NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 : Jual beli nyawa

Tubuh Salsa kaku. Keringat dinginnya menetes, dan dia menoleh. Di belakangnya, Naya berdiri.

Namun wajahnya pucat, dan matanya kosong. Bibir Naya tersenyum tipis.

"Kak.." Ulangnya pelan.

Salsa membeku, air matanya langsung jatuh.

"Dek? Naya?" Suara Salsa bergetar.

Salsa berlari langsung memeluknya. Erat. Sangat erat.

"Naya… Kamu nggak apa-apa kan?" Tangis Salsa pecah.

Namun tubuh itu terasa sangat dingin. Salsa langsung tersentak sedikit tapi dia tidak peduli, dia tetap memeluknya.

"Naya kita pulang ya kita pulang sekarang." Ajak Salsa dengan nada bergetar.

Sunyi dalam beberapa detik.

Tangan Naya terangkat membalas pelukan itu, tapi gerakannya sangat kaku.

"Pulang?" Bisik Naya.

Salsa mengangguk cepat.

"Iya! Pulang! Kita pulang sekarang!" Ajak Salsa lagi.

Naya mendekatkan bibirnya ke telinga Salsa. Sangat dekat.

"Aku nggak bisa pulang, kak."

Deg.

Salsa langsung menegang.

"Apa maksud kamu?"Tanya Salsa cepat.

Naya tidak menjawab. Pelukannya justru makin erat. Terlalu erat. Sampai… Salsa mulai kesulitan bernapas.

"Naya??" Suaranya mulai panik namun pelukan itu tidak dilepas justru makin kuat.

"Kak."

"Apa?" Tanya Salsa mencoba mendorong tubuh Naya tapi tidak bisa. Tenaganya kalah jauh dengan tenaga Naya.

"Kakak gak peduli sama aku." Bisik Naya.

"Kakak peduli sama kamu makanya kamu nyari kamu ke sini!" Seru Salsa menolak apa yang di katakan Naya.

"Dia yang bilang." Ujar Naya.

Salsa gemetar, "Siapa?"

Naya menoleh ke arah Pak Dermawan yang sejak tadi hanya berdiri menonton.

"Semua ada harganya." Ucap Pak Dermawan tenang.

Salsa langsung mendorong Naya sekuat tenaga. Kali ini berhasil, dia mundur cepat. Napasnya memburu.

"Apa yang anda lakukan?!" Teriak Salsa dengan marah.

Pak Dermawan menghela napas pelan, "Bukan saya, Naya sendiri yang mau."

Salsa menggeleng keras, "Bohong!"

"Tanya saja." Ujar Pak Dermawan tanpa berpikir panjang.

Salsa menoleh ke Naya, tubuh itu berdiri diam. Seperti patung boneka.

"Naya, stop! Ini nggak lucu." Tegas Salsa yang sudah mulai kesal.

Naya tersenyum lagi, "Aku capek, kak."

Air mata Salsa jatuh lagi.

"Aku capek sakit, aku capek takut, aku capek sendiri di rantau ini." Ujar Naya yang terdengar sangat amat pilu.

Langkah Naya maju satu, "Aku sudah mati kak, aku yang memilih jalan itu."

Salsa mundur satu langkah.

"Bukan dengan cara ini!" Bentak Salsa, "Ini bukan Naya!"

Naya lalu tertawa kecil namun terdengar sinis, tawa yang bukan milik Naya.

Salsa yang panik mengambil bangku mengangkatnya lalu melemparkannya ke tubuh Naya yang tiba-tiba menghilang. Salsa kaget bukan main dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.

"Lihat, itu arwah Naya." Ujar Pak Dermawan dengan santainya.

Salsa menghapus air matanya dengan kasar lalu tertawa menantang, " Anda bisa membohongi siapa saja dengan tipuan sulap itu Pak Dermawan tapi tidak dengan saya karna saya adalah Kakaknya Naya."

Salsa menutup koper itu, mengambil 2 amplopnya balik dan mengambil cek 300 juta itu dari atas meja.

Pak Dermawan hanya memperhatikannya saja.

"Jika anda benar-benar ingin mengklaim Naya sudah mati dengan cek 300 juta ini, saya akan mengambil cek 300 juta ini untuk membuktikan bahwa perkataan anda salah." Ujar Salsa dengan begitu percaya dirinya.

Pak Dermawan tersenyum tipis, "Ambil saja cek itu karna Naya memang sudah mati."

"Dan jika Naya memang sudah mati, saya sebagai satu-satunya keluarga Naya akan bersumpah untuk menghancurkan anda dan seluruh istana anda rata sampai ke tanah. Sisa hidup saya akan saya curahkan untuk menghancurkan kehidupan anda dan generasi anda. Ingat baik-baik itu Pak Dermawan." Ancam Salsa memberikan sumpah serapah, dia tidak main-main.

"Lakukan." Balas Pak Dermawan tidak takut.

Salsa menyobek cek 300 juta itu dihadapan Pak Dermawan yang mulai datar menatapnya.

"Tidak butuh uang anda untuk menghancurkan anda. Saya sendiri yang akan datang kepada anda." Ucap Salsa dengan kedua tatapan mata menantang.

Salsa membawa kembali kopernya, dan membuka pintu ruangan Pak Dermawan yang ternyata bisa terbuka. Salsa pergi melangkah dari sana meski hatinya masih sakit mendapati fakta jika Naya benar-benar tidak di perlakukan dengan baik di rumah makan ini. Andai dia menyelamatkan Naya saat Naya meneleponnya kemarin, andai saja waktu bisa terulang. Salsa hanya bisa mengerang kesal.

Rumah makan nampak ramai, para karyawan nampak sibuk memberikan pelayanan. Salsa memperhatikan mereka semua satu persatu sebelum akhirnya pergi dari rumah makan itu.

Nikmah satu-satunya yang memperhatikan Salsa melangkah pergi dari rumah makan ini.

_

Nesya sedang memotong bawang untuk dimasak.

"Arghh.." Jeritnya saat tangannya tersayat pisau, dan darah keluar mengalir cepat dari jempolnya.

Zuan yang melihat itu merasa puas, "Rasain."

Nesya kaget dengan kata-kata Zuan yang menurutnya sangat tidak manusiawi.

"Makanya jangan terlalu lancang bawa-bawa orang masuk ke ruangan pribadi Pak Dermawan." Ujar Zuan yang juga sedang memotong wortel.

Nesya memperhatikan Zuan seolah tidak peduli lagi dengan luka di jempolnya lagi, ada yang salah dengan Zuan.

"Apa maksud lu, Zuan?!" Nesya marah.

"Mbak kamu gak akan selamat kalau begini caranya." Ujar Zuan menoleh pada Nesya dengan senyuman tipis.

_

"Rosa jaga rumah makan." Ujar Gian.

"Kemana kamu?" Tanya Rosa.

"Menyiapkan tumbal untuk Bintaro." Balas Gian lalu pergi meninggalkan Rosa yang sedang berada di meja kasir.

Rosa hanya diam, entah siapa karyawan yang sudah melanggar peraturan sekarang namun dia tiba-tiba terpaku saat pikirannya tertuju kepada satu nama yaitu teman sekamarnya.

"Tidak mungkin itu Naya."

_

Rumah makan saat itu sedang ramai namun tidak dengan Zuan yang sudah mengikat Nesya di dapur. Mulutnya di rekat dengan lem oleh Zuan yang sudah muak. Tubuh Nesya yang tidak sadarkan diri terbaring di lantai.

Pintu dapur terbuka, Nikmah disana memperhatikan apa yang sedang Zuan lakukan kepada Nesya namun Nikmah terlihat biasa saja dengan pemandangan itu.

"Ada pesanan nasi rendang ayam, dan teh manis, antar ke meja 25." Ujar Nesya meletakkan selembar catatan di atas meja.

Zuan berdiri melap kedua tangannya di bajunya lalu mengambil selembar kertas kecil itu, dan mulai menyiapkan pesanannya.

"Itu aja?" Tanya Agus yang juga sedang menanyakan pesanan pelanggan.

Nikmah melirik Agus yang sedang berjalan ke dapur.

Agus membuka pintu dapur, "Ada pesanan nasi soto sama ko-"

Pandangan Agus tertuju pada Nesya yang sudah di ikat, ada darah di lantai. Kedua mata Agus terbelalak bukan main. Agus pun jatuh pingsan membuat Zuan hanya dapat mendenguskan nafas kesal.

Zuan menarik kedua kaki Agus untuk berbaring di lantai tengah dapur lalu mengantarkan pesanan nasi rendang.

"Meja 25 pesanan nasi rendang?" Tanya Zuan yang menutup pintu dapur.

"Makasih Mas."

"Sama-sama cantik." Balas Zuan melempar senyumannya membuat wanita itu kegirangan.

Nikmah nampak sedang melayani pelanggan yang membayar dengan tawa ramahnya. Semuanya tampak normal diluar namun tidak dengan dapur yang sedang chaos.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!