Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 ~ Bagaimana Rasanya Kehilangan
Beberapa saat kemudian, mobil hitam yang ditumpangi Ayra dan Bima berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah bergaya klasik modern. Halaman luas dengan taman yang tertata rapi itu tampak begitu tenang.
Begitu mobil berhenti sempurna, Bima segera turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Ayra.
Wanita itu keluar perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada sosok wanita tua yang sudah berdiri menunggunya didepan pintu utama rumah.
“Oma…” Ayra langsung berjalan mendekat lalu memeluk wanita itu erat.
Oma Gloria membalas pelukan cucunya dengan lembut. Kerutan halus diwajahnya memang sudah terlihat jelas dimakan usia, namun aura elegan dan wibawa wanita itu sama sekali tidak memudar.
“Kamu sendiri?” tanyanya pelan sambil mengusap rambut Ayra. “Dimana Samuel?”
Ayra sempat terdiam sesaat. Wanita itu memaksakan senyum tipis sebelum akhirnya menjawab pelan. “Samuel ada dirumah. Aku sengaja datang sendiri… karena rindu pada Oma.”
Namun sejak kecil Ayra memang tidak pernah pandai berbohong. Dan Oma Gloria langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari sorot mata cucunya kali ini.
Namun Oma Gloria tidak langsung bertanya. Wanita itu hanya mengusap punggung Ayra pelan.
“Kalau begitu ayo masuk dulu.”
Tatapannya kemudian beralih pada Bima. “Bima, bawa barang-barang Ayra ke kamarnya.”
“Baik, Oma.” jawab pria itu hormat sebelum mengambil koper Ayra.
Sementara itu Oma Gloria menggandeng tangan cucunya masuk kedalam rumah.
•••
Beberapa menit kemudian…
Ayra dan Oma Gloria duduk diruang keluarga yang hangat dan tenang. Aroma teh melati yang disuguhkan oleh pelayan seketika memenuhi ruangan.
Oma Gloria duduk dengan anggun disofa utama sambil memperhatikan cucunya dalam diam. Meskipun Ayra sudah mencoba terlihat biasa saja, mata sembab dan wajah pucatnya tetap tidak bisa berbohong.
“Katakan pada Oma…” suara wanita tua itu terdengar tenang. “Apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu datang kemari seperti ini?”
Ayra terdiam beberapa detik. Tangan tangannya mengusap cangkir hangat yang ada digenggamannya.
“Aku ingin bercerai.” ucapnya mantap.
Deg. Oma Gloria langsung terdiam.
“Bercerai?” ulangnya pelan. “Kenapa?”
Kali ini Ayra tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tampak kosong menatap meja didepannya.
“Aku sudah tidak bisa mempertahankan hubunganku dengan Mas Arga lagi, Oma.” suaranya terdengar tenang, namun jelas menyimpan luka yang dalam. “Aku menyerah.”
Tatapan Oma Gloria berubah serius.
“Tapi semua ini pasti ada alasannya, Ayra. Kamu bukan tipe wanita yang mengambil keputusan sebesar ini hanya karena emosi sesaat.” ucapnya perlahan
Hening beberapa detik. Ayra bingung harus memulai dari mana, dan bagaimana cara menceritakannya pada sang Oma. Begitu banyak kejadian pahit yang sudah menimpanya sekaligus, meskipun dalam hati Ayra akhirnya lega karena semua telah terbongkar.
“Lalu bagaimana dengan Samuel? Apa kamu sudah memikirkan semuanya?” lanjut Oma Gloria pelan.
Untuk sesaat tatapan Ayra berubah rumit saat nama Samuel disebut. Namun kali ini dia hanya menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab pelan.
“Aku sudah memikirkan semuanya, Oma. Sekarang Sam sudah bersama orang tua kandungnya..”
Alis Oma Gloria mengernyit tajam. "Orang tua kandungnya? Apa kamu....?"
Ayra menggeleng pelan, menggenggam tangan wanita tua itu sambil menatap hangat. "Samuel adalah anak kandung mas Arga dengan wanita lain."
Tatapan Oma Gloria melebar. Dia bingung sekaligus terkejut mendengar tentang hal ini.
Dia tau bagaimana Ayra mengambil bocah itu dari pantai asuhan lalu merawatnya dengan penuh kasih sayang. Tapi sekarang Ayra membicarakan tentang hal yang tidak masuk akal.
“Aku sudah memikirkannya matang-matang, Oma. Dan aku tidak akan kembali.” ucapnya pelan namun tegas.
“Aku memang mencintai Samuel. Tapi itu tidak mengubah fakta kalau selama ini aku dibohongi.” tangannya mengepal pelan diatas pangkuan.
“Aku bisa menerima banyak hal didalam rumah tangga. Tapi bukan penghianatan yang dilakukan bertahun-tahun sambil membuatku terlihat bodoh.” bibirnya tersenyum tipis penuh getir
Tatapan Ayra perlahan berubah dingin.
“Mas Arga memilih wanita lain saat aku masih menjadi istrinya. Dan bagiku… itu cukup untuk mengakhiri semuanya. Aku memilih untuk membuka lembaran kehidupan baru dengan calon anakku nanti." perlahan tangan Ayra menyentuh perutnya sendiri.
“Aku akan menjaga anak ini. Dengan atau tanpa Arga.” jawabnya mantap.
Deg.
Oma Gloria menyipitkan matanya pelan. "Jadi kamu sedang hamil?" tanyanya serius.
Ayra mengangguk kecil sambil memaksakan senyum tipis diwajahnya.
Untuk beberapa saat Oma Gloria hanya diam menatap cucunya.
Antara bahagia… sekaligus marah.
Dia masih sangat mengingat bagaimana dulu Arga datang menemuinya dengan penuh keyakinan, berjanji akan menjaga dan membahagiakan Ayra seumur hidupnya.
Namun kenyataannya cucunya justru dihancurkan oleh keluarga itu.
Perlahan Oma Gloria kembali memeluk tubuh Ayra erat. “Sekarang kamu tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Oma akan ada dipihakmu.” ucapnya tenang sambil mengusap rambut cucunya lembut.
Akhirnya sejak semua kenyataan itu terbongkar, kali ini Ayra merasa dirinya tidak sendirian.
Setelah pelukan itu terlepas, Oma Gloria kembali menatap Ayra lembut.
“Baiklah. Kita akan segera mengurus gugatan perceraianmu secepatnya.” ucapnya tegas.
Tatapan Ayra perlahan melembut.
“Tapi untuk sekarang, kamu harus istirahat. Kondisimu tidak boleh terlalu lelah.” lanjut Oma Gloria.
Ayra mengangguk kecil. “Terimakasih, Oma.”
Setelah itu Ayra bangkit lalu berjalan perlahan menuju kamarnya.
Dan begitu memastikan cucunya benar-benar masuk, tatapan Oma Gloria langsung berubah dingin. Wanita itu perlahan berdiri lalu menoleh pada Bima.
“Bima.”
Bima langsung menegakkan tubuhnya. “Ya, Oma.”
“Hentikan seluruh bantuan dana dan kerja sama yang selama ini kita berikan pada perusahaan Arga.”
“Cari tau juga seluruh aset dan proyek yang terhubung dengan keluarga Lorenzo. Aku ingin semuanya dilaporkan padaku.” lanjut Oma Gloria tenang.
“Baik, Oma.”
Tatapan Oma Gloria berubah tajam menatap keluar jendela.
“Keluarga Lorenzo sudah terlalu nyaman diatas.” bisiknya dingin. “Sekarang… biarkan mereka belajar bagaimana rasanya kehilangan.”
-
-
To be continued....