Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Tetapi karena orang yang mengambilnya adalah seseorang yang pernah ia percaya sepenuh hati.
***
Hari mediasi akhirnya tiba. Sejak pagi perut Amira terasa tidak nyaman. Tangannya dingin. Meski semalaman ia mencoba menenangkan diri dengan istigfar dan salat, tetap saja ada rasa takut menghadapi pertemuan itu. Karena hari ini untuk pertama kalinya ia akan kembali bertemu dengan Mirza setelah semuanya terbongkar.
Umi Salma ikut mengantar Amira sampai depan pengadilan agama. Sebelum turun dari mobil, beliau menggenggam tangan Amira erat. “Ingat…” suaranya lembut namun tegas, “kamu tidak sendiri.”
Amira mengangguk kecil.
Sementara di sampingnya, Pak Farhan dan Bu Ajeng selaku pengacara sudah menyiapkan berkas-berkas gugatan.
Begitu masuk ke ruang mediasi, langkah Amira langsung terasa berat. Dan di sana Mirza sudah duduk menunggu. Wajah lelaki itu tampak jauh lebih kusut dibanding terakhir kali mereka bertemu. Tubuhnya lebih kurus. Matanya cekung seperti kurang tidur.
Namun anehnya melihat keadaan itu tidak lagi membuat Amira ingin memeluk atau mengkhawatirkannya seperti dulu. Yang tersisa hanya lelah.
Mirza langsung berdiri begitu melihat Amira. “Mira…” Suara lelaki itu terdengar penuh penyesalan.
Namun Amira hanya menunduk singkat lalu duduk di kursinya. Menjaga jarak.
Mediasi dimulai. Mediator mencoba bicara dengan tenang tentang kemungkinan berdamai. Tentang mempertahankan rumah tangga. Tentang kesempatan memperbaiki kesalahan. Dan sepanjang itu pula Mirza terus menatap Amira dengan mata memohon.
“Aku benar-benar taubat, Mira…” Suaranya serak. “Aku menyesal.”
Amira diam. Tangannya menggenggam ujung jilbab kuat-kuat di bawah meja.
“Aku enggak bisa kehilangan kamu.” Air mata Mirza mulai jatuh. “Aku siap memperbaiki semuanya.”
Amira memejamkan mata sebentar. Dulu kalau Mirza menangis seperti ini, hatinya pasti langsung luluh. Tetapi sekarang rasanya berbeda. Karena luka itu terlalu dalam.
“Mira…” suara Mirza makin putus asa, “tolong kasih aku kesempatan.”
Dan sebelum Amira sempat goyah oleh rasa iba Pak Farhan lebih dulu membuka suara. “Klien kami sudah mengalami kerugian batin yang sangat besar.” Nada suaranya tenang namun tegas. “Perselingkuhan yang terjadi bukan kesalahan sesaat, melainkan hubungan berulang hingga menyebabkan kehamilan pihak ketiga.”
Ruangan langsung hening. Mirza menunduk. Sementara Amira perlahan merasa sedikit lebih kuat. Karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang membantunya berbicara ketika dirinya terlalu lemah.
Pak Farhan melanjutkan, “Bu Amira menghargai penyesalan Saudara Mirza. Namun memaafkan tidak selalu berarti melanjutkan pernikahan.”
Kalimat itu membuat mata Amira langsung panas. Mirza kembali menatap Amira putus asa. “Aku masih cinta sama kamu, Mira…”
Dan akhirnya Amira mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang. Namun begitu lelah. “Kalau Mas benar cinta sama aku…” suaranya lirih, “…Mas enggak akan menghancurkan aku seperti ini.”
Sesi mediasi berakhir tanpa hasil. Keputusan Amira tetap sama. Ia ingin berpisah. Dan itu membuat wajah Mirza terlihat semakin hancur.
Saat Amira keluar dari ruang mediasi bersama Pak Farhan, langkahnya berusaha tetap tenang meski dadanya terasa berat. Namun baru beberapa langkah Mirza mengejarnya.
“Mira… tunggu.”
Amira berhenti. Perlahan ia menoleh.
Wajah Mirza penuh air mata sekarang. Tidak ada lagi wibawa seorang ustad kampung yang dulu sering bicara soal agama di mimbar. Yang tersisa hanya lelaki kacau yang ketakutan kehilangan segalanya. “Mira…” suaranya serak, “harus bagaimana lagi caranya meluluhkan hati kamu?”
Amira diam.
Mirza melangkah mendekat sedikit. “Aku sudah minta maaf.” Tangannya gemetar. “Aku sudah mengaku salah.” Matanya merah penuh putus asa. “Aku bahkan siap melakukan apa pun.”
Amira menggigit bibir pelan. Karena bagaimanapun dulu ia pernah sangat mencintai lelaki ini.
Tetapi sebelum hatinya kembali goyah, Mirza melanjutkan dengan suara pecah, “Ibu…”
Amira langsung terdiam.
“Kasihan ibu…” Air mata Mirza jatuh lagi. “Ibu enggak butuh perempuan lain jadi menantu.” Dadanya naik turun menahan tangis. “Kalau kamu pergi… siapa yang akan menjaga ibu?”
Amira langsung memalingkan wajah. Karena itu memang titik terlemahnya. Ibunya Mirza. Perempuan yang selama ini begitu baik padanya. Yang membelanya mati-matian. Yang bahkan memilih dirinya dibanding anak kandung sendiri.
“Ibu enggak akan mau disentuh Nurul…” Suara Mirza makin lirih. “Ibu cuma mau kamu.”
Kalimat itu akhirnya membuat air mata Amira jatuh lagi. Dadanya sesak. Sangat sesak. Karena memang benar ia juga memikirkan perempuan tua itu. Namun perlahan Amira mengusap air matanya sendiri. Lalu kembali menatap Mirza. Tatapannya lembut. Tetapi kali ini penuh ketegasan “Mas…” suaranya pelan, “dari dulu aku selalu memikirkan orang lain.”
Mirza terdiam.
“Aku bertahan demi ibu.”
“Aku bertahan demi rumah tangga.”
“Aku bertahan demi menjaga nama baik.”bNapas Amira bergetar. “Tapi akhirnya aku hancur sendiri.”
“Dan sekarang…” air matanya turun lagi, “untuk pertama kalinya aku mau memilih diri aku sendiri.”
Mirza langsung menangis semakin keras.
Namun Amira melanjutkan pelan, “Kalau ibu sedih…” tatapannya jatuh lelah, “…itu bukan karena aku pergi.” Amira menatap Mirza lurus. “Tapi karena Mas menghancurkan semuanya.”
Kalimat itu membuat Mirza seolah kehilangan kekuatan. Tubuh lelaki itu melemah.
Sementara Amira akhirnya berbalik pergi. Langkahnya masih gemetar. Namun untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu ia berjalan tanpa kembali menoleh pada lelaki yang pernah menjadi pusat hidupnya.
***
Malam itu Amira tidak bisa tidur. Meski tubuhnya lelah setelah menghadiri sidang mediasi, pikirannya terus berputar tanpa henti.
Kamar ndalem sudah gelap dan tenang. Habibi pun sejak tadi tertidur pulas di kamar sebelah. Namun Amira masih duduk sendiri di tepi ranjang sambil memeluk lututnya. Dan semakin malam bayangan tentang ibu mertuanya terus muncul di kepala.
Perempuan tua itu sangat baik padanya. Terlalu baik malah. Air mata Amira perlahan jatuh lagi. Karena sejak menikah dengan Mirza, justru ibunya lah yang paling sering menjadi tempat Amira bersandar.
Saat ekonomi mereka sulit, ibu itu yang diam-diam membantu. Saat Amira hamil dan ngidam, beliau yang repot mencarikan makanan. Saat Amira keguguran dan depresi dulu, beliau juga yang menemani menangis. Bahkan ketika semua orang menyalahkan Amira karena belum punya anak ibunya Mirza berdiri paling depan membela dirinya. Dan ketika pengkhianatan itu terbongkar perempuan tua itu memilih Amira. Bukan anak kandungnya sendiri.
Dada Amira terasa semakin sesak mengingat semuanya. “Kalau aku benar-benar cerai…” gumamnya lirih, “…ibu pasti sendirian.” Ia tahu bagaimana keadaan rumah itu nanti.
Mirza kemungkinan akan bersama Nurul. Dan ibunya Mirza tidak mungkin bisa menerima semua itu dengan mudah. Apalagi setelah rasa kecewa sebesar kemarin.
Amira menutup wajahnya sambil menangis pelan. Karena inilah yang paling sulit. Bukan meninggalkan Mirza. Tetapi meninggalkan perempuan yang sudah ia anggap ibu sendiri. Perempuan yang memijatnya saat demam. Yang menangis ketika cucunya meninggal. Yang berkata, “meski nanti bukan menantu, kamu tetap anak ibu.”