sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAUN HITAM DAN PERJAMUAN LUKA
Malam itu, apartemen Kira yang biasanya terasa hangat dan penuh warna, mendadak berubah menjadi panggung drama bagi dirinya sendiri. Ia menatap tumpukan baju yang berserakan di atas tempat tidur. Gaun bunga-bunga yang biasanya ia banggakan tampak terlalu kekanak-kanakan. Celana jeans dan sweater kebesarannya? Terlalu santai.
"Kenapa aku harus sepeduli ini?" gumamnya pada bayangan di cermin.
Kira tahu jawabannya, namun ia terlalu pengecut untuk mengakuinya keras-keras. Ia sedang bersiap untuk sebuah peperangan yang sudah pasti akan ia menangkan secara teknis—sebagai sahabat—tapi kalah secara telak sebagai seorang wanita.
Akhirnya, pilihannya jatuh pada sebuah little black dress yang ia beli setahun lalu tapi belum pernah ia pakai. Gaun itu simpel, elegan, dan entah mengapa, terasa seperti pelindung yang ia butuhkan.
Ia memoles lipstik merah yang sedikit lebih berani dari biasanya. Ia ingin terlihat kuat. Ia ingin Arlan melihat bahwa dirinya bukan lagi gadis kecil yang butuh dipayungi saat hujan, melainkan seorang wanita dewasa yang baik-baik saja jika pria itu memilih orang lain.
Restoran yang dipilih Arlan berada di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Suasananya mewah, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik piano yang lambat. Begitu Kira melangkah masuk, ia langsung menangkap sosok Arlan di meja sudut dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.
Arlan tidak sendiri. Di sampingnya duduk seorang wanita dengan rambut hitam legam yang jatuh sempurna di bahu. Wanita itu mengenakan setelan blazer berwarna putih gading yang tampak sangat mahal. Bahkan dari kejauhan, Kira bisa merasakan aura keanggunan yang terpancar. Itu pasti Clarissa.
"Ra! Di sini!" Arlan melambai singkat.
Kira mengatur napasnya, memasang senyum terbaiknya—senyum yang selama ini ia gunakan untuk memenangkan klien paling sulit sekalipun—dan melangkah mendekat.
"Hai, Lan. Maaf ya agak telat, macetnya luar biasa," sapa Kira begitu sampai di meja.
Arlan berdiri, matanya sempat tertuju pada penampilan Kira selama beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada kilat keterkejutan di matanya melihat Kira yang biasanya kasual kini tampil sangat rapi. "Nggak apa-apa. Kenalin, ini Clarissa."
Wanita itu berdiri dengan gemulai, mengulurkan tangan dengan senyum yang begitu tulus hingga membuat Kira merasa sedikit bersalah karena sempat berniat membencinya. "Clarissa. Akhirnya aku bisa ketemu sama 'legenda' yang selalu Arlan ceritain."
Kira menjabat tangan itu. Halus dan hangat. "Kira. Legenda apa? Legenda sebagai tukang ngerepotin Arlan, ya?"
Clarissa tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng. "Lebih ke legenda sebagai orang yang paling Arlan jaga. Senang akhirnya bisa kenalan sama kamu, Kira."
Makan malam pun dimulai. Sepanjang sesi, Kira merasa seperti sedang menonton sebuah film dokumenter tentang kehidupan yang tidak ia ketahui. Clarissa adalah lawan bicara yang sempurna. Ia cerdas, berwawasan luas karena pengalamannya di London, dan yang paling menyakitkan bagi Kira adalah: Clarissa bisa mengimbangi obrolan teknis Arlan tentang arsitektur dengan sangat fasih.
"Aku rasa desain post-modern di London itu punya jiwa yang beda, Lan. Kamu harus ke sana lagi bareng aku kapan-kapan," ucap Clarissa sambil menyentuh lengan Arlan sekilas.
Arlan mengangguk pelan. "Iya, aku memang berencana riset ke sana tahun depan."
Kira hanya bisa menusuk-nusuk daging steak-nya yang mendadak terasa hambar. Biasanya, dialah yang akan duduk di samping Arlan. Dialah yang akan membuat Arlan tertawa dengan celetukan konyolnya saat pria itu terlalu serius bicara soal kerjaan. Tapi malam ini, ia hanyalah penonton. Ia melihat bagaimana Arlan memperhatikan Clarissa dengan cara yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Arlan tidak sedingin biasanya. Ia lebih banyak mendengarkan, bahkan sesekali memberikan senyum tipis yang tulus.
"Kira, Arlan bilang kamu kerja di bidang kreatif, ya? Pasti seru banget!" Clarissa mencoba melibatkan Kira ke dalam percakapan.
"Ah, iya. Cuma bikin konten-konten receh buat
sosial media, nggak sekeren proyek kalian," jawab Kira merendah.
"Jangan salah, Ra. Tanpa tim kreatif kayak Kira, bangunan secantik apa pun nggak akan dikenal orang," Arlan tiba-tiba membela.
Kira tertegun. Ia menatap Arlan, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada kehangatan lama yang sempat muncul, namun segera sirna saat Clarissa kembali menarik perhatian Arlan dengan pertanyaan lain.
Satu hal yang paling menyesakkan adalah saat pelayan membawakan hidangan penutup. Sebuah chocolate lava cake diletakkan di tengah meja.
"Clarissa nggak suka terlalu manis, Lan," ucap Kira refleks, mencoba menunjukkan betapa ia mengenal Arlan (dan berasumsi tentang Clarissa).
Namun, Arlan justru tersenyum kecil. "Oh, Clarissa memang pesan ini buat aku, Ra. Dia tahu aku lagi butuh asupan gula setelah lembur seminggu ini."
Kira merasa wajahnya memanas. Ia baru saja melakukan kesalahan pemula: berasumsi bahwa ia masih menjadi orang yang paling tahu tentang kebutuhan Arlan. Ternyata, dalam waktu dua minggu, Clarissa sudah bisa membaca apa yang Arlan butuhkan.
Setelah makan malam yang terasa seperti berjam-jam itu berakhir, mereka berjalan menuju lobi.
"Ra, aku antar Clarissa pulang dulu, ya. Kamu aman kan naik taksi? Atau mau aku pesankan?" tanya Arlan.
"Aman! Aman banget. Udah biasa juga mandiri," jawab Kira dengan nada bicara yang dibuat seceria mungkin.
"Yakin?" Arlan memastikan, ada gurat kecemasan di wajahnya yang biasanya kaku.
"Yakin, Lan. Clarissa, senang ketemu kamu. Jangan kapok ya jalan bareng kita," ucap Kira sambil melambai.
Kira berdiri di depan lobi hotel, memperhatikan mobil Arlan perlahan menjauh dan menghilang di balik deretan gedung tinggi. Begitu mobil itu tak lagi terlihat, bahu Kira merosot. Senyum di wajahnya luntur seketika.
Hujan kembali turun, kali ini tidak sederas kemarin, namun tetap membuat udara terasa dingin. Kira merogoh tasnya, mencari payung kecil yang seharusnya ada di sana. Nihil. Ia lupa. Lagi.
Ia tertawa getir. Biasanya, di saat seperti ini, sebuah payung akan muncul di atas kepalanya, dibawa oleh seorang pria jangkung yang akan memarahinya karena ceroboh. Tapi malam ini, payung itu sedang berada di tempat lain, melindungi orang lain.
Kira melangkah keluar dari lobi, membiarkan gerimis membasahi gaun hitamnya. Ia tidak peduli jika besok ia akan jatuh sakit. Baginya, rasa dingin di kulitnya tidak sebanding dengan rasa dingin yang ia rasakan di dadanya sekarang.
Ia berjalan menuju halte bus terdekat, menembus malam yang sunyi. Di antara rintik hujan, Kira akhirnya mengakui satu hal pada dirinya sendiri:
Aku tidak hanya kehilangan payungku, aku mulai kehilangan duniaku.
Namun, di tengah kesedihannya, Kira tidak menyadari bahwa di dalam mobil yang sudah menjauh, Arlan sedang menatap spion tengahnya dengan tatapan gelisah. Pria itu terus memperhatikan bayangan Kira yang mengecil di kejauhan, sampai Clarissa bertanya, "Arlan, ada yang salah?"
Arlan hanya menggeleng pelan, meski tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat—seolah sedang menahan dirinya sendiri agar tidak memutar balik mobilnya dan menjemput sahabatnya yang malang itu.