NovelToon NovelToon
Retired Hero

Retired Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wanto Trisno 2

Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.

Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.

Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Terakhir

Saat pertempuran semakin sulit, peluang terakhir adalah dengan mengerahkan semua yang ada. Kerajaan Dunggos mengerahkan Hunter Rank S sebagai pilihan yang sulit. Untuk menghadirkannya, membutuhkan lebih banyak biaya.

Namun pendeta yang telah memiliki niat untuk mendatangkan Hunter-hunter itu, telah menyiapkan rencana. Meski harus menguras harta kerajaan. Itu memang yang diinginkan oleh Rantao Musbeskus.

Meskipun Hunter Rank A dan B telah dikerahkan, rasanya masih kurang mampu untuk bertahan. Karena pasukan Pengst memiliki penyihir yang sangat kuat. Mampu mengalahkan pasukan kerajaan dengan sekali libas.

"Paduka, kita sudah kehilangan banyak korban. Apakah akan terus seperti ini? Kehadiran pahlawan, tidak membuat situasi ini membaik," ungkap Rantao Musbeskus.

Pendeta itu tengah berada di atas istana bersama sang Raja. Meskipun dia sendiri yang mendatangkan pahlawan ke dunia ini, ia masih menyebarkan perselisihan antara raja dan pahlawan.

"Ini salah hamba. Andaikan hamba memiliki kekuatan yang lebih besar, tidak mungkin mendatangkan pahlawan yang tidak berguna. Maafkan hamba, Paduka Raja."

Dalam balik rasa menyesalnya, ada senyum di bibirnya. Ia bersembunyi dalam rangkuman tangannya. Lalu ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memanggil pahlawan yang kuat. Justru sangat lemah.

"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin memanggil pahlawan lagi, bukan? Kita butuh waktu seratus tahun untuk memanggil pahlawan kembali."

"Paduka, hamba merasa bersalah. Semoga Paduka memaafkan." Rantao Musbeskus berbicara seolah-olah mengaku kesalahannya. Padahal ia sudah memiliki banyak rencana di hatinya.

Namun raja itu tidak menyalahkan siapapun. Ia justru merasa gagal sebagai pemimpin kerajaan. Seharusnya tidak membiarkan rakyatnya menderita.

Benar-benar kacau dunia yang sekarang. Ancaman yang akan datang, telah diramalkan oleh para pendeta. Mereka terus mendesak untuk memanggil pahlawan dari dunia lain. Siapa sangka, justru mendatangkan bencana.

Baru satu pekan sejak kedatangan pahlawan, kota Dunggos hampir hancur di tangan Pengst. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada perubahan besar, demi kelangsungan hidup rakyatnya.

"Kita tidak punya pilihan lain, selain memanggil Hunter Rank S. Selama ini mereka tidak mau bekerja jika bayarannya tidak memuaskan."

Meskipun Hunter Rank S tergabung dalam Guild Petualang, tetapi mereka terlalu pilih-pilih misi. Mereka tidak mau mengambil misi jika bayarannya kurang sesuai. Maka dari itu, mereka hanya ditugaskan jika dalam keadaan terpaksa.

Mereka juga sudah memiliki kekayaan yang melimpah. Sehingga untuk mendatangkan mereka sangat sulit. Hanya Pendeta Rantao Musbeskus lah yang berhasil memanggil mereka, meski dia sendiri yang menentukan harga.

Jelas itu menguntungkan pendeta sendiri karena ia bisa memanggil mereka dengan biaya murah. Namun masih mengambil keuntungan dari kerajaan.

Raja Dunggos mengangguk, "Baiklah ... kamu bisa memanggil mereka. Kita tidak punya pilihan lainnya." Setelah mendapat bujukan, ia terpaksa mengeluarkan banyak biaya untuk mendatangkan Hunter Rank S.

Secara ajaib, setelah keputusan lisan itu dibuat sang Raja, para Hunter Rank S pun bermunculan. Mereka telah berada di sisi Pendeta Rantao Musbeskus. Mereka langsung memberi rasa hormat, "Hormat kami, Paduka. Kami siap berangkat."

Setelah berpamitan, mereka menuju pertempuran. Mereka memimpin pasukan dan memerintahkan para penyihir untuk mempersiapkan sihir yang kuat. Tentu saja karena Rank S juga memiliki anggota yang mendengarkan perintah.

Pengst semakin mendekati kota Dunggos, dengan serangan yang semakin brutal. Mereka menghancurkan bangunan-bangunan dan membunuh siapa saja yang berani menghalangi jalan mereka.

Rent Kuhichi dan Lyra terus bertempur, meski telah kehilangan keseimbangannya dan juga mulai kelelahan. "Lyra, kita harus melakukan sesuatu! Pengst tidak akan berhenti!"

Lyra menghunus pedangnya, demi menahan agar mereka tidak mendekat ke arahnya. Meskipun ia sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari Pengst. Namun mereka terus mengejar tanpa rasa lelah.

Para petualang juga sudah semakin banyak berguguran. Mereka yang berharap mendapatkan harta melimpah, justru kematian yang datang terlebih dahulu.

Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terjadi di tengah-tengah Pengst. Rent dan Lyra melihat ke arah ledakan, dan melihat seorang wanita muda dengan rambut hitam dan panjang. Dia menggunakan sihir elemen tanah untuk menghancurkan para Pengst.

"Siapa kamu?" tanya Rent. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Namun ia tertarik dengan tubuhnya. "Cantik sekali."

Wanita muda itu menoleh ke arah sang pahlawan dan menjawab, "Aku adalah Elara Soyeith, datang karena panggilan alam. Eh, maksudku datang untuk membantu kalian."

Elara menggunakan pedang besar untuk menghancurkan Pengst. Memberi waktu bagi kedua orang yang kelelahan memulihkan tenaga. Sementara timnya yang memiliki sihir penyembuh, menghampiri Rent dan Lyra.

Setelah tenaga mereka pulih, bersama-sama bertempur melawan para Pengst. Meski dengan energi sedikit yang tersisa. Namun karena ada bantuan, membuat mereka lebih percaya diri.

Di area lain juga mulai berdatangan pasukan yang menggunakan sihir tanah. Mereka membangun tembok dan membentuk perlindungan. Mengusir para Pengst dengan kekuatan luar biasa.

Dari kejauhan, Rapphael hanya tertawa melihat kejadian itu. Ia bahkan tidak menyangka akan mendengar sesuatu yang tidak pernah disangka. Rupanya dia telah menempatkan beberapa alat sihir untuk merekam. Juga telah mendengar pembicaraan raja dan pendeta.

"Hahaha. Ternyata, semua ini adalah ulah pendeta sialan itu. Sebagai seorang raja, justru lebih percaya dengan dongeng orang itu daripada penjelasan."

Akhirnya ia mengerti, mengapa dia selalu disalahkan atas kekalahan. Pada saat itu, dia bahkan bisa menghadapi pasukan Pengst dengan akalnya. Dengan susah payah, memutar otak, berpikir bagaimana cara melawan para Pengst.

Setelah berhasil, bukannya mendapat pujian, justru disalahkan karena sudah membuat banyak Hunter yang mati sia-sia. Padahal ide untuk mengerahkan Hunter adalah ide dari pendeta.

"Pantas saja. Ternyata orang tua itu mengincar harta kerajaan. Kalau begitu, bagaimana jika harta kalian sudah tidak ada lagi?"

Rapphael telah memutuskan ke mana ia akan pergi. Ia meninggalkan Gwysaa yang sedang memungut barang-barang yang ditinggalkan oleh para petualang.

Berbekal ingatan kehidupan sebelumnya, Rapphael masuk ke dalam istana menggunakan sihir teleportasi. Dalam waktu singkat, ia berhasil masuk ke depan gerbang istana. Lalu mengubah wajahnya menjadi salah satu orang kerajaan.

"Mau mengincar harta, bukan? Kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginanmu. Rantao Musbeskus, kamu tidak pantas mendapatkan itu semua."

Rapphael menuju ke ruang penyimpanan kerajaan. Diam- diam melumpuhkan beberapa penjaga menggunakan obat tidur. Dengan sihirnya, membuka gembok dan masuk ke dalamnya. Di sana terdapat banyak harta yang sangat melimpah.

"Seharusnya ini adalah hadiah yang diberikan raja padaku setelah membunuh Raja Iblis. Karena di kehidupan sebelumnya tidak dapat, maka aku mengambil komisinya hari ini."

Dengan sekejap, Rapphael menyimpan semua harta. Tidak tanggung-tanggung, mengambil apapun yang ada di ruangan tersebut. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, berhasil menuntaskan semuanya.

"Haha! Ruangan ini sudah kosong. Mungkin bisa digunakan sebagai lapangan sepak bola. Hanya ruangannya tertutup begini."

Lalu Rapphael mengeluarkan kertas dan meniru tulisan Rantao Musbeskus. Ia tahu persis seperti apa tulisannya. Karena itu, harus melimpahkan atas namanya.

"Kepada Yang Terhormat, Paduka Rajaku, terima kasih telah menyiapkan semua harta yang paduka siapkan untuk hamba. Ini adalah biaya untuk membawa Hunter Rank S dalam pertempuran. Sekali lagi, terima kasih. Semoga ke depannya, kita bisa bekerja sama kembali. Tertanda, Pendeta Rantao Musbeskus."

Setelah menuliskan surat, Rapphael menempelkan kertas itu di depan pintu. Lalu keluar dari istana dengan santainya. Kembali ke medan perang dan bersantai sambil mengamati.

***

1
anggita
mampir lewat ng👍like aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!