setelah hujan sore. Perikus menyalakan motornya yang berisik, mesin 2-tak yang seakan menjerit saat gas diputar.
"Tahan helm-mu!" teriak Perikus melawan angin, ketika mereka memulai perjalanan. Tento memegangi punggung Perikus, merasakan goyangan tubuhnya yang gemuk setiap kali motor menabrak lubang kecil. Melaju di jalanan malam kota, lampu-lampu jalan menjadi garis-garis kuning yang terputus, dan kehidupan kota berubah menjadi bayang-bayang.
Perjalanan menuju koordinat itu ternyata melewati jalanan sepi, tertutup oleh barisan gudang kosong dan rumput tinggi. Ada bau aneh yang menusuk, seperti logam karat bercampur sesuatu yang membusuk. Lampu motor Perikus hanya mampu menerangi beberapa meter di depan mereka, sehingga bayangan-bayangan seperti bentuk manusia sesekali terpantul di mata mereka.
"Aduh, tempatnya creepy banget, bro," bisik Perikus, menahan rokok di sudut bibirnya. "Kamu masih yakin kita mau ngikutin koordinat ini? Aku tadi liat ayam melintas di depan, jangan-jangan ini beneran roh soto."
Tento menelan ludah. Antara takut dan penasaran, ia merasakan adrenalin bercampur lucu. "Kalau pun ayam, mungkin dia supir ojek online yang nyasar," kata Tento, mencoba menertawakan situasi.
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua berlantai dua. Dindingnya ditumbuhi lumut, kaca jendelanya sebagian pecah. Pintu besi terbuka sedikit, berderit saat tersentuh angin. Di dalam, kegelapan menunggu seperti mulut gua. Bunyi tetes air menetes dari atap berlubang, menggema seperti metronom yang memandu langkah mereka.
Perikus mengeluarkan senter kecil dari sakunya dan menyalakan, cahaya putih menembus kegelapan. Mereka berjalan perlahan, langkah mereka menimbulkan suara gemerisik di lantai yang ditutupi debu. Di sudut ruangan, ada tumpukan kotak kayu besar, beberapa tertutup plastik. Bau menyengat semakin tajam.
Tiba-tiba, terdengar gemerisik dari balik kotak. Perikus menahan napas, matanya menatap ke sumber suara. "Bro... aku rasa itu bukan ayam," bisik Perikus sambil merapat ke Tento.
Tento merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia mendekatkan diri dan memiringkan kepala, mencoba mendengarkan lebih jelas. Bayangan di balik kotak bergerak-gerak, seperti seseorang yang membongkar sesuatu. Berdua, mereka mendekat dengan langkah perlahan.
Dan di saat mereka mengintip dari balik kotak, jantung mereka hampir melompat keluar. Sosok yang mereka lihat bukan hantu atau hewan, tapi seorang pria bertubuh kurus dengan rambut cepak, mengenakan seragam keamanan yang kotor. Mata pria itu kosong seperti orang yang kehilangan jiwa. Ia memegang sesuatu di tangannya... sebuah ponsel tua yang bersinar karena layar menyala. Di layar itu, ada pesan yang sama seperti yang dikirimkan ke Tento: koordinat yang sama, kalimat tentang soto ayam yang hilang, tetapi dengan tambahan kata: "Tolong."
Sebelum mereka sempat bertanya, tiba-tiba dari belakang ada suara langkah kaki cepat. Sekelompok orang berpakaian gelap muncul, membawa lampu sorot dan alat yang terlihat seperti peralatan laboratorium. Wajah mereka tertutup masker.
"Eh, siapa kalian?! Di sini bukan tempat main!" teriak salah satu dari mereka. Nada suaranya tajam, membuat bulu kuduk kembali berdiri.
Perikus spontan berkata, "Kita cuma lagi cari soto ayam." Salah satu orang itu tertawa kecil, kemudian mengarahkan senter ke wajah mereka. Di balik sorot itu, mata yang tajam memandangi mereka seperti memindai.
"Pergi dari sini kalau nyawa kalian masih dibutuhkan," kata orang itu, suaranya berat. "Ini wilayah penelitian. Kalau kalian banyak tanya, kita kirim kalian ikut penelitian sekalian."
Tento menelan keras. Ada sesuatu yang salah di sini, bukan hanya karena ancaman, tetapi karena latar belakang yang ia lihat: tumpukan tabung, catatan-catatan, dan di pojok ruangan, sebuah papan tulis dengan diagram rumit tentang sebuah obat. Ia melihat kata “eksperimen” tertulis di sana, dan nama-nama perusahaan besar yang ia kenal dari berita konspirasi. Jantungnya berdegup keras. Ia merasakan seolah semua yang pernah ia curigai selama ini sedikit demi sedikit terbuka di depan matanya.
Di saat yang sama, Perikus, yang biasanya mengeluarkan ide konyol, justru diam. Matanya memperhatikan sesuatu yang berbeda, seluruh ruangan tampak dibalut aura gelap yang tak terlihat. "Bro," bisiknya sambil menarik jaket Tento. "Aku ngerasain hal aneh. Ini lebih mistis dari soto ayam."
Namun sebelum mereka sempat mencari pintu keluar, lampu sorot semua orang diarahkan ke atas. Ada suara seperti pesawat drone di langit-langit, kecil tapi tajam. Dari lubang atap, empat drone putih turun perlahan, masing-masing membawa kamera dan lampu. Mereka mengitari ruangan, menyorot wajah-wajah di dalam. Semua orang terdiam.
Tiba-tiba, dari salah satu sudut dinding terdengar suara alarm kecil. Lalu, layar ponsel yang digenggam pria kurus tadi bergetar, memunculkan pesan baru: "Jika kau membaca ini, berarti kita ditemukan. Pesan ini menyebar ke setiap aktivis yang pernah kau kenal. Kalian harus mengungkap ini sebelum terlambat." Pesan itu dilanjutkan dengan ikon ayam yang menyeringai. Satu detik kemudian, ponsel itu meledak kecil, mengejutkan semua orang.
Perikus menjerit kecil, lalu menatap Tento. "Aku bilang juga apa? Ini pasti roh soto ayam."
"Tidak ada roh di sini, Perikus," jawab Tento sambil menggenggam pergelangan tangan sahabatnya kuat-kuat, matanya mengincar pintu keluar. "Ini lebih dari semua teori gila kita. Bahasanya begitu."
Mereka berdua berlari keluar sebelum ada yang bisa menangkap. Angin malam kembali memukul wajah mereka, membawa bau asap rokok dan adrenalin. Di luar, suara sirene terdengar di kejauhan, entah itu polisi atau sesuatu yang lain. Langit Malang malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, seolah bintang-bintang menyembunyikan diri.
Tento, dengan napas terengah, memandang kembali ke gedung tua yang kini jauh di belakang. Dalam hatinya, bergejolak rasa takut dan semangat. Setiap kali ia mencoba memecahkan sesuatu, selalu muncul sebuah kasus baru yang lebih gila. Dan kali ini, ia tidak hanya terjebak dalam drama soto ayam, tetapi dalam sesuatu yang mungkin bisa mengguncang banyak orang. Ia menatap Perikus yang tertawa kecil di sampingnya, lalu menepuk bahu sahabatnya.
"Ayo, bro. Kayaknya kita bakal butuh banyak teh tawar... dan soto ayam. Cerita ini baru dimulai," katanya. Perikus mengangguk, rokok masih menyala di antara jemarinya. Mereka berdua menatap ke jalan panjang di depan, dengan lampu kota yang berpendar. Petualangan baru menunggu, dan bahasa mereka, meski kacau balau, akan menjadi suara yang menuntun mereka menerobos konspirasi dan kegilaan.
Di kejauhan, bau soto ayam dari warung tenda melayang terbawa angin. Perut mereka keroncongan, kepala mereka penuh pertanyaan. Mereka tertawa, lalu melangkah, siap untuk menghadapi apa pun yang datang, meski kemungkinan besar rencananya akan gagal 99%. That's the fun of it.