NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Kamar hotel di pusat kota Johor Bahru itu terasa begitu mencekam dalam kesunyian yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Cahaya lampu nakas yang terletak di sisi tempat tidur hanya mampu memberikan semburat warna jingga yang lelah pada dinding-dinding berwarna krem, tak mampu menghalau hawa dingin yang tak wajar yang mengendap di sekitar bagian ujung tempat tidur. Udara di dalam kamar terasa sangat sejuk bahkan setelah Lisa menutup semua jendela dan menyalakan pendingin udara dengan suhu yang cukup hangat. Ia tahu bahwa dinginnya itu bukan berasal dari alat pendingin ruangan—ia berasal dari sosok yang sedang melayang lemah di atas seprai putih yang rapi.

Lisa duduk bersimpuh di lantai karpet berwarna merah tua yang lembut, matanya sudah menjadi sembap dan merah akibat tangisan yang terus menerus menyusuri wajahnya sejak beberapa jam yang lalu. Pakaian polisi yang dikenakannya masih kotor oleh debu dan bekas darah dari luka lecet di lengannya, namun ia tidak punya niat sama sekali untuk menggantinya. Matanya tertuju nanar pada sosok Sam yang terbaring dengan posisi terlentang, tubuhnya mengambang beberapa sentimeter di atas permukaan tempat tidur seolah tidak mampu menyentuh benda material apapun lagi.

Sam tampak begitu rapuh. Sosoknya yang biasanya hanya sedikit transparan kini hampir sepenuhnya tembus pandang, seolah-olah terbuat dari kabut tipis yang siap menguap ke udara kapan saja angin sedikit saja bertiup. Warna kemerahan yang selalu menjadi ciri khas di ujung rambutnya telah hilang sepenuhnya, menyisakan rona kelabu yang mati dan suram. Ia tidak bergerak sedikit pun, bahkan dada yang biasanya naik turun dengan napas imajiner yang lembut kini tampak begitu statis. Getaran energi yang biasanya selalu bisa dirasakan oleh indra keenam Lisa sebagai sesuatu yang hangat dan nyaman, kini terasa begitu redup hingga nyaris tak teraba sama sekali.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, bisik hati Lisa yang penuh dengan rasa takut yang mendalam. Ia telah menghadapi banyak bahaya dalam karirnya sebagai detektif—bertemu dengan pelaku kejahatan yang keji, melihat adegan kematian yang mengerikan, bahkan hampir kehilangan nyawanya berkali-kali. Namun rasa takut yang ia rasakan pada saat ini berbeda dari semua rasa takut yang pernah ia alami. Rasa takut ini seperti duri yang menusuk langsung ke dalam hati, membuat setiap napas terasa berat dan menyakitkan.

"Sam... bangunlah..." Bisik Lisa dengan suara yang pecah oleh isak yang tertahan dengan susah payah.

Bibirnya menggigil, dan ia harus menggerakkan tangannya dengan sangat hati-hati agar tidak terlihat gemetar terlalu banyak. Ia mencoba mengulurkan tangan kanannya yang masih utuh untuk menjangkau sosok Sam, namun jemarinya hanya menembus udara dingin yang hampa dan tidak bisa menyentuh apa-apa pun. Rasa sakit yang menusuk muncul di dadanya seketika, lebih menyakitkan daripada rasa perih dari luka lecet di lengannya yang disebabkan oleh insiden di pelabuhan beberapa jam yang lalu.

Di dunia luar yang penuh dengan kasus dan investigasi, Lisa selalu dianggap sebagai detektif wanita yang tangguh dan tidak mudah terkalahkan. Mereka menyebutnya dengan julukan "Macan Betina" dari Seoul karena keberaniannya yang tak kenal takut dan kemampuannya untuk menyelesaikan kasus-kasus yang dianggap mustahil oleh rekan-rekannya. Namun di depan sosok arwah yang sedang memudar perlahan ini, seluruh tembok pertahanan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun runtuh tak bersisa seperti pasir yang diterpa ombak besar.

"Jangan tinggalkan aku sekarang..." Ia menundukkan kepala sebentar, menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan kerentanan dari pandangan yang tidak ada.

"Kau sudah berjanji. Kau bilang kita akan mencari tahu siapa namamu yang sebenarnya. Kau tidak boleh menghilang begitu saja setelah menyelamatkanku tadi. Kau tidak bisa melakukan itu padaku."

Setelah beberapa saat, Lisa menundukkan kepala lebih dalam lagi, membiarkan dahinya bersandar pada tepi tempat tidur yang dingin. Bahunya berguncang hebat dengan getaran tangisan yang semakin kuat, dan ia tidak lagi berusaha untuk menahannya. Dalam keheningan malam yang dalam di negeri asing ini, jauh dari rumah dan orang-orang yang dicintainya, ia akhirnya mengakui kebenaran yang selama ini ia kunci rapat di balik lencana kepolisiannya yang terkilau dan sikap tegas yang selalu ia tunjukkan.

"Aku takut. Duniaku selalu penuh dengan orang mati dan kegelapan. Setiap hari aku harus menghadapi kejahatan dan penderitaan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Selama ini aku merasa baik-baik saja sendirian—bahkan berpikir bahwa itu adalah cara terbaik untuk bekerja tanpa ada yang terganggu atau terluka karena aku. Tapi setelah kau datang... semuanya berbeda." Ia mengangkat kepalanya sebentar, menatap sosok Sam yang masih tidak bergerak dengan mata yang penuh dengan harapan dan kesedihan.

"Aku membutuhkanmu. Bukan cuma untuk menangkap bajingan-bajingan itu yang menyakiti orang lain, tapi karena kau satu-satunya yang benar-benar melihatku sebagai apa adanya. Aku tidak perlu berpura-pura di depanmu. Aku... aku kesepian, Sam. Tolong, jangan biarkan aku sendirian lagi."

Kesunyian kembali menelan ruangan itu setelah kata-kata Lisa berhenti, hanya diiringi oleh suara detak jam dinding yang terletak di pojok kamar yang monoton dan berirama.

𝘛𝘪𝘬... 𝘵𝘢𝘬... 𝘵𝘪𝘬... 𝘵𝘢𝘬...

Bunyi itu seolah menghitung waktu yang terus berlalu, membawa dengan diri ketakutan bahwa setiap detik yang berlalu adalah detik yang semakin dekat dengan saat di mana Sam akan benar-benar hilang selamanya. Lisa memejamkan mata erat-erat, merasa begitu putus asa seolah-olah ia sedang menggenggam pasir yang terus menerus meluncur dari sela-sela jarinya tak peduli seberapa erat ia mencubitnya.

𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘴𝘢-𝘨𝘦𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘣𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘦𝘯𝘦𝘳𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘭𝘢𝘪𝘢𝘯𝘬𝘶.

Tiba-tiba, sebuah embusan angin dingin yang sangat halus menyentuh puncak kepalanya, menyapu rambutnya yang kusut dengan lembut seolah ada tangan yang lembut sedang menyentuhnya. Suara dingin yang menyegarkan itu membuatnya terkejut dan segera membuka mata.

"Astaga... suaramu benar-benar berisik."

Suara itu sangat tipis dan lemah, nyaris seperti gesekan daun kering yang terbawa angin atau bisikan angin melalui celah jendela. Namun bagi Lisa, suara itu adalah simfoni terindah yang pernah ia dengar dalam hidupnya—suara yang membawa harapan seperti sinar matahari yang muncul setelah badai besar. Ia tersentak mendongak dengan cepat, matanya melebar lebar saat melihat sosok Sam yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali.

Di sana, Sam perlahan membuka kelopak matanya yang sebelumnya tertutup rapat. Meskipun matanya masih tampak sayu dan penuh dengan kelelahan yang luar biasa, ada binar kehidupan metafisika yang mulai muncul kembali di pupilnya—secercah cahaya yang semakin jelas dari waktu ke waktu. Tubuhnya yang tadinya seperti kabut mulai mendapatkan kembali bentuk yang lebih jelas, meskipun masih terlihat sangat lemah dan pucat.

Sam mencoba menggerakkan sudut bibirnya dengan susah payah, membentuk senyum tipis yang lemah namun cukup untuk membuat hati Lisa terasa lega seolah beban besar yang selama ini ia pikul tiba-tiba hilang.

"Aku sedang mencoba istirahat dengan tenang, tapi kau malah menangis seperti anak kecil yang kehilangan balonnya." Ujarnya dengan nada yang penuh dengan candaan ringan, meskipun setiap kata keluar dengan susah payah.

Lisa tidak bisa menahan diri. Ia tertawa kecil di tengah sisa isakannya yang masih terus mengalir, air mata bahagia kini bercampur dengan air mata kesedihan yang masih ada di wajahnya. Ia buru-buru menyeka wajahnya dengan punggung tangannya yang masih gemetar, merasa sedikit konyol karena telah menangis seperti itu di depan Sam.

"Kau brengsek. Kau hampir membuatku serangan jantung dengan cara mu yang tidak berpikir panjang itu. Kamu tahu kan bahwa aku tidak bisa melakukan ini sendirian?"

Sam mengangguk perlahan, tubuhnya mulai sedikit bergerak seolah mencoba menyesuaikan posisinya yang lebih nyaman. "Aku tahu. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian. Ingat apa yang kubilang sebelumnya? Aku tidak bisa mati dua kali, kan?"

Ia menjawab dengan nada yang sedikit lebih kuat, dan tubuhnya mulai mendapatkan kembali pendar cahayanya yang stabil, meskipun masih tampak sangat lelah. Ia menatap Lisa dengan sorot mata yang dalam dan mendalam, sarat dengan emosi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata—perasaan terima kasih, rasa sayang yang tulus, dan janji yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata namun jelas terlihat dalam matanya.

"Dan jangan bicara soal kesepian lagi. Itu tidak cocok dengan wajah galakmu yang selalu membuat pelaku kejahatan merinding hanya dengan melihatmu."

Lisa terdiam mendengar kata-kata itu, wajahnya sedikit memerah karena merasa malu. Ia merasa sangat terbuka dan rentan karena telah menumpahkan seluruh isi hatinya pada sesosok arwah yang baru saja sadar dari keadaan tidak sadar itu. Namun saat Sam menatapnya dengan cara yang penuh dengan perhatian dan pemahaman seperti itu, ia tahu bahwa ikatan yang terbentuk di antara mereka telah melampaui batas profesionalisme antara seorang detektif dan informannya. Ikatan itu sudah menjadi sesuatu yang lebih dalam—sebuah persahabatan yang dibangun di atas pengorbanan dan pemahaman yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah melalui cobaan bersama.

"Istirahatlah lagi kalau perlu." Ia melihat dengan hati-hati bagaimana Sam mencoba mengatur posisinya agar lebih nyaman, tubuhnya yang semakin jelas mulai menunjukkan bentuk yang lebih mirip dengan manusia biasa.

"Besok kita pulang ke Seoul. Kita sudah menyelesaikan kasus di sini, dan sekarang kita punya nama yang harus dicari—nama asli kamu yang selama ini tersembunyi. Kita tidak akan berhenti sampai kita menemukan jawabannya."

Sam mengangguk pelan, kepalanya kembali bersandar pada bantal imajinernya yang seolah ia rasakan dengan nyaman. Tubuhnya mulai mengambang lebih rendah, hampir menyentuh permukaan seprai putih yang lembut di bawahnya. "Terima kasih sudah memanggilku kembali. Aku hampir tidak bisa mendengar suara apapun dari duniamu. Tapi suaramu... suaramu begitu jelas dan kuat. Seolah kamu sedang menarikku kembali dari jurang kegelapan yang hampir menghisapku sepenuhnya."

Lisa mengangguk dengan lembut, matanya tidak bisa lepas dari sosok Sam yang mulai tampak lebih stabil sekarang. Ia meraih handuk kecil dari sisi meja nakas dan mulai membersihkan bekas darah dari luka di lengannya dengan hati-hati, rasa sakit yang sebelumnya menyakitkan kini terasa jauh lebih ringan karena rasa lega yang meliputi seluruh tubuhnya. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan misteri yang harus dipecahkan. Namun setelah malam ini, ia merasa lebih siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang.

Di kamar hotel yang mulai terasa lebih hangat dengan kehadiran Sam yang semakin stabil, Lisa tetap berjaga di sisi tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada dinding dan menjaga jarak yang cukup agar tidak mengganggu istirahatnya. Ia menyadari bahwa perjalanan yang mereka lakukan bersama bukan lagi sekadar tentang mencari keadilan bagi mereka yang telah menjadi korban kejahatan. Perjalanan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih penting—tentang menjaga satu sama lain agar tidak benar-benar lenyap ditelan waktu dan kegelapan yang selalu mengintai di setiap sudut dunia ini.

Saat jam dinding terus menunjukkan waktu yang berlalu dan malam semakin larut, Lisa merasakan mata mulai berat dan rasa kantuk mulai menyergapnya. Namun sebelum ia benar-benar tertidur, ia melihat Sam yang sudah mulai terlihat lebih rileks dengan mata yang tertutup lembut, tubuhnya yang semakin jelas memberikan cahaya yang hangat dan menenangkan di kamar yang sebelumnya penuh dengan kesendirian dan ketakutan. Ia tersenyum sedikit, merasa bahwa akhirnya ada sesuatu yang benar-benar berharga dalam hidupnya yang selalu penuh dengan kegelapan dan kesedihan.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
PengGeng EN SifHa
HENDRY OPO DIBALIK KEMATIAN IKU YA ??
PengGeng EN SifHa
partner terbaik meskipun di anggap gila..
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
PengGeng EN SifHa
secercah harapan yg terpatahkan
si kecil nikkey
seruuu suatu saat pasti banyak yg mampir baca thor
PengGeng EN SifHa
Cerita yang sangat amat menyentuh hati...
apakah si SAM korban pembunuhan ?
Phida Lee
Terima kasih kritik dan sarannya kak, baik. 🙏
Zainuri Zaira
sdh bab 7 tp aq blom paham gimna ceritax. terlalu byk kalimat yg ngk di pahami.singkat aj biar kita cpat paham
si kecil nikkey
seruuu bngeettt👍
si kecil nikkey
halo Thor cerita yg seru tapi tolong jangan terlalu bala dg kata2 yg gakmoerlu d bahas, singkat aja yaa spya gak cape bacanya
Phida Lee: Terima kasih kritik dan sarannya kak, baik. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!