"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 44
Bara dan Anya kini telah tiba di depan pintu kamar apartemen yang Bara tinggali. Bara lebih dulu masuk meninggalkan Anya yang masih diam berdiri.
Ceklek!
Walau sebelumnya pernah menginap di tempat mewah seperti ini, Anya masih merasa asing dengan suasana yang sama sekali tidak berubah.
Aroma harum dari soft lemon parfum Bara, hampir memenuhi seluruh udara di dalam suite room ini. Dari pandangannya saat memasuki ruangan, Anya masih bisa melihat meja makan yang berhias gedung-gedung tinggi lewat kaca besar.
Semua terlihat asing walau sebenarnya tidak ada yang berubah bagi Anya.
"Hm ... Bara—"
"Tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu ..."
"... bukankah sudah ku bilang, aku hanya tidak ingin kamu terlambat datang bekerja ke perusahaan," ucap Bara, ketika meletakan ponselnya diatas nakas dan mengambil handuk sebelum menatap Anya.
"Bukan itu. Hanya saja ... aku merasa tidak enak selalu merepotkan orang lain," balas Anya. Merasa sungkan dengan semua kebaikan yang Bara berikan.
"Siapa yang direpotkan?" tanya Bara. Memandang Anya dengan wajahnya yang terlihat sangat santai.
"Untuk kedepannya, karena aku sudah bekerja, aku ingin membayar sewa untuk tempat tinggal ini."
Anya mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Bara karena sedari tadi ia hanya menunduk berdiri merasa tidak enak.
Dari kejauhan, Bara yang hendak pergi menuju kamar mandi bertemu pandangannya melihat Anya yang begitu yakin mengatakan hal itu.
"Cih ... haha!" Bara tertawa pendek ketika mendengar ucapan Anya barusan.
"Memang kamu pikir berapa harga sewa sehari untuk room ini?"
Anya hanya menggeleng tidak tahu menahu soal harga sewa semalam untuk tidur di hotel mewah seperti ini.
"Sudalah ... aku ingin mandi. Jangan mengganggu ku ..."
"... jika kamu memang ingin membayar, kamu bisa melakukan itu dengan memasak disini setiap hari," sambung Bara yang ingin melangkah menuju kamar mandi.
"Oh, iyaa. Dan hal itu sudah bisa kamu kerjakan sekarang ... karena aku merasa lapar. Kamu bisa mandi dan mengganti pakaian yang berada di lemari itu," (menunjuk sebuah lemari dengan tatapan matanya yang dingin)
Bara langsung pergi masuk kedalam kamar mandi begitu saja, untuk membersihkan tubuhnya.
Mendengar tawa Bara, Anya seperti sedang di ledek. Ia perlahan berjalan masuk lebih dalam. Menyapu pandangannya seperti saat awal pertama kali masuk ke room ini.
"Memang ... berapa kira-kira harga untuk semalam tempat ini?" gumam Anya pelan, merasa sedikit kesal atas respon Bara barusan. Sambil terus menyapu pandangannya dan berakhir melihat sebuah ponsel Bara.
Beberapa saat kemudian ...
Setelah Bara dan Anya selesai mandi dan membersihkan tubuhnya masing-masing, kini mereka tengah duduk bersama disatu meja menikmati masakan yang sudah Anya buat. Bara mengajak Anya lebih dulu untuk ikut makan bersama.
Tidak ada obrolan yang terjadi diantara mereka berdua selama makan. Keheningan ditengah-tengah mereka harus menjadi penghias indahnya gedung-gedung tinggi disamping mereka yang terlihat cukup terang.
Hingga akhrinya, setelah berpikir cukup lama Anya memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Bara.
"Sekarang, aku menjadi penasaran ... kenapa kamu selalu bersikap baik dan mau membantuku. Apa kamu menyukai ku?" ucap Anya dengan wajah polos. Ia benar-benar langsung berkata demikian di tengah matanya yang terus menatap Bara.
Deg!
Mendengar kalimat Anya, membuat Bara langsung terkejut menghentikan suapannya karena tersedak.
Uhuk!
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" kata Bara seraya mengambil air minum dan berusaha menghilangkan sakit di tenggorokannya. Ia tidak habis pikir karena melihat kepolosan Anya yang bisa dengan santai bertanya hal itu.
Bara meminum airnya dengan membuang pandangannya agar tidak melihat Anya. Ia kini merasa tertekan karena Anya terus memperhatikannya.
"Kata ibuku ... jika ada orang yang perduli padamu, berarti dia menyukaimu."
Bara yang masih meminum air putihnya melirik Anya, seolah Anya masih menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Bara.
Tak! Bara kembali meletakan gelasnya.
"Huh ... tidak ada. Aku hanya suka melakukannya," ucap Bara dingin membuang nafas pendek. Dengan wajah yang datar dan kembali berusaha menormalkan ekspresinya yang sempat terkejut karena ucapan mendadak dari Anya.
Melihat respon dari Bara, sepertinya memang benar. Kalau Bara tidak menyukai Anya, ia benar-benar hanya tulus ingin menolongnya. Anya mengangguk-angguk kecil, melanjutkan kembali makan di tengah Bara yang mendadak jadi salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Aku sudah selesai. Terimakasih atas makanannya, aku ingin tidur disofa. Kamu bisa tidur dikasur," kata Bara yang tiba-tiba berdiri menggeser bangku. Ia berjalan meninggalkan meja makan cepat-cepat. Agar Anya tidak melihat ekspresinya yang sekarang menjadi gugup.
"Hmm? Sudah selesai ..?"
"... kenapa tidak tidur dikasur? Aku bisa berbagi tempat karena masih banyak ruang disana," kata Anya dengan polos. Sama sekali berbicara dengan santai melihat Bara yang sudah melangkah pergi.
Tanpa melihat Anya lagi, Bara langsung tidur disofa menyelimuti dirinya sendiri. Menyembunyikan ekspresinya dari Anya yang terus berbicara asal.
"Tidak perlu. Aku ingin tidur disini," kata Bara yang memunggungi Anya saat masih berada dimeja makan sendiri.
"Hm ... baiklah."
Anya merasa semakin bingung dan tidak mengerti, melihat tingkah Bara yang sering berubah-ubah saat sedang bersamanya. Anya memutuskan untuk mencuci piring terlebih dahulu sebelum beristirahat dikasur besar yang empuk.
Setelah merasa kehadiran Anya sudah semakin jauh dari Bara, ia membuang nafas panjangnya yang sedari tadi Bara tahan sebelum menutup mata. Bara tidak habis pikir apa yang ada di dalam kepala Anya saat mengatakan hal seperti itu.
"Huh ... ya, ampun," ucap Bara dalam hati sebelum berusaha tidur.
•••
"Apa?! 3 juta? ..."
"Untuk biaya sewa permalam di hotel ini sekitar 3 juta?" kata Anya lagi kepada pegawai wanita yang berdiri sebagai resepsionis disana.
"Orang seperti apa yang rela menghabiska uang semalam 3 juta untuk tidur?" ucap Anya di dalam hati. Masih merasa tidak percaya dengan fakta kehidupan kota.
"Iya, bu. Biasanya, jumlah itu tidak termasuk biaya pelayanan masak dan lain-lain."
"Oh, disini ada pelayanan masak juga? Agar kita tidak perlu ribet membeli online?" tanya Anya lagi, mulai merasa bingung dengan mata yang sedikit membesar.
"Benar ibu."
Anya melamun seketika, dan memikirkan kenapa Bara harus repot-repot menyuruhnya masak jika ada pelayanannya.
"Lalu ... untuk apa dia melakukan itu?" kata Anya, bermonolog sendiri di dalam hatinya masih di hadapan karyawan hotel.
"Ada lagi yang bisa dibantu ibu?" tanya karyawan, dengan nada yang ramah dan sopan menunjukan profesionalitasnya.
"Ah, tidak. Terimakasih kalau begitu, permisi~" ucap Anya, berpamitan sebelum melangkah pergi keluar dari dalam gedung hotel.
"Sama-sama~" balas karyawan, seraya membungkuk badan sedikit memberi hormat.