Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 : Ayah Nando Sadar
Pramana, ayah Nando merasa tidak terima saat anaknya terbaring tak berdaya di rumah sakit. Sudah seharian, lelaki itu tak sadarkan diri. Jika bukan karena salah satu profesor di sekolah menemukan dia terluka parah di ruang kontrol verdict, mungkin nyawa Nando tidak akan selamat. Beberapa kali, Pramana menarik napas dalam-dalam sambil memukul kaca jendela ruangan itu dengan kesal.
"Siapapun yang melakukan ini pada anakku, aku tidak akan bisa mendiamkan dia!" tegasnya.
Tanpa banyak berpikir, Pramana bergegas menuju sekolah Nando untuk menemui guru BK untuk menangani kasus yang terjadi pada anaknya. Langkahnya yang tegas dan mantap membuat semua orang di sekitar bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan pria itu. Apalagi ekspresi Pramana terlihat menegang dipenuhi rasa kesal sangat dalam.
"Maaf, Pak. Saya boleh tahu, apa alasan Anda ke sini?" tegur satpam saat Pramana melangkah ke gerbang sekolah.
Pramana menoleh ke kanan. Tatapannya terlihat sinis menatap satpam itu. Dia kembali mengalihkan pandangan ke depa. "Saya ingin bertemu salah satu guru BK di sekolah ini, saya ingin membahas masalah keadaan anak saya," jawab pria itu pelan tapi tegas.
Satpam itu mengangguk, dia keluar dari pos satpam dan menuntun Pramana untuk menemui guru BK yang ada di sekolah itu. Namun, tidak ada seorang pun di ruang guru. Satpam itu tersenyum kikuk menatap Pramana yang sedang jengkel.
"Maaf ya, Pak. Para guru sedang bekerja saat ini. Tunggu sebentar, paling 15 menit nanti salah satu guru BK akan datang," jelas satpam itu ramah. Dia menunjuk salah satu bangku yang ada di depan ruang guru.
"Silakan duduk dulu, Pak," ucapnya. Namun, tidak dihiraukan sama sekali oleh Pramana.
Merasa tidak dihargai, senyuman satpam itu memudar. Dia pun permisi untuk kembali ke pos satpam. Sementara, Pramana perlahan duduk di bangku sembari menunggu guru BK itu datang. Tangan pria itu mengepal dan rahangnya mengeras. Dia tidak sabar untuk menghajar guru itu karena membiarkan putra semata wayangnya terluka parah.
Beberapa menit berlalu, tidak ada satupun guru datang menemuinya. Hanya ada kesunyian yang dirasakan selama duduk di ruangan ini. Tiba-tiba saja, saat diam melamun terdengar suara langkah kaki menghampirinya dengan langkah mantap. Pramana segera berdiri dari bangku. Dia memiringkan kepala, mencoba memastikan siapa yang datang.
"Ada apa, Pak? Kau mencari siapa di sini?" tanya seorang siswi cantik yang tak lain adalah Naja yang menyamar menjadi murid di sekolah ini.
Pramana memandang gadis itu acuh tak acuh. "Bukan urusan kamu, anak kecil. Saya di sini ingin bertemu guru BK kalian," tegas pria itu dengan suara lantang.
Bukannya gemetar takut dengan suara Pramana yang keras, Naja justru tersenyum sinis sambil melipatkan kedua tangan di depan dada. "Ketemu BK? Kau jangan bersikap menjadi korban, pak Pramana," tegur Naja membuat Pramana mengerutkan kening.
"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Pramana tak percaya. Naja memutar bola matanya malas tapi tetap tersenyum sinis.
"Itu tidak penting, aku tahu kamu datang ke sini untuk mencari keadilan untuk anakmu itukan?" tebak Naja dibalas anggukan cepat oleh Pramana.
"Iya, sekolah ini tidak bisa dipercaya tanggungjawabnya. Mereka gagal melindungi keamanan murid," sindir Pramana dengan suara sinis.
Mendengar itu, Naja yang jengkel segera memukul kasar pundak Pramana hingga pria itu tersungkur.
"Bukan sekolah ini tidak bisa bertanggungjawab, tapi kamu sebagai ayah tidak bisa mendidik moral anakmu itu!" jelas Naja dengan suara tak kalah tinggi. Tatapannya tajam memandang Pramana yang saat ini sedang terjatuh di lantai.
Naja mengambil ponsel di sakunya. Dia menyalakan aplikasi verdict dan menyalakan layar itu di udara, membuat Pramana melongo dibuatnya. Rekaman itu berisi aib dan dosa-dosa Nando selama ini termasuk saat di sekolah ini. Rekaman Nando membully, mencontek, bahkan saat Nando mencoba menyabotase sistem verdict yang ada di sekolah. Tangan Pramana mengepal melihat itu.
"Ini pasti fitnah!" ucap pria itu tak percaya.
Naja tertawa kecil. "Pak, alat secanggih ini dibuat oleh sekolah untuk mendeteksi kejahatan. Tidak mungkin ada fitnah, ini alat kejujuran untuk menilai apakah orang itu baik atau...," Naja memandang Pramana sekilas dengan senyum kecil. Dia memejamkan mata sebentar dan kembali melanjutkan ucapannya. "Atau jahat, egois, bahkan manipulatif."
"Diam kamu, siswi bodoh! Sekolah ini tidak berhak semena-mena dengan putra saya atau kalau tidak saya laporkan pada pihak berwajib!" ancam Pramana.
Wajah Pramana memerah, dia segera bangkit dan melayangkan tamparan pada pipi Naja. Naja jatuh tersungkur, kepalanya terbentur.
“Aduh…” Naja menatap mata Pramana dengan tatapan sedih, lalu sedetik kemudian merubah ekspresi seperti tersenyum.
“Hahaha… wah, pantas saja. Begitu caramu mengajari anakmu? IYA? HAHA….” Naja langsung bangkit dan menatap dengan senyum sinis miliknya.
“Ayo pukul lagi, yang tadi itu hanya… apa ya? Hm…” Naja menaruh jarinya di atas dagu seperti berpikir sambil meledek. “Tadi itu cuma terasa geli, seperti digelitik oleh para pembohong amatir seperti anakmu… Ahahaha…”
Pramana mencoba mengambil asbak di meja guru, lalu ingin menghantam kepala Naja dengan keras. Namun, segera ditepis oleh perempuan itu dengan tangan lantang. Tatapan Naja tidak kalah tajam dan tanpa basa-basi dia memukul balik Pramana.
"Kalau anda masih keras kepala, Pak, anda bisa saja menyusul putra anda di rumah sakit. Bahkan, anda bisa lebih cepat bertemu Tuhan, lho," ucap Naja berbisik di telinga Pramana. Sosok itu mencoba untuk menahan emosi yang dirasakan Pramana.
Pramana terdiam sejenak. Dia menatap Naja dengan alis bertaut dan bola mata berkaca-kaca. "Siapa kamu sebenarnya?"
Naja menggeleng pelan sambil mengangkat bahu tak acuh. "Itu tidak penting, yang penting kamu harus mendidik anakmu lebih baik agar tidak melakukan kecurangan lagi di masa depan," nasehatnya.
Setelah itu, sosok Naja pun menghilang seperti hantu, membuat Pramana merasa tidak nyaman dan berdebar dengan apa yang terjadi. Saat pria itu larut dalam pikirannya, tiba-tiba saja guru BK yang asli datang di hadapannya.
"Ada apa, Pak? Saya dengar dari satpam, anda ingin bertemu saya?" tegur guru BK itu sambil menatap Pramana penasaran.
Pramana menggeleng. "Sudah tidak lagi, Bu. Urusan saya sudah selesai. Maaf sebelumnya," ucap Pramana sambil mengatupkan kedua tangannya. Dia pun bergegas pergi meninggalkan sekolah begitu saja dan kembali ke rumah sakit untuk menemani anaknya yang saat ini terbaring tak sadarkan diri.
Sepanjang waktu berlalu, Pramana terus saja larut dalam bayangan sosok murid perempuan yang menegur karakter atau didikan dia pada Nando. Siswi itu pasti bukan siswi biasa, apalagi cara dia menunjukkan rekaman verdict dan menghilang tiba-tiba.
“Pasti bukan manusia. Apa dia hantu?” Saat Pramana tengah merenung, tiba-tiba saja Nando membuka matanya. Lelaki itu tersenyum tipis melihat Pramana.
"Papa," ucapnya pelan sambil meraih tangan Pramana.
Bukannya senang anaknya sadarkan diri, Pramana justru merasa jijik saat putranya menyentuh tangannya. Dia segera menjaga jarak dan menatap tajam Nando.
"Jangan panggil saya Papa! Saya bukan ayah kamu," tegas Pramana membuat Nando mengerutkan kening.
"Apa maksud Papa?"
Pramana menghela napas panjang. "Kamu sudah merusak kepercayaan Papa. Papa pikir, kamu anak Papa yang hebat. Ternyata, kamu banyak berbohong pada Papa!" jelas Pramana dengan suara tegas tapi juga serak. Tak disadari, bola mata itu berkaca-kaca.
Hati Nando terasa sesak dengan sikap dingin ayahnya yang tiba-tiba. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya yang lemah. Tidak biasanya, Pramana bersikap kasar seperti ini.
"Semua fasilitas dan kemewahan kamu akan Papa cabut! Kalau kamu mau Papa memaafkan kamu, kamu harus berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama!"