NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Bow of The Wolves

Gema jentikan jari Aurelia Vane di Aula Utama kastil Isla de la Rosa tidak lagi memicu keheningan yang patuh, itu adalah ketukan metronom yang menandai dimulainya pergeseran otoritas yang mengerikan. Ratusan pasang mata yang memenuhi ruangan raksasa itu terpaku pada sang Ratu. Di bawah tatapan para elite kriminal paling berbahaya di bumi, keheningan yang tercipta bukan lagi sekadar bentuk ketakutan terhadap kekuatan finansial Vane Group, melainkan bentuk pengakuan spiritual terhadap entitas yang mengendalikan napas mereka.

Satu per satu, para pengawal pribadi yang mengenakan seragam taktis hitam legam tanpa atribut negara melangkah keluar dari balik bayang-bayang pilar batu gotik. Mereka tidak membawa dokumen atau laporan keuangan. Di tangan mereka, terdapat nampan perak berisi belati-belati pendek berukir mawar hitam pada bagian gagangnya, sebuah simbol kuno dari sumpah darah yang mengikat seluruh sindikat bawah tanah di bawah otoritas tunggal Vane Group.

Nikolai Volkov adalah orang pertama yang bergerak. Pria raksasa yang memimpin Bratva Rusia itu berdiri dari kursinya. Dengan gerakan yang lambat dan penuh penghormatan, ia melangkah mendekati takhta beludru merah tempat Aurelia duduk. Di hadapan ratusan pasang mata, Nikolai menurunkan tubuhnya yang kekar, bertumpu pada satu lutut di atas lantai batu yang dingin.

Ia mengambil belati dari nampan perak, lalu menggores telapak tangan kanannya sendiri tanpa berkedip sedikit pun. Darah segar yang merah pekat langsung merembes, menetes di atas lantai batu di depan ujung sepatu satin hitam milik Aurelia.

"Darahku, faksiku, dan seluruh senapan milik Bratva di belahan utara adalah milikmu, Ratu," suara Nikolai menggema parau, dipenuhi oleh kepatuhan absolut yang lahir dari kombinasi ketakutan dan kekaguman yang masif. "Siapa pun yang menentang telunjukmu, akan kami robek tenggorokannya sebelum fajar menyingsing.

Setelah Nikolai, Tanaka dari Yamaguchi gumi melangkah maju dengan keanggunan tradisional yang kaku. Ia berlutut di sebelah Nikolai, menundukkan kepalanya hingga nyaris menyentuh lantai, memperbarui sumpah setianya dengan membiarkan darah dari jarinya menodai lantai kastil. Alejandro dari kartel Medellin mengikuti, melakukan ritual yang sama dengan kepatuhan yang tidak menyisakan ruang bagi arogansi yang biasanya ia tunjukkan di jalanan Amerika Selatan.

Aura reverse harem dan female dominance di dalam ruangan itu mencapai puncaknya, menciptakan sebuah distorsi realitas yang begitu pekat. Di sini, di dalam benteng ini, satu-satunya hukum yang absolut adalah keinginan dari seorang wanita. Ratusan pria bersenjata lengkap, para pembunuh berdarah dingin, dan gembong kriminal yang dicari oleh seluruh badan intelijen dunia, kini bersimpuh di kaki Aurelia Vane seperti barisan pelayan yang menunggu titah dewi kematian mereka.

Kael Arden menyaksikan pemandangan itu dari kursinya dengan tatapan yang tidak lagi mencerminkan seorang manusia dari pemerintahan biasa. Sisa-sisa warasnya sebagai seorang Perdana Menteri, seorang penegak konstitusi yang dihormati publik, telah terbakar habis oleh pemandangan ini.

Melihat bagaimana para serigala dunia bawah itu menundukkan kepala mereka di hadapan Aurelia tidak memicu rasa takut atau dorongan untuk menegakkan hukum di dalam diri Kael. Sebaliknya, hal itu justru memicu letupan rasa posesif yang teramat gila dan berbahaya di dalam otaknya. Api obsesinya yang selama ini membara dalam diam kini meledak menjadi sesuatu yang sakral sekaligus destruktif.

Kael tidak lagi menginginkan Aurelia sebagai seorang wanita yang bisa ia kendalikan dengan retorika politik, ia menginginkan entitas kegelapan ini secara utuh. Ia ingin mengunci tubuhnya sendiri di samping takhta ini, menjadi satu-satunya pria yang berhak menyentuh tangan sang Ratu saat seluruh dunia bawah bertekuk lutut di hadapannya.

Di bawah meja besi yang dingin, Kael menggeser tangan kirinya, mempererat tautan jarinya pada jemari Aurelia. Remasan tangan Kael begitu kuat, posesif, dan penuh dengan intensitas menuntut yang seolah berkata, Kau adalah milikku, dan tidak akan ada satu pun serigala di ruangan ini yang bisa merebutmu dari sisiku.

Aurelia tidak melepaskan cengkeraman gila Kael. Ia tetap membiarkan jemari pria itu mengunci tangannya, sementara wajahnya tetap menampilkan ekspresi dingin yang statis di hadapan para bos mafia yang masih bersimpuh. Namun, sudut mata obsidiannya berkilat penuh dengan kepuasan sensual yang pekat melihat bagaimana Kael telah sepenuhnya tunduk pada pesona beracun yang ia tebarkan.

"Bangkitlah, para serigalaku," suara Aurelia mengalir sehalus beludru, namun resonansi kekuatannya mampu menembus setiap sudut aula yang kedap suara itu. "Aku menerima sumpah darah kalian. Selama aliran uang dan jalur logistik Vane Group tetap menghidupi faksi kalian, kalian adalah penguasa di wilayah masing-masing. Namun, saat salah satu dari kalian mencoba berbalik atau mengaburkan pandangan dari bendera Vane... kalian tahu persis bahwa kematian adalah berkah paling mewah yang bisa kuhadiahkan."

Para bos mafia itu bangkit secara serentak, kembali ke kursi masing-masing dengan kepala yang tetap tertunduk sebagai tanda hormat. Namun, di tengah atmosfer pemujaan yang pekat itu, keheningan intim yang tercipta di antara Kael dan Aurelia mendadak terganggu oleh fluktuasi gerakan taktis yang kian matang di sudut ruangan.

Mata elang Kael yang setajam pisau bedah langsung beralih dari meja bundar, mengunci pandangannya pada Marcus, letnan senior lingkaran dalam Aurelia yang berdiri di dekat pilar batu besar di lambung kanan aula. Pria itu baru saja memasukkan kembali ponsel enkripsinya ke dalam saku mantel, dan garis wajahnya memancarkan ketegangan yang terlalu dipaksakan.

Marcus memberikan isyarat kedipan mata yang samar sebanyak dua kali ke arah koridor gelap di belakang takhta, sebuah kode taktis internasional untuk melakukan infiltrasi perimeter dalam. Di saat yang sama, tiga pengawal bersenjata yang bertugas menjaga pintu belakang aula mulai menggeser posisi kaki mereka, melepaskan kait pengaman pada senapan laras pendek mereka dengan gerakan yang sangat halus, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan suara Nikolai yang kembali duduk.

Moncong laras senjata mereka perlahan-lahan bergeser dari lantai, berputar secara vertikal menuju satu titik koordinat, punggung Aurelia Vane. Insting predator Kael yang telah ia asah di tengah ular-ular politik Parlemen langsung mengenali bau busuk ini. Ini bukan lagi sekadar ketegangan internal. Ini adalah kudeta bersenjata yang dirancang untuk memenggal kepala sang Ratu di atas takhtanya sendiri. Pengkhianatan di lingkaran dalam telah mencapai titik eksekusi.

Kael tidak melepaskan tautan jemarinya dari tangan Aurelia. Sebaliknya, ia menarik tangan wanita itu sedikit ke bawah meja, memberikan kode remasan khusus sebanyak tiga kali berturut-turut pada kulit sarung tangan brokat hitamnya, sebuah bahasa isyarat taktis militer yang berarti, Ancaman aktif, arah jam empat, senjata telah dikokang. Aurelia tidak menunjukkan kepanikan sekecil apa pun. Wajahnya yang cantik dan pucat tetap menatap lurus ke arah meja rapat, namun Kael bisa merasakan otot-otot tangan wanita itu mendadak menegang, bersiap untuk melepaskan keganasannya sendiri.

"Kael," bisik Aurelia dengan suara yang teramat rendah, nyaris menyerupai desisan angin malam yang menyelinap di antara sela-sela jendela kastil. "Apakah kau siap melihat bagaimana istanaku memuntahkan darah pertamanya malam ini?"

Kael menyunggingkan senyumnya yang paling dingin, sepasang matanya menyala oleh api obsesi dan haus akan darah yang aneh serta sensual. Di balik mantel hitam panjang yang menyembunyikan luka tembak di bahu kirinya, tangan kanannya perlahan merogoh Glock 19 dari balik pinggangnya, melepaskan pengaman senjata dengan satu gerakan jempol yang mekanis.

"Aku datang ke pulau ini bukan untuk menjadi penonton yang pasif, Aurelia," bisik Kael parau, suaranya dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang mutlak. "Ingat kataku... jika tempatmu adalah di puncak kegelapan ini, maka aku adalah pedang yang akan menebas siapa saja yang berani mengusik takhtamu. Biarkan para bajingan ini tahu, siapa pria yang berdiri di samping ratu mereka."

Aurelia menarik napas dalam-dalam, aroma black rose miliknya menguar tajam, memotong bau belerang dan lilin di dalam ruangan. Detik berikutnya, jentikan jari emas Aurelia kembali terdengar untuk ketiga kalinya malam itu. Namun kali ini, itu bukan lagi tanda untuk mendengarkan laporan... melainkan sebuah komando senyap yang akan meledakkan Aula Utama ini ke dalam malam pengkhianatan yang berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!