Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Nama yang Mulai Terlihat
Ruang interogasi masih sunyi setelah Gu Wei pingsan.
Lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin malam.
Song An berdiri bersandar di meja, menatap pria yang terikat itu dengan wajah datar.
Kaisar Shen memecah keheningan.
“Dia bukan pemimpin.”
“Ya,” jawab Song An pelan. “Dia terlalu tenang saat tertangkap.”
Selir Li mengerutkan kening. “Orang bersalah biasanya panik.”
“Dia malah seperti orang yang tugasnya sudah selesai,” tambah Selir Zhang.
Kaisar Shen menoleh pada kepala pengawal. “Periksa semua dokumen yang kita sita. Sekecil apa pun, jangan ada yang dilewatkan.”
“Siap, Yang Mulia.”
-----
Pagi menjelang saat tumpukan dokumen dibawa ke ruang dalam.
Kertas, catatan keuangan, daftar nama, jalur pengiriman.
Song An duduk bersila di lantai, membaca satu per satu.
Selir Li membantu menyusun berdasarkan wilayah.
Selir Zhang mencatat pola yang berulang.
Kaisar Shen berdiri di belakang mereka, memperhatikan.
Tiba-tiba Song An berhenti.
“Ini aneh.”
“Apa?” tanya Kaisar.
Song An mengangkat selembar catatan pengeluaran. “Dana besar keluar setiap dua bulan. Selalu dengan kode huruf ‘L’.”
Selir Zhang menoleh. “L untuk lokasi?”
“Tidak ada tempat bernama L di daftar jalur mereka,” jawab Selir Li.
Song An menyipitkan mata. “Bukan tempat. Ini orang.”
Kaisar Shen mendekat. “Siapa?”
Song An tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil dokumen lain.
“Lihat ini. Surat izin pengiriman gandum. Ditandatangani pejabat logistik istana.”
Kaisar membaca nama di bagian bawah.
Tangannya menegang sedikit.
“Luo Han.”
Selir Li mengangkat kepala. “Itu kepala logistik istana dalam.”
Selir Zhang pelan berkata, “Orang yang mengatur semua suplai perjamuan, jamuan diplomatik, bahkan pesta tahunan…”
Song An mengangguk pelan.
“Orang yang punya akses ke semua gerbang dalam tanpa dicurigai.”
----
Kaisar Shen berjalan menjauh beberapa langkah.
“Luo Han sudah bekerja di istana sejak masa ayahku,” katanya pelan.
“Itu sebabnya dia tidak pernah dicurigai,” jawab Song An.
Selir Li terlihat tidak percaya. “Dia selalu terlihat takut pada pejabat tinggi.”
“Itu bisa saja topeng,” kata Selir Zhang.
Song An menatap Kaisar. “Dan huruf ‘L’ di laporan dana… sangat mungkin untuknya.”
Kaisar Shen terdiam lama.
Lalu ia berkata pelan,“Jangan tangkap dia dulu.”
Selir Li terkejut. “Kenapa?”
“Kalau dia memang simpul terakhir,” lanjut Kaisar, “menangkapnya sekarang hanya akan membuat jaringan lain bersembunyi lebih dalam.”
Song An tersenyum kecil. “Kita awasi. Diam-diam.”
-----
Sore itu, Song An berjalan santai di koridor dapur istana.
Ia membawa keranjang kecil, berpura-pura ingin mengambil camilan.
Dari kejauhan, ia melihat Luo Han berbicara dengan pelayan baru.
Suaranya pelan dan sikapnya biasa saja.
Namun Song An melihat sesuatu.
Pelayan itu menyerahkan daftar bahan makanan.
Luo Han menyelipkan sesuatu kecil di balik kertas itu.
Song An pura-pura menjatuhkan saputangan.
Saat membungkuk, ia melihat benda kecil jatuh dari lipatan daftar.
Keping kayu tipis dengan tanda ukiran huruf L.
Song An berdiri kembali, wajahnya tetap santai.“Maaf, aku ceroboh,” katanya ringan.
Luo Han tersenyum sopan. “Tidak apa, Selir.”
Song An pergi tanpa menoleh lagi berpura pura tenang tapi jantungnya sudah berdetak lebih cepat.
----
Lingkaran Dalam yang mulai terasa berat karena malamnya, ia melapor pada Kaisar bersama Selir Li dan Selir Zhang.
“Aku melihatnya menyerahkan tanda kecil ke pelayan,” kata Song An.
“Pelayan mana?” tanya Kaisar.
“Pelayan baru bagian dapur timur.” jawab Song An
Kaisar langsung memberi perintah. “Selidiki latar belakang pelayan itu. Jangan sentuh Luo Han dulu.”
Selir Zhang menatap Song An kagum. “Kau benar-benar memperhatikan hal kecil.”
Song An mengangkat bahu. “Di dunia lamaku, masalah besar sering bocor dari hal sepele.”
Selir Li tersenyum tipis. “Untung kau terlahir lagi di sini.”
Song An tertawa kecil. “Aku juga kadang heran.”
-----
Beberapa hari kemudian, surat dari dua pria itu kembali datang.
Isinya singkat:
“Nama yang sama muncul di luar istana. L.H.”
Kaisar Shen menutup mata sesaat.“Berarti dia penghubung antara istana dan jaringan luar.”
Song An berkata pelan, “Kita sudah hampir sampai.”
Selir Li menggenggam tangannya sendiri. “Aku takut… tapi juga lega.”
Selir Zhang mengangguk. “Setidaknya sekarang kita tahu wajahnya.”
-----
Malam itu, Kaisar Shen berjalan sendirian ke paviliun Song An.
Tidak membawa pengawal dekat.
Song An yang sedang duduk minum teh terkejut melihatnya.“Yang Mulia tidak tidur?”
“Tidak bisa,” jawab Kaisar Shen jujur.
Song An menuangkan teh untuknya. “Karena Luo Han?”
“Karena semuanya,” katanya pelan. “Aku tumbuh melihat orang-orang ini. Aku percaya pada mereka.” ujar Kaisar Shen sembari memandang jauh
Song An menatapnya lembut. “Mempercayai orang bukan kesalahan.”
“Lalu ini apa?” tanya Kaisar Shen menoleh ke Song An
“Kesalahan mereka, bukan Yang Mulia.” jawab Song An
Kaisar Shen menatapnya lama. “Kau selalu bisa memisahkan itu.”
“Aku pernah hidup di dunia yang penuh pengkhianatan juga,” jawab Song An santai. “Kalau semua kesalahan orang lain kita pikul sendiri, kita tidak akan pernah bisa berdiri.”
Kaisar tersenyum tipis. “Kau tidak seperti selir istana.”
“Karena aku bukan selir, aku wanita abad mendatang,” jawab Song An cepat.
Kaisar tertawa pelan, "Aku sangat ingin tau siapa sebenarnya kau, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Setelah semuanya selesai aku ingin tau semuanya walau saat ini aku sangat penasaran dan juga tidak percaya semua ini ada"
Song An tersenyum kecil, "Iya aku akan menceritakan semua nanti, aku juga sebenarnya tidak tau kenapa aku bisa masuk kesini"
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan mereka terdiam memandangi langit malam.
----
Keesokan harinya, laporan datang.
Pelayan dapur timur yang dicurigai mencoba kabur dini hari.
Ia tertangkap.
Di bajunya ditemukan keping kayu bertanda L.
Saat diinterogasi, ia gemetar hebat.“Aku hanya mengantar pesan! Aku tidak tahu apa-apa!”
“Untuk siapa pesan itu?” tanya kepala pengawal.
Pelayan itu menangis. “Untuk Tuan Luo… dia bilang hanya urusan logistik…”
Bukti semakin kuat.
Song An berdiri di samping Kaisar saat laporan dibacakan.
“Sekarang kita punya saksi,” katanya pelan.
Kaisar Shen mengangguk.
“Dan waktunya hampir tiba.”
Selir Li menarik napas panjang.
Selir Zhang menggenggam tangannya.
Jaringan bayangan yang selama ini tidak terlihat kini mulai menunjukkan bentuknya.
Bukan lagi bayangan tanpa wajah.
Bukan lagi musuh tanpa nama.
Sekarang mereka tahu
Dalang terakhir bukan pangeran, bukan bangsawan perang.
Melainkan seseorang yang berjalan setiap hari di koridor istana… membawa daftar bahan makanan… dan senyum sopan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai,
Song An merasa akhirnya, cahaya mulai masuk ke dalam lorong yang gelap.
Bersambung