NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 – Ujian yang Semakin Dalam

Pagi tiba dengan udara berat, bukan karena cuaca, tapi karena ketegangan yang menekan setiap langkah murid. Aula latihan sunyi, tapi setiap tarikan napas dan gerakan tubuh terasa seperti pertarungan yang belum dimulai.

Ren Tao berdiri di tengah Unit Ketujuh, matanya menelusuri pergerakan unit lain. Semua bergerak lebih agresif daripada sebelumnya. Tidak ada lagi ragu. Unit Kedua dan Kelima saling memancing, langkah mereka sengaja menekan jalur Unit Ketujuh, seakan ingin memaksa kesalahan. Murid-murid lain ikut menambah tekanan dengan gerakan halus tapi konsisten.

Li Shen menatap Ren Tao pelan. “Hari ini berbeda. Mereka tidak hanya menguji kemampuan fisik kita, tapi kesabaran, strategi, dan kontrol qi. Setiap langkah bisa menjadi jebakan.”

Ren Tao menunduk, jarinya menyentuh tanah. Ia merasakan aliran qi, ritme langkah lawan, titik-titik lemah dalam koordinasi mereka. “Biarkan mereka bergerak,” gumamnya. “Setiap kesalahan mereka adalah informasi. Dan jebakan yang aku pasang semalam mulai bekerja sekarang.”

Simulasi dimulai.

Unit lain menyerbu jalur utama dengan gerakan cepat dan agresif. Beberapa murid tergelincir, aliran qi terguncang, dan sebagian mulai saling menghalangi. Ren Tao tetap tenang. Ia membimbing Unit Ketujuh melalui jalur aman, memastikan setiap langkah rapi, meskipun satu kesalahan minor tercatat di catatan internal.

Di tengah medan, benturan antara Unit Kedua dan Kelima muncul. Aliran qi mereka terguncang, beberapa murid kehilangan ritme, langkah mereka tergesa-gesa. Ren Tao hanya mengamati dari jarak aman, mencatat pola gerakan, dan menyesuaikan jalur qi agar Unit Ketujuh tetap stabil.

Zhou Min menatapnya kagum. “Kau selalu tahu apa yang akan mereka lakukan.”

Ren Tao tersenyum tipis. “Bukan hanya menebak. Aku membaca pola yang mereka tunjukkan sejak awal. Bahkan reaksi terkecil pun bisa menjadi petunjuk.”

Menjelang siang, jebakan halus yang dipasang Ren Tao mulai berfungsi. Aliran qi di jalur tertentu berubah tanpa terlihat, cukup untuk mengganggu langkah murid gegabah. Tidak ada cedera serius, tapi evaluasi tetua menunjukkan kesalahan minor yang konsisten, cukup untuk memberi tekanan pada lawan tanpa membuat Unit Ketujuh terlihat menonjol.

Di aula pengamatan, Tetua Lu dan Wei Kang menatap layar proyeksi. “Dia mulai menguasai papan,” bisik Wei Kang, matanya tajam. “Dan semakin terlihat.”

Tetua Lu menunduk sebentar. “Murid ini berbeda. Bukan hanya cerdas, tapi juga sangat teliti. Setiap langkah sudah diperhitungkan. Dia memanfaatkan kelemahan lawan tanpa terlihat jelas.”

Sore hari, medan latihan kembali berubah, lebih sempit, dengan beberapa formasi tambahan yang membuat kesalahan kecil menjadi berdampak lebih besar. Unit lain mulai panik, langkah mereka salah, dan beberapa mulai saling menghalangi.

Ren Tao tetap tenang. Ia menyesuaikan aliran qi untuk Unit Ketujuh, menjaga agar mereka tetap rapi dan stabil. Setiap kesalahan unit lain menjadi informasi berharga pola, titik lemah, peluang untuk hari-hari berikutnya.

Wei Kang muncul di sisi lapangan, tatapannya dingin. “Semakin terlihat, semakin berbahaya. Ingat itu.”

Ren Tao menatapnya, wajah datar. “Aku tahu. Dan aku siap.”

Malam tiba. Unit Ketujuh pulang, lelah tapi stabil. Ren Tao duduk di batu besar, merasakan aliran qi dan pola langkah hari itu. Ia mulai membaca strategi unit lain, jebakan yang sudah terpasang, dan kemungkinan langkah berikutnya dari pengawas serta tetua.

Ia tersenyum tipis. Semakin banyak mata yang tertuju padanya, semakin banyak informasi yang bisa dibaca. Semakin terlihat, semakin sulit lawan menutup jalurnya.

Ini bukan sekadar latihan. Ini papan perang nyata.

Dan Ren Tao yang selalu bergerak di tengah mulai menguasainya.

Langkah demi langkah, tekanan yang meningkat, perhatian yang terus menyorot, dan jebakan yang tertata rapi semuanya menjadi bagian dari permainan yang hanya bisa dimenangkan dengan ketenangan, strategi, dan pikiran yang selalu selangkah di depan.

Ren Tao membuka mata. Ia siap menghadapi hari berikutnya.

Karena di papan ini—

menjadi terlihat bukan berarti lemah.

Itu berarti kesempatan.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!