NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 RTJ

Kabut di lereng Gunung Tengkorak mendadak berubah menjadi tebal dan berdenyut, seolah-olah gas itu sendiri memiliki detak jantung. Long Chen berdiri terpaku di depan kedai teh yang kini mulai memudar seperti bayangan di atas air. Di penglihatannya, realitas telah terpelintir menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Ia menoleh ke arah Satu, namun jantungnya hampir melompat keluar. Sosok yang berdiri di sana bukan lagi pengawal setianya yang pendiam. Di mata Long Chen, Satu telah berubah menjadi monster setinggi tiga meter dengan kulit bersisik hitam dan mata merah menyala yang haus darah. Belati di tangan "monster" itu tampak meneteskan darah hitam yang berbau busuk.

"Pangeran? Ada apa dengan Anda? Kenapa Anda menatap saya seperti itu?"

Suara itu adalah suara Satu, namun di telinga Long Chen, suara itu terdengar seperti geraman binatang buas yang sedang mengintai mangsanya.

"Menjauh... Satu, jangan mendekat!" Long Chen membentak, tangannya yang memegang kunci kristal bergetar hebat. Cahaya putih di tangannya mulai berkedip-kedip, bereaksi terhadap ketidakstabilan emosinya.

"Pangeran, ini saya! Itu pasti efek dari teh tadi!" Satu mencoba melangkah maju, tangannya terulur ingin membantu tuannya yang tampak limbung.

Namun, di mata Long Chen, gerakan itu terlihat seperti serangan mematikan. Monster di depannya seolah sedang menerjang dengan cakar terbuka. Refleks tempur Long Chen mengambil alih. Ia mengangkat tangannya, siap melepaskan ledakan energi Yang untuk menghancurkan ancaman tersebut.

Sret!

Tepat sebelum energi itu terlepas, suara Kakek Bai bergema di dalam batinnya, sangat keras hingga membuat telinganya berdenging.

"Bodoh! Tutup matamu, bocah! Kau sedang menari di telapak tangan Long Tian!"

Long Chen tersentak. Instruksi itu masuk seperti siraman air es ke otaknya. Dengan paksa, ia memejamkan mata rapat-rapat. Kegelapan seketika menyelimuti pandangannya. Namun, anehnya, saat indra penglihatannya mati, indra yang lain justru menajam secara drastis.

Ia mulai mencium aroma sup jahe yang tadi mereka minum, bau keringat kuda yang lelah, dan detak jantung Satu yang stabil namun penuh kekhawatiran di sebelah kirinya.

"Pangeran?" suara Satu terdengar lagi, kali ini tanpa distorsi mengerikan.

"Satu, jangan bergerak," bisik Long Chen. "Tetaplah di tempatmu. Aku akan memandu kita keluar dari sini menggunakan indra jiwa."

Alur perjalanan mereka melambat secara ekstrem. Setiap langkah Long Chen sekarang diambil dengan perhitungan matang. Ia tidak lagi melihat jalan dengan mata fisiknya, melainkan merasakannya melalui getaran energi Yang yang memantul dari benda-benda di sekitarnya.

Interaksi antara mereka menjadi lebih intens dalam keheningan. Long Chen memegang bahu Satu, menggunakan pengawalnya itu sebagai jangkar fisik agar ia tidak tersesat dalam kegelapan batinnya sendiri.

"Maafkan aku, Satu," kata Long Chen pelan saat mereka merangkak melewati jalan setapak yang sempit. "Tadi aku hampir... aku hampir membunuhmu."

"Hamba tahu, Pangeran. Hamba tidak akan menyalahkan Anda," jawab Satu dengan nada ringan yang dipaksakan. "Lagipula, jika hamba mati di tangan Anda, setidaknya hamba mati karena energi yang sangat hebat, bukan karena racun murah di jalanan."

Long Chen tersenyum tipis di balik matanya yang tertutup. Kelucuan kecil di tengah maut ini adalah alasan mengapa ia sangat menghargai Satu. Mereka terus berjalan, melewati rintangan demi rintangan yang dilemparkan oleh kabut ilusi. Terkadang terdengar suara tangisan Lin Xi yang memanggil namanya, terkadang suara tawa mengejek Long Tian. Namun, Long Chen tetap fokus pada satu hal: denyut hangat 'Benih Yang' di dadanya yang terhubung dengan Lin Xi.

"Kita hampir sampai di pintu gerbang bawah tanah," gumam Long Chen. "Aku bisa merasakan hawa dingin yang sangat menusuk di depan sana. Itu bukan dinginnya salju... itu dinginnya kematian."

Sementara itu, suasana di penjara bawah tanah mulai berubah menjadi lebih "ringan" dalam cara yang aneh dan mengerikan. Hua Ling, yang tadinya tampak sangat serius, kini mulai bersenandung kecil sambil menyiapkan peralatan ritualnya.

Ia mengeluarkan beberapa botol parfum kecil dari saku bajunya dan mulai menyemprotkan aroma bunga ke seluruh ruangan yang berbau anyir itu.

"Ah, jauh lebih baik," ucap Hua Ling sambil menghirup udara dengan puas. "Aku tidak tahan jika 'Ibu' bangun di ruangan yang berbau seperti kaus kaki basah prajurit."

Lin Xi, yang masih terantai, menatapnya dengan tatapan datar. "Kau sedang melakukan ritual kebangkitan dewa arwah, atau sedang bersiap untuk pesta teh?"

Hua Ling menoleh dan mengedipkan mata ke arah Lin Xi. "Keduanya, Sayang. Hidup ini terlalu singkat untuk dilakukan dengan wajah murung. Kau tahu, Lin Xi, jika kau tidak menjadi wadah 'Ibu', mungkin kita bisa menjadi teman baik. Kita sama-sama menyukai warna merah, dan kita sama-sama memiliki selera yang buruk pada pria."

"Pria pilihanku tidak buruk," balas Lin Xi tajam.

"Oh, benarkah? Pangeran yang bahkan tidak bisa membedakan antara teh dan racun? Dia sedang berputar-putar di atas sana seperti lalat buta," Hua Ling tertawa merdu. "Tapi aku akui, dia gigih. Dan kegigihan adalah bumbu yang sangat lezat untuk penderitaan."

Hua Ling mendekati altar dan meletakkan seikat rambut perak Lin Xi di tengahnya. Ia mulai menggambar pola rumit di lantai menggunakan bubuk kristal merah. Gerakannya lambat dan sangat teliti, menunjukkan bahwa meskipun ia bersikap santai, ia tidak melakukan kesalahan sedikit pun dalam prosedur ritualnya.

"Kenapa kau begitu memuja 'Ibu' ini?" tanya Lin Xi, mencoba mengulur waktu sambil mencari celah pada rantai Baja Pengikat Arwah-nya.

Hua Ling berhenti sejenak, matanya menatap kosong ke arah kegelapan gua. "Karena dia adalah satu-satunya yang tidak pernah membuangku. Saat sekte membuangku karena aku dianggap 'terlalu cantik untuk menjadi petarung', Ibu memberiku kekuatan. Dia bilang, kecantikan adalah senjata yang paling mematikan jika dilapisi dengan rasa sakit."

Suasana mendadak menjadi melankolis. Lin Xi bisa melihat luka lama di balik topeng ceria Hua Ling. Namun, ia tahu tidak ada waktu untuk simpati. Ia perlahan-lahan mengalirkan energi Yin-nya bukan untuk melawan rantai, melainkan untuk mendinginkan besi tersebut hingga menjadi rapuh—sebuah teknik yang baru saja ia pelajari dari Kakek Bai.

Kembali ke atas, Long Chen dan Satu akhirnya tiba di depan sebuah mulut gua raksasa yang tampak seperti rahang naga yang terbuka. Kabut ilusi di sini mulai menipis, digantikan oleh aura ungu yang berdenyut selaras dengan Formasi Sembilan Penekan.

"Pangeran, Anda bisa membuka mata sekarang," bisik Satu.

Long Chen membuka matanya. Pandangannya sudah kembali normal, namun ia merasa sangat lelah. Penggunaan indra jiwa secara terus-menerus telah menguras stamina mentalnya.

Di depan mereka, berdiri dua sosok bayangan yang tidak memiliki wajah. Mereka memegang sabit besar dan menghalangi jalan masuk.

"Bayangan Penjaga Gerbang," gumam Satu. "Mereka tidak punya jiwa, Pangeran. Serangan mental tidak akan mempan."

Long Chen mengambil kunci kristal di dadanya dan memasukkannya ke dalam slot kecil pada gagang pedang tua yang ia bawa dari perkemahan nomaden. Sesuai dengan ramalan, cahaya kristal itu menyatu dengan besi pedang, mengubah logam yang berkarat menjadi pedang cahaya yang murni.

"Aku akan mengurus yang kanan, kau yang kiri," ucap Long Chen.

"Dengan senang hati, Pangeran."

Pertempuran itu terjadi dengan sangat elegan. Karena Long Chen masih dalam pengaruh teh yang menyeimbangkan energinya, gerakannya menjadi sangat efisien. Tidak ada tenaga yang terbuang. Ia bergerak seperti air yang mengalir, melewati sabetan sabit bayangan dan memberikan tusukan cahaya tepat di inti energi mereka.

Pyar!

Kedua bayangan itu pecah seperti kaca. Namun, saat mereka pecah, tanah di bawah kaki Long Chen dan Satu mendadak amblas.

"Jebakan!" teriak Satu.

Mereka jatuh ke dalam sebuah lubang vertikal yang dalam. Namun, bukannya mendarat di atas duri atau batu tajam, mereka justru mendarat di atas tumpukan bantal sutra yang sangat empuk di sebuah ruangan yang terang benderang.

Aroma masakan yang lezat menusuk hidung mereka. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah meja makan besar yang penuh dengan hidangan mewah. Dan yang paling mengejutkan, di ujung meja itu duduk Long Tian, Pangeran Pertama, yang sedang memegang paha ayam dengan santai.

"Selamat datang, Adikku," ucap Long Tian sambil tersenyum lebar. "Kau datang tepat waktu. Ayamnya masih panas. Mari kita makan dulu sebelum kita saling membunuh. Aku tidak ingin kau mati dalam keadaan perut kosong, itu akan merusak reputasiku sebagai kakak yang baik."

Satu sudah siap menerjang, namun Long Chen menahannya. Long Chen melihat ke sekeliling. Ruangan ini... bantal ini... makanan ini... semuanya terasa terlalu nyata untuk menjadi ilusi.

"Duduklah, Long Chen," kata Long Tian lagi. "Atau kau lebih suka aku mengirimkan satu jari Lin Xi lagi setiap kali kau menolak hidanganku?"

Long Chen mengepalkan tangannya. Amarahnya kembali naik, namun ia tahu ia harus bermain cantik. Ia duduk di kursi seberang Long Tian, matanya menatap tajam ke arah kakaknya.

"Di mana dia?" tanya Long Chen dingin.

"Dia sedang dipersiapkan untuk acara utama," jawab Long Tian sambil menuangkan arak ke cangkir emas. "Tapi sebelum itu, ada satu rahasia kecil yang harus kau ketahui tentang ibumu... dan kenapa dia memberikan kunci kristal itu padamu."

Long Tian mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya berubah menjadi bisikan yang mengerikan. "Kunci itu bukan untuk menyelamatkan Lin Xi, Chen. Kunci itu adalah bahan terakhir yang dibutuhkan Hua Ling untuk menyempurnakan kebangkitan 'Ibu'. Kau baru saja membawakan alat pembunuh kekasihmu sendiri langsung ke tanganku."

1
echa purin
👍🏻
kriwil
bahasa gueng mu tour di buang
Dian Utami
awal ny bagus Thor tp kesini ny jln cerita ny bingung 🤔
yeti kurniati1003
ceritax menarik
Osie
mampiiirrrt..selalu. suka cerita transmigrasi dan moga cerita ini sp end
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!