Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Malam Saat Topeng Jatuh
Langit malam menggantung gelap tanpa bulan.
Awan tebal menutup cahaya bintang, membuat halaman belakang dapur istana tampak lebih sunyi dari biasanya.
Song An berdiri di balik dinding batu rendah bersama Selir Li dan Selir Zhang. Mereka mengenakan jubah sederhana warna gelap, rambut ditutup kain tipis.
“Aku merasa seperti mau mencuri ayam,” bisik Selir Zhang.
Song An meliriknya. “Kalau ketahuan, kita memang akan lari seperti pencuri.”
Selir Li menahan senyum gugup. “Aku masih tidak percaya kita benar-benar ikut langsung.”
“Karena kita yang mengenal gerak-geriknya,” jawab Song An pelan. “Kalau ada yang aneh, kita bisa lihat.”
Tak jauh dari sana, Kaisar Shen berdiri dalam bayangan pohon besar bersama kepala pengawal elit. Ia juga berpakaian sederhana, tanpa jubah kebesaran.
Malam ini, tidak ada kaisar yang ada hanya seorang pria yang ingin melihat sendiri wajah pengkhianat di istananya.
-----
Lampu gudang kecil belakang dapur menyala redup.
Beberapa pelayan keluar masuk membawa keranjang.
Lalu Luo Han muncul.
Langkahnya tenang seperti biasa. Ia membawa gulungan daftar di tangan.
Selir Li tanpa sadar mencengkeram lengan Song An. “Itu dia…”
Song An mengangguk kecil. “Tunggu.”
Luo Han masuk ke gudang.
Beberapa menit berlalu.
Lalu pintu samping terbuka pelan.
Seorang pelayan muda keluar, membawa keranjang kosong.
Kepala pengawal memberi isyarat halus.
Dua bayangan langsung mengikuti pelayan itu dari kejauhan.
“Sekarang Tuan Luo,” gumam Kaisar Shen pelan.
----
Di dalam gudang, Luo Han tidak langsung keluar.
Ia membuka peti kecil di sudut ruangan, mengeluarkan kantong kain kecil.
Song An menyelinap mendekat bersama dua selir lain sampai ke celah dinding kayu.
Mereka bisa melihat dari sela papan.
Luo Han mengambil keping kayu tipis bertanda L, lalu memasukkannya ke dalam kantong bersama secarik kertas kecil.
“Cepatlah…” bisiknya sendiri.
Pintu belakang diketuk pelan.
Tiga ketukan pendek. Dua panjang.
Luo Han membuka.
Seorang pria berjubah gelap berdiri di luar.
Bukan pelayan istana.
Bukan pedagang biasa.
Lambang kecil logam di ikat pinggangnya berkilat samar.
Song An menahan napas.
“Utusan asing,” bisiknya.
-----
Begitu kantong berpindah tangan “SEKARANG.” Suara Kaisar Shen terdengar tegas dari kegelapan.
Penjaga elit muncul dari segala arah.
Utusan asing mencoba lari, tapi langsung dijatuhkan.
Luo Han membeku di tempat, wajahnya pucat.
“A-apa ini…?” suaranya gemetar.
Kaisar melangkah maju ke cahaya lampu gudang.“Ini akhir dari sandiwara panjangmu, Luo Han.”
Mata pria itu membelalak. “Yang Mulia… saya tidak mengerti…”
Song An masuk ke dalam, diikuti Selir Li dan Selir Zhang.
Ia menunjuk kantong kain di tangan penjaga.
“Termasuk itu?”ujar Song An
Penjaga membuka isinya.
Keping kayu tanda L.
Peta jalur sungai.
Dan surat kecil bersegel asing.
Luo Han terdiam.
Topeng sopannya retak.
Wajah Asli
“Aku sudah melayani istana sejak muda…” katanya lirih.
“Dan mengkhianatinya bertahun-tahun,” balas Kaisar dingin.
Luo Han tertawa pelan, putus asa.“Negeri ini lemah… cepat atau lambat akan jatuh. Aku hanya memilih berdiri di sisi yang menang.”
Song An menggeleng. “Tidak. Kau memilih sisi yang menguntungkanmu.”
Selir Li menatapnya dengan marah yang jarang terlihat.“Banyak orang mati karena jaringanmu.”
Selir Zhang mengepalkan tangan. “Dan kau masih menyebut ini pilihan pintar?”
Luo Han memalingkan wajah.
Tidak ada pembelaan lagi.
-----
Di ruang interogasi, Luo Han akhirnya bicara.
Ia menyebut nama pejabat kecil, pedagang, kurir sungai, bahkan penjaga gerbang luar yang sudah dibeli.
Jaringan itu luas.
Tapi tanpa dia, semuanya terputus.
“Utusan asing itu wakil dari kerajaan barat,” kata kepala pengawal setelah memeriksa segel surat. “Mereka menjanjikan dukungan pasukan jika pemberontakan dalam negeri berhasil.”
Kaisar Shen berdiri lama tanpa bicara.
Song An menatapnya. “Yang Mulia?” ia menghembuskan napas panjang.“Setidaknya sekarang kita tahu bentuk musuh kita.”
-----
Saat semuanya selesai, fajar mulai menyentuh langit.
Song An duduk di tangga batu luar paviliun bersama Selir Li dan Selir Zhang.
Mereka lelah, tapi mata mereka terang.
“Kita benar-benar melakukannya,” bisik Selir Zhang.
Selir Li tersenyum sambil menatap langit yang mulai biru.
“Untuk pertama kalinya aku merasa… masa depan itu nyata.”
Song An menyandarkan kepala ke tiang kayu.“Dan kita masih hidup. Itu bonus besar.”
Mereka tertawa pelan.
-----
Tak lama, Kaisar Shen datang.
Kali ini tanpa penjaga.
Ia duduk di anak tangga lebih rendah dari mereka.
“Terima kasih,” katanya sederhana.
Selir Li dan Zhang saling pandang, lalu tersenyum kecil.
Song An memiringkan kepala. “Yang Mulia jarang bicara seperti itu.”
“Aku belajar,” jawabnya.
Hening sejenak, tapi nyaman.
“Perjalanan masih belum selesai,” kata Kaisar pelan.
“Tapi malam ini… kita memotong akar terbesarnya.”
Song An mengangguk. “Dan kali ini, tidak ada lagi bayangan tanpa wajah.”
Matahari naik perlahan.
Cahaya pagi menyentuh halaman istana.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama
Istana terasa lebih ringan.
Dan di antara cahaya itu,
empat orang duduk bersama tanpa jarak status,
menikmati kemenangan kecil yang menyelamatkan negeri.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....