*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bertemu Orang Tua Ben.
Seperti pagi sebelum kedatangan Bu Ratna, Ben bangun lebih dulu daripada sang istri.
Pria itu memasak nasi goreng untuk Junee. Saat wanita itu keluar, ia terkejut melihat dapur yang sedikit berantakkan.
“Ben. Kamu memasak apa? Bukannya kamu mengatakan hanya bisa memasak telur dan roti?” Tanya Junee yang seketika membereskan sisa kekacauan yang di buat oleh sang suami.
“Masak sarapan sehat versi ibu.” Ben menunjukkan nasi goreng buatannya.
Junee mengambil sebuah sendok, kemudian mencicipi sedikit.
Kening wanita itu berkerut halus. “Mirip dengan nasi goreng masakan pak Dani di kantin bu Ratna dulu.
Selain menjual bakso, kadang Bu Ratna juga menjual nasi goreng jika ada murid yang memintanya. Dan pak Dani — ayah Ben lah yang memasaknya jika sudah selesai mengurus parkir sekolah.
“Hmm. Tadi aku menghubungi ayah untuk meminta resepnya.” Ucap pria itu pelan.
Junee terdiam. Nada bicara Ben terdengar berbeda saat membahas ayahnya.
“Apa kamu merindukan ayah?” tanya Junee.
Ben mengangguk.
“Aku rindu kehangatan keluarga. Dimana ada ayah, ibu yang selalu mendukung setiap langkah aku.”
Junee meraih tangan pria itu.
“Sekarang ada aku juga yang akan selalu mendukung kamu.”
Ben tersenyum kemudian mengangguk pelan.
“Bagaimana kalau kita bertemu dengan mereka hari ini? Ayah ingin bertemu kamu.” Ucap pria itu.
Junee tak langsung menjawab. “Bagaimana dengan ibu kamu, Ben?”
Ben berbalik mengggenggam tangan wanita itu.
“Tidak apa - apa. Ada aku dan ayah. Ibu tidak akan melakukan sesuatu sama kamu.”
Junee kembali mengangguk.
“Baiklah. Aku siap.”
---
Siang harinya Ben mengajak Junee untuk mengunjungi kedai bakso sang ibu yang terletak di daerah Cikarang.
Pak Dani sekarang bertugas memantau dan membantu di saat kedai ramai pengunjung. Badannya lebih berisi dari 10 tahun yang lalu.
Sementara Bu Ratna membantu di bagian kasir. Kedai itu mempekerjakan 6 orang pegawai di siang hari, dan 6 lainnya di sore hingga tutup.
Mereka terbagi menjadi 2 tim, 3 di dapur menyiapkan pesanan, dan 3 lainnya melayani para tamu.
Siang itu, kedai bakso itu cukup ramai, hampir semua meja terisi pelanggan.
Saat melihat Ben dan Junee datang, Bu Ratna terdiam sejenak. Kemudian pergi mencari keberadaan sang suami.
“Yah, anak sama mantu kamu datang tuh.” Ucapnya di ambang pintu dapur.
Pak Dani yang sedang membantu menyiapkan pesanan, kemudian menyerahkan mangkok di tangannya pada seorang pekerja.
Ia bergegas mencuci tangannya. Kemudian keluar dari dapur untuk melihat sang putra.
Bu Ratna mengikuti sang suami dari belakang.
“Ben.”
Ben seketika memeluk sang ayah. Meski jarak tempuh Jakarta - Cikarang hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam, namun Ben sangat jarang bertemu dengan orang tuanya.
“Ayah, apa kabar?” Tanya Ben setelah pelukan mereka terlepas.
“Ayah sehat. Apalagi, mendengar putra ayah sekarang sudah menikah. Ayah menjadi semakin semangat untuk menjalani hidup.” Ucap pria paruh baya itu.
Pak Dani melihat ke arah Junee yang berdiri di belakang Ben.
“Dia yang dulu sering juara kelas itu ‘kan?” Tanya pak Dani.
Ben mengangguk pelan. “Junee.” Panggilnya pada sang istri.
Junee mendekat. “Bapak apa kabar?” Tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
Junee masih ingat betul dengan pak Dani. Saat bersekolah dulu, ia sering menitipkan sepeda ontel miliknya pada pria paruh baya itu.
Dan pak Dani sudah pasti mengenalinya dengan baik. Karena hanya Junee yang ke sekolah memnggunakan sepeda ontel. Sementara, para siswa lainnya menggunakan sepeda motor.
“Bapak sehat. Ah, mulai sekarang panggil ayah. Sama seperti Ben.” Ucap pak Dani.
Junee menganggukkan kepalanya.
“Ayah senang, akhirnya kalian bisa bersama setelah 10 tahun berlalu.” Imbuh pria baruh baya itu.
Ia melirik ke arah Bu Ratna. Memberi isyarat pada sang istri untuk bersikap baik.
Bu Ratna mendengus pelan. “Ajak istri kamu duduk dulu, Ben. Biar tidak mengganggu pelanggan.” Ucapnya kemudian kembali ke meja kasir.
“Kalian duduk dulu. Biar ayah siapkan bakso.” Ucap pak Dani.
Ben dan Junee pun menempati sebuah meja yang memiliki 4 kursi.
“Tidak apa - apa, Junee. Ayah tidak segalak ibu.” Ucap Ben mengusap punggung tangan sang istri.
Junee menganggukkan kepalanya. Pak Dani dari dulu memang baik kepada siapapun.
Tak lama kemudian, seorang pekerja datang membawa nampan berisi 2 mangkok bakso dan 2 gelas es teh.
Pak Dani juga datang lagi, kemudian duduk di samping Ben.
“Bagaimana rasanya, neng?” Tanya pak Dani pada Junee.
“Masih sama seperti dulu, Yah. Aku jadi rindu masa - masa sekolah dulu.” Ucap Junee.
“Biar bisa hutang bakso sama ibu lagi ya, neng.” Sindir Bu Ratna dari meja kasir.
Junee pun menundukkan kepalanya.
Malu.
Karena ada beberapa orang pelanggan yang menatap ke arahnya.
“Neng, jangan dengarkan ibu. Dia sudah keterlaluan. Ayah senang Neng Junee akhirnya menjadi istri Ben. Dengan begitu, anak ayah ini tidak akan Gi-la kerja lagi.” Ucap pak Dani.
Junee mengangkat kepalanya. “Maafkan saya, Yah. Karena yang saya lakukan dulu, ibu jadi seperti itu. Saya tidak akan marah. Karena saya memang salah.”
“Tidak ada yang salah. Kalian masih remaja saat itu.” Imbuh pak Dani.
Ben mengusap lembut tangan sang istri.
Setengah hari mereka ada di kedai bakso Bu Ratna.
Ben dan Junee membantu melayani para pembeli. Bahkan ada yang mengenali Ben, hingga mengajak foto bersama.
“Ibu harap kamu tidak pernah menyakiti Ben lagi, Neng.” Ucap Bu Ratna saat Junee sedang membantu di meja kasir.
“Saya tidak akan pernah menyakiti Ben lagi, Bu.“ Ucap Junee.
“Ibu pegang ucapan kamu.”
Junee menganggukkan kepalanya.
Saat ia sedang menunggu Ben yang sedang membantu pak Dani memasang sepanduk, ponsel Junee tiba - tiba bergetar.
Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak di kenal.
“Junee. Kamu yakin mau tetap hidup bersama Ben Pratama? Ibunya tidak menyukai kamu. Yakin dia akan tetap memilih kamu? Jika kamu di tinggalkan, aku siap menunggu kamu kembali.
- Arga.”
Junee tidak membalas dan memilih menghapus pesan itu.
Wanita itu mengedarkan pandangannya. Ia melihat Arga di depan kedai, dan baru saja masuk ke dalam mobilnya.
“Jadi, Arga ada disini sejak tadi?” Monolog Junee.
---