Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata
Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja
Bagaimana kisah Sany selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas kedua Sany part 7
Mystera memang mengatakan itu. Namun dalam hatinya, dia ragu dan tidak yakin bagaimana Sany akan menerima penjelasan yang akan dia berikan, atau pertanyaan-pertanyaan tajam apa yang akan menyusul.
Suasana hening sejenak. Hanya bunyi langkah kaki pelayan yang lalu lalang di koridor luar yang menembus keheningan kamar. Sany tetap duduk, tatapannya tenang namun penuh tuntutan, menunggu.
Lalu, tiba-tiba, sebuah kilasan ingatan muncul di benak Mystera. Sesuatu dari masa lalu yang terlupakan, sebuah potongan yang sempurna untuk menjawab atau setidaknya, mengalihkan pertanyaan Sany nanti. Bibir Mystera hampir tersentuh oleh senyum tipis yang penuh arti.
"Begini..." mulai Mystera, suaranya terdengar seperti mendongeng kisah purba.
"Pada mulanya, alam semesta hanya ada satu atau yang kelak dikenal sebagai dunia manusia.
"Tapi, alam semesta ini bukan benda mati. Ia memiliki imaginary, sebuah keajaiban dunia yang dimiliki semua makhluk termasuk alam semesta itu sendiri.
"Yang pada akhirnya, menemukan perwujudan fisiknya sendiri.
"Kesadaran itu menyebut dirinya Qu, personifikasi dari alam semesta itu sendiri.
"Qu merasa sepi. Maka, dia mulai menciptakan makhluk-makhluk untuk mengisi kekosongan. Salah satu ciptaannya yang paling awal adalah entitas yang disebut Aegisans atau, 'Entitas Kuno'.
"Mereka adalah makhluk kosmik berwujud humanoid, penghuni pertama alam semesta, jauh sebelum ras mana pun muncul.
"Namun, suatu hari muncul perdebatan. Para Aegisans mempertanyakan hak Qu untuk menciptakan ras-ras baru. Mereka merasa, alam semesta sudah sempurna dengan keberadaan mereka saja.
"Perdebatan itu memicu konflik. Konflik berubah menjadi peperangan antara Sang Pencipta dan ciptaannya sendiri.
"Peperangan itu begitu dahsyat, hingga meluluhlantahkan alam semesta tunggal itu, beserta Qu dan hampir seluruh Aegisans terkubur dalam kehancuran yang mereka picu.
"Tapi dari kehancuran itu... lahirlah sesuatu yang baru.
"Ia tidak menjadi akhir segalanya. Ia justru menjadi benih bagi lahirnya alam semesta yang tidak terbatas.
"Dan sejak saat itulah, para Aegisans yang tersisa mengambil alih peran yang ditinggalkan Qu. Mereka menjadi penjaga atau menurut beberapa versi, pengatur dari siklus kosmik kelahiran dan kehancuran alam semesta," Mystera selesai menjelaskan.
Sany masih menatapnya. Di balik mata yang tenang itu, ada kecurigaan bahwa Mystera menyembunyikan sesuatu yang penting.
"Jadi..." mulai Sany yang suaranya datar.
"Apa hubungannya dengan tugasmu?"
Mystera sedikit terperangah. Dia tidak menyangka Sany akan langsung menuju inti masalah.
"Nah... itu intinya," jawab Mystera, mencoba tetap tenang.
"Tugasku adalah membantunya memilih sebuah planet. Karena dia akan... mengorbankan salah satu planet yang akan menjadi inkubator bagi kelahiran Aegisans baru,"
"Aegisans baru?" Sany menyeringai.
Mystera menarik napas dalam. Dia lupa atau mungkin sengaja melupakan bahwa Sany adalah ketua, bukan karena kekuatannya saja, tapi karena dia tidak terduga. Bahkan olehnya sekalipun.
"Iya, itu cara mereka bereproduksi. Seorang Aegisans akan mengirim benihnya ke sebuah objek luar angkasa seperti, planet, bintang, matahari, apa pun yang memiliki energi cukup untuk diserap. Seperti benih tanaman... tapi yang tumbuh dengan memakan inti energi itu," jelas Mystera yang memberitahu sesuatu.
Sany terdiam lama. Akhirnya, dia hanya mengangguk perlahan, seperti seseorang yang baru saja memahami ucapan seseorang.
"Sepertinya dia mengerti, batin Mystera, lega namun juga waspada.
"Yaya. Aku mengerti," ucap Sany, suaranya datar namun terasa berat. Bukan sekadar paham, tapi seperti menerima sebuah fakta yang tak terelakkan.
Dia memandang keluar jendela. Cahaya jingga senja mulai membanjiri langit, menandakan malam hari akan segera tiba.
"Sudah waktunya pulang," gumam Sany, suaranya hampir tak terdengar, seperti sebuah keputusan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Dia pun berdiri. "Baik, aku akan pulang. Sampai jumpa lagi," ucap Sany, yang terlihat sebagai formalitas daripada janji.
"Iya," balas Mystera, satu kata yang menggantung di udara yang tiba-tiba terasa dingin.
Tanpa menoleh lagi, Sany berbalik dan meninggalkan kamar. Vizz melesat mengikutinya, setia seperti bayangan. Pintu tertutup perlahan, menyisakan Mystera seorang diri di tengah kesunyian kamar yang terasa lebih besar dan lebih kosong dari sebelumnya.
Di lorong istana yang mulai gelap, Sany berhenti. Dia menatap Vizz, pikirannya berputar mencari solusi.
"Kalau kubawa ke rumah, satu rumah pasti heboh. Kalau ke bibi, sudah ada Daimos dan Valkryie di sana, aku harus bagaimana?" batin Sany, wajahnya berkerut.
Vizz memperhatikan kebingungan tuannya. "Ada apa, Master? Kau terlihat bingung,"
"Aku sedang memikirkan... di mana tempat terbaik untukmu tinggal," jawab Sany, menoleh padanya.
Vizz tersenyum, seolah teka-teki itu sederhana. "Kenapa repot-repot? Bukankah kemampuan Master bisa membuat seluruh keluarga menerimaku dengan senang hati?"
Sany tertegun. Kemudian, senyum kecil muncul di bibirnya. "Kau benar. Dengan keinginanku, aku bisa membawa mereka ke rumah,"
"Mereka?" Vizz memicingkan mata, menangkap perubahan kata ganti.
"Iya, akan kubawa kau bertemu mereka," Sebelum Vizz bisa bertanya lebih lanjut, Sany telah menggunakan sihir berpindah tempatnya.
Di kantor belakang restoran bibinya, Sany muncul seketika udara berdesis ringan saat dia dan Vizz menyelesaikan teleportasi. Bahkan bibinya tidak menoleh dari tumpukan nota dan kalkulator di mejanya.
Seharusnya kedatangan tiba-tiba seperti itu mengejutkan. Tapi Sany sudah lama mengatur "keadaan" keluarganya dengan keinginannya. Bagi mereka, Sany muncul dari mana pun adalah hal yang biasa, sama biasa seperti kabar burung di pagi hari.
"Sany? Ada perlu apa datang tiba-tiba begini?" tanya Bibi, hanya meliriknya sebentar sebelum kembali fokus pada angka-angka.
Melihat bibinya begitu sibuk, Sany memutuskan untuk langsung ke inti. Dia tidak datang untuk mengganggu.
"Aku mau menemui Daimos dan Aurora," kata Sany dengan singkat.
"Mereka di tempat biasanya," jawab bibi tanpa menoleh.
"Makasih bibi," balas yang berbalik dan melangkah keluar pintu.
Sany menemui Daimos dan Aurora di ruang peristirahatan karyawan, restoran memang sudah tutup sejak matahari terbenam.
"Hai," ucap Sany sambil membuka pintu.
Dua pasang mata langsung menoleh ke arahnya. Aurora, yang sedang duduk di kursi, langsung menyunggingkan senyum hangat. Di sebelahnya, Daimos hanya melihatnya dengan datar.
"Kau sudah kembali, Master,"
"Master? batin Vizz, sedikit bingung dengan panggilan yang sama untuk tuannya.
"Iya, omong-omong ada hal yang perlu kubicarakan dengan kalian berdua," balas Sany, lalu tanpa basa-basi langsung ke pokok masalah.
"Hal apa, Master?" tanya Aurora yang penasaran.
"Aku ingin kalian tinggal di rumahku," ujar Sany yang polos dan langsung.
Aurora menoleh ke Daimos, mencari petunjuk. Tapi Daimos hanya menoleh ke arah lain, lalu mengalihkan pandangannya lagi dengan ekspresinya yang datar dan tak peduli.
"Tidak perlu, Master," jawab Aurora dengan lembut namun tegas.
"Kami sudah nyaman di sini. Lagi pula... tempat ini memang sesuai dengan keinginanku,"
"Keinginanku?" Sany menegosiasi ulang kata itu, sorot matanya menjadi tajam. Dia menangkap sesuatu di balik nada Aurora.
Aurora tersipu, tangannya dengan cepat menutup wajahnya dan menoleh ke arah lain. Sebuah gestur polos yang justru semakin mencolok. Dia tahu tidak bisa berbohong pada Sany.
Melihat reaksi itu, Sany mengangguk pelan. Dia mengerti, ini bukan saatnya.
"Baik, itu akan kita bicarakan lain kali," kata Sany mengalihkan fokus. Lalu, dia menoleh ke sosok pendiam di sebelah Aurora .
"Satu hal lagi. Namamu siapa?" tanyanya, langsung menatap tajam ke arah Daimos.
Bersambung...