NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cleaning Up

Enjoy gays....

Bunyi alarm dari jam waker yang menggema membangunkan Luca dari tidurnya. Tapi, justru bukan itu yang mengejutkannya. Melainkan sebuah tangan yang melingkar indah di perutnya.

Sadar jika semalam dirinya tak lagi tidur sendiri, Luca sejenak tersenyum menatap Aurora di sebelahnya yang masih nyaman dalam tidurnya sembari tangan yang menganggur meraih jam waker di atas meja nakss sebelah tempat tidur untuk dimatikan agar Aurora tak terganggu karena suaranya.

Merubah posisi menjadi sedikit menyamping, senyum bahagia Luca kembali terukir. Bukannya membangunkan, Luca justru menempelkan tangannya di leher dan kening Aurora untuk kembali mengecek suhu tubuh sang istri. Apakah masih sama seperti semalam atau sudah membaik.

Menghembuskan nafas lega, dalam hati Luca bersyukur karena demam itu sudah menghilang dan tinggal melakukan pemulihan.

"Luca?" Gumam Aurora lirih dengan mata yang masih terpejam dan tanpa sadar semakin mengeratkan pelukan karena merasa terganggu.

Mendapati sikap Aurora yang jauh berbeda dari biasanya membuat Luca tak mau berkomentar. Karena yang terpenting baginya Aurora merasa nyaman, aman dan tenang saat di sampingnya dan dia juga bisa tersenyum bahagia seperti sekarang.

Tak lagi bisa tidur karena sudah terlanjur bangun, Aurora perlahan membuka matanya. Mendongakkan kepalanya menatap Luca tanpa melepas pelukan.

"Jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

"Jam setengah 7. Kalo lo masih krasa nyaman, tidur lagi aja. Gue temenin sampe lo mau bangun nanti." Ucap Luca seraya tersenyum dan merapikan anak rambut Aurora yang berantakan ke belakang telinga karena menghalangi pandangan menatap wajah cantik Aurora di pagi hari seperti sekarang.

"Emang lo gak kerja?"

"Kerja. Tapi gue kan bisa minta sekretaris buat ganti jadwal gue sefleksibel kayak kemarin."

"Tapi gue udah gak ngantuk lagi." Renegek Aurora kesal. Dia sungguh ingin melakukan apa yang diperintahkan, tapi sayangnya itu tak akan mudah karena kedua matanya sudah terlanjur terbuka.

"Masih pusing gak?" Gelengan di berikan sebagai jwaban. Setelahnya, Aurora melepas pelukan dan bangun.

"Mau kemana?" Tanya Luca menahan karena Aurora yang hendak turun dari tempat tidur.

"Prepare. Hari ini gue juga ada jadwal kuliah."

"Hari ini gak usah berangkat kuliah dulu ya? Lo istirahat dulu sampe kondisi tubuh lo bener-bener sehat." Pinta Luca dengan penuh kelembutan dan sedikit memohon namun tanpa paksaan.

"Tapi gue udah gak paps." Mengecek suhu tubuhnya sendiri, Aurora berusaha meyakinkan agar izin pergi di dapatkan.

"Iya... Gue tau. Tapi, gue gak mau lo sakit lagi kalo kecapean."

"Terus, kalo gue di rumah sendirian mau ngapain? Lo juga berangkat kerja kan? Gue bosen Luca kalo gak ada temennya."

"Ya udah, gue temenin lo kalo gitu. Hari ini gue juga gak akan berangkat kerja. Jadi, lo gak akan bosen dan kita bisa di rumah sama-sama."

Meraih handphone yang ada di atas meja nakas, Luca bangun lalu bersandar di kepala ranjang. Dengan cepat, dia mengirimkan pesan untuk sang sekretaris pribadi jika hari ini dia tidak bisa datang ke kantor dan semua jadwal dibatalkan tanpa terkecuali.

"See? Masalah terselesaikan." Ucap Luca dengan senyum bangga seraya memperlihatkan layar handphonenya yang berisikan balasan pesan dari sang sekretaris pribadi.

Bukannya senang karena bisa kembali beristirahat di rumah dan di temani Luca, Aurora justru tampak kecewa karena keputusan Luca itu.

"Kenapa masih cemberut kayak gitu?" Tanya Luca bingung namun tersenyum lucu seraya meletakkan handphonenya kembali ke tempatnya.

"Kita mau ngapain di rumah doang?"

"Apapun yang pengen lo lakuin, gue kabulin semuanya." Tak tahan melihat wajah Aurora yang begitu menggemaskan, Luca menangkup kedua pipi sang istri dan sedikit memainkannya.

"Apapun itu?" Luca mengangguk dan tersenyum.

"Janji gak bakalan protes?" Mengulurkan jari kelingkingnya, Aurora meminta sebuah kesepakatan.

"Janji." Meski tertawa lucu dan menganggap hal itu terkessn kekanak-kanakan, tapi Luca tetap menautkan kelingkingnya sebagai bentuk persetujuan.

"Janji gak bakalan nolak?" Pinta Aurora lagi. Kali ini, giliran cap jempol yang dia inginkan tanpa melepas tautan kelingking diantara mereka.

"Janji." Menempelkan jempolnya dengan jempol Aurora, Luca kembali setuju dengan syarat yang diajukan.

"Oke."

"Eh, mau kemana?" Tanya Luca bingung karena Aurora tiba-tiba melepas tangannya dan turun dari tempat tidur.

"Mandi. Dari kemaren gue belum mandi."

"Pake air anget." Pesan Luca sebelum Aurora pergi meninggalkan kamarnya.

"Iya."

Menikah bukan hanya tentang menyatukan dua hati, dua kepala, dan dua keluarga. Tapi juga proses belajar dan memahami satu sama lain yang tak akan pernah ada habisnya.

Seperti kejadian yang baru saja terjadi. Luca pikir dia sudah cukup mengenal Aurora. Tapi rupanya, pagi ini ada hal lain lagi yang perlu Luca pahami dan mengerti tentang sifat sang istri. Yaitu tak bisa di larang begitu saja jika tak ada alasan pasti untuk menguatkannya.

***

Belajar dari sebuah kesalahan, itulah yang akan Luca lakukan di masa depan sebelum dia mengambil sebuah keputusan.

Bagaimana tidak? Bukannya beristirahat atau bersantai menikmati waktu luangnya, Aurora justru membuat Luca kehabisan kata-kata saat dirinya di tarik begitu saja ke area taman belakang dengan berbagai perlengkapan yang sudah dia siapkan.

"Lo mau ngapain sama semua alat ini?" Tanya Luca bingung menatap semua alat kebersihan di depannya.

"Bersih-bersih rumah."

"Huh??" Kaget Luca tak percaya.

"Yang bener aja dong Ara... Lo itu baru aja sembuh, masak iya mau bersih-bersih rumah?" Ucap Luca terang-terangan menolak dan tak setuju.

"Selama kita tinggal bareng di rumah ini, lo atau gue belum pernah bersih-bersih rumah bareng. Jadi, gue mau kita lakuin itu bareng-bareng sekarang."

Tak terasa sudah hampir 3 bulan pernikahan mereka berlangsung. Baik Luca maupun Aurora, keduanya sama-sama melakukan tugas dan kewajiban mereka untuk membersihkan rumah karena mereka yang tak memiliki pembantu rumah tangga.

Tapi, itu semua mereka lakukan sendiri-sendiri. Saat Aurora tak ada kegiatannya di kampus atau ketika Luca libur bekerja.

"Gak ada hal yang lain apa yang pengen lo lakuin? Kalo lo kecapean terus sakit lagi gimana? Gue panggil jasa bersih-bersih aja ya?" Luca benar tak habis pikir dengan pemikiran Aurora. Bagaimana bisa dia justru memilih kegiatan yang membutuhkan begitu banyak tenaga sementara dirinya saja masih belum pulih sepenuhnya?

"Luca?" Rengek Aurora memohon dengan wajah memelas seraya menahan lengan Luca agar tidak pergi.

"Ganti yang lain aja ya? Nonton atau apa gitu? Yang penting gak ngebuat lo capek." Masih belum setuju, Luca mencoba menawarkan solusi lain dan bernegosiasi.

"Lo kan udah janji buat gak protes dan nurutin semua kemauan gue. Ya gue pengen lakuin ini sekarang."

"Iya.... Gue tau. Tapi Aurora~"

Tak mau menyerah begitu saja, kali ini Aurora menangkupkan kedua tangannya seraya memperlihatkan wajah memohon setulus hati yang dia bisa.

"Oke fine.  Kita lakuin bareng-bareng~" Menghembuskan nafas pasrah, Luca akhirnya mengalah. Melihat Aurora memohon dengan ekspresi yang menurutnya menggemaskan seperti itu sungguh membuat Luca tak bisa jika tak mengabulkannya.

"Yee......thank you Luca." Saking bahagianya di setujui, Aurora langsung memeluk Luca. Padahal, Luca saja belum menyelesaikan kalimatnya.

"Tapi, kalo lo udah krasa capek apalagi pusing, lo harus berhenti terus istirahat. Gimana?" Tak semerta-merta memberikan persetujuan, Luca juga mengajukan persyaratan demi kesehatan Aurora seraya membalas pelukan.

"Gue janji. Makasih Luca."

"Sama-sama."

Walaupun ada sedikit kekhawatiran di hati yang Luca rasakan, tapi Luca mencoba untuk tetap positif thinking dan tenang. Asalkan itu membuat Aurora bahagia dan senang, Luca akan tetap mendukung sembari tetap mengawasinya.

Lebih dulu melepas pelukan, Luca menatap alat-alat kebersihan itu.

"Sekarang, gue mulai dari mana dulu ini?" Tanyanya meminta panduan. Dia tak terbiasa melakukan sesuatunya bersama-sama, jadi mungkin nanti dia akan kesulitan.

"Lo bagian bersihin taman terus tata semua bunga-bunganya. Gue bagian bersihin dalam."

"Oke."

"Nanti kalo masih ada sisa waktu, kita kuras kolam ikannya juga sama-sama."

"Siap Bu Komandan. Laksanakan." Berlagak layaknya seorang tentara yang siap bertempur di medan perang, Luca memberikan Aurora hormat seraya tersenyum. Membuat Aurora juga ikut tersenyum.

"Semangat!" Kembali mendapat hadiah kejutan, Aurora tak hanya sekedar memberi Luca ucapan, tapi juga sebuah kecupan di pipi sebelum dia pergi.

***

Walau awalnya sedikit terpaksa saat melakukannya, tapi Luca akhirnya bisa menikmatinya saat melihat Aurora juga enjoy melakukan pekerjaannya. Bahkan, semuanya bisa Aurora kerjakan dalam sekali waktu. Dari mulai mencuci selimut dan seprei, menyapu dan mengepel lantai, mengganti seluruh pengharum ruangan, hingga yang paling berat dan melelahkan, membersihkan kaca. Berbeda dengan Luca yang hanya membersihkan area taman belakang, samping kolam renang juga halaman depan. Itupun harus step by step.

Luca akhirnya bisa tersenyum bangga dan menarik nafas lega menikmati hasil kerja kerasnya setelah berjam-jam di lalui dan semua pekerjaannya telah selesai.

Membereskan semua alat yang di pakainya ke dalam satu wadah yang sama, Luca mengembalikan benda itu ke dalam gudang yang ada di dekat dapur.

Setelah itu, Luca tak lupa mencuci tangannya dengan sabun sebelum mencari keberadaan Aurora yang sejak tadi tak terlihat entah dimana.

"Ra? Ara?" Panggil Luca dengan sedikit berteriak berharap Aurora bisa mendengar suaranya.

"Di kamar lo!" Sahut Aurora juga dengan sedikit berteriak.

Membuka pintu kamarnya, Luca tak mendapati keberadaan Aurora di sana.

"Ara?" Panggil Luca sekali lagi guna memastikan.

"Gue di sini Luca." Sahut Aurora tapi tak memperlihatkan batang hidungnya.

Masuk lebih dalam, Luca menuju area walk in closet dimana sumber suara itu berasal.

"Lo ngapain?" Tanya Luca bingung saat melihat Aurora tengah berusaha mengambil sesuatu yang ada di atas lemarinya dengan bantuan tangga.

"Huh?" Menoleh menatap Luca, Aurora hampir saja terjatuh karena tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Untung saja Luca dengan sigap berlari dan menangkap tubuh Aurora sebelum jatuh menyentuh lantai.

Untuk sejenak pandangan keduanya saling bertemu. Bak adegan dalam film, baik Aurora maupun Luca sama-sama terpesona dengan aura masing-masing.

"Pelan-pelan Aurora. Lo mau ngapain sih sampe manjat-manjat gitu?" Ucap Luca yang lebih dulu berhasil menormalkan kesadarannya dan mengalihkan pandangannya dari wajah Aurora. Setelahnya, dia baru membantu Aurora untuk berdiri sempurna dan turun dari tangga dengan perlahan.

"Gue mau ambil selimut sama seprei baru."

"Kan bisa minta tolong.....Kenapa harus ngambil sendiri?" Peka dengan situasi dan tanpa di perintah, Luca menaiki tangga itu untuk mengambilkan Aurora selimut dan seprei seperti yang dia kata.

"Tadi gue liat lo masih sibuk. Jadi, daripada gue nganggur nungguin, apa salahnya gue ambil sendiri."

"Thank you Luca." Menerima selimut dan seprei yang di berikan Luca, keduanya sama-sama melangkah keluar dari area walk in closet.

"Sama-sama."

Tak hanya diam dan memperhatikan, Luca juga ikut membantu Aurora menata tempat tidurnya seraya memperhatikan suasana kamarnya yang trasa sedikit berbeda karena tadi sempat terlupa karena mencari keberadaan Aurora.

"Lo... Yang rapiin ini semua?" Tanya Luca sembari memakaikan sarung bantal dan guling.

"Iya. Gimana? Lo suka gak?"

"Suka kok. Keliatan lebih fresh vibesnya."  Memang tak ada yang berubah dari tatanan kamarnya, tapi cara Aurora merapikannya yang membuat perbedaan itu terasa. Mungkin, karena Aurora seorang wanita.

"Lo udah selesai?"

"Udah. Lo sendiri?"

"Tinggal ini doang." Setelah seprei selesai terpasang, barulah Aurora merentangkan selimutnya dan menatanya dengan rapi.

"Kok cepet banget sih? Padahal lo lakuin banyak hal dan gue cuma satu. Tapi kenapa kita selesainya bisa sama-sama?"

"Ya itu bedanya cewek sama cowok kalo lagi kerja. Kalo cowok satu per satu. Kalo cewek, selaginya bisa di kerjain sekaligus kenapa gak?"

"Oke, finish. Tinggal kuras kolam ikan habis itu selesai." Terakhir, Aurora meletakkan bantal dan guling sesuai dengan tempatnya.

"Sekarang?" Tanpa Luca ragu. Pasalnya, dia saja sudah merasa lelah. Apa Aurora sama sekali tidak lelah?

Tersenyum bangga menatap hasil kerja kerasnya, Aurora mengangguk mengiyakan.

"Emang lo gak capek?"

"Capek sih... Tapi nanggung kalo gak sekalian."

"Ya udah, lo istirahat aja. Biar gue yang lanjutin."

"Gak mau. Gue maunya bareng-bareng." Sembari menggelengkan kepala dengan wajah sedikit cemberut dan kedua tangan yang terlipat di depan dada, Aurora mempertegas penolakan.

"Keras kepala banget sih istrinya Luca yang cantik ini." Membalasnya dengan sebuah candaan, Luca terkekeh seraya mengacak rambut Aurora pelan karena grmas.

"Kan biar lebih cepet selesai."

"Iya deh iya. Pokoknya hari ini sesuai sama keinginannya Bu Komandan."

Tanpa membuang banyak waktu lagi, mereka keluar dari kamar Luca dan menuju kolam ikan yang ada di halaman belakang.

Sebelum membersihkannya, Luca yang lebih dulu masuk ke dalam kolam untuk menguras airnya hingga setengah. Setelah itu, barulah ia memindahkan ikan-ikan yang ada di dalamnya ke dalam ember besar berisi air yang sudah Aurora siapkan sebelumnya dengan jaring lalu baru membuang sisa airnya.

"Pelan-pelan, agak licin."  Ucap Luca khawatir seraya mengulurkan tangannya agar Aurora bisa berpegangan saat masuk ke dalam kolam.

Memberikan salah satu sikat yang dia pegang kepada Luca, mereka memulainya dari sisi yang berlawanan. Tak ada obrolan yang tercipta diantara keduanya. Baik Luca maupun Aurora sama-sama fokus dengan tugas mereka masing-masing.

Tanpa terasa sudah satu jam lebih terlewati. Kerjasama yang baik adalah kunci Luca dan Aurora untuk menyelesaikan pekerjaan mereka kali ini dengan cepat.

Dengan ketinggian satu meter dan luas 2.5 meter × 3 meter menjadikan kolam ikan milik mereka cukup luas. Jika di kerjakan seorang diri mungkin akan membutuhkan banyak waktu juga tenaga dan sangat melelehkan. Tapi, karena mereka melakukannya bersama-sama, jadi semua itu tak terasa. Apalagi, mereka juga menyelinginys dengan canda tawa serta kejailan yang sesekali Luca cipta.

"Aurora?" Kesal Luca seraya memperlihatkan wajah cemberutnya karena Aurora dengan sengaja menyiramkan air yang harusnya untuk membersihkan kolam dari kotoran tapi justru membasahi tubuhnya.

"Hahahaha...." Bukannya meminta maaf, Aurora justru tertawa puas karena itu sebagai balasannya terhadap Luca yang tadi sengaja menjailnya dan hampir membuatnya jatuh.

"Puas banget tuh ketawanya." Sahut Luca masih dengan kekesalannya seraya keluar dari kolam.

"Habisnya, muka lo lucu banget sih. Kasian banget sih jadi basah kuyup gitu bajunya."

"Nih nih nih, gue bales. Rasain lo." Tanpa di sangka-sangka, Luca langsung merebut selang itu dan mengarahkannya pada Aurora. Jadilah keduanya sama-sama basah sekarang.

"Luca....." Rengek Aurora kesal.

"Hahahaha...... Basah kuyup juga kan lo....."

Puas membalas dendam serta tak tega melihat Aurora yang tubuhnya sudah basah, Luca pun menghentikan aksinya. Dia tentu tak mau sang istri kembali sakit karena keduanya yang justru asyik bermain air seperti sekarang.

"Lo mandi duluan gih sana. Biar gue yang lanjutin ini." Ucap Luca seraya menyemprotkan selang air itu ke dalam kolam untuk menghilangkan kotoran.

"Oke. Thank you Luca."

Pergi begitu saja, Aurora menaiki tangga menuju lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Membiarkan Luca menyelesaikan sisa pekerjaan mereka.

Sementara itu, di rasa tak ada kotoran lagi yang tersisa dan kolam ikan mereka juga sudah bersih, Luca mematikan selang yang dia pakai lalu mulai mengisi air kolam dengan kran yang sudah terpasang di dinding kolam.

Setelah menunggu beberapa saat dan ketinggian air juga sudah sesuai dengan anjuran, Luca mematikan kran itu. Memindahkan ikan-ikan di dalam ember satu per satu lalu menekan tombol di samping kolam ikan untuk menyalakan air terjunnya.

Belum selesai sampai di sana, Luca juga tak lupa untuk membereskan semuanya dan memasukkannya ke dalam gudang. Barulah setelah itu dia masuk ke rumah untuk membersihkan dirinya.

***

"Luca?" Tegur Aurora seraya menutup kembali pintu kamar dan masuk lebih dalam.

"Eh? Udah selesai mandinya?" Kaget Luca karena Aurora tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu seperti biasa. Untung saja dia sudah selesai mengganti pakaian. Apa jadinya jika belum?

Tak menjawab pertanyaan, Aurora malah merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidur Luca dengan kedua kaki yang masih menggantung di pinggir tempat tidur.

Tersenyum hangat melihat tingkah sang istri yang menggemaskan, Luca pun melangkah mendekat lalu duduk di sebelah Aurora.

"Capek ya?" Tanya Luca masih dengan senyumnya seraya menatap Aurora yang menutup matanya.

"He'em. Tapi seru. Jadi gak terlalu krasa capeknya." Walau Aurora menunjukkan senyum bahagianya, tapi wajah lelah itu tak bisa di tutupi. Membuat Luca kembali merasa khawatir.

Menempelkan tangannya di leher dan kening Aurora, Luca kembali mengecek suhu tubuh Aurora.

"Anget lagi badan lo." Ucapnya terdengar tak bahagia.

"Gue gak papa kok... Tenang aja Luca." Masih dengan senyum yang sama, Aurora meraih tangan Luca lalu menyatukannya dengan tangannya. Seolah memberi Luca keyakinan jika dirinya memang benar baik-baik saja.

"Laper gak?" Tanya Luca merubah topik pembicaraan dan suasana.

Aurora tersenyum dan mengangguk lucu sebagai jawaban.

"Lo yang masak kan?" Tanya Aurora. Antara meminta atau memerintah, itu terdengar seperti sama saja.

"Oke. Mau makan apa?" Langsung setuju, Luca sama sekali tak mempermasalahkannya. Lagipula, dia juga ingin Aurora sedikit beristirahat setelah seharian mereka membersihkan rumah.

"Apa aja."

"Kalo gitu mie instan aja. Menu paling simple, paling cepet and paling gampang."

"Ye.... Ya gak mie instan juga kali Luca..."

"Bilangnya apa aja kan? Ya terserah gue dong...."

Entah masih kesal dengan kejadian tadi saat Luca menyiramnya atau memang moodnya yang tengah berubah-ubah, Aurora tiba-tiba bangun dan melancarkan serangan cubitannya yang membuat Luca mengaduh kesakitan karena tak siap untuk menghindar.

"Aduh aduh aduh aduh. Kok di cubit sih? Sakit Aurora." Keluh Luca seraya berusaha menghentikan aksi Aurora di perutnya.

"Sukurin. Nyebelin sih lo." Sahut Aurora seraya memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada setelah puas melampiaskan kekesalannya.

"Hahaha.... " Bukannya meminta maaf karena sudah membuat sang istri kesal, Luca justru tertawa puas karena ekspresi kesal Aurora yang menurutnya justru menggemaskan.

"Becanda doang Aurora...... Sensi banget sih mbaknya. Lagi PMS ya?" Ucap Luca menebak seraya mengacak rambut Aurora pelan dan menetralkan gelak tawanya.

"Kok tau?" Sahut Aurora yang seketika ekspresinya berubah menjadi tanpa kekesalan.

"Eh, jadi bener ya? Padahal gue cuma nebak doang tadi." Tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Luca justru terlihat salah tingkah karena tebakannya benar.

"Luca...."

"Eits. Jangan lagi. Yang tadi aja masih sakit." Dengan sigap Luca langsung menahan tangan Aurora yang hendak kembali melancarkan serangan cubitannya.

"Mau tetep disini apa ikut ke dapur?" Tanya Luca sebelum nanti tiba-tiba Aurora merengek minta ikut seperti kemarin.

"Disini aja. Gue mau rebahan bentar." Kembali membawa tubuhnya untuk berbaring dan memejamkan mata, Aurora menikmati sensasi nyaman di punggungnya yang kembali terasa.

"Tidur juga gak papa. Gak ada yang ngelarang." Ucap Luca tertawa menggoda.

"Nanti kalo makanannya udah siap gue bangunin." Ucap Luca lagi sebelum akhirnya beranjak pergi.

15 menit berselang, tak ada sedikitpun rasa kantut yang menyerang. Rasa pegal yang mulai datang pun memaksa Aurora untuk bangun dan duduk di pinggir tempat tidur seraya memperhatikan sekitar.

2 malam tidur di kamar Luca, entah kenapa baru sekarang Aurora merasa tertarik dengan kamar bernuansa simple itu. Mungkin, karena dia ada di sana bukan sepenuhnya karena keinginan, tapi Luca yang merawatnya karena demam.

Berdiri dari duduknya, rak di salah satu sudut dinding menjadi tujuan pertama Aurora. Berbagai miniatur yang tertata rapi menjadi pajangan membuat Aurora tanpa sadar mengukir senyuman. Rupanya, kecintaan Luca terhadap berbagai bentuk bangunan sudah sejak lama.

Beralih dari sana, Aurora tertarik dengan deretan bingkai foto yang tertata di atas lemari panjang kabinet TV.

Lagi-lagi, Aurora kembali tersenyum saat memperhatikan satu per satu foto di sana dengan seksama. Itu foto Luca masa muda, sejak dirinya di bangku SMA hingga kuliah dan tinggal di Korea. Ada juga beberapa foto saat Luca tengah berlibur bersama teman-temannya dan juga keluarga. Semua tersusun rapi layaknya memori yang melukis cerita.

"Ara?" Panggil Luca tiba-tiba mengejutkan Aurora.

"Udah?" Tanya Aurora seraya meletakkan salah satu foto yang dia pegang kembali ke tempatnya.

"Udah. Yuk makan."

"Masak apa?" Tanya Aurora lagi seraya melangkah menghampiri Luca yang masih berdiri di ambang pintu kamar.

"Ada deh. Pastinya lo bakalan suka."

"Pd banget?"

"Iya dong... Karena orang tua lo sama temen-temen lo bilang kalo lo suka sama makanan ini."

"Ohh..... Pantes lama."

Tak lupa menutup kembali pintu kamarnya, keduanya pun melangkah bersama menuju meja makan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!