NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

Hujan perlahan mereda, menyisakan gerimis tipis yang hampir tak terasa. Namun, langit masih pekat oleh awan kelam, beriringan dengan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Seolah-olah, redanya badai tadi hanyalah sebuah jeda singkat sebelum semesta benar-benar mengizinkan kehancuran itu terjadi.

Saat hujan deras mengguyur tadi, Bulldog hanya diam menunggu. Begitu gerimis menyeka bumi, pria itu akhirnya bergerak.

Aurora yang baru saja tiba di panti asuhan langsung tertegun. Di halaman depan, Bulldog tampak duduk santai di kursi taman sembari melemparkan perintah kepada para anak buahnya.

Wajah orang-orang itu terlihat bengis, sarat akan ancaman. Beberapa di antaranya memanggul palu besar, sementara yang lain mulai mengepung area bangunan.

Tak jauh dari sana, sebuah ekskavator berukuran sedang merayap masuk dari arah jalanan menuju pekarangan. Deru mesinnya terdengar mengerikan, siap meratakan bangunan tersebut kapan saja.

Aurora terpaku di tempat. Tubuhnya masih basah kuyup, kedua lututnya berdarah, dan wajahnya menyiratkan keputusasaan yang mendalam.

Namun, saat matanya menangkap sosok para suster dan anak-anak yang saling berpelukan erat dalam tangis ketakutan, hatinya kian hancur lebur.

Begitu menyadari kehadiran Aurora, tatapan anak-anak itu seketika berubah, seolah baru saja menemukan secercah harapan terakhir.

“Elynnn…!!”

Pekikan itu pecah. Detik berikutnya, anak-anak tersebut berhamburan lari ke jalan dan langsung mendekap tubuh Aurora sambil menangis histeris.

Aurora mematung. Ia bisa merasakan jemari-jemari kecil itu mencengkeram pakaiannya dengan erat, seolah takut kehilangan satu-satunya pelindung yang mereka miliki.

Kini mereka benar-benar kehabisan waktu.

Bulldog telah melanggar kesepakatan secara sepihak. Pria itu datang jauh lebih cepat dari jadwal yang dijanjikan, menghancurkan segala rencana. Jangankan menyelamatkan panti, Aurora bahkan tidak memiliki sedetik pun kesempatan untuk menjalankan rencana cadangannya: yaitu menemui Alexander Ridge.

Aurora mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keputusasaan yang pekat perlahan merayap, menelannya hidup-hidup dalam ketidakberdayaan.

Menyadari kehadiran Aurora, Bulldog perlahan bangkit dari kursi taman. Dengan gestur yang terlampau santai, pria bertubuh besar itu melangkah mendekati Aurora dan kerumunan anak panti.

Setiap derap langkah sepatunya yang berat terasa berdentum di dada, memberi tekanan psikologis yang tak kasat mata untuk Aurora.

Melihat ancaman yang mendekat, naluri keibuan para suster bangkit. Mereka segera berlari, memosisikan diri di depan Aurora dan anak-anak. Dengan tubuh-tubuh yang mulai ringkih, para suster membentuk barisan rapat, sebuah tameng manusia yang rapuh namun penuh ketulusan.

Ketika Bulldog berhenti tepat di hadapan barisan itu, keheningan mencekam sesaat pecah oleh tawa keras yang menggelegar.

“Hahaha!”

Tatapannya menyapu wajah para suster satu per satu dengan binar penuh ejekan. “Kalian berlebihan sekali,” ucapnya, menyeringai hingga deretan giginya yang tidak rapi terlihat. “Aku tidak akan menyeret Aurora secara paksa untuk menikah denganku.”

Bulldog menjeda kalimatnya. Detik berikutnya, seringai itu lenyap tanpa bekas, digantikan oleh gurat wajah dingin yang mengintimidasi.

“Tapi…” lanjutnya dengan suara bariton yang merendah, “aku bisa membuat gadis ini memohon sendiri untuk menjadi istriku.”

Udara di sekitar mereka seolah membeku. Atmosfer pekarangan panti kini terasa begitu mencekam hingga memicu sesak.

“Katakan sekarang…” Suara Bulldog berubah menjadi seringan seringai iblis, namun sarat akan tekanan. “Apa keputusanmu, Aurora?”

Mata pria itu menghunus tajam, mengunci manik mata Aurora. “Pikirkan baik-baik sebelum penyesalan menjemputmu. Karena jika jawabanmu salah…” Bulldog menoleh sekilas ke arah ekskavator di belakangnya, “aku akan memerintahkan bajingan-bajingan itu untuk meratakan tempat ini. Sekarang juga.”

“Kau tahu nasib mereka tergantung dari keputusan apa yang akan kau buat.” Kata Bulldog lagi.

Ancaman Bulldog yang konkret. Lalu mesin ekskavator di belakangnya meraung lebih keras, seolah memberi validasi atas ucapan pria brengsek itu.

Aurora membeku di tempat. Kata-kata Bulldog bagai hantaman di dada yang tak terlihat dan meremukkan sisa pertahanannya.

Di sekelilingnya, tangisan anak-anak pecah menjadi histeria yang memilukan. Para suster mulai panik, mereka berbalik dan bergantian membujuk Aurora dengan suara bergetar.

“Jangan, Aurora… jangan dengarkan dia…” Kata Suster Paulin.

“Kau tidak boleh mengorbankan masa depanmu untuk bajingan ini…” Kata Sister Magdalena.

“Kita akan pergi dari sini, kita pasti bisa mencari cara lain…” Suster Teresa juga.

Namun, suara-suara panik dan tangisan yang tumpang-tindih itu justru menjelma menjadi dengungan pekak di telinga Aurora.

Kepalanya terasa berputar hebat, dihantam oleh kenyataan pahit dan rasa sakit dari luka di lututnya yang kian berdenyut.

Oksigen di sekitarnya seolah menipis. Pandangan mata Aurora mulai mengabur, menyisakan bayangan hitam yang perlahan mengikis kesadarannya. Tubuhnya hampir limbung, dan ia tahu, pertahanan fisiknya akan tumbang kapan saja.

Namun, ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk pingsan. Sekeras mungkin Aurora bertahan agar tetap sadar.

———

Di belahan sisi yang lain, iring-iringan mobil mewah milik Aragon masih melaju konstan, membelah jalanan aspal yang basah dan berkilat oleh sisa hujan. Suasana di dalam kabin mobil utama begitu pekat oleh kesunyian. Tak ada seorang pun yang berani bersuara atau sekadar menggeser posisi duduk.

Aragon duduk tenang di kursi penumpang bagian belakang dengan kaki tersilangkan sempurna.

Meski hari masih sore namun awan mendung membuat seluruh Kota S menjadi gelap meski hujan telah reda, namun seolah-olah kegelapan kali ini menandakan akan segera terjadi badai.

Pancaran lampu merkuri jalanan sesekali menembus kaca jendela yang gelap, menyinari sekilas pahatan wajahnya yang tegas dan dingin sebelum kembali tenggelam dalam bayang-bayang.

Tanpa diduga, sebuah instruksi keluar dari bibirnya, memecah keheningan dengan begitu mendadak.

“Kirimkan semua biaya kerusakan mobil itu kepada gadis tadi.”

Hank, yang duduk di kursi depan sebelah pengemudi, refleks menegakkan punggungnya. “Baik, Tuan,” jawabnya cepat tanpa bertanya lebih jauh.

Namun, setelah jawaban singkat itu, atmosfer di dalam mobil justru terasa kian memberat. Insting Hank yang tajam menangkap ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap tuannya malam ini.

Aragon bukanlah pria yang akan membuang waktu hanya untuk mengurusi ganti rugi dari orang asing yang ingin mencuri perhatiannya.

Dan benar saja. Aragon perlahan mengalihkan pandangannya. Sepasang mata elang itu kini tertuju lurus pada Hank. Melalui spion tengah, Hank bisa melihat tatapan dingin sang tuan terkunci padanya, sebuah tatapan intimidatif yang seketika membuat bulu kuduknya meremang.

Hank menelan ludah, mengatur suaranya agar tetap terdengar profesional saat bertanya, “Ya, Tuan?”

“Cari tahu semua hal tentang gadis itu,” perintah Aragon datar, nyaris berupa bisikan, namun sarat akan titah yang tak boleh dibantah. “Lalu kirimkan seluruh tagihan biaya kerusakan padanya, tanpa dikurangi satu peser pun.”

Hank sedikit terkejut dengan perubahan perintah yang mendadak ini. “Sekarang, Tuan?” tanyanya memastikan.

Aragon tidak menjawab langsung. Ia justru memalingkan wajahnya kembali menatap jalanan di luar jendela. “Lupakan saja,” desisnya dingin. “Sepertinya kau sedang cukup sibuk hingga harus mempertanyakan perintahku.”

Bersambung

1
Rainn G.
Calon istri ga tuh 🗿
Rainn G.
Mau kasian tapi lebih kasian diriku 😭
Rainn G.
What? Sakit banget
Rainn G.
Psikotes banget tapi suka 🔥💅🏻
Rainn G.
Manly guys
Rainn G.
Asikk ributtt 🔥
Rainn G.
Merajuk ke? 😂
Rainn G.
Marahin aja marahin 😏
Rainn G.
Iyalah orang jodohnya wkwk
Rainn G.
Makanya jaga jarak 😑
Rainn G.
Padahal omongin aja langsung ra siapa tau bisa sampein
Anggitadama
Aku tungguin lho kok blm up kak?
Anggitadama
belum up ua kak
Anggitadama
keren sekali up lagi
Anggitadama
up lagi
Arumi Hanza
seru lanjut lagi novelnya
Arumi Hanza
lanjutkan update
Luna.aluna
aku sudah tebar koin untuk kakak semoga kakak senang jadi kakak semangat untuk update selanjutnya karena novel kakak bagus sekali
Luna.aluna
Kak apakah kakak tahu novel kakak sangat aku tunggu-tunggu sekali
Bangun Hanjaya
tolong jangan lama-lama up again
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!