Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Awal yang mengganggu
Gina larut dalam pesta.
Ia tertawa bersama Siva, sesekali bercanda dengan Dio yang seperti biasa tak bisa diam.
Suasana di sekelilingnya ramai, hangat, dan hidup.
Namun di sela-sela itu, matanya beberapa kali tanpa sadar mencari satu sosok.
Azmi.
Lelaki itu berdiri di tengah keramaian, sibuk menyapa tamu, tersenyum, berbicara dengan orang-orang yang datang. Terlihat wajar… seperti memang tempatnya di sana.
Gina terdiam sejenak.
Pikirannya kembali ke momen tadi—saat Azmi mendekat tanpa banyak bicara, hanya mengajak, hanya berdiri di sampingnya.
Entah kenapa…
Hatinya perlahan membaik.
Dan di situlah ia sadar—
Ia mulai menyukai Azmi.
Tapi sekaligus… ia juga tahu harus menahan diri.
Ia ingat momen hujan itu.
Ingat perjalanan sepulang sekolah tadi.
Dan ia juga ingat… bagaimana Azmi beberapa kali terlihat berusaha mendekati Rahmalia.
Azmi orang baik.
Rahmalia juga.
Di mata siapa pun… mereka terlihat cocok.
Gina tahu itu.
Tapi hatinya tetap keras kepala.
Ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam berharap… orang yang Azmi lihat bukan Rahmalia.
Melainkan dirinya.
Ia menghela napas pelan, mencoba menepis pikiran itu. Tangannya meraih segelas minuman yang tersusun rapi di meja pesta.
Ia meneguk sedikit, lalu menatap ke arah keramaian.
Namun setiap beberapa detik, pikirannya kembali terseret ke kejadian tadi—tanpa bisa ia tahan.
...----------------...
Pesta masih berlangsung. Musik berganti. Orang-orang tertawa.
Tak lama, Dio muncul di sampingnya.
“Tadi kalian ngomongin apa?” tanyanya tiba-tiba, matanya menyipit penuh curiga.
Gina menoleh, lalu tersenyum usil.
“Apa sih… kepo mulu urusan orang.”
Dio langsung melotot, kaget.
“Heh, gue cuma mau ngingetin lo,” balasnya cepat.
“Kayaknya dia bukan cowok yang baik deh.”
Gina tertawa kecil. Tangannya terangkat, menunjuk pipi Dio sambil menggoda.
“Sejak kapan kamu perhatian sama aku?” godanya.
“Bukan karena dia deketin Ica ya?”
Wajah Dio langsung memanas.
“Enggak! Bukan itu,” bantahnya cepat.
“Gue emang peduli sama lo. Lo kan sahabat gue.”
Gina mengangkat alis, masih menahan senyum.
“Udah lah, Yo. Aku sama Siva juga tau kok… dari dulu kamu suka sama Ica.”
“Kata siapa?” balas Dio refleks.
“Kamu tuh tipe yang nggak bisa nyembunyiin perasaan kamu,” ucap Gina santai.
“Aku sama Siva aja yang pura-pura nggak lihat.”
Ia lalu menatap Dio sedikit lebih serius.
“Tapi kamu juga tau kan… Ica itu nggak pernah merhatiin cowok. Di kepalanya cuma belajar sama nyanyi. Yang lain… nggak masuk.”
Dio terdiam.
Kalimat itu sederhana… tapi tepat.
Rahmalia memang selalu seperti itu.
Menjaga jarak.
Membatasi diri.
Tidak pernah memberi ruang untuk siapa pun mendekat terlalu jauh.
Dan selama ini… Dio percaya itu.
Percaya kalau Rahmalia memang tidak mungkin dekat dengan siapa pun.
Termasuk Azmi.
Perlahan, ia menghembuskan napas.
Mungkin… kekhawatirannya berlebihan.
Mungkin kemungkinan Rahmalia didekati Azmi… memang hampir nol.
Karena Rahmalia—
selalu punya dinding yang tak mudah ditembus siapa pun.
Gina memikirkan hal yang sama.
Ia berharap Rahmalia tetap seperti biasanya—tetap menjaga jarak, tetap memegang pendiriannya, dan tidak membuka hati untuk siapa pun… termasuk Azmi.
Harapan yang terdengar egois.
Tapi jujur.
Di sudut hatinya, Gina diam-diam membayangkan satu kemungkinan kecil—
bahwa suatu hari Azmi akan ditolak.
Dan kalau itu terjadi…
mungkin akan ada ruang kosong yang tertinggal.
Ruang yang… tanpa sadar ingin ia isi.
Bukan karena ingin merebut siapa pun.
Tapi karena perasaannya pada Azmi sudah terlanjur tumbuh—pelan, diam-diam, tanpa pernah ia rencanakan.
...----------------...
Tak lama setelah pikiran mereka sama-sama tenggelam, sebuah mobil putih berhenti di depan halaman.
Pintunya terbuka.
Seorang perempuan berkerudung turun pelan, mengenakan gaun putih sederhana yang jatuh rapi di tubuhnya. Tidak mencolok, tapi entah kenapa justru membuatnya terlihat menonjol di tengah keramaian.
Rahmalia.
Ia turun bersama kedua orang tuanya. Senyumnya tenang, sederhana—tapi cukup untuk membuat suasana di sekitar pintu masuk seakan mereda sejenak.
Gina melirik ke samping.
Dio berdiri dengan mulut sedikit terbuka, matanya terpaku ke arah Rahmalia tanpa berkedip.
Gina menahan senyum, lalu menyenggol siku Dio pelan.
“Biasa aja liatnya,” bisiknya usil.
Dio langsung panik. Tangannya refleks menutup mulut yang tadi sempat melongo, pura-pura batuk kecil.
“Apaan sih…” gumamnya, salah tingkah.
Namun belum sempat suasana itu kembali cair—
dari kejauhan, Azmi sudah berjalan menghampiri Rahmalia lebih dulu.
Langkahnya tenang, senyumnya terangkat tipis saat menyapa.
Rahmalia yang melihatnya langsung tampak sedikit salah tingkah. Bahunya menegang sesaat, tangannya refleks merapikan ujung kerudung, lalu ia membalas senyum itu dengan canggung—seolah tak menyangka Azmi akan datang lebih dulu menghampirinya.
Tangan Gina yang sejak tadi memegang gelas tanpa sadar mengeras. Jemarinya mencengkeram lebih kuat.
Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman.
Salah.
Sulit dijelaskan, tapi nyata.
Di sisi lain, Dio ikut memperhatikan arah yang sama. Tatapannya bergeser dari Rahmalia… ke Azmi… lalu kembali lagi.
Rahangnya menegang.
Dan untuk pertama kalinya sejak Rahmalia datang—
kehadiran Azmi di dekat gadis itu terasa mengganggunya.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔