Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketertarikan
"Gimana sekolah kamu, Ren?" tanya Pak Raharja, ayah Rendra, saat makan malam.
"Biasa," jawab Rendra malas. Pak Raharja menghela nafas.
"Kakak kamu ngajar disana kan?" tanya Pak Raharja. Rendra hanya diam.
"Kalian nggak pernah ngobrol di sekolah?" tanya Pak Raharja lagi tanpa mempedulikan sikap acuh Rendra.
"Rendra selesai makan," kata Rendra sambil beranjak dari kursinya. Pak Raharja melirik makanan di piring Rendra yang masih tersisa setengah.
"Makan. Ayah akan diam," kata Pak Raharja sambil tetap sibuk menyendok makanan di piringnya tanpa melihat Rendra. Rendra mendengus kesal lalu meninggalkan ayahnya di ruang makan sendirian.
Pak Raharja menghela nafas panjang sambil bersandar di sandaran kursi makan. Sejak bercerai dengan isterinya ditambah Adit yang meninggalkan rumah, Pak Raharja seperti kewalahan berkomunikasi dengan Rendra. Dia bahkan tak bisa memahami jalan pikiran puteranya sendiri.
Pak Raharja mengelap mulutnya. Selera makannya turut sirna. Pak Raharja bahkan tak bisa mengingat kapan terakhir kali Rendra tertawa lepas di hadapannya.
"Hhh...."
"Maaf mengganggu acara makan malam Tuan," kata Haris, sekertaris Pak Raharja. Pak Raharja mengangguk, mempersilakan Haris bicara.
"Pihak PT. Kencana Mandiri sudah menghubungi saya terkait kerjasama yang akan kita jalin. Beliau menyetujui untuk melanjutkan proposal yang kita ajukan minggu lalu," kata Haris sambil melihat tab yang dibawanya. Pak Raharja mengangguk.
"Lalu, terkait Tuan Adit," kata Haris, menjeda.
"Tuan Adit terpantau dalam keadaan sehat," lanjut Haris. Pak Raharja manggut-manggut sambil tersenyum.
"Baguslah kalau dia bisa menjaga diri dengan baik. Terus pantau. Laporkan kalau ada masalah," kata Pak Raharja.
"Baik, Pak," kata Haris. Dia masih berdiri diam, ragu-ragu hendak melaporkan satu hal lagi. Pak Raharja menaikkan satu alisnya, menatap ke arah Haris.
"Masih ada yang perlu dilaporkan?" tanya Pak Raharja, melihat Haris masih bergeming di tempatnya berdiri. Haris terlihat ragu-ragu.
"Rendra?" tanya Pak Raharja, seperti tahu gelagat sekertarisnya kalau hendak melaporkan tentang putera semata wayangnya. Haris mengangguk pelan.
"Katakan," kata Pak Raharja.
"Sekitar satu minggu yang lalu, Tuan Muda menyatakan cinta di lobi sekolah," kata Haris.
"Menyatakan cinta? Bukankah itu biasa dia lakukan? Tak ada yang perlu dipermasalahkan," komentar Pak Raharja.
"Masalahnya wanita incaran Tuan Muda kali ini..." Haris ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
"Siapa?" tanya Pak Raharja penasaran.
"Guru baru. Mengajar Bahasa Inggris kelas sepuluh dan sebelas," kata Haris sambil menyodorkan tabnya pada Pak Raharja.
Pak Raharja meraih tab dari tangan Haris. Dilihatnya foto seorang wanita muda belia, cantik, dengan rambut gelombang sebahu yang dibiarkan tergerai. Pak Raharja membaca latar belakang gadis dalam foto itu.
"Dawai Asmara. Lulusan universitas negeri kota kita. Cumlaude. Pernah mengikuti pertukaran mahasiswa dengan Harvard University. Latar belakang keluarga... Hmmm... Baru kali ini Rendra membidik target yang punya bibit unggul," komentar Pak Raharja sambil tersenyum. Haris terkejut. Dia pikir Tuan Besarnya akan marah besar pada Tuan Muda.
"Ada lagi?" tanya Pak Raharja pada Haris sambil menyerahkan tab yang dipegangnya.
"Cukup, Tuan," kata Haris.
"Baiklah. Besok saya ada waktu?" tanya Pak Raharja pada Haris, memastikan agendanya esok hari.
"Sekitar pukul sepuluh pagi hingga pukul sebelas tidak ada janji ataupun meeting, Tuan," kata Haris sambil melihat agenda Pak Raharja di tabnya. Pak Raharja manggut-manggut sambil tersenyum.
"Beritahukan Kepala Sekolah Bina Bangsa, saya akan datang besok. Tak perlu ada penyambutan. Saya hanya berkunjung biasa," kata Pak Raharja, lalu beranjak pergi.
Haris menunduk seiring Tuan Besarnya berlalu. Haris kembali menegakkan badannya, lalu mengambil ponsel di saku jasnya hendak menghubungi kepala sekolah Bina Bangsa.
'Sepertinya Tuan Besar menyukai guru Bahasa Inggris itu,'
***
Pagi sudah menyapa ketika Rendra baru beberapa jam benar-benar terlelap. Alarm pagi di ponselnya berisik sejak tadi. Rendra hanya beringsut di atas kasurnya, membuka matanya perlahan, enggan bangun.
'Sial! Kenapa gue nggak bisa tidur gara-gara cewek?!' umpat Rendra dalam hati.
Semalam Rendra memang terus memikirkan Dawai. Meski Rendra berusaha menghalau pikirannya tentang Dawai, bayangan berbagai macam ekspresi Dawai bermunculan tanpa permisi setiap kali Rendra mengusirnya.
Alarm pagi kembali berbunyi. Rendra memutuskan untuk bangun dan mematikan alarm di ponselnya yang berada di atas nakas. 05.30. Rendra mengusap wajahnya kasar mencoba mengusir kantuk yang masih setia menggelayuti kedua matanya.
Rendra segera beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi. Dia rasa dinginnya air akan segera membuat rasa kantuknya sirna. Ditenggelamkannya badannya dalam bak begitu saja. Dingin. Tapi, itu yang Rendra butuhkan.
Pagi itu langit masih abu-abu dengan sinar matahari yang masih malu-malu bersembunyi di garis horison. Rendra sudah turun dari kamarnya dengan wajah segar.
"Pagi, Ren," sapa Pak Raharja sambil menikmati sepotong roti, menu sarapannya.
"Pagi," sapa Rendra malas.
"Ayah dengar, di sekolah kamu ada guru Bahasa Inggris baru," kata Pak Raharja mencoba memancing reaksi Rendra. Rendra yang baru meminum segelas susu tiba-tiba berhenti.
"Ayah mau apa?" tanya Rendra sinis.
"Ehem..." Pak Raharja meletakkan rotinya yang tinggal sedikit di atas piring di hadapannya.
"Tak ada. Ayah hanya ingin tahu, seberapa kompeten dia sampai-sampai bisa diterima mengajar di SMA Bina Bangsa," kata Pak Raharja sambil menatap Rendra.
"Entah. Dia nggak ngajar kelas Rendra," jawab Rendra acuh lalu kembali meminum susunya.
"Hmmm..."
Rendra melirik ke arah ayahnya yang sudah kembali menghabiskan rotinya. Rendra merasa bahwa ada sesuatu yang direncanakan ayahnya.
"Maaf mengganggu, Tuan," suara Haris memecah keheningan. Pak Raharja mengangguk lalu berdiri.
"Ayah berangkat dulu. Kamu hati-hati," kata Pak Raharja sambil menepuk bahu Rendra. Pak Raharja kemudian berlalu diikuti Haris yang berjalan di sampingnya.
"Untuk SMA Bina Bangsa..." Rendra mendengar suara Haris yang samar-samar sedang membahas tentang sekolahnya bersama ayahnya.
"Sial! Orang tua itu," gumam Rendra.
Rendra bergegas menyusul ayahnya. Beruntung ayahnya masih berada di ruang tamu bersama Haris.
"Itu adalah kelas-kelas yang diampunya hari ini," tutup Haris. Rendra mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Haris.
"Apa yang ayah rencanakan?" tanya Rendra pada Pak Raharja. Pak Raharja menoleh.
"Oh! Tak ada. Hanya melihat potensi guru baru. Kebetulan saat perekrutan dulu ayah tak sempat melihatnya. Jadi, mumpung ayah ada waktu hari ini, ayah mau melihat dia mengajar," kata Pak Raharja sambil tersenyum.
"Kalau sampai ayah melakukan hal yang tidak penting..."
"Hal yang tidak penting? Seperti menyatakan cinta padanya di lobi sekolah? Ayah bukan pria yang tak tahu malu seperti mu," kata Pak Raharja sambil tersenyum meledek. Rahang Rendra mengeras. Pak Raharja berjalan perlahan menghampiri puteranya.
"Show her your pride, your value. Target kamu kali ini bukan lagi cewek SMA yang suka rela kamu mainin. She's a woman. Remember that!" kata Pak Raharja pada Rendra dengan nada setengah berbisik.
Rendra menoleh menatap ayahnya. Dia tak percaya ayahnya akan mengatakan hal itu. Pak Raharja tersenyum, lalu menepuk bahu Rendra pelan.
"If you can't do that, you're just a kid in her point of view," kata Pak Raharja sambil berlalu, meninggalkan Rendra yang berdiri bergeming, mencerna perkataan dan sikap ayahnya.
Selama ini, Pak Raharja tak pernah ikut campur dalam permainan cinta Rendra, karena Pak Raharja tahu, itu adalah bentuk balas dendam Rendra terhadap ibunya yang tega meninggalkannya hanya untuk pria lain.
Namun, kali ini, Rendra tak habis pikir ayahnya tak sedikit pun marah tentang sikap Rendra yang menyatakan perasaannya pada Dawai, guru Bahasa Inggris di sekolahnya.
'Apa yang orang tua itu pikirkan? Apa yang dia rencanakan?'
***
semngaatt ya thorrr