Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 29 - Gendongan Pengantin
Fasha mengangguk santai.
'Aku hanya melakukan itu pada Sander, mana mungkin ada yang lain yang aku suka selain dia..'
Setelah jeda iklan, Fasha kembali tenggelam dalam tontonan. Tanpa sadar, Sander sudah tidak ada di sampingnya.
Saat itu, Sander memang sedang bekerja lembur—berlatih menangkap boneka.
Hanya dalam beberapa menit, ia menguasai mesin capit yang telah disesuaikan. Ketika mode kesulitan dinaikkan ke tingkat tertinggi, tingkat keberhasilannya yang sempurna langsung anjlok.
Namun Sander tidak frustrasi. Justru semangatnya terpacu. Setelah tiga kali percobaan, tingkat keberhasilannya kembali sempurna.
Ia mengusap buku-buku jarinya. Di sana masih tertinggal sensasi samar telapak tangan Fasha yang lembut.
Sander bersandar pada dinding dingin dan menghembuskan napas. Kulit di balik kemejanya memerah—bekas cubitan keras yang ia lakukan pada dirinya sendiri.
Tampaknya… itu saja belum cukup.
Bulan telah tinggi. Cahaya dingin masuk melalui jendela setinggi langit-langit, memantulkan bayangan Sander yang sedikit membungkuk di dinding.
Matanya menggelap. Ia meneguk air es, merapikan pakaiannya yang kembali sempurna, lalu turun ke bawah.
Sander berjalan perlahan menuju sofa. Dari jarak sedekat ini, ia melihat Fasha menggosok matanya setidaknya tiga kali.
Suara televisi tiba-tiba berhenti.
Fasha menoleh, memperlihatkan botol obat tetes mata di tangannya.
“Fasha, ini untuk matamu.”
Rasa hangat menjalar di dada Fasha, menyebar ke seluruh tubuhnya yang kaku dan pikirannya yang berkabut. Ia tak sanggup mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Sander, yang tampak dingin dan pendiam, ternyata lebih perhatian daripada siapa pun—bertindak tanpa perlu banyak bicara.
“Kak… aku nggak tahu cara pakainya. Bisa bantu?”
Tak memberi kesempatan Sander menolak, Fasha langsung berbaring di pangkuannya. Ia menatapnya dari bawah, merasakan otot rahang Sander menegang.
“Kakak, kamu yang terbaik.”
Fasha membuka matanya lebar-lebar, memperlihatkan garis merah samar. Ia mengerutkan bibirnya, seolah benar-benar menjadikan Sander satu-satunya penyelamat.
Setelah terdiam sejenak, Sander akhirnya mengangkat lengannya yang masih kaku, membuka tutup botol obat tetes, dan mencondongkan tubuh.
'Ini terlalu dekat.'
Fasha bahkan bisa melihat jakun Sander bergerak.
Ternyata, Sander juga gugup.
“Fasha, jangan berkedip terlalu cepat.”
Fasha menurut, menatap jakun itu tanpa sadar, lalu menggerakkan matanya sesuai perintah.
“Putar matanya, lalu tutup.”
Fasha bersenandung pelan. Napasnya teratur, tenggelam dalam aroma yang familiar.
Saat Sander menyadari ada yang janggal, Fasha sudah tertidur lelap.
Ia menunduk, memastikan Fasha benar-benar terlelap.
“Hm?”
'Apa dia berpura-pura? Tidak mungkin.'
Sander melirik jam—pukul 9.42.
Ia menggenggam botol obat tetes itu erat, ekspresinya kembali dingin dan kaku.
Saat itu juga, Fasha bergumam pelan dan bergeser, mencari posisi yang lebih nyaman. Senyum tipis terlukis di wajahnya, benar-benar puas dalam tidurnya.
Wajah Sander menjadi semakin dingin.
***
Sinar matahari yang menyilaukan menembus kaca jendela dan jatuh tepat di wajah Fasha. Ia mengangkat tangan untuk menghalanginya, membalikkan tubuh, dan berniat melanjutkan tidur.
Namun sensasi lembut di bawah tubuhnya tiba-tiba menarik kembali kesadarannya yang masih kabur. Fasha meraba ke bawah bantal, mengambil ponselnya, dan melihat jam menunjukkan pukul 08.17.
Ia mengusap matanya, memastikan dirinya tidak salah lihat. Delapan lewat tujuh belas pagi.
Pagi keesokan harinya.
Fasha tersentak duduk, menatap sekeliling kamar. Itu memang kamar tidurnya—tak salah lagi. Lalu pertanyaannya muncul dengan sendirinya.
'Bagaimana aku bisa kembali ke kamar?'
Ia memiringkan kepala, melamun. Ingatannya masih tertahan pada kejadian semalam, saat Sander meneteskan obat mata untuknya. Ia berbaring di pangkuan Sander, dan entah bagaimana… tertidur.
'Tunggu.. Bagaimana aku bisa tertidur?'
Jika sekarang ia berada di kamarnya dengan selamat, maka hanya ada satu kemungkinan: Sander telah menggendongnya ke sini.
Gendongan pengantin..
Fasha menutup wajahnya dengan bantal.
'Sial. Seandainya aku berpura-pura tidur setengah sadar… aku tidak akan melewatkan semuanya.'
Dalam imajinasinya, gendongan pengantin itu seharusnya romantis—lengannya melingkar malu-malu di leher Sander, langkah Sander tenang dan lembut, diiringi musik yang pas, penuh suasana manis.
Kenyataannya?
Ia mungkin digendong seperti sebatang kayu, tidur pulas tanpa sadar, mungkin bahkan mengiler. Tidak romantis sama sekali.
Fasha telentang di tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya melayang ke mana-mana. Tenaganya terasa terkuras habis. Ia terlalu malas bahkan untuk sekadar menggosok gigi.
Seperti biasa, ada tambahan uang seratus yuan di kotak harta kecilnya. Fasha menyentuhnya, menarik napas panjang.
'Tidak apa-apa! Lain kali aku akan berpura-pura tidur.'
Ia tersenyum kecil.