Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 angin lembap dari timur
Tiga bulan telah berlalu sejak kunjungan Jenderal Duanmu Yan yang mengguncang Puncak Qingyun. Selama waktu itu, Wilayah Selatan mengalami transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah kepemimpinan Su Lang, Puncak Qingyun bukan lagi sekadar markas sekte, melainkan jantung industri dan ekonomi wilayah tersebut.
Su Lang berdiri di dermaga buatan yang baru saja dibangun di tepi Sungai Naga—sungai besar yang mengalir dari pegunungan selatan langsung menuju Lautan Timur. Di hadapannya, sebuah mahakarya teknik penempaan sedang mengapung.
Itu adalah sebuah kapal perang sepanjang lima puluh meter. Lambungnya tidak terbuat dari kayu biasa, melainkan kayu Besi Hitam yang telah diuraikan dan ditempa ulang menggunakan fitur Deconstruction milik Su Lang. Permukaan lambungnya dilapisi oleh pelat perunggu yang diukir dengan Rune Anti-Air dan Rune Kecepatan.
"Lapor, Guru! Persiapan Kapal 'Naga Penyeberang' sudah 95% selesai!" teriak Li Yun dari atas dek kapal.
Li Yun sekarang terlihat jauh lebih dewasa. Tubuhnya yang dulu kurus kini padat dengan otot, dan aura Tingkat 4 Puncak-nya sangat stabil. Dia mengenakan pakaian praktisi biru gelap yang dirancang khusus untuk mobilitas tinggi.
"Bagaimana dengan susunan pendorongnya?" tanya Su Lang sambil melompat ringan ke atas dek.
"Sesuai instruksi Guru, kami telah memasang empat Inti Monster Tingkat 5 tipe angin sebagai mesin pendorong utama. Jika kita mengaktifkan semuanya, kapal ini bisa menempuh jarak seribu kilometer dalam sehari," jawab Li Yun bangga.
Su Lang mengangguk. Dia berpaling ke arah Lin Yue yang sedang sibuk mengatur logistik di bagian buritan.
"Lin Yue, apakah persediaan makanan dan pil sudah cukup untuk perjalanan dua bulan?"
Lin Yue mendekat, membawa buku catatan kulit. "Sudah, Guru. Chen Ling telah menyiapkan sepuluh ribu Pil Nutrisi dan seribu Pil Qi Murni. Kami juga membawa muatan berupa senjata-senjata tingkat rendah yang kita produksi secara massal di Puncak Qingyun untuk dijual atau ditukar di Kota Pelabuhan Karang."
Su Lang tersenyum puas. Strateginya sederhana: Sekte Aliran Abadi akan menyamar sebagai kafilah dagang maritim. Di wilayah Lautan Timur yang liar, sebuah sekte asing yang datang dengan kekuatan penuh akan memicu kewaspadaan para raja bajak laut. Namun, sebuah kapal dagang mewah? Itu adalah umpan sekaligus penyamaran yang sempurna.
"Guru, apakah kita benar-benar harus meninggalkan Puncak Qingyun sekarang?" tanya Chen Ling pelan, muncul dari ruang alkimia di bawah dek. Wajahnya tampak sedikit cemas meninggalkan rumah mereka.
"Puncak Qingyun sudah aman, Ling'er," Su Lang menenangkan murid bungsunya itu. "Tabib Chen dan para tetua dari sekte bawahan sudah bersumpah untuk menjaganya. Lagipula, Formasi Sembilan Naga sekarang bisa bertahan melawan serangan ahli Foundation Establishment sekalipun selama satu bulan. Kita harus bergerak. Fragmen ke-5 tidak akan datang dengan sendirinya."
Su Lang menatap ke arah timur. Di sana, di balik cakrawala, terdapat Lautan Kabut yang legendaris—tempat di mana hukum kekaisaran tidak berlaku, dan kekuatan hanya diukur dari jumlah kapal dan tajamnya pedang.
Keberangkatan
"Angkat jangkar!" teriak Li Yun.
Kapal Naga Penyeberang mulai bergerak perlahan, membelah arus Sungai Naga yang tenang. Di tepi sungai, ratusan murid dan penduduk setempat melambaikan tangan, melepas kepergian pemimpin mereka. Xiao Me berdiri di barisan depan, matanya berkaca-kaca namun dia tetap melambaikan tangannya dengan semangat.
"Bawa kembali mutiara laut yang besar, Kakak Li Yun!" teriak gadis kecil itu.
Perjalanan sungai memakan waktu lima hari. Selama itu, Su Lang tidak membuang waktu. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang pribadinya di dalam kapal, melakukan meditasi untuk memperkuat meridiannya yang baru terbuka.
Sebagai Qi Condensation Tingkat 7, Su Lang sudah bisa merasakan "Niat Alam" (Intent of Nature). Saat berada di sungai, dia mencoba menyelaraskan Qi-nya dengan aliran air.
Sistem, laporkan status integrasi Fragmen ke-4.
[Laporan Sistem:]
[Integrasi Fragmen ke-4: 100%.]
[Status Kuali: Stabil.]
[Saran: Pengguna dapat menggunakan energi laut untuk mengaktifkan fitur 'Pemurnian Cairan' yang akan mempercepat produksi pil alkimia tingkat tinggi.]
"Pemurnian Cairan, ya? Menarik," gumam Su Lang.
Tiba di Kota Pelabuhan Karang
Pada hari ketujuh, aroma laut yang asin dan tajam mulai tercium. Hutan-hutan lebat di pinggir sungai berganti menjadi hamparan pasir putih dan hutan bakau. Naga Penyeberang akhirnya memasuki muara sungai yang luas dan disambut oleh pemandangan Kota Pelabuhan Karang.
Kota ini adalah gerbang utama menuju Lautan Timur. Berbeda dengan kota-kota di wilayah selatan yang tertata, Pelabuhan Karang adalah labirin bangunan kayu yang dibangun di atas air, ditopang oleh tiang-tiang raksasa. Ribuan kapal dari berbagai ukuran bersandar di sini, mulai dari perahu nelayan kecil hingga kapal layar bertingkat tiga yang megah.
Suasana sangat bising. Teriakan pedagang, nyanyian pelaut mabuk, dan dentingan pedang terdengar dari setiap sudut.
"Tempat ini benar-benar kacau," gumam Lin Yue sambil menarik cadarnya lebih rapat. Kecantikannya seringkali mengundang perhatian yang tidak diinginkan di tempat seperti ini.
"Ini bukan kekacauan, Lin Yue. Ini adalah kebebasan yang brutal," sahut Su Lang.
Saat mereka mencari tempat bersandar, sebuah perahu patroli kecil mendekat. Tiga pria dengan luka parut di wajah dan pakaian yang tidak seragam berdiri di dek perahu tersebut.
"Hei! Kapal baru! Siapa pemiliknya?" teriak salah satu pria yang membawa kapak besar. "Di Pelabuhan Karang, setiap kapal baru harus membayar 'Pajak Keamanan' kepada Geng Hiu Hitam!"
Li Yun hendak maju dengan marah, namun Su Lang menahannya.
"Berapa?" tanya Su Lang tenang.
"Seratus Batu Roh Menengah!" si pria kapak menyeringai, melihat kemewahan kapal Naga Penyeberang. Itu adalah harga yang sepuluh kali lipat dari tarif normal.
Su Lang tidak berkedip. Dia mengambil sebuah kantong kecil dan melemparnya. Bukan berisi batu roh, melainkan berisi debu besi yang sangat panas yang baru saja dia uraikan dari sebuah batangan logam.
Pria kapak itu menangkap kantong tersebut, namun saat dia membukanya, panas dari debu tersebut membakar tangannya.
"ARGH! Sialan! Apa ini?!"
"Itu adalah tanda bahwa aku tidak suka diperas," kata Su Lang, suaranya dingin dan menusuk. "Sekarang, beri kami jalan, atau kapal patrolimu akan menjadi kayu bakar dalam tiga detik."
Su Lang melepaskan sedikit tekanan aura Tingkat 7-nya. Udara di sekitar perahu patroli tersebut seolah membeku. Para anggota Geng Hiu Hitam itu langsung pucat pasi. Mereka tahu mereka baru saja menabrak tembok baja.
"Ma-maafkan kami, Senior! Silakan lewat!" Mereka segera mendayung sekuat tenaga menjauh dari Naga Penyeberang.
"Guru, kenapa tidak langsung menghabisi mereka?" tanya Li Yun.
"Kita di sini untuk mencari informasi, bukan untuk memulai perang di hari pertama. Tapi kita juga harus menunjukkan taring agar lalat-lalat tidak terus mengerubungi kita," jawab Su Lang.
Informasi Pertama: Raja Bajak Laut Hantu
Malam itu, Su Lang dan murid-muridnya duduk di sebuah kedai minuman terpencil yang bernama 'Napas Naga Laut'. Kedai ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya para informan dan pelaut veteran.
Su Lang meletakkan satu kantong Batu Roh Tinggi di atas meja di depan seorang pria tua bermata satu yang dikenal sebagai si Telinga Laut.
"Ceritakan padaku tentang Raja Bajak Laut Hantu," kata Su Lang langsung.
Kedai yang tadinya berisik tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Orang-orang di meja sebelah segera memalingkan wajah, seolah-olah menyebut nama itu saja sudah mengundang sial.
Si Telinga Laut gemetar, tangannya yang keriput meraih kantong batu roh tersebut dengan ragu.
"Anak muda, kau punya nyali atau kau hanya ingin mati?" bisik si Telinga Laut. "Raja Bajak Laut Hantu... dia bukan manusia. Dia adalah legenda yang telah menguasai Lautan Kabut selama lima puluh tahun. Konon, kapalnya, 'The Specter', tidak berlayar di atas air, tapi di atas jiwa-jiwa yang tenggelam."
"Aku tidak butuh dongengnya," potong Su Lang. "Aku ingin tahu di mana dia sekarang dan apa benar dia memiliki artefak logam hitam di kapalnya."
Si Telinga Laut menelan ludah. "Bulan depan... akan ada 'Pasar Gelap Lautan' di Pulau Karang Merah. Itu adalah satu-satunya saat di mana para raja bajak laut berkumpul untuk berdagang dan melakukan gencatan senjata. Raja Hantu dikabarkan akan membawa koleksi artefak kunonya untuk ditukar dengan Pil Pembangun Pondasi."
Mata Su Lang berkilat. "Pulau Karang Merah. Berapa jauh?"
"Tiga hari pelayaran ke arah timur. Tapi berhati-hatilah... Lautan Kabut mulai aktif. Kabut itu bukan kabut biasa; itu adalah ilusi yang bisa membuat saudaramu sendiri terlihat seperti monster."
Su Lang berdiri. "Terima kasih, Pak Tua."
Saat mereka hendak keluar dari kedai, sekelompok pria bersenjata lengkap masuk, memblokir pintu. Di tengah-tengah mereka adalah seorang pemuda tampan dengan pakaian sutra mahal yang memegang kipas lipat.
"Ternyata pemilik kapal mewah itu adalah kalian," kata pemuda itu sambil tersenyum licik. "Aku adalah Tuan Muda Ke-3 dari Keluarga Hai, penguasa pelabuhan ini. Aku mendengar kalian menolak membayar pajak kepada bawahan-bawahanku."
Su Lang menghela napas panjang. "Li Yun."
"Ya, Guru?"
"Sepertinya rencana kita untuk tidak memulai perang di hari pertama... resmi gagal."
Li Yun menyeringai, meretakkan buku-buku jarinya. Listrik mulai memercik dari cakarnya. "Dengan senang hati, Guru."
Malam di Pelabuhan Karang baru saja dimulai, dan nama Sekte Aliran Abadi akan segera bergema di sepanjang pesisir timur.